
"Sepertinya hari ini kamu belanja gila-gilaan. baju yang kamu beli juga semuanya gamis. Bahkan ada yang bercadar. Ini begini amat ya kalau nikah sama Ustad?" tanya Okta.
"Gue harus menyesuaikan diri dimanapun gue berada. gue berada dilingkungan seperti itu, apa mungkin gue pakai baju preman?"
Okta terdiam. Wajahnya mendadak murung dan sedih.
"Loe kenapa. Hem?" tanya Lensi sembari merangkul sahabatnya itu.
"Kalau loe nikah sama Ustad itu, Loe pasti nggak akan pernah ngumpul ama kita-kita lagi. Secara loe udah jadi bini Ustad, pergaulan loe pasti terbatas." Jawab Okta.
Lensi terdiam. Dia lagi-lagi lupa kalau dirinya akan mengalami posisi seperti itu. Akan tiba masanya dirinya akan terkurung, dan tidak bisa kemanapun tanpa seizin suami.
"Okta benar. Kalau begitu aku harus buat kesepakatan dengan Baim. Walau bagaimanapun aku punya misi sendiri diluar. Aku harus mendapatkan yang aku mau, baru bisa fokus dengan rumah tanggaku," batin Lensi.
"Lagipula kami tidak saling mencintai. Pasti dia tidak akan keberatan,"
"Kalian tenang saja. gue akan mengusahakan agar tetap bisa ngumpul dengan kalian sesekali. Lagipula gue belum tahu situasi rumah tanggaku seperti apa, dan akan tinggal dimana. Terlebih gue juga tidak tahu akan bertahan sampai berapa lama. Bisa dibilang gue menikah dengannya karena ingin menyelamatkan rasa malu keluarga itu," ujar Lensi.
"Bagaimana kalau ternyata kamu nggak cocok sama suamimu itu?" tanya Okta.
"Ya mau bagaimana lagi. Bubar pasti sudah didepan mata." Jawab Lensi.
"Hah...kenapa loe harus mengambil resiko sebesar itu, dengan mengorbankam hidup loe. Gue takut loe kesulitan selama disana nanti," ujar Okta.
"Apa menurut loe gue ini tipe wanita yang mudah ditindas? gue pasti kabur, kalau sudah ngerasain nggak enak," ucap Lensi.
"Pokoknya kalau ada apa-apa loe jangan menanggungnya sendiri ya Dew. Temanmu sangat banyak, loe nggak butuh status istri untuk membuat diri loe bahagia. Terlebih kalau calon suamimu itu sama sekali tidak menginginkan loe. Jangan berpikir dua kali buat kabur," ujar Okta yang dibalas kekehan oleh Lensi.
"Ye...dia malah ketawa," ucap Okta.
"Ya habisnya kita nganggap pernikahan kayak main-main. Gue juga ngerti dosa kali Ta. Mungkin awalnya gue akan menjalaninya sebagaimana mestinya. Tapi kalau memang harus pergi, gue juga nggak mikir dua kali," ujar Lensi.
"Emang seganteng apa sih calon suami loe itu?" tanya Okta.
"Loe tahu bulan kan?"
Okta memutar bola mata dengan malas. Tapi dia penasaran, seperti apa cara Lensi memberikan gombalan untuk seorang pria. Karena setahunya dia tidak pernah tertarik pada pria manapun.
__ADS_1
"Ada apa dengan bulan?" tanya Okta.
"Gue tidak pernah melihat wajah seseorang laksana cahaya bulan. Melihat wajahnya begitu sejuk dan menenangkan. Pria tampan yang banyak gue temui sangat berbeda dengan dia. Dia tipeku sekali pokoknya," ujar Lensi mengakhiri gambarannya.
"Jangan bilang loe jatuh cinta pada pandangan pertama?" tanya Okta.
"Apaan. Nggak ada yang begituan. Nanti saat loe ketemu orangnya, loe akan mengerti kenapa gue menggambarkan wajahnya seperti bulan." Jawan Lensi.
"Iya baiklah," ujar Okta.
Sementara itu di tempat berbeda, Ibrahim tengah menelpon Alex.
"Ente sibuk Lex?" tanya Ibrahim.
"Ada apa? gugup menjelang kawin ya? tapi ane minta maaf sama ente. Hari ini ane harus pergi keluar kota selama 3 hari. Jadi nggak bisa memghadiri acara ijab qobul. Tapi ane janji malam harinya ane akan menghadiri acara resepsimu," ujar Alex.
"Nggak apa? kali ini kemana?" tanya Ibrahim.
"Bali. Ada sedikit masalah proyek disana. Kami mau mengadakan rapat darurat hari ini," ucap Alex.
