MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
70. Lensi Sedih


__ADS_3

"Apa? Lensi berada diluar negeri buat kuliah bisnis?" tanya Surya syok.


"Iya pa. Sekarang yang bisa kita lakukan hanya menjual aset kita demi menyelamatkan perusahaan. Nanti kalau perusahaan sudah jaya kembali, kita akan membeli lagi aset yang lebih mahal," ujar Vega.


"Siapa yang mau membeli aset kita secepat yang kita butuhkan. Aset kita ini bernilai ratusan milyar. Butuh waktu lama buat tawar menawar. terlebih kalau kita jual dengan pengusaha. Mereka tahu kita sedang butuh, pasti mereka akan membeli dengan harga murah," ucap Surya.


"Direktur utama Al-Gif mau membantu kita buat membeli semua aset kita dengan harga mahal. Dia bahkan sudah memberikan kartu namanya padaku," ujar Vega.


"Benarkah?" tanya Surya dengan mata berbinar.


"Iya." Jawab Vega.


"Tapi kenapa dia bisa mau menolong kita? kita kan tidak memiliki hubungan bisnis apapun dengannya?" tanya Surya.


"Kenapa papa tidak mengerti juga. Apalagi kalau bukan karena direktur utama itu tergoda dengan kecantikkan dan kesexyan putri kita," timpal Marini.


"Begitu ya?"


"Siapa yang bisa menolak kecantikkan dan kemolekkan anak kita," ucap Marini.


"Tapi bukankah dia baru menikah satu bulan yang lalu?" tanya Surya.


"Kenapa papa heran? mungkin saja wanita itu tidak pandai memberikan service yang bagus, hingga membuat pria itu jadi bosan. Bagus juga kalau Vega bisa menggantikan posisi istrinya itu," ujar Marina.


"Kerja bagus Ve. Papa bangga padamu," ujar Surya.


"Apa mungkin ya yang dikatakan mama benar? dia tidak memiliki hubungan apapun dengan perusahaan ataupun dengan keluarga. Tapi kenapa dia mau membantu membeli aset kami, bahkan dengan harga mahal. Apa dia berpura-pura menolakku karena ingin tarik ulur denganku?" hati Vega berbunga-bunga.


"Sekarang kamu hubungi dia. Kita akan menjual aset-aset kita sama dia," ujar Surya.


"Baik pa." Jawab Vega dengan penuh semangat.


Vegapun segera menghubungi Ibrahim untuk mengajak Ibrahim bertransaksi. Ibrahimpun membeli kelima aset yang ingin Surya jual dan menyimpan surat kepemilikkan kedalam brankas.


Sementara itu selama 3 hari Lensi setiap malam begadang karena bermain judi. Tidak tanggung-tanggung, setiap aplikasi judi online dia mainkan. Dan sudah berhasil memenangkan ratusan juta. Namun saat mendengar kabar perusahaan Surya sudah bangkit kembali, tentu saja Lensi jadi sedih. Itu artinya dia sudah gagal menyelamatkan aset-aset berharga milik keluarga ibunya.


"Sabar ya Len. Sekarang satu-satunya harapan loe tinggal perusahaan itu. Kali ini kalau kamu ingin meretas perusahaan itu lagi, kamu jangan kasih ampun. Sikat saja semua datanya. Saat ini mereka pasti sedang mulai mencari rekan bisnis yang baru. Apa perusahaan itu murni milik keluargamu? atau ada pemilik saham yang lain?" tanya Zoya.

__ADS_1


"Murni. Kalau ada, sejak kemarin-kemarin aku akan mencari orangnya agar mau menjual sahamnya padaku." Jawab Lensi.


Zoya melihat kesedihan dimata Lensi. Dan dia bisa mengerti itu.


"Maaf ya Zoy. 3 hari kita begadang, tapi kita malah gagal," ujar Lensi.


"Tidak masalah. Aku malah belajar banyak darimu. Sekarang kita beristirahat saja dulu. Karena begadang terus tubuhmu jadi kurus disamping patah hati karena mengingat si abang Ustad," ledek Zoya.


"Kamu juga gitu," ledek Lensi balik yang membuat keduanya jadi terkekeh.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Jadi ente sudah membeli aset Surya Gemilang?" tanya Alex.


"Ya. Akan ane hadiahkan pada Lensi saat dia kembali nanti." Jawab Ibrahim.


"Kerja bagus itu. Lensi pasti sangat senang, saat tahu semua aset keluarganya sudah bisa diselamatkan. Dia sangat berambisi buat menghancurkan Surya dan merebut kembali perusahaan keluarganya itu. Paling tidak kita bisa lega, karena tahu Lensi masih berada di kota ini," ujar Alex.


"Oh ya. Bagaimana persiapan pernikahan ente besok? apa sudah siap lahir batin?" tanya Ibrahim.


"Hah...jangan ditanya. Fatimah bahkan tidak pernah membalas chat dariku meskipun dia sedang online. Sepertinya dia sangat mencintaimu, rasanyanya sangat sulit mengalihkan perasaannya itu." Jawab Alex.


"Dan yang terpenting ente bisa menghilangkan perasaan ente dari bini ane, dan Fatimah bisa menghilangkan perasaannya juga pada ane. Jadi ente harus berusah keras agar hubungan ini bisa berhasil," sambung Ibrahim.


"Ane akan berusaha sebisa ane." Jawab Alex.


