MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
118. Berdebar


__ADS_3

"Abang mau ke Masjid?" tanya Lensi saat melihat Ibrahim sudah mengenakan sarung, peci dan baju koko.


"Iya. Mungkin abang nggak akan pulang dan langsung sholat isya disana. Jangan tunggu abang makan malam. Kamu makan duluan saja." Jawab Ibrahim.


Ini kali pertama Ibrahim menolak makan malam bersama Lensi. Ini juga kali pertama Ibrahim sholat isya diluar selama mereka menjalani rumah tangga yang harmonis. Lensi menatap wajah terutama mata Ibrahim dengan lekat. Ibrahim malah menundukkan wajahnya.


"Sebenarnya seperti inilah yang paling aku takutkan dari hasil pemeriksaan itu bang. Takut hasilnya mempengaruhi suasana hati kita. Tapi bukankah kita sudah sepakat akan menerima kekurangan satu sama lain? tapi kalau melihat sikap abang yang berubah, ternyata itu hanya dimulut saja ya?"


"Ap-Apa maksudmu sayang? abang baik-baik saja kok," tanya Ibrahim.


"Sangat terlihat jelas kalau abang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sikap abang langsung berubah, setelah dokter mengatakan bahwa rahimku baik-baik saja. Bukankah itu suatu yang patut disyukuri? kita belum tahu masalah utamanya apa, tapi abang sudah berubah jadi pendiam. Bagaimana kalau...."


Greppppp


Ibrahim tiba-tiba berhambur kepelukkan Lensi. Dia tidak bisa memungkiri, kalau suasana hatinya memang buruk setelah mendengar penjelasan dokter.


"Abang takut. Abang sangat takut mendengar hasil dari pemeriksaan itu besok. Abang takut kalau ternyata abang dinyatakan mandul. Itu pasti sangat melukaimu. Lambat laun kamu pasti akan meninggalkan abang," ucap Ibrahim.


"Jadi begitu ya? kalau seandainya aku yang dinyatakan mandul, lambat laun abang akan ninggalin aku?" tanya Lensi.


Ibrahim bergegas menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan menjauhkan tubuh Lensi sembari memegang kedua bahu istrinya itu.


"Tidak sayang. Kalau itu berlaku sama kamu, abang bersumpah nggak akan pernah meninggalkanmu. Justru abang yang takut kamu yang akan meninggalkan abang." Jawab Ibrahim.


"Kenapa abang berpikir seperti itu? aku tidak masalah kita tidak punya anak seumur hidup. Aku sudah biasa kesepian sejak kecil. Aku sudah biasa sendiri. Bagiku memiliki abang disisiku saja sudah lebih dari cukup. Jika memilikki anakpun, akan aku anggap sebagai bonus," ujar Lensi.


Grepppp


Ibrahim memeluk Lensi dengan erat. Perasaannya sedikit membaik setelah mendengar ucapan istrinya itu.


"Sekarang abang ke masjid ya? aku akan menunggu abang makan malam bersama," ucap Lensi.


"emm." Ibrahim mengangguk.

__ADS_1


Ibrahim berangkat ke masjid setelah mencium kening istrinya itu. Sesuai janjinya, Ibrahim pulang dari masjid setelah menunaikan ibadah magrib untuk makan malam bersama.


"Loh. Kata abang pulang habis isya?" tanya Lensi saat melihat Ibrahim membuka pintu kamar mereka.


"Nggak jadi. Mau sholat berjama'ah aja sama kamu. Kamu sudah makan?" tanya Ibrahim.


"Belum. Aku nungguin abang." Jawab Lensi sembari mengambilkan Ibrahim baju santai.


"Ya udah kita makan malam sekarang kalau gitu," ujar Ibrahim sembari meraih Pakaian yang ada ditangan Lensi. Setelah berpakaian merekapun makan malam bersama.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Deg


Deg


Deg


Grepppppp


Lensi memasukkan jari-jarinya disela jari Ibrahim yang tengah berkeringat dingin. Ibrahim menoleh kearah Lensi yang tengah memberikan senyum terbaiknya. Lensi sebisa mungkin memberikan energi positifnya pada Ibrahim, yang kini tengah menghadapi kegelisahan.


"Tuan Ibrahim. Setelah ini giliran tuan Ibrahim ya," seorang perawat memanggil nama Ibrahim, yang tandanya gilirian dirinya dan Lensi yang memasuki ruangan.


Lensi segera berdiri dan menarik tangan Ibrahim, namun Ibrahim tidak juga kunjung berdiri.


"Ada apa bang?" tanya Lensi.


