MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
107. Kebenaran Yang Lain


__ADS_3

"Hahaha puas banget aku hari ini. Akhirnya berkat dedek orok, aku berhasil mengalahkan si Dewi judi Lensi. Kwkwwkwkwk," Okta tertawa keras dengan puas, saat melihat wajah Lensi dipenuhi oleh arang wajan.


Lensi tersenyum dibalik wajahnya yang sudah hitam pekat. Dia sangat bahagia melihat sahabatnya yang tengag hamil muda itu tertawa bahagia, meskipun dia harus mengorbankan wajah cantiknya.


"Aku bangga padanu sayang. Meski aku tidak mengerti caranya bermain kartu, tapi aku tahu untuk seorang pemenang 300 milyar, kamu tidak mungkin bisa dikalahkan semudah itu. Hanya karena ingin membuat sahabatmu bahagia, kamu rela menjadikan wajahmu jadi bahan tertawaan temanmu, agar temanmu itu bahagia," batin Ibrahim.


Tidak jauh berbeda dengan Ibrahim. Teman-Teman Okta yang lain juga mengerti, kalau saat ini Lensi dan mereka tengah berkorban. Bahkan wajah Okta masih terlihat putih bersih tanpa noda sedikitpun.


"Sudah sore sekali. Kita pulang yuk?" tanya Ibrahim.


"Biar aku cuci muka dulu ya bang," ujar Lensi.


"Ya." Jawab Ibrahim.


Tidak hanya Lensi, teman-teman Lensi yang lain juga nyusul untuk membersihkan wajah mereka.


"Makasih ya. Karena kalian sudah mengerti dengan isyarat yang gue berikan," ucap Lensi.


"Kenapa mesti berterima kasih. Okta juga teman kita semua," ujar Mawan.


"Sudah belum?" tanya ibrahim yang datang dari arah belakang.


"Sudah bang." Jawab Lensi.


"Gue pulang duluan ya?" ucap Lensi.


"Ya. Hati-Hati." Jawab teman-teman Lensi.


Lensi dan Ibrahim kemudian berpamitan dengan Okta dan yang lainnya.


"Bang. Lapar," rengek Lensi saat mereka tengah dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa?" tanya Ibrahim sembari mengusap pipi Lensi.


"Makan apa aja bang. Kita cari kafe yang deket sini-sini aja." Jawab Lensi.


"Oke,"


Hanya dengan jarak sekitar 200 meter, mereka menemukan kafe terdekat. Lensi bergegas turun, dan memasuki kafe sembari bergandengan tangan dengan Ibrahim.


"Mana mungkin. Waktu itu aku sudah menekanmu. Kamu bilang anak itu jelas-jelas anakmu dengan Surya Gemilang. Sekarang kamu bilang dia anakku, karena si Surya itu sudah bangkrut kan?" ucap seorang pria yang tampak memelihara jambang diwajahnya.


"Maafin aku mas. Aku terpaksa berbohong saat itu. Kamu tahu sendiri waktu itu perekonomian kita sama-sama sulit. Kamu pasti nggak mau kan melihat anakmu punya kehidupan yang sulit juga?" tanya Marini.


"Sekarang Vega sudah tumbuh jadi gadis yang cantik, berkelas, dan pintar. Itu karena dia memperoleh kehidupan yang baik, pendidikkan yang baik, dengan memanfaatkan uang Surya," sambung Marini.


"Tapi sekarang anak kita tengah tersandung masalah. Aku juga sedang tersandung masalah. Aku menginvestasikan uang terakhir dari penjualan rumah. Tapi ternyata aku tertipu. Ternyata itu investasi bodong. Suryapun belum tahu soal ini."


"Aku tidak masalah kalau kamu nggak mau menerimaku lagi mas. Tapi tolong selamatkan anak kita. Sekarang kamu sudah punya segalanya, kamu pasti mampu menyewa pengacara terbaik untuk Vega," sambung Marini.


"Kita lakukan test DNA mas. Dengan begitu, kamu akan percaya kalau dia bukan anak Surya. Lagi pula lambat laun juga semuanya pasti akan terbongkar. Suatu saat Vega pasti akan menikah. Dia butuh wali sah untuk menikahkan dia bukan?"


"Baiklah. Lakukan test DNA. Dan satu lagi, jangan coba-coba untuk memanipulasinya," ucap Handoko.


"Mas bisa menentukan sendiri rumah sakit mana yang mas mau. Nanti besok aku akan membawa sampel DNAnya," ucap Marini.


"Ya." Jawab Handoko.


