MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
67. Merindukanmu


__ADS_3

Pakkkkk


Alex menepuk bahu sahabatnya yang terlihat sangat frustasi.


"Bersabarlah. Jika dia memang jodohmu, dia pasti akan kembali. Apalagi dia bilang akan kembali kan suatu saat nanti? mungkin disitulah kesempatan kamu untuk menjelaskan semuanya tentang kesalahpaham ini," ujar Alex.


"Tapi sampai kapan Lex? sekarang saja aku sudah setengah mati merindukan dia," ucap Ibrahim.


Alex jadi terkekeh mendengar ucapan Ibrahim. Selama puluhan tahun berteman, baru kali ini dia melihat Ibrahim sangat galau.


"Sepertinya virus anak muda jaman sekarang juga menempel sama kamu," ledek Alex.


"Virus anak muda? virus apa?" tanya Ibrahim.


"Virus bucin." Jawab Alex sembari terkekeh.


"Kamu ngatain aku, kamu sendiri punya PR buat naklukin hatinya Fatimah," ucap Ibrahim.


"Gimana mau naklukin. Wajahnya aja aku nggak pernah lihat, chat aku nggak dibalas. Dia dan aku kan sama-sama terpaksa menerima perjodohan kilat ini. Aku kayak beli kucing dalam karung. Awas aja kalau Fatimah nggak secantik yang kamu bilang," ujar Alex.


"Ente nggak boleh gitu. Sejelek apapun Fatimah, dia tetap ciptaan Allah. Ente nggak bisa kasih dia nyawa bukan?"


"Ente bisa aja kalau nyeramahin ane. Kalau Lensi pas ketemu giginya tonggos, pasti ente juga nggak bakalan jatuh cinta seperti sekarang ini." Ibrahim jadi terkekeh mendengar ucapan Alex.


"Insya Allah Fatimah memenuhi espektasi ente kalau dari segi paras. Yang pasti dia wanita sholeha, nggak payah lagi ente buat bimbing dia,"


"Tapi kurang greget pastinya," timpal Alex.


"Bikin dunia pernikahan sendiri, kalau mau greget. Lagian belum dicoba, kita nggak tahu Fatimah itu seperti apa. Siapa tahu lebih gila lagi dari bini ane," ucap Ibrahim.


"Ane jadi nggak sabar pengen lihat tu si Fatimah kayak apa. Lagian ampuh amat mulut ente, hingga dia setuju nerima lamaran yang sama sekali nggak dia kenal. Ente kasih jaminan apa sama dia?" tanya Alex.


"Ane kasih jaminan, ente bisa masukin dia kedalam surga dari pintu mana saja." Jawab Ibrahim dengan santai.


"Ap-Apa? bahlul ente Im. Ane aja nggak tahu masuk surga apa enggak. Gimana ceritanya bisa janjiin masuk Surga dari pintu mana saja?" ucap Alex syok.


"Kenapa ente bingung, cemas begitu? ente paham juga dengan agama. Dia juga wanita sholeha. Dia pasti tahu untuk masuk surga dalam berumah tangga, mesti harus ngelakuin apa. Asal dia mematuhi ente sebagai imam yang sholeh, dia pasti bisa masuk ke situ," ujar Ibrahim yang dijawab gelengan kepala oleh Alex.


"Bikin stres ane aja ente. Urusan dunia aja belum kelar pusingnya. sekarang dibikin urusan akhirat juga," ucap Alex.


"Kenapa harus pusing. Selagi ente menjalankan semua perintah Allah, dan menjauhi semua larangannya, Surga sudah pasti didepan mata ente," ujar Ibrahim yang disambut putaran bola mata malas oleh Alex.

__ADS_1


Bukan Alex tidak percaya dengan apa yang Ibrahim katakan, karena semua ucapan pria itu memang benar. Tapi tentu saja teori dan praktek sangat berbeda. Karena Alex menyadari, semua manusia itu pasti akan di uji sesuai kadar keimanannya.


