MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
32. Nihil


__ADS_3

Sudah berjam-jam tim SAR mencari keberadaan Lensi di aliran sungai. Namun mereka sama sekali tidak menemukan Lensi. Bahkan mereka juga sama sekali tidak menemukan petunjuk atau barang Lensi yang hanyut atau semacamnya. Mereka memutuskan untuk menghentikan pencarian, karena hasil pencarian mereka dinyatakan nihil.


"Maaf pak. Sepertinya orang yang anda cari sudah selamat atau diselamatkan orang. Kami sudah mencarinya sampai ujung. Tidak ada desas desus ditemukannya orang atau mayat. Kami juga sudah menanyakannya pada warga," ujar salah seorang tim SAR.


Arman tampak terdiam sejenak. Sesaat kemudian pria itu tersenyum. Ada keyakinan penuh dihatinya kalau adik angkatnya itu baik-baik saja.


"Terkadang aku suka berpikiran bodoh. Bagaimana dia bisa mati dengan hanya jatuh ke air. Jatuh dari gedung saja dia tidak mati," batin Arman.


"Baiklah terima kasih atas bantuannya pak. Kalau begitu saya akan memastikannya di rumah. Siapa tahu dia sudah kembali," ujar Arman.


"Sama- Sama pak." Jawab tim SAR.


Arman menyelipkan amplop kesalah satu dari mereka, agar mereka membaginya dengan rata. Setelah itu Arman menemui teman-teman Lensi untuk kembali berdiskusi.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Ceklekkkk


"Bang Arman? silahkan masuk bang," ujar Okta saat melihat Armanlah yang datang menemui mereka. Padahal Okta sempat berharap bahwa Lensilah yang pulang.


Arman melangkah masuk, dan duduk di salah satu sofa. Arman bisa melihat wajah teman-teman Lensi sangat kuyu karena lelah dan kurang tidur.


"Okta bergegas membuatkan Arman teh hangat dan meletakkannya diatas meja setelah selesai.


"Bagaimana hasilnya bang?" tanya Okta sembari menjatuhkan bokongnya untuk ikut bergabung.


"Aku sudah menemui pemilik klub itu, dan sudah menggeledah tempat itu. Tapi Lensi tidak ada disana. Tanda -Tanda pencukikkanpun tidak ada disana." Jawab Arman.

__ADS_1


Arman meraih cangkir teh, dan menyesapnya perlahan.


"Tapi ada salah seorang dari mereka mengatakan, kalau Lensi sengaja menjatuhkan diri dari atas jembatan X karena ingin mencari peruntungan."


"Seorang pria? siapa? kalau dia salah satu dari mereka, bagaimana kita bisa percaya kata-katanya begitu saja?" tanya Riko.


"Aku tidak tahu siapa namanya. Yang pasti pria itu bukan berkebangsaan negara kita. Wajahnya juga bukan seperti orang-orang Asia." Jawab Arman.


"Itu pasti dewa judi," ujar Okta.


"Dewa judi? siapa dia?" tanya Arman.


"Dia lawan Lensi saat kompetisi. Dia pria berkebangsaan Austria. Apa mungkin kita bisa percaya dengan kata-katanya? sementara dia adalah salah satu dari mereka," ujar Okta.


"Aku tidak bisa menjelaskan padamu. Tapi aku percaya pria itu berkata jujur. Aku bahkan sudah menyusuri sungai jembatan yang pria itu maksud, namun hasilnya nihil." Jawab Arman.


"Tapi kenapa harus khawatir. Dia jatuh dari gedung saja masih hidup, apalagi hanya jatuh kedalam sungai kecil. Aku yakin saat ini dia sedang berada disuatu tempat. Dia pasti akan segera menghubungi kita," sambung Arman.


Okta dan teman-temannya tampak berpikir keras. Dalam diam mereka menyetujui perkataan Arman, karena mereka mempunyai keyakinan yang sama.


"Buatkan aku makanan. Aku sangat lapar," ujar Arman.


"Apa mie instan tidak masalah bang? disini cuma ada mie instan dan telur," tanya Okta


"Tidak apa. Masakkan aku dua bungkus, telornya dua." Jawab Arman.