Seringai jahat terbit dari bibir Lensi saat mendengar percakapan itu. Ibrahim bisa melihat Lensi sangat puas, saat mendengar kebenaran lain terbongkar. Lensi dan Ibrahim kemudian mencari tempat duduk untuk mereka bersantap.


"Apa rencanamu kedepannya? apa abang perlu mengajukan tuntutan yang lebih berat lagi terhadap Vega?" tanya Ibrahim sembari mengungah makanan yang telah dia pesan.


"Santai saja, jangan lakukan apapun. Aku malah lebih tertarik dengan identitas laki-laki berjambang itu." Jawab Lensi.

__ADS_1


"Ada apa dengan laki-laki itu?" tanya Ibrahim.


"Coba abang pikir. Sepertinya pria itu tahu sejak awal hubungan Marini dan juga Surya. Mereka seperti terlibat cinta segitiga, bisa dibilang cinta segi 4 juga termasuk dengan mama. Aku sangat penasaran dengan kisah mereka itu." Jawab Lensi.


"Lalu apa kamu akan membiarkan begitu saja Vega bebas dengan hukuman ringan?" tanya Ibrahim.


"Biarkan saja. Aku malah ingin menjadi penonton drama besar nantinya. Antara Surya, Marini, Pria itu, dan juga Vega. Seperti yang kita dengar, pria itu orang yang cukup berada. Aku ingin melihat Surya menangis darah. Saat dia tahu Vega bukanlah putri kandungnya." Jawab Lensi.


Sebenarnya Ibrahim bisa mengerti dengan kebencian Lensi terhadap Surya. Tapi tetap saja dendam adalah perbuatan yang juga tidak dibenarkan. Namun tentu saja Ibhim tidak bisa mematahkan begitu saja ambisi Lensi itu. meski Surya bersalah, Ibrahim ingin istrinya itu tetap menjadi seorang yang bijak.


"Aku tidak menyangka saja. Putri yang sangat dibangga-banggakan oleh Surya itu, bukanlah putri kandungnya. Kalau mengingat kekejaman mereka selama ini, rasanya aku sangat puas melihat Surya terkena serangan jantung saat mengetahui kebenarannya nanti. Dan pria itu pasti akan merana sendiri sepanjang hidupnya. Dia akan tahu rasanya seorang diri, dia akan merasakan apa itu arti kehilangan yang sebenarnya. Sama seperti yang aku rasakan selama belasan tahun, saat aku kehilangan mama. Mereka mengabaikan aku, bahkan uang jajanpun aku mencarinya dengan bekerja sambilan,"


Lensi menatap kearah Ibrahim. Pria itu hanya diam saja saat mendengar cerita dari Lensi.


"Abang pasti menyesal sudah menikahi istri pendendam sepertiku. Seharusnya aku bisa bersabar mengahadapi cobaan yang Allah berikan untukku. Tapi maaf ya bang, beginilah resiko kalau abang menikahi wanita yang kurang sholeha. Aku tidak bisa membiarkan ketidak adilan meraja lela," ucap Lensi.


"Lalu. Apa kamu akan membiarkan Papamu saja yang...."


"Surya. Namanya surya, bukan papaku!" tegas Lensi.


"Yah...itu maksudku. Apa cuma Surya saja yang hanya mendapatkan hukuman? bukankah istrinya itu juga terlibat?" tanya Ibrahim.


"Kita lihat dulu dramanya. Aku akan menertawakan Surya lebih dulu. Setelah itu baru aku akan melihat, karma seperti apa yang bagus untuk Marini dan juga Vega." Jawab Lensi.


"Ternyata istriku cukup mengerikan kalau sudah merasa tersakiti. Beruntung waktu itu aku tidak digoroknya. Atau bahkan hal yang buruk dari salah paham itu adalah burungku tak lagi berada dalam sangkarnya," batin Ibrahim.


"Pulang dari sini kita harus memantau pergerakan Marini dan pria itu," ujar Lensi.


"Marini pasti pergi ke penjara buat ngambil sampel rambut dari Vega. Kira-Kira saat dia tahu dia bukan putri kandung Surya, bagaimana ya ekspresi si Vega? apa dia mau menerima pria itu sebagai ayahnya? atau dia mau tetap tinggal bersama Surya?" tanya Ibrahim.


"Gadis dengan gaya hidup seperti itu, tentu saja nggak akan mau hidup susah. Dia pasti mengikuti arah angin yang berhembus." Jawab Lensi.

__ADS_1


Ibrahim manggut-manggut membenarkan ucapan Lensi. Setelah mereka menyelesaikan makan, merekapun pulang beristirahat sembari memantau kegiatan Marini yang teretas melalui cctv jalanan.


__ADS_2