
"Gimana rasanya diobok-obok ustad?" tanya Okta kepo.
"Gile bener pertanyaan Okta," ucap Riko sembari terkekeh.
"Nggak tahu nih kutu kupret. Pengen tahu coba sendiri kawin ama Ustad," ujar Lensi.
"Mana ada Ustad yang mau sama dia. Nggak ada bagus-bagusnya. Jelek, dekil, tukang judi, ngak bisa masak," ucap Mawan.
"Sialan loe. Biar buluk juga gue masih perawan monyong. Susah nyari di kota besar nih yang masih perawan kayak gue. Biar gini, loe juga mau kalau gue goyang," sahut Okta.
"Emang maooookkk kalau gretong." Jawab Mawan terkekeh.
"Sialan si monyong," ucap Okta.
"Tapi kayaknya sebentar lagi gue bakalan nyerah deh," ujar Lensi yang membuat teman-temannya jadi terdiam.
"Kenapa Dew? loe kagak bahagia dengan pernikahan loe?" tanya Okta.
Lensi menyesap es teh dari gelas tinggi berbahan plastik.
"Sialnya gue terlampau bahagia. Tapi sayangnya dia yang nggak bahagia nikah sama gue." Jawab Lensi sembari meletakkan gelas itu keatas meja.
"Kenapa Dew? dia keberatan dengan latar belakang hidup loe? tapi kan loe anak baek Dew? kok penilaian Ustad cuma sepihak sih?" tanya Riko.
"Emang ada berapa gadis baek di kota ini? nggak harus dia kawinin semua kan? ini masalah prinsip. Gue bukan tipe dia, tapi dia tipe gue." Jawab Lensi.
"Kelihatannya loe udah jatuh cinta ya ama tuh Ustad?" tanya Karman.
"Sayangnya iya. Gue sangat menyayangkan perasaan ini secepat itu tumbuh. Harusnya gue tahu, ujungnya bakal sakit hati. Harusnya gue pasang benteng yang tinggi, agar gue nggak mudah melewati batasan itu dan jatuh terlalu dalam." Jawab Lensi.
"Bodoh banget tuh Ustad nyia-nyiain loe Dew. Dia belum tahu siapa loe," ujar Mawan.
"Justru dia nggak beruntung kalau bisa jatuh cinta dengan orang kayak gue ini. Gue ini siapa? cuma orang yang dibuang keluarga dan miskin segalanya. Sementara dia, dia pengusaha nomor dua di kota ini. Pandai ilmu agama, dan pandai ilmu lainnya," ucap Lensi.
"Apa maksud loe pengusaha nomor dua?" tanya Riko.
"Suamiku itu ternyata direktur utama Al-Gif Group. Gue pernah cerita ama kalian kan? kalau gue sedang belajar ilmu meretas? kalian bilang maharnya aneh, karena dia minta gue ngafal surat Ar-Rahman. Tapi pantas saja, karena orang yang ngajarin gue itu suami gue sendiri,"
"Apa?" Okta dan yang lain terkejut.
"Dia tahu kalau orang yang dia mintai bercadar itu loe?" tanya Karman.
"Tidak. Aku berharap dia tidak tahu selamanya." Jawab Lensi.
"Apa suami loe punya cewek lain?" tanya Riko.
Lensi terdiam. Dia jadi teringat kata-kata Ibrahim, saat pria itu mengatakan kalau mantan tunangannyalah yang pria itu cintai. Lensi jadi tertunduk sedih, dan itu membuat teman-temannya jadi tidak enak hati.
"Maaf ya Dew. Gue nggak bermaksud nyakitin perasaan loe. Loe tenang aja, cerai dari Ustad itu masih ada kita-kita yang bakal jadi teman loe," Ucapan Riko membuat mata teman-temannya yang lain jadi melotot.
"Eh? gue salah ya?" ucap Riko.
"Loe nggak usah dengerin si Riko. Kalau loe emang cinta sama dia, loe harus berjuang Dew," ujar Okta.
