
"Abang tadi dengar sahabat kamu Zoya melahirkan ya?" tanya Ibrahim setelah melerai pelukkannya dari Lensi.
"Iya. Besok aku mau jenguk." Jawab Lensi.
"Kenapa harus besok? kalau hari ini kamu mau, kita bisa pergi sekarang," ujar Ibrahim.
"Besok saja bang. Ini sudah sore, bisa-bisa sampai sana malam. Lagian abang mau ikut?" tanya Lensi.
"Zoya itu temanmu, itu artinya temanku juga. Kita harus mengucapkan selamat buat dia, dan membawa hadiah untuk bayinya." Jawab Ibrahim sembari melepaskan jasnya dan kemudian meraih gantungan baju untuk mengantung jas itu.
"Lagian besok hari libur. Nggak masalah juga," sambung Ibrahim.
"Kira-Kira kita kasih hadiah apa ya bang?" tanya Lensi.
"Abang rasa kalau box bayi juga bagus. Tapi tanya dulu sama dia, kira-kira barang apa yang belum ada untuk bayinya. Daripada beli double."Jawab Ibrahim.
"Ya sudah besok aja kita perginya bang," ujar Lensi.
"Mau jalan-jalan malam minggu?" Ibrahim menawarkan Lensi jalan-jalan, agar istrinya itu tidak suntuk dan banyak pikiran.
"Malas bang. Pengen istirahat aja. Lagian aku sedang datang bulan. Biasanya hari pertama suka nyeri." Jawab Lensi.
"Ya sudah. Nanti abang akan suruh buatkan kamu jahe campur gula merah. Kata orang itu bisa meredakan nyeri ketika haid," ucap Ibrahim.
"Kok abang bisa tanya orang? dulu abang punya mantan?" tanya Lensi.
"Abang nggak pernah pacaran. Kamu adalah cinta pertama dan terakhir abang." Jawab Ibrahim, yang membuat Lensi jadi tersipu.
Malam harinya Lensi berencana ingin mengganti pembalut yang dia kenakan tadi sore. Namun dia mengerutkan dahinya, saat melihat pembalutnya cuma ada bercak coklat dan itupun hanya sedikit. Namun Lensi tetap mengganti pembalut itu, karena dia bersiap ingin tidur.
๐น๐น๐น๐น
"Sayang. Bangunlah! kita jam berapa mau ke rumah sakit?" tanya Ibrahim.
Lensi menggeliatkan tubuhnya, dan menatap suami tampannya yang tampak sudah segar karena baru saja sudah membersihkan diri.
"Ini jam berapa bang?" tanya Lensi.
"Jam 8." Jawab Ibrahim.
__ADS_1
Lensi bangun dari tidurnya dan bergegas masuk kedalam kamar mandi. Namun sesaat kemudian dia kembali keluar, karena ingin mengambil pembalut. Diapun kembali masuk setelah mengambil apa yang dia inginkan.
"Eh? k-kok nggak ada darah yang keluar?" Lensi tampak bingung, saat melihat pembalut yang ia kenakan sama sekali tidak ditemukan darah. Padahal Lensi termasuk orang yang haid sangat lancar dan cukup banyak meskipun dihari pertama.
Namun meskipun bingung, Lensi tetap memakai pembalut untuk berjaga-jaga. Setelah berpakaian, Lensipun turun kebawah dan mendapati Ibrahim tengah membaca koran pagi.
"Abang sudah sarapan belum?" tanya Lensi.
"Belum. Nungguin kamu." Jawab Ibrahim sembari menutup koran yang dia baca dan kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Ibrahim dan Lensi kemudian sarapan bersama. Namun Lensi tiba-tiba saja lebih diam dari biasanya. Padahal Lensi biasanya akan mengajak dirinya mengobrol.
"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Ibrahim.
"Aku sedang bingung bang. Tapi nanti saja bahasnya, lagi makan. Nanti abang jijik mendengarnya." Jawab Lensi.
"Ada apa? abang baik-baik saja," tanya Ibrahim.
"Kemarin aku sangat yakin kalau aku sedang datang bulan. Karena ada darah berwarna kecoklatan yang keluar dan nempel di celanaku. Tapi pas semalam aku ganti pembalut, darahnya nggak keluar lagi. Cuma bercak dikit banget. Dan tadi pas mau mandi, nggak ada darah sama sekali yang keluar tadi malam." Jawab Lensi.
