
"Letakkan pakaianmu dalam lemari bagian kiri. Bagian kanan semua milikku. Aku rasa berbagi 5 pintu cukup buatmu," ujar Ibrahim.
Lensi tidak protes apa yang Ibrahim katakan. Mungkin Ibrahim mengira dirinya tidak pernah. memiliki lemari berpintu 10. Namun sebenarnya Ibrahim sangat keliru dalam hal itu. Semua kemewahan pernah dia rasakan, meskipun perlahan kemewahan itu berangsur hilang sejak ibu tirinya hadir dalam kehidupannya.
Lensi menyusun pakaiannya dalam diam. Karena dia butuh bicara serius dengan suaminya itu setelahnya. Sembari menyusun pakaian, sembari dirinya banyak merangkai kata sebanyak mungkin. Sementara itu Ibrahim berpura-pura sibuk dengan ponselnya, meski diam-diam dia mencuri pandang kearah Lensi.
Setelah selesai, Lensi membuka jaketnya. Dan hanya menyisakan tanktop berwarna hitam ditubuhnya.
"Ka-Kamu kenapa pakai baju seperti itu di depanku?" tanya Ibrahim sembari memalingkan wajah.
Lensi yang duduk ditepi tempat tidur tepat dihadapan Ibrahimpun, dengan santai melepas sepatu kets yang ia kenakan.
"Bukan salahku kalau mata abang bermasalah dengan penampilanku. Karena abang tidak menganggapku istri sungguhan, jadi mata abang merasa ternoda. Padahal aku kan sudah halal buatmu." Jawab Lensi
Sungguh jawaban Lensi seperti sebuah bom bagi Ibrahim.
"Aku ingin lihat. Seberapa tahan kamu tidak ingin menyentuh istrimu ini," batin Lensi yang jahil.
"Kamu juga gitu kan? nggak nganggap serius pernikahan ini?" tanya Ibrahim yang tidak ingin kalah argumen dengan Lensi.
"Kalau aku tidak menganggap masih dibilang wajar, karena aku memang nggak paham ilmu agama. Tapi kalau orang sudah hafiz 30 juz masih menganggap pernikahan main-main, nah itu patut dipertanyakan. Itu ilmu dapat belajar, atau dapat ilmu tembak?" sindir Lensi.
"Wanita ini sangat pandai bersilat lidah. Dia pikir aku nggak paham ilmu agama? bukan aku nggak mau nidurin dia, tapi gimana kalau aku ketularan penyakit serius gara-gara dia," batin Ibrahim.
"Entah apa yang ada dalam pikiran pria ini. Sekalian aku kerjain aja," batin Lensi.
"Ac nya rusak ya bang?" tanya Lensi.
"Kulitmu kulit badak? Ac sedingin ini dibilang rusak," ucap Ibrahim.
"Kok aku kepanasan bang?" tanya Lensi sembari membuka baju tanktopnya dengan membelakangi Ibrahim.
Mata Ibrahim melotot seketika saat dirinya melihat belakang Lensi yang putih mulus. Sementara itu Lensi seperti tanpa dosa berbaring membelakangi Ibrahim, dan menarik selimut hanya sebatas pinggangnya.
"Uggghhh...apa-apaan dia? sengaja ya?" batin Ibrahim.
"Oh ya bang,"
Ibrahim terjengkit kaget, saat Lensi tiba-tiba berbalik badan sembari mengajaknya berbicara. Matanya jadi gagal fokus saat melihat benjolan bagian dada Lensi yang sangat membusung. Ibrahim segera memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
"Ada apa?" tanya Ibrahim.
"Bang. Kalau bicara itu lihat orangnya dong," jahil Lensi.
__ADS_1
"Aku tidak mau kalau kamu bersikap gila begitu," ujar Ibrahim.
"Kok gila sih bang? aku ini mau bicara serius sama kamu," ujar Lensi.
"Bicara-Bicara saja. Aku bisa mendengarmu," ucap Ibrahim sembari sok sibuk dengan ponselnya.
"Besok aku izin pergi bertemu temanku ya?" tanya Lensi.
"Teman? siapa?" tanya Ibrahim.
"Yang satu namanya Max. Yang satu namanya Al. Dan yang perempuan namanya Okta." Jawab Lensi.
Mendengar Lensi menyebutkan nama pria, tentu saja dia langsung menoleh kearah Istrinya itu. Sementara Lensi yang jahil menopangkan satu tangannya di kepala, dan kemudian mengedipkan mata dengan nakal.
"Terserah!" ucap Ibrahim sembari memalingkan wajahnya yang kembali memerah.
Lensi menatap Ibrahim yang tampak cuek padanya. Lensi kemudian duduk, dan kembali memakai pakaiannya.
"Apa abang tidak ada yang ingin dibicarakan tentang hubungan kita?" tanya Lensi.
"Tidak ada." Jawab Ibrahim singkat.
"Tapi aku ada," ujar Lensi.
"Aku tahu kamu tidak menyukaiku. Aku tahu aku ini bukan tipemu. Aku nakal, liar, tidak tahu agama, semua hal buruk mungkin ada dalam pikiranmu saat ini."