"Ane pulang dulu ya Lex. Besok pagi-pagi ane akan datang kerumah ente buat jadi pendamping mempelai. Apa keluarga ente akan pergi dari rumah ente? atau ente pergi dari rumah orang tua ente?" tanya Ibrahim.


"Dari rumah ane." Jawab Alex.


"Oke. Ane usahakan pergi habis subuh. Ane pulang ya? assalammu'alaikum,"


"Wa'alaikum salam." Jawab Alex.


Saat melihat Ibrahim sudah pergi, Alex ingin berbuat iseng pada Fatimah yang tidak pernah membalas chat darinya. Pria itu kemudian mengetik chat panjang lebar. Chat yang berisi kata-mata memuakkan karena isinya gombalan receh hasil mencontek karya anak muda masa kini.


"Engkau laksana bulan, yang muncul dari khayangan. Senyummu merekah bak mawar merah yang mekar dipagi hari. Saat Engkau kupinang nanti, aku ingin memetik mawar indah itu dimalam hari. Aku ingin mendengarkan nyanyian merdu, saat Engkau berada diperaduan yang sama denganku.

__ADS_1


Engkau laksana bintang. Yang sinarnya tertinggal dikala fajar menjelang. Matamu yang indah, akan aku lihat saat membuka mata dipagi hari. Aku sudah tidak sabar menanti hari itu tiba. Dimana saat kamu memanggilku dengan sebutan ayah, sedang aku memanggilmu dengan sebutan bunda. Dan akan ada banyak anak diantara kita"


Kata-Kata itu sangat mual ketika Fatimah membacanya.


"Pria seperti apa yang ingin menikahiku ini? apa Ibrahim sengaja ingin menghinaku dengan menjodohkan aku dengan temannya yang tidak waras ini? kalau bukan kasihan dengan Abi dan Umi. Aku pasti sudah menolaknya mentah-mentah. Boro-Boro mikir punya banyak anak sama dia, yang ada aku malas berada satu kamar dengannya," gerutu Fatimah.


"Ah...Ya Allah Ya Tuhanku...apa dia benar-benar jodohku? tapi kenapa saat aku meminta petunjuk darimu, Engkau selalu mengarahkan kalau pria itu memang terbaik untukku. Aku pasrahkan semuanya padamu Ya Allah...aku percaya semua takdirmu itu baik untukku,"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Keesokkan harinya....


"Ya ampun Len. Pagi-Pagi loe ngelamun di pinggir kolam renang? udah sarapan belum? ntar masuk angin loh," tanya Zoya.


"Hari ini adalah hari pernikahanya. Dia pasti sangat bahagia. Dan malam nanti dia akan menghabiskan malam pertama dengan wanita lain. Aku benar-benar tidak sanggup membayangkannya Zoy," Lensi merangkul kedua lututnya dan terisak.


Zoya mengusap pundak Sahabatnya itu.


"Loe nggak usah sedih. Jika dibandingkan dengan gue, loe lebih terhormat. Loe pergi dalam keadaan masih perawan dan gengsi setinggi langit. Sementara gue? nggak punya suami, perawan ilang, siapa yang mau sama barang bekas kayak gue ini. Nggak ada lagi yang bisa dibanggain dari diri gue," ucap Zoya yang berusaha menghibur Lensi.


Lensi langsung berhambur kepelukkan Zoya. Zoya jadi ikutan sedih karena teringat dengan nasib buruknya.


Sementara itu di tempat berbeda, Alex saat ini tengah dilanda kegugupan. Karena saat ini tangannya sedang dijabat oleh calon mertuanya.


"Alexander Subrata. Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau. Dengan putriku yang bernama Fatimah Azzahra binti Sobir khoirul Azmi. Dengan maskawin emas 100 gram dan uang 1000 Dollar dibayar tunai," Ujar Ustad Sobir.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Fatimah Azzahra binti Sobir khoirul Azmi. Dengan mas kawin emas 100 gram dan uang 1000 Dollar dibayar tunai." Jawab Alex dengan mantao.


"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghuku.


"Sah." Jawab para saksi yang menyaksikan pernikahan itu.


Semua orang kemudian mengangkat tangan untuk mengucap syukur. Fatimah perlahan dibawa turun untuk bertemu suami yang baru saja sudah menghalalkannya. Alex kemudian menoleh kearah samping, saat Fatimah duduk disampingnya. Dia cukup terpanah saat melihat kecantikkan istrinya itu. Sementara Fatimah tampak cuek dan enggan menoleh kearah suaminya.


"Rasanya aku ingin kabur dari suami mesum seperti dia. Tidak perlu dilihat wajahnya, dia pasti tidak setampan Ibrahim. Ibrahim, aku benar-benar marah padamu. Kenapa tega sekali kamu memberikan pria seperti ini padaku,"


Fatimah menatap kearah Ibrahim yang berada tepat disamping Ustad Sobir. Ibrahim berpura-pura tidak melihat, karena dia ingin menundukkan pandangannya terhadap Fatimah.

__ADS_1


"Ayo sayang. Cium tangan suami kamu, kalian juga harus saling memasangkan cincin pernikahan sebagai simbol," ucap Umi Fatimah.


Fatimah dengan enggan meraih tangan Alex untuk dia cium, dan Alex dengan jahil malah langsung mencium kening Fatimah yang membuat mata Fatimah jadi melotot. Sementara Ibrahim hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Alex mengedipkan mata kearahnya setelah mencium kening Fatimah.


__ADS_2