MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
81. Siuman


__ADS_3

Zoya menunggu kepulangan Sammy dengan gelisah di rumah sakit. Dia sangat takut Sammy akan kembali menjnggalkannya setelah mereka susah payah berbaikkan.


"Bagaimana kalau dia berat meninggalkan semuannya saat dia kembali kemarkas, dan lebih memilih meninggalkan aku? aku dan anakku pasti akan menderita lagi," batin Zoya.


Zoya terduduk murung ditepi tempat tidur pasien. Gairah hidupnya seolah-olah padam. Sudah hampir 3 jam Sammy pergi, tapi tanda-tanda pria itu kembalipun belum ada Dan sekarang waktu sudah menunjukkan hampir pukul 8 malam. Zoya sudah putus asa, terlebih ponsel Sammy sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Jadi kamu benar-benar mau ninggalin aku lagi?" Zoya meneteskan air mata dan meringkuk kembali diatas tempat tidur.


Kriekkkk


Sammy menekan handle pintu dan melihat Zoya meringkuk diatas tempat tidur. Sammy juga melihat makan malam dari rumah sakit belum sama sekali Zoya sentuh. Namun Sammy sangat terkejut, saat melihat ada bekas air mata yang mengering dipipi wanita yang dia cintai itu.


Cup


"Sayang," bisik Sammy setelah mencium pipi Zoya.


Zoya mengerjapkan matanya yang sempat terlelap, dan mencoba berbalik badan untuk mastikan sesuatu. Namun dia hanya melihat sebuah boneka beruang berbulu lembut, yang menutupi wajah seseorang yang memegangnya. Boneka itu terlampau besar, hingga bisa menutupi lebih dari separuh tubuh orang yang membawanya.


Zoya tidak mau menebak. Tapi dia menurunkan boneka itu secara perlahan. Dan saat tahu itu adalah sang pujaan hati, tentu saja Zoya langsung berhambur kepelukkannya.


"Hikz...aku pikir kamu akan ninggalin aku," ucap Zoya yang terisak dalam pelukkan Sammy.


"Mana mungkin. Aku sudah berjanji akan kembali, jadi aku pasti akan kembali." Jawab Sammy sembari mengeratkan pelukkannya.


"Lensi belum kembali juga. Aku sangat mengkhawatirkannya," ujar Zoya.


"Tadi dia sempat kesini, tapi kamu tidur. Jadi dia balik lagi. Dia juga bilang sama aku, kalau dia akan melakukan perjalanan bisnis keluar kota," ucap Sammy.


"Benarkah? dia memang wanita hebat. Ngomong-Ngomong kapan aku keluar dari rumah sakit? aku sudah tidak betah lagi tinggal disini," tanya Zoya.


"Besok aku akan coba bicara dengan dokter yang menanganimu. Tapi lebih penting dari itu, apa kamu suka dengan bonekanya?" tanya Sammy.


"Sangat suka. Makasih ya sayang." Jawab Zoya.


Sammy kemudian merogoh sesuatu dalam saku celananya. Dan kemudian berlutut dihadapan Zoya sembari menyodorkan cincin dihadapan Zoya.


"Zoya. Maukah kamu menikah denganku?" tanya Sammy.

__ADS_1


Zoya menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Dia kemudian menganggukkan kepalanya dengan cepat. Sammy kemudian menyematkan cincin dijari manis wanita pujaannya itu. Mereka kemudian kembali berciuman mesra.


Sementara itu Arman yang baru saja tiba di rumah sakit, langsung memberi pukulan pada Ibrahim. Okta dan teman-temannya sangat terkejut dengan reaksi spontan dari Arman. Mereka terpaksa menarik Arman yang ingin memberikan pukulan kedua untuk Ibrahim.


"Bang sabar bang," ucap Okta dengan tubuh gemetaran.


Okta sangat takut Ibrahim mengambil langkah hukum, karena sudah dianiaya oleh Arman.


"Lepasin aku. Biar aku beri pelajaran untuk pria ini. Gara-Gara dia Lensi menderita, gara-gara dia Lensi jadi begini. Kalian tidak menyaksikan sebanyak apa air matanya keluar karena menangisi pria brengsek ini," sarkas Arman.


"Puas kamu sudah buat dia menderita ha? sebaiknya cepat urus perceraian kalian, dan hidup senanglah dengan istri mudamu itu. Karena aku orang yang paling menentang kalian bersatu lagi," sambung Arman.


"Bang sabar bang. Abang sudah salah paham," ucap Okta.


