
Sejak tahu Zoya tengah mengandung, Lensi memperlakukan Zoya dengan sangat baik.Semua kebutuhan Zoya iya penuhi. Tidak hanya kebutuhan saja, perhatiannya jauh lebih ekstra. Lensi tidak ingin sampai Zoya punya pikiran untuk mengakhiri hidup bayinya.
"Kamu lagi apa?" tanya Zoya.
"Mau buat Surya bangkrut dalam semalam. Aku memang sengaja tidak mengganggunya dalam 2 bulan ini, karena aku sangat menunggu hari ini." Jawab Lensi sembari membuka laptopnya.
"Apa loe yakin bisa untuk kali ini? takutnya mereka bisa lolos lagi," ujar Zoya.
"Sulit buat lolos kali ini. Soalnya aset mereka sudah terjual semua sebelumnya." Jawab Lensi.
"Dan bodohnya mereka tidak belajar dari pengalaman. Mereka masih saja memasang perangkat lemah, agar mudah di bobol seperti ini," ujar Lensi sembari menyeringai.
Lensi lagi-lagi berhasil membobol pertahanan IT orang-orang di Gemilang grup. Mungkin mereka tidak akan mengira, kalau mereka akan kehilangan seluruh data di tengah malam.
"Kamu tidur gih. Sudah hampir jam 1, nggak baik buat ibu hamil sepertimu," ucap Lensi.
"Tapi aku belum ngantuk." Jawab Zoya.
"Patuhi perintah ibu angkatnya. Nanti bisa-bisa semua ngindammu tidak dituruti," ujar Lensi.
"Lagipula aku hampir selesai. Besok pagi kita pasti bisa mendengar berita kebangkrutan mereka," sambung Lensi.
"Jadi besok kita sudah bisa melihat tv?" tanya Zoya antusias.
"Ya. Maaf ya Zoy, gara-gara aku kamu jadi bosan berada di rumah. Mulai besok kamu bisa nonton sepuasnya,"
Bukan tanpa alasan Zoya sangat antusias saat Lensi memperbolehkan menonton tv. Pasalnya hampir 2 bulan ini tv mereka tidak boleh dinyalakan. Lensi tidak ingin berita tentang pernikahan Ibrahim dan Fatimah muncul dan mempengaruhi perasaannya.
Sesuai dugaan. Keesokkan harinya terjadi kehebohan di kantor Surya. Semua data telah dicuri dan tersebar luas disegala penjuru. Hingga menyebabkan saham Gemilang group merosot tajam dan dinyatakan bangkrut.
"Miskin kita ma...kita gembel sekarang," ucap Surya frustasi.
"Bagaimana bisa? siapa pelaku sebenarnya yang ingin kita jatuh bangrut pa. Mama nggak mau hidup miskin..Hiks...." Marini menangis histeris.
"Sekarang kita cuma punya rumah ini. Aset yang lain sudah disita oleh bank. Rumah ini juga harus dijual untuk membayar gaji karyawan yang belum dibayarkan."
"Apa tidak ada orang yang mau mengakuisisi perusahaan itu? apa memang tidak punya nilainya lagi?" tanya Marini.
"Siapa yang mau mengakuisisi perusahaan yang bangkrut parah seperti itu. Kalaupun ada, pasti akan dibeli murah." Jawab Surya.
"Berapa saja yang penting punya nilai. Daripada nggak punya nilai sama sekali,"
"Ya tapi siapa yang mau? orang juga pasti penuh perhitungan. Sudahlah kita terima nasib saja," ucap Surya.
"Enak banget kamu ngomong gitu Pa. Kamu kan tahu aku nggak bisa hidup susah,"ujar Marini.
Ditengah-tengah pertengkaran mereka, seseorang datang mengetuk pintu. Surya sempat mengira itu adalah dari pihak bank, tapi tentu saja Surya keliru.
"Selamat siang tuan Surya,"
__ADS_1
Surya mengerutkan dahi, saat melihat seorang pria tampan bertubuh tinggi tegap dengan pakaian formal berada dihadapannya.