__ADS_1
"Iya Dew. Kan cinta emang kudu diperjuangin," timpal Karman.
"Gue nggak yakin. Dia itu orang yang sangat bermartabat. Saingan cintaku juga seorang anak Ustad besar. Mana bisa aku dibandingkan dengan gadis itu. Lambat laun gue pasti tersingkir." Jawab Lensi.
"Hah...Riko benar. Kenapa gue harus khawatir. Sebelum ketemu dia, gue juga hidup sendiri. Ada kalian sohib-sohib gue. Jadi untuk sekarang ini biarin gue memiliki dia selagi ada," sambung Lensi.
"Jadi pada Intinya loe belum begituan sama dia Dew?" tanya Okta yang dijawab gelengan kepala oleh Lensi.
"Itu bagus. Jadi loe nggak rugi-rugi amat," ujar Okta.
"Kita main yuk?" tanya Karman untuk mencairkan suasana.
"Kalian saja. Gue pengen lihat, sekalian gue ajarkan supaya menang dalam berjudi," ucap Lensi.
"Yuhuyyyy...akhirnya pecah telor juga. Kalau tahu kawin bisa buat loe ngajarin kita, sejak dalam kandungan loe gue suruh kawin," ucap Karman yang membuat teman-temannya jadi terkekeh.
Lensi melihat teman-temannya bermain, sembari sesekali mengajarkan mereka trik menang berjudi. Sedikit-Sedikit mereka mulai mengerti, dan selalu mengulang permainan untuk mengasah kemampuan mereka.
"Tidur dia," ujar Riko saat menoleh ke arah Lensi yang tertidur diatas dipan bambu.
"Sudah hampir jam 6 sore
Apa kita bangunin saja dia? tapi sepertinya dia sangat lelah," tanya Karman.
"Biarin ajalah dia tidur. Lagian suaminya juga nggak perduli dia pulang apa nggak." Jawab Okta.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam, saat ponsel Lensi tiba-tiba berdering. Riko meraih ponsel Lensi dan melihat ada nama Suamiku tertera dilayar ponsel sahabatnya itu.
"Siapa?" tanya Okta.
"Jawab aja," ujar Okta.
"Malas ah. Nanti jadi masalah buat Dewi," ucap Riko.
"Kalau nggak diangkat akan tambah jadi masalah." Jawab Okta.
Rikopun menggeser layar ponsel itu untuk menerima panggilan dari Ibrahim.
"Hallo?" ucap Riko.
Ibrahim tertegun, saat mendengar ada suara laki-laki yang menjawab panggilan darinya.
"Kemana Lensi? siapa kamu?" tanya Ibrahim.
"Aku Riko. Si Dewi lagi tidur, dia kecapek'an habis main tadi." Jawaban Riko diartikan lain oleh Ibrahim. Terlebih dia ingat, nama Riko penah disebut-sebut oleh istrinya itu.
"Bangunkan dia! aku beri waktu 30 menit untuk sampai rumah. Kalau sampai telat, maka dia tidak perlu pulang lagi," ujar Ibrahim yang langsung menutup percakapan itu.
"Eh? laki-laki seperti apa yang Dewi kawinin? galak minta ampun. Pasti tekanan batin ini si Dewi," gerutu Riko.
"Ada apa?" tanya Mawan.
"Dia nyuruh Dewi pulang, kalau nggak pulang dalam 30 menit, si Dewi nggak usah pulang sekalian." Jawab Riko.
__ADS_1
"Sadis amat. Ya sudahlah, daripada Dewi jadi marah ke kita karena nggak dibangunin," ucap Okta.
Oktapun membangunkan Lensi. Mata Lensi terbelalak, saat tahu waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat.
"Maaf Dew tadi laki loe nelpon, dan diangkat oleh Riko. Laki loe bilang, kalau loe nggak pulang dalam waktu 30 menit, loe nggak usah pulang sekalian. Kira-Kira loe akan dapat masalah nggak Dew? apa perlu kita bantu buat jelasin ke suami loe itu?" tanya Okta.