"Padahal aku kalau haid selalu lancar dan banyak. Apa ini ada pengaruhnya dengan obat yang diberikan dokter. Maksudku semacam efek samping begitu," sambung Lensi.
"Berhubung kita mau pergi ke rumah sakit, kita langsung konsultasi saja pada dokter. Abang takut ada masalah lain, kita temui saja dokter tempat kita melakukan promil," ujar Ibrahim.
Setelah mereka selesai sarapan, Lensi dan Ibrahim pergi ke rumah sakit. Mereka menemui Zoya terlebih dahulu.
"Selamat ya Zoy. Semoga tahun depan lahiran lagi," ledek Lensi.
"Enak aja. Masih belum ilang sakitnya ini. Jahitan dimana-mana," sahut Zoya yang membuat Lensi terkekeh.
"Peralatan bayi apa yang belum beli? takutnya mau kasih hadiah, malah kalian udah beli semua," tanya Lensi.
"Stroller belum ada." Jawab Zoya.
"Oke deh. Ntar kita kirim ke rumah kamu ya," ucap Lensi.
"Makasih ya." Jawab Zoya.
"Aku do'akan kalian cepat nyusul juga," sambung Zoya.
__ADS_1
"Amiin." Jawab Lensi.
Setelah menjenguk Zoya. Lensi dan Ibrahim memutuskan pergi berkonsultasi kembali ke dokter kandungan.
"Bagaimana Bu Lensi. Apa sudah ada keluhan?" tanya dokter.
Lensi kemudian menceritakan apa yang tengah dia alami saat ini. Dokter itu terlihat sesekali tersenyum, saat mendengar cerita dari Lensi.
"Menurut dokter apa istri saya mengalami kelainan pada siklus haidnya?" tanya Ibrahim.
"Tidak. Bisa jadi malah membawa kabar bagus buat kita semua." Jawab dokter.
"Kabar bagus?" tanya Lensi yang kebingungan.
"Bu Lensi silahkan berbaring saja di atas tempat tidur ya. Biar bisa kita lihat langsung hasilnya." Jawab dokter.
Lensi menoleh kearah Ibrahim, yang kemudian diangguki oleh suaminya itu. Lensi kemudian naik keatas tempat tidur, sementara Ibrahim dengan setia mendampingi Lensi disamping istrinya itu.
Seorang perawat membantu dokter memberikan gel pada perut Lensi. Dan dokter mulai meletakkan alat USG diperut Lensi. Sesaat kemudian dokter tersenyum, dan mengulurkan tangannya pada Ibrahim.
"Selamat ya pak. Bu Lensi positif hamil. Usia kehamilannya kurang lebih sudah 4 minggu," ujar dokter yang membuat Lensi dan Ibrahim tercengang.
"Sa-Saya hamil?" tanya Lensi terbata.
"Ya. Bahkan hal yang mengejutkan lagi, ternyata Bu Lensi tidak hanya mengandung satu, atau dua calon bayi. Tapi anda hamil kembar 3." Jawab dokter.
"Ap-Apa?" Lensi dan Ibrahim terkejut.
"Saya tahu kalian pasti merasa tidak percaya, karena Bu Lensi seperti mengalami haid beberapa hari yang lalu. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah, bercak darah yang keluar itu karena plasenta atau ari-ari janinnya sedang melakukan perlekatan didinding rahim Bu Lensi," dokter mencoba menjelaskan agar Lensi dan Ibrahim paham dengan apa yang terjadi.
"Ja-Jadi aku beneran hamil nih dok?" tanya Lensi dengan mata berkaca-kaca.
"Ya." Jawab dokter.
"Hamil kembar 3? beneran dok?" tanya Lensi dengan mimik wajah yang sudah tidak enak dilihat.
"Betul bu." Jawab dokter meyakinkan.
"Huuaaaa...hiks...." Lensi menangis histeris. Bukan menangis karena kesakitan atau kesedihan. Melainkan tangisan haru yang benar-benar pecah.
__ADS_1
"Bang. Kita punya anak bang. Kita berhasil. Hiks...."
Lensi berhambur kepelukkan Ibrahim setelah perutnya yang diolesi gel sudah dibersihkan. Kali ini tidak hanya Lensi yang menangis, Ibrahim juga ikut menangis haru.