
"Abang pelan-pelan. Nanti kita jatuh," ujar Lensi yang mencoba menyeimbangkan langkah kakinya dengan Ibrahim.
Ibrahim tidak menggubris ucapan Lensi. Dia hanya ingin cepat sampai kedalam kamar dan mengurung istrinya itu.
Brakkkk
Ibrahim menutup pintu kamarnya, setelah mereka sudah masuk kedalam kamar itu dan menguncinya.
Grepppp
Ibrahim tiba-tiba memeluk Lensi dengan erat. Masih bisa Lensi dengar suara deru nafas Ibrahim yang saling kejar mengejar akibat menyeret tangannya dengan setengah berlari. Lensi membalas pelukkan itu tidak kalah erat. Sungguh hatinya merasa sangat damai saat ini
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih sudah menolongku berkali-kali. Terima kasih untuk semua cinta yang kamu berikan padaku. Aku mencintaimu sayang," ucap Ibrahim dengan mengeratkan pelukkannya pada tubuh Lensi.
"Dinda juga mencintai abang. Dinda percaya semua yang terjadi pada diri kita pasti ada alasannya. Pertemuan tak sengaja kita, pernikahan kita, semuanya sudah diatur oleh Allah. Yang terpenting kedepannya nanti bagaimana kita menjalani rumah tangga kita dengan sebaik mungkin,"
Lensi melerai pelukkannya pada Ibrahim dan menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 lewat 45 menit.
"Sudah hampir magrib. Abang siap-siap gih. Nanti Abi manggil abang buat jadi imam sholat dimasjid pesantren," ujar Lensi.
"Abang bersih-bersih dulu kalau gitu," Ibrahim membenahi anak rambut Lensi yang menjuntai didahi istrinya itu. Rasanya dia enggan sekali berpisah dari istrinya walau hanya satu detik saja.
"Tunggu abang," ujar Ibrahim setelah memberikan ciuman hangat dikening istrinya itu.
"Abang mau kemana? mau perang?" Lensi meledek suaminya itu.
"Perang batin karena nggak mau pisah lama-lama sama kamu." Jawab Ibrahim. sembari menarik hidung mancung istrinya itu
"Pak Ustad sekarang sudah bisa gombal ya?" lagi-lagi Lensi meledek suaminya.
"Tunggu sampai nanti setelah sholat isya. Kamu akan tahu, apa itu gombal sebenarnya," ujar Ibrahim sembari mengedipkan mata.
"Ih...abang...."
Pukk
Pukk
Lensi memukul pelan lengan Ibrahim. Sementara pria itu jadi tertawa keras sembari memasuki kamar mandi. Lensi jadi senyum-senyum sendiri saat mengingat percintaan panas mereka. Ibrahim sama sekali tidak membuang kesempatan atau berlama-lama dirinya beristirahat. Pria itu seolah seperti singa yang sedang kelaparan.
Lensi menyiapkan baju koko dan sarung untuk Ibrahim. Dia juga melepaskan jaket dan hanya menyisakan baju tanktop.
__ADS_1
"Sayang. Suamimu mau pergi loh. Kamu kalau berpakaian seperti itu didepanku, aku nggak kuat," ujar Ibrahim saat baru keluar dari kamar mandi.
"Dasar abang aja yang pikirannya piktor. Emangnya nggak bosan sudah seharian melihatnya?" tanya Lensi sembari menyodorkan baju koko dan sarung untuk suaminya.
"Ya nggaklah. Yang dilihat juga barang bagus. Seumur hidup lihat juga nggak bosan." Jawab Ibrahim sembari meraih pakaian yang sudah disiapkan oleh Lensi untuk dirinya.
"Gombal aja terus," ucap Lensi dengan wajah bersemu merah.
"Abang pergi dulu ya? mungkin sampai isya abang di masjid. Kamu siap-siap aja," ujar Ibrahim sembari mengedipkan mata.
Lensi menanggapinya dengan senyum tersipu. Setelah Ibrahim pergi, Lensi juga bersiap ingin melaksanakan sholat magrib. Dan setelah selesai, dia membuka Al-Qur'an dan membacanya dengan suara merdu.
"Shodaqollahuladzim," Lensi menyudahi bacaannya walau tanpa sadar sejak tadi Ibrahim mengintip dari celah pintu.
"Subhanallah...istriku salah satu calon penghuni surga nantinya. Amiin," ujar Ibrahim sembari masuk ke dalam kamar.
"A-Abang? bukannya kata abang mau pulang sehabis sholat isya?" tanya Lensi yang kemudian mencium tangan suaminya.
"Untung abang pulangnya sekarang, kalau nanti kan nggak bisa dengar suara merdumu. Abang kangen dengar kamu baca surat Ar-Rahman sebelum kita tidur." Jawab Ibrahim.