"Hah...padahal ane mau curhat Tapi sepertinya ente sudah berada di bandara ya?" tanya Ibrahim saat mendengar suara pegawai bandara dibagian informasi sedang menyebutkan nama seseorang lewat microfon.
"Lebih gawat dari itu." Jawab Ibrahim.
"Ada apa?" tanya Alex.
"Sebuah insiden terjadi. Ane tidak jadi menikahi gadis sholeha seperti yang ane mau. Ane malah menikahi gadis yang anepun tidak tahu datang dari planet mana." Jawab Ibrahim.
"Maksudmu gimana sih? kok ada acara ganti pengantin segala?" tanya Alex.
Ibrahim kemudian menceritakan insiden yang dia alami, mulai pertama kali dia melihat Lensi di kamarnya, sampai orang tuanya mengambil keputusan untuk menikahkan gadis yang sama sekali tidak dia inginkan.
"Astaga...kenapa bisa jadi begini? apa wajah gadis itu tidak secantik gadis impianmu?" tanya Alex.
"Kalau dari segi wajah dan fisik, ane akui dia sangat cantik. Kecantikkannya luar biasa. Tapi ane nggak suka latar belakang kehidupannya. Sangat minus." Jawab Ibrahim.
"Minus gimana maksudnya?" tanya Alex.
__ADS_1
"Kerjaannya seorang model. Ente tahu sendiri model gimana kan? pasti sering ngumbar aurat kemana-mana. Terus dia sudah mengakui sendiri, kalau dia itu seorang penjudi kelas kakap dan bergaul dengan orang sembarangan. Gimana ane nggak jantungan kalau punya istri kayak gitu." Jawab Ibrahim.
"Bukankah itu lebih menantang Im?" tanya Alex.
"Menantang apanya? ane ini pengen punya istri yang kalau diajak masuk surga nggak terlalu susah." Jawab Ibrahim.
"Istigfar Im...walau bagaimanapun dia akan jadi istrimu. Ente membuka aibnya, ente nggak takut aib ente dibuka diakhirat kelak?"
"Astagfirullahaladzim...." Ibrahim tersadar.
"Qodarullah Lex. Ane hanya mengungkapkan keinginan ane, tapi ternyata Allah memang ingin menguji ane dengan sesuatu yang sulit. Allah menguji anebdengan mendapatkan hal yang tidak ane sukai. Entah apa hikmah dibalik semua ini. Ane berharap tidak menemukan kesulitan nantinya," sambung Ibrahim.
"Baguslah kalau ente sudah sadar. Terima saja ketetapan Allah. Insya Allah kalau ente ikhlas, segala sesuatunya akan dipermudahkan," ujar Alex.
"Amiin. Makasih Lex sudah membuat hati ane sedikit lega. Ane do'akan perjalanan ente menyenangkan, dan semua urusan ente dilancarkan,"
"Amiin,"
Alex dan Ibrahimpun mengakhiri percakapan itu.
*****
Tiga hari kemudian....
Aisyah tampak mondar mandir di depan pagar, menanti kedatangan Lensi. Waktu menunjukkan pukul 4 subuh, sementara MUA yang akan mendandani Lensi sudah datang sejak tadi.
"Umi masuklah! nanti Umi masuk angin. Dia tidak usah ditunggu, kalau tidak datang ya tidak apa-apa," ujar Ibrahim yang menyusul Aisyah ke depan gerbang.
"Enak saja kamu bilang begitu. Mau ditaruh dimana muka Umi dan Abi. Hari ini tamu undangan sangat ramai. Semua Ustad dari pesantren-pesantren besar pasti juga datang. Kalau pernikahan ini sampai batal, mungkin Umi akan pingsan selama setahun," ucap Aisyah.
"Umi tidak usah khawatir. Baim bisa menikahi santriwati yang bersedia Baim nikahi," ujar Ibrahim.
"Tapi Umi maunya Lensi yang menjadi menantu Umi," Aisyah memasang wajah sedih.
Ibrahim merangkul pundak Aisyah, dan bermaksud mengajak Aisyah masuk kedalam. Namun langkah mereka terhenti, saat ada suara gadis menyeru Aisyah diiringi suara mesin motir yang sudah padam.
"Umi," seru Lensi saat dirinya baru tiba dengan motor sportnya di depan pintu gerbang.
__ADS_1
Aisyah menoleh bersama Ibrahim. Ibrahim bisa melihat rona bahagia yang terpancar dimata ibunya itu. Aisyah bergegas membuka gembok pagar, Lensi segera turun dari atas motor karena dia tahu Aisyah pasti akan memeluk dirinya. Sesuai dugaanya, Aisyah segera berhambur kepelukkannya dengan air mata haru. Lensi melirik kearah baim, namun pria itu dengan sengaja membuang mukanya.