"Sebaiknya kita pulang saja. Lupakan soal hasil pemeriksaan itu. Tidak perlu tahu apapun hasilnya. Yang penting kita selalu bersama, dan saling menerima kekurangan masing-masing." Jawab Ibrahim.


Ibrahim kemudian bangkit dan menyeret tangan Lensi keluar pintu ruang tunggu.


"Bang nggak bisa gini dong bang. Kita kan sudah memutuskan untuk menerima apapun hasilnya," ujar Lensi namun sama sekali tidak di gubris oleh Ibrahim.

__ADS_1


"Bang aku nggak mau pulang bang. Lepasin aku! aku mau tahu hasilnya. Siapa tahu semua baik-baik saja. Siapa tahu masalahnya masih bisa diatasi," ucap Lensi yang berusaha menyeimbangkan langkah kaki Ibrahim yang tengah menyeret tangannya menuju mobil mereka yang berada di tempat parkir.


"Bang lepasin bang!" Lensi menarik tangannya dengan sangat keras, hingga pegelangan tangan Lensi jadi merah.


"Kenapa abang jadi pengecut begini. Kalau ada yang sakit, harus berobat. Bukan malah menghindar seperti pengecut begini. Abang kenapa sih?" nafas Lensi naik turun karena mulai tersulut emosi.


"Pokoknya aku mau masuk kedalam. Terserah abang kalau nggak mau mendengar hasil test itu," sambung Lensi.


"Ya sudah kalau kamu mau pergi. Pergi sana sendirian! kamu nggak ngerti perasaan aku gimana saat ini," hardik Ibrahim.


"Abang yang nggak ngerti aku. Abang pengen punya anak tapi nggak mau usaha. Baru mau lihat hasil test aja udah kayak gini," bantah Lensi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Terserah kamu!" Ibrahim membuka pintu mobil dan menutup pintu mobil dengan lumayan keras.


Braaaakkkk


Air mata Lensi jatuh. Bisa dibilang ini pertengkaran pertama mereka selama berumah tangga. Ibrahim kemudian menginjak gas mobilnya dan melesak pergi tanpa memperdulikan Lensi yang tinggal sendirian di tempat parkir.


Lensi berjalan menyusuri trotor dan terduduk dibawah pohon sembari menangis. Dia sangat sedih dengan sikap Ibrahim hari ini. Sementara itu Ibrahim yang tengah berada dijalan raya jadi terngiang-ngiang dengan ucapan Lensi sebelum dia pergi meninggalkan istrinya itu. Dan terakhir dia jadi teringat saat melihat Lensi menangisi kepergiannya.


Sssiittttt


Ibrahim mengerem mobilnya secara mendadak.


"Astagfirullahaladzim...astagfirullahaladzim Ibrahim. Namamu Ibrahim, nama yang diberikan oleh kedua orang tuamu. Berharap kamu diberikan kesabaran sama seperti nabi Ibrahim. Ketika dia diberikan cobaan tidak memiliki keturunan hingga usianya mencapai 120 tahun dan istrinya Sarah berusia 90 tahun. Namun ketika Allah sudah berkehendak, maka nabi Ibrahim dan Sarah diberikan juga keturunan berkat keimanan dan ketaqwaan mereka,"


"Tapi sekarang apa yang kamu lakukan Ibrahim. Kami menyakiti hati istrimu yang bahkan usianya baru mencapai 23 tahun. Dia saja bisa kuat, kamu yang usianya jauh lebih tua malah bersikap kekanakkan," ucap Ibrahim lirih.


Ibrahim segera menginjak gas mobilnya. Untuk putar balik kembali ke rumah sakit. Dia begitu tidak sabar ingin memberikan pelukkan pada istrinya yang tengah bersedih itu.


"Maafkan abang sayang. Maafkan abang," gumam Ibrahim yang sangat kesal, karena dirinya terjebak lampu merah yang durasinya cukup panjang.


Setelah lampu berubah warna hijau, Ibrahim tancap gas secepat yang dia mampu. Dalam waktu tidak sampai 10 menit, Ibrahim kembali sampai ke tempat parkiran rumah sakit. Dia bergegas masuk ke dalam ruangn tunggu, namun sama sekali tidak menemukan keberadaan Lensi. Ibrahim pikir Lensi berada di ruangan dokter, dan sengaja menunggunya di luar. Namun saat pasien yang keluar bukanlah istrinya, Ibrahim jadi panik. Diapun bergegas keluar ruangan itu dan mencari Lensi di tempat parkiran.

__ADS_1


__ADS_2