"Anda siapa?" tanya Surya.
"Perkenalkan. Saya Arman, saya orang yang baru akan merintis usaha di dunia bisnis. Saya sudah mendengar berita kebangkrutan Gemilang Group pagi ini. Kalau anda berkenan, saya bersedia mengakuisisi perusahaan anda. Anda pasti butuh uang bukan? saya rasa kalau anda bijak, anda tidak akan menolak tawaran saya," ujar Arman yang berlagak menjadi seorang pengusaha muda.
"Pa, iya kan saja. Dari pada nggak jadi duit sama sekali. Kita kan bisa jadikan duitnya buat bayar karyawan. Uang penjualan rumah ini bisa kita buat jadi modal usaha. Toh rumah ini juga peninggalan dari almarhum istri kamu itu," bisik Marini.
"Berapa harga yang anda tawarkan?" tanya Surya.
"Bukankah itu terbalik? saya yang harusnya bertanya, berapa harga yang anda tawarkan? kalau saya sudah dengar, baru saya bisa menawar. Oh ya, apa anda juga ingin menjual rumah ini? kalau mau, sekalian saya akan membelinya. hitung-hitung anda tidak repot lagi ingin menawarkan rumah ini. Siapa tahu anda bisa bangkit lagi suatu saat, jadi berita penjualan aset tidak terdengar oleh orang luar. Saya akan menjaga rahasia itu," ujar Arman.
"Pa. Kita benar-benar beruntung. Kita tidak perlu susah-susah lagi buat cari orang buat beli. Ditambah kita juga bisa malu pa," bisik Marini.
"Baiklah. Silahkan masuk! kita bicarakan saja di dalam," ujar Surya.
Arman melangkah masuk kedalam dan mengawasi suasana rumah Lensi yang mewah itu.
"Kasihan Lensi. Kehidupan mewah seperti ini, harus dirampas oleh manusia-manusia serakah seperti mereka. Kamu tenang saja, karena mulai hari ini semuanya akan menjadi milikmu lagi. Abang akan berusaha mendapatkannya, bagaimanapun caranya. Abang tidak akan mengecewakan kepercayaanmu," batin Arman.
Hampir seharian kemarin, Lensi mengatur strategi untuk hari ini. Mereka juga membahas tentang dana yang akan dikucurkan untuk pembelian dua aset penting yang Lensi inginkan.
"Baiklah. Saya tidak bisa berlama-lama tuan Surya, saya ingin bergerak cepat. Karena waktu saya adalah uang," ujar Arman sembari menaruh bokongnya diatas sofa.
"200 milyar. Saya ingin anda mengakuisisi perusahaan saya dengan 200 milyar," ucap Surya.
Arman terkekeh mendengar ucapan Surya. Dan diapun menyilangkan salah satu kakinya.
"Terlebih lagi, perusahaan anda sudah bangkrut total. Dengan saham seanjok itu, bagaimana bisa anda menghargainya dengan harga fantastis seperti itu? saya hanya bisa menghargainya 80 milyar. Itupun kalau anda mau, kalau nggak mau ya tidak apa-apa. Dengan uang segitu saya bisa membeli tanah, dan membangun gedung sendiri," ucap Arman.
"Ambil aja pa. 80 M juga lumayan. Daripada nggak dapat apa-apa?" bisik Marini.
"Tapi gedung itu sangat besar, dan itu peninggalan keluarga besar Sudrajat. Saya mohon kemurahan hati pak Arman buat menghargainya lebih tinggi lagi," ujar Surya.
"Baiklah. 100 milyar atau tidak sama sekali," ujar Arman.
"Oke deal." Jawab Surya yang mengulurkan tangan, dan dijabat oleh Arman.
"Kamu hebat pa," bisik Marini semringah.
"Untuk rumahnya berapa kalian akan jual?" tanya Arman yang tidak ingin membuang waktu.