"Nggak perlu. Gue cabut dulu ya?" ujar Lensi.
"Hati-Hati Dew," ucap Okta.
Lensipun bergegas membelah jalan dengan motor sportnya. Hanya dengan waktu 20 menit, Lensi akhirnya tiba dirumah. Dengan tergesa-gesa Lensi menaikki tangga, dan tanpa mengucapkan salam Lensi langsung menerobos masuk ke dalam kamar.
Hosh
Hosh
Hosh
Nafas Lensi tersenggal, saat dirinya tiba di dalam kamar. Ibrahim yang tengah membaca kitab sucipun jadi terkejut, karena Lensi membuka pintu dengan tiba-tiba. Lensi bisa merasakan, kalau saat ini aura yang dipancarkan pria itu sangatlah tidak enak. Lensi jadi menelan ludahnya sendiri karena takut.
"Dapat uang berapa dari melacurkan diri?"
Sungguh pertanyaan Ibrahim membuat jantung Lensi terasa dihantam batu besar.
"Maksud abang apa?" tanya Lensi.
"Beraninya kamu membohongiku? kamu bilang akan menemui temanmu bernama Okta, tapi nyatanya kamu sedang kencan dengan pria bernama Riko? pria itu sendiri yang bilang kalau kamu tertidur karena terlalu lelah bermain," ucap Ibrahim dengan nada tinggi.
"Ya kami memang bermain, tapi bukan bermain seperti yang abang pikirkan." Jawab Lensi.
"Main apa? main kuda-kudaan kan?" tanya Ibrahim.
"Kok abang jadi su'udzon gitu bang? Riko itu juga temanku. Kami main kartu beramai-ramai. Ada Okta, Karman, Mawan dan Riko. Kok abang mikirnya yang nggak-nggak gitu?" tanya Lensi.
"Bohong aja terus. Latar belakang gitu kok pengen dipercaya," gerutu Ibrahim yang membuat Lensi jadi mengerutkan dahinya.
Namun sesaat kemudian Lensi tersenyum, dan meraih tangan Ibrahim untuk dia cium.
"Maafin dinda ya bang karena pulang telat. Tadi dinda ketiduran di rumah Okta. Abang jangan membuatku salah paham. Aku bisa mengira abang cemburu loh," ujar Lensi.
Ibrahim menarik tangannya dan menatap Lensi dengan tajam.
"Cemburu juga lihat-lihat siapa orang yang dicemburui. Apa kamu benar-benar merasa sudah layak buat dicemburui?" tanya Ibrahim.
Perkataan Ibrahim benar-benar menusuk perasaan Lensi. Hingga akhirnya dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Tanpa banyak bicara lagi Lensi melepas pakaiananya, dan masuk ke dalam kamar mandi.
Brakkkkk
Lensi menutup pintu kamar mandi dengan lumayan keras. Lensi bersandar dipintu kamar mandi dan terisak disana. Namun sesaat kemudian Lensi menghapus air matanya dengan cepat.
"Jangan menangis lagi Lensi. Kamu sudah tahu resiko apa yang akan kamu hadapi bila kamu berani jatuh cinta. Itu bukan salahnya, karena dia memang tidak tahu apa-apa tentangmu. Dia juga tidak salah, karena kamu memang bukan yang terbaik untuk dia. Dan dia juga tidak salah, kalau suatu saat dia akan mencampakkanmu saat waktunya sudah tepat," ucap Lensi lirih.
"Astagfirullah...apa aku sudah kelewatan berkata kasar seperti itu? apa dia sugguh berkata jujur? dan apa benar rasa marahku karena aku merasa cemburu?" batin Ibrahim.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian Lensi keluar dengan mata merah dan sedikit sembab. Lensi juga jadi tidak banyak bicara lagi. Bahkan diapun melewatkan makan malamnya. Ibrahim menatap wajah cantik Lensi yang tertidur lelap, entah mengapa ada dorongan ingin mencium kening istrinya itu. Dengan jantung berdebar, Ibrahim mencium kening Lensi di iringi kata maafnya yang lirih.