MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
143. Maaf Aku Tidak Bisa


__ADS_3

"Cokro. Aku perlu bicara denganmu," ujar Vega sembari menyeret tangan pria bertato itu.


"Ada apa?" tanya Cokro sembari menyeimbangkan langkah kaki mereka.


Vega tidak menjawab pertanyaan itu, sampai mereka memasuki kamar pria itu. Setelah mereka berada di dalam kamar, Vegapun menutup pintu dan menguncinya.


Grepppp


Vega tiba-tiba memeluk Cokro dengan erat.


"Aku merindukanmu," ucapan Vega membuat kening Cokro mengerut. Padahal baru semalam mereka menghabiskan malam bersama.


Cokro kemudian menjauhkan Vega dari tubuhnya dan menatap gadis didepannya dengan seksama.


"Aku cuma ingin memastikan. Apa perkataanmu di depan tadi itu sungguh-sungguh?" tanya Cokro.


"Ya." Jawab Vega tersipu malu.


"Tidak mungkin. Dia pasti ingin memanfaatkanku saja. Dari dulu juga gitu. Senua wanita yang dekat denganku hanya ingin mengincar uangku. Aku sadar betuk wajahku seperti apa. Aku cuma punya modal diatas ranjang saja," batin Cokro.


"Cokro. Ayo kita menikah!" ucap Vega.


"Dia mengajakku menikah? itu pasti karena dia tidak ingin melahirkan tanpa suami. Setelah bayi itu lahir, dia pasti akan meminta cerai," batin Cokro.


"Maaf tapi aku tidak bisa menikah denganmu. Aku sudah pernah bilang padamu, aku bisa memeberikan isi dunia padamu. Tapi aku tidak bisa memberimu sebuah pernikahan alias status. Aku hanya bersedia menghidupimu dan anak kita," ucapan Cokro benar-benar membuat Vega syok.


"Dia benar-benar menolakku? padahal aku mau menerima dia apa adanya? ada apa dengan diriku? kenapa semua pria menolakku? apa aku benar-benar tidak pantas dicintai? hingga orang seperti Cokropun tidak tertarik denganku," batin Vega.


"Ap-Apa kamu sama sekali tidak memilikki perasaan padaku? a-aku tahu kita baru kenal, tapi kita sudah sering...."


"Kamu pasti tahu, kalau kamu bukan wanita pertama yang kutiduri. Jadi hal seperti itu tidak mempengaruhi perasaanku " Jawaban Cokro sangat melukai perasaan Vega hingga mata gadis itu jadi berkaca-kaca.


"Aku pikir kamu berbeda dengan pria lain. Ternyata aku terlalu menganggap tinggi dirimu. Ternyata cuma aku saja yang terlalu besar rasa, dan menganggap perhatianmu itu suatu bentuk dari rasa suka," ucap Vega.


"Maaf aku tidak sebaik yang kamu kira itu," ujar Cokro.


"Karena kamu tidak sebaik yang aku kira, maka aku rasa ini adalah hari terakhir kita bertemu. Karena aku tidak suka tubuhku dimanfaatkan terus menerus hingga kamu bosan," ucap Vega dan akan beranjak pergi.


Tap

__ADS_1


"Tunggu! apa maksud ucapanmu? kamu tidak boleh pergi begitu saja. Aku juga berhak atas anak itu," tanya Cokro.


"Siapa yang lebih berhak? akulah yang mengandung, akulah yang paling menderita disini. Jadi lebih baik lupakan saja apa yang pernah terjadi diantara kita. Seperti yang kamu bilang, aku bukan gadis satu-satunya yang pernah kamu tiduri. Jadi anggap saja aku gadis yang kesekian, dan kamu bisa cari mangsa lain."


"Kalau kamu menginginkan anak, maka kamu bisa menghamili gadis lain juga," sambung Vega.


"Enak saja. Cuma denganmu aku tidak menggunakan pengaman. Sudahlah jangan keras kepala. Tetaplah dalam pengawasanku sampai anak kita lahir," ujar Cokro.


"Ya. Setelah anak ini lahir maka kamu akan mencampakkanku, karena kamu sudah bosan meniduriku." Jawab Vega.


"Maaf Cokro. Lebih baik aku mencari pria lain saja, yang bersedia menikahiku dan menerimaku apa adanya," sambung Vega sembari berlalu dari hadapan Cekro


Deg


Jantung Cokro terasa berhenti berdetak saat Vega mengatakan ingin mencari pria lain untuk ayah dari anaknya.