"Ane pulang dulu ya Lex. Mau ke pesantren dulu. Besok pagi ane punya jadwal ngajar ilmu fiqih," ucap Ibrahim.


"Ente nggak nyari Lensi lagi?" tanya Alex.


"Ane akan ngikutin saran ente buat menanti dia kembali. Tapi tetap ane akan menyisiri kota ini pelan-pelan." Jawab Ibrahim.


"Oke. Hati-Hati," ujar Alex.


"Emm." Yang dibalas anggukkan oleh Ibrahim.


Ibrahim kemudian pergi dari rumah Alex dengan membawa kegelisahan di hatinya.


"Sayang. Pulanglah! aku sangat merindukanmu. Sekarang aku bingung harus mengadapi Umi dan Abi. Mereka pasti marah besar padaku," batin Ibrahim.


Setelah menempuh perjalanan dengan hati yang gundah gulana, Ibrahim akhirnya tiba di pesantren. Ibrahim segera menemui orang tuanya, yang tengah berada didalam kamar itu.


"Ada apa. Hem?" tanya Aisyah saat Ibrahim tiba-tiba memeluk Aisyah sembari menangis.


Sementara Ustad Gofur dan Aisyah saling berpandangan mata. Ini kali pertama mereka melihat putra mereka menangis sedemikian rupa.


"Lensi pergi ninggalin Baim Umi. Dia mengira yang akan menikahi Fatimah adalah Baim. dia pergi karena salah paham," ujar Ibrahim sembari menyeka air matanya.


Ibrahim kemudian menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya selama ini. Aisyah dan Ustad Gofur sangat terkejut, saat mengetahui Ibrahim bisa melakukan hal itu pada Lensi yang notabene adalah istrinya yang halal.


"Astagfirullahaladzim...astagfirullah...." berulang kali Ustad Gofur beristigfar yang membuat Ibrahim jadi tertunduk.


"Abi pikir ilmu yang kamu peroleh sampai kenegeri asing, benar-benar bisa kamu aplikasikan dalam kehidupanmu. Bagaimana bisa kamu mendzolimi istri kamu sendiri dengan tidak memberinya nafkah lahir maupun batin," ucap Ustad Gofur.


"Tidak Abi. Kalau nafkah lahir rencananya Baim akan memberinya awal bulan ini, setiap bulan. Kalau masalah nafkah batin, Baim ingin pelan-pelan saling mengenal dulu,"


"Tapi disaat Baim sudah benar-benar jatuh cinta padanya, dia malah pergi. Baim sudah berusaha menemukan dia, tapi Baim gagal. Sekarang Baim harus bagaimana Umi." tanya Ibrahim dengan air mata yang mengucur.


"Apa kamu sungguh-sungguh mencintainya?" tanya Aisyah yang dijawab anggukkan kepala cepat Ibrahim.


Aisyah tersenyum mendengar ucapan putranya itu. Wanita parubaya itu membelai rambut Ibrahim dengan penuh kasih sayang.


"Percayalah. Jodoh, maut, rejeki, Allah sudah mengatur semuanya. Kamu sudah menyaksikan sendiri, bagaimana Allah berkuasa atas kehendaknya. Saat kamu hampir saja menikah dengan Fatimah, kemudian Lensi muncul dengan tiba-tiba dan menggagalkan semuanya."


"Allah menjodohkanmu dengannya, pasti Allah punya alasannya. Bisa jadi melalui dia, Allah ingin menghilangkan sikap angkuhmu yang sudah mulai terlena dengan urusan dunia. Kamu di uji dengan diberi Istri yang belum terlalu mengerti ilmu agama, agar kamu sabar dalam membimbing dia."