"Saat ini mungkin belum ada cinta diantara kita. Tapi abang perlu tahu, aku sungguh-subgguh menganggap pernikahan ini ada. Bagiku abang adalah benar suamiku, bukan suami diatas kertas."
"Aku memang tidak bisa berjanji kalau aku bisa menjadi istri yang baik buat abang, tapi percayalah. Aku akan setia pada abang, sampai abang benar-benar tidak menginginkan aku lagi."
"Sebenarnya sih aku ingin hubungan kita ini sampai maut memisahkan. Tapi kalau abang ingin hubungan kita selesai sesuai keinginan abang, aku tidak akan memaksa untuk bertahan. Aku sadar posisiku ada dimana. Orang hebat seperti abang, tidak mungkin mau bersanding dengan wanita sepertiku."
"Jadi aku harap abang santai saja ya? tadi hal terakhir aku menggoda abang. Mulai besok kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing sesuai kemauan kita,"
"Apa maksudmu sesuai kemauan kita? jadi aku harus diam saja saat istriku berbuat maksiat?" tanya Ibrahim.
"Apa abang sudah menganggapku sebagai istri?" tanya Lensi balik.
Ibrahim terdiam. Dia bingung harus menjawab ucapan Lensi seperti apa. Lensi tersenyum pahit, saat melihat Ibrahim terdiam.
"Selagi abang tidak menganggapku istri sesungguhnya, sebaiknya memang kita tidak usah melarang apapun kegiatan kita di luar sana," ujar Lensi.
Lensi kemudian berbaring. Hari ini dia merasakan lelah. Sementara itu Ibrahim jadi terdiam.
__ADS_1
"Dia memang masuk dalam kehidupanku dengan cara tak terduga. Bahkan bisa dibilang caranya sangat salah. Tapi semua oerjataannya benar, aku memang belum memberikan keadilan buat dia sebagai istri," batin Ibrahim.
*****
"Bangunlah! kita sholat subuh berjama'ah," ujar Ibrahim.
Tanpa protes Lensi segera ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu dia mengenakan mukenah dan berdiri dibelakang Ibrahim. Setelah berdo'a bersama, Lensi mencium tangan Ibrahim dan kemudian melepas mukenah.
"Abang jadi masuk kerja hari ini?" tanya alensi.
"Ya." Jawab Ibrahim.
"Abang mau sarapan apa?" Tanya Lensi.
"Tidak perlu kamu siapkan. Semua sudah dikerjakan pelayan." Jawab Ibrahim.
"Oh ya. Aku ingin mengatakan sekali lagi, kalau aku jadi pergi ke rumah temanku hari ini. Apa abang memberiku izin?" tanya Lensi.
"Bukankah kamu bilang mau hidup semaumu?" tanya Ibrahim.
"Berarti abang sudah setuju dengan perjanjian itu? kalau setuju, mungkin aku pulang agak malam. Soalnya aku mau bermain judi bersama teman-temanku. Sudah lama tidak ngumpul," ucap Lensinterus terang.
Entah apa yang ada dipikiran Lensi. Hingga dirinya begitu percaya diri bahwa Ibrahim mengizinkan dia untuk hidup sebebas itu. Namun pada kenyataanya Ibrahim langsung mengepalkan tangan, dan menatap Lensi dengan tatapan dingin.
"Jangan melewati batasanmu! apa kamu pikir aku ini batu? hingga akan mengizinkan istriku berbuat maksiat terus menerus? satu lagi, aku ingin kamu keluar dari agensi modelmu itu," ucap Ibrahim.
"Tidak bisa bang. Model adalah hidupku. Lagipula aku sudah terlanjur tanda tangan kontrak dengan salah satu brand kecantikkan. Lagian kenapa abang tidak suka dengan pekerjaanku? kan halal bang?" tanya Lensi.
"Halal apaan? mempertontonkan aurat halal darimana?" tanya Ibrahim.
"Siapa yang mempertontonkan aurat? aku kan jadi model busana muslim bang. Abang suka su'udzon ih...dosa loh bang." Jawab Lensi.
"Bu-Busana muslim?" tanya Ibrahim terkejut.
"Iya. Abang kira model pakaian dalam ya? kalau itu khusus buat abang saat dikamar." Jawab Lensi sembari mengedipkan mata dengan nakal.
Ibrahim memalingkan wajah yang sudah bersemu merah.
"Kamu sudah berjanji akan berhenti menggodaku seperti itu," ucap Ibrahim tanpa melihat kearah Lensi.
"Agak susah nepatin sih kalau yang satu ini. Soalnya wajah abang terlihat tambah tampan saat malu-malu," ujar Lensi.
"Si-Siapa yang malu-malu?" tanya Ibrahim.
__ADS_1
Lensi berjalan perlahan mendekati Ibrahim. Lensi meraih dasi Ibrahim dan membantu pria itu memasang dasi. Setelah selesai Lensi tiba-tiba mencium pipi Ibrahim dan mengedipkan satu matanya. Lensi meninggalkan Ibrahim ke kamar mandi dengan keadaan tubuh mematung.