MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
128. Penilaian


__ADS_3

"Menurutmu bagaimana tentang gadis itu?" tanya Susi, setelah Vega pergi dari rumah mereka.


"Biar begini aku juga pernah belajar ilmu Psikologi. Jangan tertipu dengan mulut manis. Seharusnya dengan cara berpakaian saja kita bisa menilai karakter seseorang."


"Lagipula aku juga sudah melihat video yang menyebankan Vega masuk penjara. Dilihat dari manapun, dia sengaja melakukannya. Orang yang pernah melakukan hal yang mengerikan, jadi kita harus tetap waspada." Jawab Gita.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Susi.


"Besok sebaiknya pasang cctv didalam kamar kita. Biar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau aku nggak salah tebak, mereka sedang menyusun rencana besar." Jawab Gita.


"Kamu jangan nakutin mama dong," ujar Susi.


"Kita bicara seandainya saja. Maksudku hal buruk yang akan terjadi kedepannya. Aku sudah menyelidiki bagaimana kehidupan sehari-hari gadis itu. Ternyata sebelum Surya bangkrut dia juga bekerja di perusaha papa sambungnya itu."


"Mengingat itu. Bukan tidak mungkin dia mengicar perusahaan itu. Terlebih aku tidak bekerja disana. Kalau nggak salah tebak, dia pasti menginginkan masuk kedalam perusahaan. Dan mengingat hati papa yang lembut dan baik, dia pasti akan memasukkan gadis itu."


"Yang jadi masalahnya kita nggak punya bukti kalau dia jahatin kita, sehingga kita tidak bisa menggagalkan rencana mereka," sambung Gita.


"Tapi untuk sementara kita harus berbaik sangka dulu. Sebenarnya mama juga takut. Mama tahu betul siapa itu Marini. Orang yang suka menghalalkan segala cara agar bisa mencapai tujuannya."


"Dulu dia menipu Surya dengan kehamilannya, padahal jelas-jelas bayi yang dia kandung adalah anak papamu. Hanya karena dulu papamu miskin, sementara Surya pengusaha ternama. Dia lebih memilih Surya dan menjebak pria itu. Bahkan mereka melakukan pembunuhan berencana terhadap mendiang istri Surya,"


"Mama tidak tahu kenapa Surya malah memilih wanita yang otaknya hanya diisi dengan pikiran jahat dan juga uang. Padahal yang mama dengar mendiang istrinya itu pribadi yang lemah lembut dan sangat penyayang," sambung Susi.


"Namanya juga manusia serakah ma. Sekarang Surya sudah lumpuh dan miskin kan?" tanya Gita.


"Darimana kamu tahu?" tanya Susi.


"Untuk menjaga keluargaku, aku harus melakukan beberapa hal. Aku nggak mau ada ular masuk dalam rumahku, apalagi masuk dan mematuk dalam selimutku." Jawab Gita


"Berhati-Hatilah. Karena dia lebih memilih tinggal dengan Marini, itu berarti dia membela kejahatan. Marini pasti meracuci pikiran anaknya. Kita akan lihat, langkah apa yang akan diambil oleh ibu dan anak itu. Tapi mama berharap sih mereka sudah berubah," ujar Susi.


"Nanti malam aku mau dinner sama Iko ma," ucap Gita.


"Pacaran jangan lama-lama. Kalau memang sudah cocok halalkan saja," ujar Susi.


"Nantilah ma. Kami mau ngumpulin uang dulu buat nikah. Kami juga lagi kumpulin duit buat beli rumah sendiri," ucap Gita.


"Kenapa harus mengkhawatirkan itu. Papa pasti nggak akan membiarkanmu hidup kesusahan," ujar Susi.

__ADS_1


"Tapi kami sudah sepakat. Kami akan menyiapkan semuanya sendiri," ucap Gita.


"Ya baiklah.Sekarang lebih baik kamu ganti baju dan bersihkan dirimu. Mau kencan juga harus wangi," ujar Susi.


"Ya ma. Gita keatas dulu ya," ucap Gita.


"Emm." Susi mengangguk.


Gita kemudian naik keatas untuk membersihkan diri. Karena dia berencana akan berkencan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Gita tampak cantik dengan balutan gaun berwarna hitam yang melekat ditubuh indahnya. Rambutnya dia buat agak sedikit bergelombang. Malam ini dia tidak menggunakan kaca mata bacanya, karena dia sudah menggunakan lensa untuk membantu matanya itu.