__ADS_1


"Sekarang kamu harus bertaubat. Lakukan sholat taubat, minta ampun pada Allah atas semua kekeliruan yang sudah kamu buat. Dan jangan lupa kamu juga harus berdo'a, agar segera dipertemukan kembali dengan dia," sambung Aisyah.


"Terima kasih Umi atas nasehat berharga dari Umi. Sekarang Ibrahim sudah sedikit lega dan tenang," ujar Ibrahim.


"Istirahatlah," ucap Aisyah.


"Emm." Ibrahim menganggukkan kepala.


Ibrahim kemudian pergi ke kamarnya. Hal pertama yang dia rasakan saat masuk ke kamar itu, ada perasahan rindu. Karena dia ingat betul, di kamar itulah pertama kali dia bertemu dengan Lensi. Dia jadi tersenyum, saat mengingat awal-awal pertemuannya dengan Lensi di kamar itu. Kekonyolan istrinya, jebakkan yang dia buat untuknya. Hingga membuat dia benar-benar jatuh hati pada istrinya itu.


Namun saat dirinya teringat dengan istri cantiknya itu, Ibrahim jadi teringat tentang pekerjaan Lensi sebagai model. Diapun bergegas menghubungi William untuk menanyakan tentang keberadaan istrinya.


"Ya bos besar?" tanya William diseberang telpon.


"Apa agensimu punya jadwal pemotretan atau syuting iklan lagi buat Lensi?" tanya Ibrahim.


"Sebenarnya sangat kebetulan kamu menghubungiku, karena Lensi tidak bisa dihubungi. Ada tawaran iklan shampo untuk dia. Bayarannya sangat mahal. Ada juga beberapa tawaran produk makanan dan minuman untuknya. Sejak iklan produk kecantikkan di rilis, tawaran iklan berdatangan. untuknya. Tolong kamu sampaikam sama dia buat datang ke agensi ya?"


"Ya." Ibrahim cuma mengiyakan ucapan William.


Ibrahim hanya ingin tahu keberadaan istrinya, namun ternyata dia tidak berada ditempat itu. Ibrahimpun mengakhiri percakapan itu.


"Kamu ada dimana sayang. Aku sangat merindukanmu," ucap Baim lirih.


Sementara itu di tempat berbeda Lensi tengah menatap layar ponselnya. Saat ini dia tengah menonton video kebersamaannya dengan Ibrahim, ketika mereka main judi di rumah Okta. Sesekali Lensi tersenyum, saat melihat suaminya itu. Namun terkadang Lensi juga meneteskan air mata. Lensi kemudian menatap layar ponselnya yang wallpapernya dia gunakan saat dirinya tengah mencium Ibrahim yang sedang tertidur lelap.


"Aku sangat merindukan kamu bang. Saat ini kamu pasti diliputi rasa bahagia, karena sebentar lagi akan menikahi Fatimah. Mungkin kamu akan merasa lega saat aku pergi, karena kamu tidak repot-repot lagi buat mengusirku pergi dari kehidupanmu. Semoga kamu dan Fatimah bahagia ya bang?"


Lensi meraba-raba foto itu. Foto kenangan yang sukar Lensi lupakan.


Krieeekkk


Lensi menoleh kearah pintu yang terbuka. Dia cukup heran saat melihat Zoya kembali dengan banyak keringat didahinya.


"Loe darimana? gue dari mulai tidur sampai bangun, loe juga belum balik kesini? datang-datang berkeringat gitu," tanya Lensi.


"Eh? a-aku dari habis latihan. Bosan di kamar terus. Jadi aku latihan di belakang." Jawab Zoya.


"Ada apa dengan Zoya? kenapa dia terlihat gugup gitu?" batin Lensi.


"Gue mandi dulu ya? gerah," ujar Zoya

__ADS_1


"Ya." Jawab Lensi.


Zoya langsung berlalu dari hadapan Lensi dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Gadis itu senyum-senyum sendiri saat mengingat percintaan panasnya bersama Sendy.


__ADS_2