"Kami ingin 150 Milyar. Rumah ini dibangun diatas tanah 5000 hektar. Semua fasilitas lengkap. Termasuk lapangan golf." Jawab Surya.
"Waduh saya nggak perduli dengan lapangan golfnya. Lapangan golf di rumah pribadi saya saja jarang saya pakai. Bagi saya itu tetap saja cuma sebuah tanah yang ditanami rumput liar. Kalau anda mau, saya bisa menghargainya 100 M.Tapi kalau nggak mau saya cuma mengakuisisi perusahaan anda saja," ujar Arman yang berusaha tarik ulur.
"Sudahlah pa. 100 M juga lumayan.Lagian kita nggak pake modal buat rumah ini. Rumah ini kan peninggalan almarhum istri kamu," bisik Marini.
"Oke deal." Jawab Surya.
__ADS_1
"Baiklah. Deal 200 milyar rumah dan perusahaan. Saya beri waktu 3 hari untuk berkemas. Saya minta nomor rekening anda, agar uangnya bisa saya transfer saja," ucap Arman.
"Baiklah. Dihari ke 3 semua transaksi harus selesai. Termasuk balik nama perusahaan dan rumah," ucap Surya.
"Oke. Untuk berkas balik nama nanti akan saya kirim lewat kurir. Anda bisa hubungi saya di kartu nama saya ini," ucap Arman sembari menyodorkan kartu nama yang Lensi buat secara kilat.
"Oke." Jawab Surya seraya menjabat tangan Arman.
Arman kemudian pergi dari rumah Surya, untuk memberi laporan pada Lensi.
"Abang minta maaf karena gagal mendapatkan harga murah untuk perusahaan dan rumahmu itu," ujar Arman.
"Tidak masalah 200 Milyar juga harga yang pantas." Jawab Lensi setelah mendengar semua cerita Arman saat bernegosiasi.
"3 hari lagi transaksi akan dimulai. Abang akan memberikan berkasnya atas nama abang," ucap Arman.
"Ya. Nanti kita akan transfer uangnya ke rekening Surya," ujar Lensi.
"Bagaimana kabar Zoya? apa dia masih ingin melenyapkan bayinya?" tanya Arman.
"Tidak lagi. Dia bahkan merawatnya dengan baik. Dia sangat berhati-hati menjaga kandungannya." Jawab Lensi.
"Hah...sangat disayangkan karena aku kecolongan oleh bajingan itu. Aku bersumpah akan mematahkan kejantanannya saat aku berhasil menemukannya nanti," ucap Arman.
"Ya sudahlah. Abang pulang dulu. Abang mau mempersiapkan semuanya dulu," sambung Arman.
"Baiklah. Hati-Hati ya bang?"
"Emm... salam saja untuk Zoya," ujar Arnan.
"Ya." Jawab Lensi.
๐น๐น๐น๐น๐น
Tiga hari kemudian...
Arman kembali kerumah Surya dengan membawa bukti transfer. Surya juga sudah membuat sertifikat balik nama atas nama Arman. Arman mengecek semuanya, dan bisa bernafas lega.
"Terima kasih atas kerja samanya tuan Arman," ujar Surya.
"Lebih baik anda berterima kasih langsung dengan bos saya. Saya cuma jadi perantara saja. Sebentar lagi dia akan datang kemari," ucap Arman.
"Oh begitu," ujar Surya.
"Kalian bertiga mau pergi kemana sekarang?" tanya Arman saat melihat 3 koper besar sudah berada disisi mereka.
"Kami sudah membeli rumah yang sedikit lebih kecil dari ini. Mungkin uang ini kami akan menjadikannya sebagai modal usaha." Jawab Surya.
"Bagus juga. Usaha apapun itu, asal kalian giat, pasti akan berhasil," ucap Arman.
__ADS_1
Saat mereka tengah berbincang, Lensi datang dengan motor sportnya. Lensi memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu rumah itu. Dengan santai dia duduk disebelah Arman sembari melepas kaca mata hitamnya yang membuat Surya sekeluarga terbelalak.