"Di-Dia mau cari pria lain?" gumam Cokro. Bayangan saat kebersamaannya dengan Vega seolah berputar-putar diingatannya. Namun dia sendiri masih bingung dengan perasaannya.


"Dia benar-benar tidak menginginkan aku ya? dia bahkan tidak berusaha mengejarku. Kenapa hidupku sesial ini? Cokro cowok jelek berani-beraninya menolakku," gerutu Vega.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Siapa?" tanya Gideon.


"Pengusaha terkenal Ibrahim Al-Gifari." Jawab Adi.


"Tuan Ibrahim pengusah nomor dua itu?" tanya Gideon terkejut.


"Benar tuan. Sebentar lagi dia akan sampai bersama istrinya." Jawab Adi.


"Mau apa dia bertemu denganku? apa dia ingin mengajakku bekerja sama? ya Tuhan...anak ini membawa keberuntungan untukku," batin Gideon.


"Pa kita tunggu saja. Ini keberuntungan buat kita," bisik istri Gideon.


"Tentu saja." Jawab Gideon


Tidak berapa lama kemudian Lensi dan Ibrahim tiba. Dan mereka segera memasuki ruangan tempat Giedeon dan istrinya berada.


"Selamat siang tuan Gideon," ucap Ibrahim sembari mengulurkan tangannya pada Gideon.

__ADS_1


"Siang tuan Ibrahim," Gideon menjabat tangan Ibrahim.


Lensi melirik kearah putranya yang tengah digendong oleh istri Gideon. Dan dia yakin 1000% kalau itu memang putranya.


"Saya tidak perlu berbasa basi. Saya kesini karena ingin menjemput putra kami. Kami ucapkan banyak terima kasih, karena anda sudah menjaga putra kami semalaman," ujar Ibrahim.


"Pu-Putra anda? apa maksud anda?" tanya Gideon gugup.


"Putra saya Al-Gadzali diculik dua hari yang lalu. Setelah membayar uang tebusan, anak buah penculik itu malah menjualnya pada anda. saya yakin orang bodoh itu menjualnya hanya dengan harga puluhan juta,"


Ibrahim memberikan kode pada istrinya. Lensi maju dengan menenteng sebuah koper kecil berwarna hitam.


"Ini ada uang 200 juta. Cukup untuk menggantikan uang anda," sambung Ibrahim.


Saat Lensi ingin maju meraih putranya, istri Gideon mundur sembari memeluk erat bayi yang ada dalam dekapannya. Lensi yang hilang kesabaran langsung mengeluarkan pistol dan menodongkannya pada istri Gideon.


"Ma. Berikan saja! itu anak tuan Ibrahim. Jangan membuat masalah!" ucap Gideon dengan bibir bergetar.


Ibrahim mengerti emosi istrinya itu, karena dia tahu Lensi sangat terpukul sejak putra mereka menghilang.


"Sayang. Tenanglah! anak kita baik-baik saja," ujar Ibrahim sembari menurunkan pistol itu.


"Abang katakan pada wanita ini. Aku ini orang yang melahirkan putra kita. Akulah yang kesakitan saat melahirkannya. Jadi bekerja samalah, kalau tidak ingin mati dengan cepat," ucap Lensi dengan berapi-api.


Ibrahim melirik kearah istri Gideon dan memberikan kode. Wanita itu tampak menelan ludahnya dan memberikan bayi dalam gendongannya pada Ibrahim.


"Kami sungguh minta maaf tuan Ibrahim. Kami tidak tahu kalau itu putra anda," ucap Gideon.


"Aku maafkan. Sayang, ayo kita pulang!" ucap Ibrahim.


"Ya." Jawab Lensi yang kemudian mengambil alih putranya dari tangan Ibrahim. Lensi mencium putranya bertubi-tubi dan memeluknya dengan erat.


Lensi dan Ibrahim melangkah pergi sebelum akhirnya di hentikan oleh Gideon.


"Tuan. Apa kita bisa melakukan kerja saam?" tanya Gideon dengan tidak tahu malunya.


"Anda bisa mengajukan proposal ke kantor saya." Jawab Ibrahim.


"Terima kasih tuan," ujar Gideon dengan senyum semringah.

__ADS_1


Lensi dan Ibrahim kemudian pergi dari tempat itu dengan perasaan bahagia.


__ADS_2