"Maukan Dinda membacakannya buat abang?" tanya Ibrahim.
Lensi menarik tangan Ibrahim agar duduk ditepi tempat tidur. Lensi kemudian membacakan surat Ar-Rahman yang Ibrahim mau. Ibrahim sangat menikmati suara merdu Lensi dengan mata yang terpejam. Dan setelah istrinya itu selesai mengaji, Ibrahim menghadiahkan satu kecupan dibibirnya.
Tok
Tok
Tok
"Echi, Baim, boleh umi dan abi masuk?" tanya Aisyah dari luar pintu.
Ibrahim dan Lensi saling berpandangan. Lensi bergegas membukakan pintu.
Ceklek
"Abi, Umi, ayo masuk," ujar Lensi yang belum sempat melepaskan mukenahnya itu.
"Ada apa Mi?" tanya Ibrahim.
"Tidak ada apa-apa. Cuma tadi kami mendengar calon penghuni surga sedang mengaji dengan suara merdu." Jawab Aisyah sembari tersenyum.
__ADS_1
"Abi dan Umi mendengarnya? ba-bagaimana menurut Abi? Apa Echi sudah mengaji dengan benar?" tanya Lensi.
"Sempurna. Bahkan Abi saja tidak bisa semerdu itu." Jawab Ustad Gofur.
"Abi ngeledek nih. Mana mungkin suara Echi lebih bagus. Echi masih belajar," ucap Lensi.
"Kalau begitu bergurulah pada suamimu. Apa kamu tidak tahu? kalau suamimu itu guru sekaligus jadi juri di Al-Azhar? dia juga pernah jadi imam untuk guru-gurunya disana," ucap Ustad Gofur.
"Be-Benarkah?" tanya Lensi.
"Bangga tidak punya suami seperti abangmu ini?" tanya Ibrahim sembari menaik turunkan alisanya.
"Tentu saja. Abang yang terbaik dalam segala hal." Jawab Lensi sembari memeluk suaminya itu.
"Apa itu termasuk saat diatas ranjang?" bisik Ibrahim yang membuat mata Lensi jadi melotot.
"Sudah kalian jangan pamer kemesraan terus. Ayo kita makan malam bersama," ujar Aisyah.
"Baik umi." Jawab Lensi.
Merekapun makan malam bersama sembari berbincang banyak hal. Setelah itu mereka sholat isya berjama'ah.
Ceklekkk
Lensi sangat terkejut, saat dirinya akan mengganti pakaian, Ibrahim masuk kedalam kamar dengan tiba-tiba.
"Ah...Dinda kira siapa," ucap Lensi dengan masih menahan penyangga dadanya yang belum terpasang sempurna.
Namun tiba-tiba Ibrahim menahan tangan Lensi, dan malah melepaskan benda itu kembali.
"Kamu tidak memerlukan itu lagi sekarang. Karena malam ini, aku menginginkanmu semalaman," bisik Ibrahim dari arah belakang tubuh Lensi.
Ibrahim kemudian menggendong Lensi, dan meletakkan istrinya itu diatas peraduan mereka. Ibrahim segera melepas kain yang ada di tubuhnya dan kemudian membaca do'a diatas ubun-ubun Lensi. Dan mulai melancarkan aksinya.
"Abang tergila-gila padamu sayang," bisik Ibrahim.
"Dinda mencintai abang," ucap Lensi sembari mengalungkan kedua tangan dileher suaminya itu.
Lensi kembali melengguh, saat barang gagah milik Ibrahim menyeruak tanpa sisa. Perlahan Ibrahim mulai bergerak hingga suara ranjang mereka mulai berderit. Awalnya Ibrahim memberikan hujaman-hujam manis, yang kemudian hujaman semakin tak terkendali lajunya.
Tidak berapa lama kemudian Lensi akhirnya sampai ke puncak dari permainan itu. Namun tentu saja Ibrahim belum selesai dengan urusannya. Pria itu semakin intens menghujam Lensi dengan tempo yang semakin cepat dan dalam. Dengan beberapa kali mengganti posisi, barulah Ibrahim menyelesaikan hajatnya yang datang bersamaan dengan Lensi.
__ADS_1
"Sayang...aku mencintaimu," Ibrahim menghujamkan miliknya jauh kedalam sana.
Nafas Ibrahim dan Lensi saling memburu satu lain, namun mereka benar-benar puas. Dan sesuai dengan janji Ibrahim, pria itu sama sekali tidak membiarkan Lensi beristirahat dengan tenang. Ibrahim selalu meminta hal itu lagi dan lagi, sampai dirinya sendiri lelah dan menyerah.