"Salah paham apanya? pantas saja Lensi nggak mau ketemu kalian, ternyata kalian sudah berpihak pada cecunguk ini?" ujar Arman berapi-api.


"Jangan jadikan poligami sebagai dalih kebenaran, apalagi sampai mengeluarkan dalil-dalilnya. Bagiku itu bukan dalil, tapi alih-alih pengen punya istri dua," sambung Arman.


Okta yang ketakutan sudah tersulut emosi, karena Arman tidak mau mendengarkan kata-katanya.


"Abang bisa diam tidak sih? ini rumah sakit bukan ring tinju. Sudah tua tapi nggak ingat umur. Abang mau kena penyakit struk? dengerin dulu penjelasan orang, baru marah-marah nggak jelas. Abang sudah salah paham sama bang Baim, begitu juga Lensi. Yang nikah sama Fatimah itu bukan bang Baim, tapi Alex sahabat bang Baim," ucap Okta dengan nafas naik turun.


"Apa loe sudah gila? gimana kalau leher loe kena gorok ama dia?" ucap Riko setengah berbisik.


"Biarin aja, lepasin gue! lama-lama gue emosi ama si perjaka tua," ujar Okta yang membuat teman-temannya jadi ketakutan saat mendengar ucapan Okta.


Hap


Karman menutup mulut Okta, karena takut sahabatnya itu makin bicara sembarangan.


"Hehehe maafin Okta ya bang? dia suka ngasal kalau ngomong," ucap Karman.


"Minggir! tangan loe bauk terasi," ucap Okta sembari menghempaskan tangan Karnan dari mulutnya.


Sementara itu Arman jadi terdiam setelah mendengar penjelasan dari Okta. Arman melirik kearah Ibrahim yang terlihat duduk santai disebuah kursi.


"Apa yang dikatakan Okta itu benar?" tanya Arman.

__ADS_1


"Ya." Jawab Ibrahim singkat.


"Maaf," ucap Arman lirih.


"Tidak masalah. Kemarilah, duduk bersamaku. Kalau tidak salah ingat, anda pernah datang ke resepsi pernikahanku waktu itu bukan?," ujar Ibrahim.


"Ya." Jawab Arman sembari mendekat kearah Ibrahim.


"Jadi anda yang bernama Arman yang sering disebut oleh Lensi itu?" tanya Ibrahim.


"Ya." Jawab Arman sembari menjatuhkan bokongnya dikursi bersebelahan dengan Ibrahim.


"Bagaimana keadaan Lensi? masih belum ada kemajuan juga?" tanya Arman.


"Ya. Dia masih kritis, aku benar-benar takut saat ini." Jawab Ibrahim.


"Kamu tenang saja. Lensi itu wanita yang tangguh, dia tidak akan kenapa-kenapa. Sekarang saja dia sudah bisa menjadi direktur utama di SU group," ujar Arman.


"Be-Benarkah?" Ibrahim terkejut.


Arman terkekeh saat melihat ekspresi terkejut diwajah Ibrahim.


"Kamu terlalu meremehkan kemampuan istrimu itu. Dia itu sangat cerdas, bahkan kamu yang memberikan ilmu saja bisa terkecoh sama dia." Jawab Arman.


"Yah...bang Arman benar. Dia memang cerdas, itulah dia sangat layak menjadi istriku. Aku sangat mencintainya, tapi sayangnya aku belum punya kesempatan mengatakan perasaanku padanya," ucap Ibrahim.


Arman menoleh kearah Okta yang tersenyum kearahnya. Senyum yang aneh menurutnya, hingga membuat Arman jadi memalingkan wajahnya.


"Selama mengenalnya, baru kali ini aku melihatnya tersenyum. Dan senyumnya itu luar biasa manis," batin Okta.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Plapppppppp


Lensi membuka matanya dengan sempurna, saat sayup-sayup dia mendengar ada orang bercakap-cakap diluar ruangan. Lensi melihat disekelilingnya yang serba berwarna putih. Lensi tiba-tiba mengingat kejadian saat dirinya terkena tusukkan sebilah pisau dipunggungnya.


"Eh? bukannya aku terkena tusukkan? tapi kenapa ini tidak sakit sama sekali? cepat sekali sembuhnya. Bukankah aku terluka kemarin?" ucap Lensi lirih.

__ADS_1


Lensi melepas infus yang terpasang dipunggung tangannya. Dan berjalan kearah pintu untuk mengetahui siapa yang mengobrol diluar.


__ADS_2