Tok


Tok


Tok


"Sayang. Iko sudah datang tuh," Susi memanggil putrinya yang masih tampak asyik bersolek.


"Ya tunggu sebentar ma," sahut Gita dari dalam kamarnya.


"Maaf ya sudah nunggu lama," ujar Gita setelah sampai di ruang tamu.


"Tidak masalah. Ayo kita pergi," ucap Gita.


Merekapun pergi menuju salah satu restauran mewah yang biasa mereka kunjungi. Tanpa Gita tahu, Vega melihat dirinya sejak pertma kali Gita masuk dari pintu masuk.


"Siapa? kamu kenal?" tanya Marini.


"Itu anak Handoko yang lain, Gita." Jawab Vega.


"Mana mungkin. Bukankah kamu bilah dia itu gadi cupu berkaca mata yang hanya gila dengan seragam?" tanya Marini.


"Ternyata hanya kamuflase saja. Jadi ternyata adikku itu sudah punya kekasih? bagaimana kalau aku kacaukan saja hidupnya itu?"


"Maksudmu?" tanya Marina..

__ADS_1


"Aku tidak suka dia mendapatkan semua hal baik dalam hidupnya, sementara aku menderita. Dia yang beruntung, mengingatkan aku pada Lensi. Aku tidak mau orang-orang yang tidak layak mendapatkan kebahagiaan, malah hidupnya lebih layak dariku.Padahal dilihat dari segi manapun, akulah yang paling layak mendapatkan semuanya." Jawab Vega.


"Apa rencanamu?" tanya Marini


"Aku akan mematahkan hatinya. Aku akan merebut kekasihnya yang tampan itu. Aku ingin dia menangis histeris saat tahu kekasih yang dia cintai, lebih memilihku daripada memilihnya." Jawab Vega.


"Kenapa jadi rencana kita berubah? ingatlah tujuan utama kita," ujar Marini.


"Mama tenang aja. Kita akan membuat beberapa drama. Aku jadi punya ide buat menyingkirkan gadis cupu itu dengan menggunakan pria itu. Sekarang cepat habiskan makanan mama, dan kemudian pulang!" ucap Vega.


"Kok pulang?" tanya Marini.


"Aku ingin melancarkan aksi keduaku." Jawab Vega yang kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan sedikit menarik pakaian bagian depannya, agar dadanya yang menjulang semakin terlihat.


"Gita?" sapa Vega yang bertingkah seolah-olah baru datang.


"Kamu Gita kan?" tanya Vega.


Iko dan Gita menoleh kearah Vega yang tampak berpakaian super sexy.


"Eh kak Vega. Kakak makan disini juga? sama siapa?" tanya Gita basa basi.


Vega dengan tidak tahu malunya langsung menarik kursi kebelakang, dan duduk diantara Gita dan Iko.


"Iya sendiri. Eh ini siapa? pacarmu? kakak boleh gabung nggak? nggak enak makan sendiri," tanya Vega.


Gita melirik kearah Iko, yang kemudian diangguki oleh pria itu.


"Silahkan aja kak. Pesan aja apa yang kakak mau. Oh ya kenalin ini Iko, pacar aku." Jawab Gita.


"Oh Hai...aku Vega, kakak satu ayah beda ibu sama Gita," ujar Vega sembari mengulurkan tangannya.


"Iko." Iko hanya menyebutkan namanya, tanpa membalas uluran tangan Vega. Gita hanya menahan tawanya, karena dia tahu betul Iko tipe pria yang sangat cuek. Dia ingat betul betapa sulitnya perjuangan mereka hingga bisa sampai jadian.


Iko memiliki pribadi yang cuek, dan tidak suka wanita yang neko-neko.


"Kalian sudah lama pacaran? kapan kalian akan berencana menikah?" tanya Vega.


"Mungkin tahun depan. Kami pacaran baru satu tahun belakangan ini." Jawab Gita.

__ADS_1


"Sombong sekali cowok ini. Tapi dia memang sangat tampan dilihat dari sudut manapun," batin Vega.


Vega sangat banyak bicara malam ini. Gita tahu kekasihnya itu sangat tidak suka dengan wanita yang banyak bicara, terlebih berbicara hal yang tidak penting. Jadilah setelah makan malam, Gita dan Iko mengantar Vega pulang ke rumahnya.


__ADS_2