Okta segera bangkit dari tempat duduknya, dan mulai memasak apa yang Arman mau. Sementara itu Arman berbincang banyak hal dengan teman-teman Okta yang lain.


Sementara itu di tempat berbeda. Lensi perlahan membuka matanya. Gadis itu baru terbangun dari tidur nyenyaknya disebuah pinggiran kota. Lensi merenggangkan tubuhnya agar membuat otot-ototnya lega.


Tadi malam saat jatuh dari atas jembatan, Lensi cukup berjuang agar dirinya bisa selamat dari aliran sungai yang deras. Dengan kemampuan berenang yang mumpuni, Lensi akhirnya bisa sampai ke muara dan bangkit dari dalam air.

__ADS_1


Dalam kegelapan dia berjalan tidak tentu arah. Bahkan dia tidak terpikirkan bakal bertemu binatang buas seperti buaya, ular atau semacamnya. Gadis itu terus berjalan tidak tentu arah. Dan kemudian beristirahat, bahkan tertidur diatas tanah keras.


"Eh? aku dimana sekarang ya? kok kayak dipinggiran kota gitu? apa aku benar-benar pergi sejauh itu?" ucap Lensi lirih.


"Aku harus segera pergi dari sini, sangat berbahaya kalau orang-orang klub bisa menemukan keberadaanku,"


Lensi bangkit dari berbaring. Masih Lensi rasakan semua pakaiannya masih terasa sedikit basah, meskipun tidak terlalu basah lagi. Gadis itu menyusuri jalan dengab langkah cepat, dan akhirnya menemukan sebuah bangunan dua tingkat namun berbentuk panjang. Lensi pikir itu sebuah sekolah atau semacamnya.


Karena terlalu lelah, Lensi memutuskan untuk masuk ke dalam tempat itu. Lensi melihat ada bangunan utama yang bangunananya sangat unik dan indah. Suasana tempat itu tampak sunyi dari luar. Lensi melirik kearah gembok pagar yang terkunci.


"Eugghh...bagaimanapun caranya aku harus masuk ke dalam. Aku sudah sangat kelaparan dan kehausan. Mungkin untuk sementara aku bisa bersembunyi di tempat ini," ujar Lensi lirih.


Tap


Tap


Tap


Dengan kepandaian yang dia miliki, Lensi berhasil memanjat tembok pagar setinggi kurang lebih dua meter. Dia tidak mungkin masuk melalui gerbang yang sengaja digembok besar.


Setelah masuk kedalam, Lensi segera menyelinap masuk ke bangunan utama. Saat masuk pertama kali ke tempat itu, Lensi merasakan ada hawa sejuk disekitarnya. Dan entah mengapa Lensi merasa tenang dan senang berada ditempat itu.


Entah apa yang ada dalam pikirannya, Lensi meneruskan langkah kakinya meski sayup-sayup dia sudah mendengar percakapan antara dua orang yang berada disuatu ruangan. Lensi malah memilih terus menyusuri tempat lain.


Ceklekkkk


Lensi menekan handle pintu dan memasuki ruangan yang diapun tidak tahu siapa pemiliknya.


"Ah...sialan. Sepertinya aku masuk angin. Perutku terasa mual, di tanbah aku sangat lapar saat ini. Eh? sepertinya aku masuk ke kamar orang ya? kamarnya lumayan rapi dan bersih. Masa bodoh kamar siapa ini, aku mau beristirahat," ujar Lensi.


Lensi melepas jaket kulitnya dan melemparkannya begitu saja di lantai. Lensi hanya meninggalkan baju tanktop berwarna hitam ditubuhnya. Dan dengan lancang masuk kedalam selimut diatas ranjang.

__ADS_1


"Ah...nyamannya. Rasanya sangat hangat. Aku sangat ngantuk dan lelah. Lebih baik aku tidur sejenak," ucap Lensi.


Lensipun masuk kedalam selimut, hingga kepalanyapun dia tenggelamkan disana. Tidak butuh waktu yang lama baginya, diapun jatuh tertidur. Beberapa saat kemudian, seseorang keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Belum sempat berpakaian, Dia dikejutkan karena ada pergerakkan didalam selimutnya. Padahal dia ingat betul tidak menyuruh siapapun masuk kedalam kamarnya itu.


__ADS_2