
"Jadi mas masih suka sama Lensi?" tanya Fatimah dengan wajah tertunduk.
"Siapa bilang? sekarang mas tidak suka dia lagi. Mas sudah menyukai wanita lain." Jawab Alex.
"Wanita lain? siapa mas?" tanya Fatimah terkejut.
"Kamu." Jawab Alex.
Jawaban Alex lagi-lagi membuat Fatimah tersipu. Alex meraih kedua tangan Fatimah yang halus dan lembut, dan kemudian menciumnya.
"Apa mas boleh minta hak mas malam ini?" tanya Alex.
Fatimah menatap mata Alex. Meski dia tahu Alex orang baik, tapi masih ada sedikit rasa takut dihatinya.
"Berjanjilah kamu tidak akan mengecewakan aku mas," ucap Fatimah.
"Mas tidak tahu kecewa seperti apa yang paling kamu takutkan. Sebagai manusia biasa, mas tempatnya salah dan khilaf. Tapi mas bisa menjanjikan satu hal padamu, mas tidak akan pernah menduakanmu," ujar Alex.
"Memang cuma itu yang aku takutkan." Jawab Fatimah.
"Kalau begitu apa mas boleh...."
Perkataan Alex langsung dianggukki malu-malu oleh fatimah. Alex kemudian mem**lai pipi mulus Fatimah, dan menarik dagu wanita itu untuk dia c*um bi**rnya. C**man yang hanya menempel, karena mereka sama-sama belum pernah ber**uman. Kecuali saat Vega mencuri ciuman kilat dari Alex.
Namun saat naluri sudah bekerja, keduanya mulai menikmati c**man itu dan c**man yang semula menuntun, lambat laun berubah jadi menuntut. Alex perlahan membantu membuka p**aian Fatimah yang tampak masih malu-malu, saat memperlihatkan asetnya yang berharga.
"Subhanallah...semua yang ada padamu adalah salah satu keindahan dunia yang hakiki. Bagaimana bisa kamu memiliki kulit seindah ini?"
Alex memberikan sentuhan lembut pada le*er Fatimah, hingga pada kedua aset Fatimah yang menjulang. Fatimah hanya bisa memejamkan mata dan menikmati semua sentuhan yang diberikan Alex. Alex yang sudah te**ngsang, mulai melepas semua pa**iannya dan menutup tubuh mereka dengan selimut.
Alex kemudian membaca do'a pada ubun-ubun Fatimah, setelah itu kembali mencumbu istrinya itu dengan lembut.
"Ah...mas..." Fatimah me**mas rambut Alex, saat pria itu membenamkan wajahnya dipuncak da*a Fatimah setelah sebelumnya membuat banyak tanda kepemilikkan disekitarnya.
Fatimah menggigit kecil bibirnya, karena takut suara anehnya kembali keluar. Terlebih tidak hanya mulut Alex yang bekerja, tangan pria itu sudah bergerilya membelai titik-titik sensitif pada tu*uhnya.
Alex kemudian perlahan turun kebawah, untuk melihat dan merasakan tempat surga dunia yang sebenarnya.
"Mas jangan lihat. Malu mas," ucap Fatimah lirih, sembari mengatupkan kedua pahanya.
"Pasrahkan saja dirimu sayang. Malam ini apapun milikmu, malam ini akan jadi milikku. Begitu juga sebaliknya, apapun yang kumiliki, maka akan menjadi milikmu sepenuhnya," ujar Alex.
Fatimah hanya bisa pasrah, saat Alex merayunya dengan setuhan di p*ha mulusnya. Yang membuat kedua kakinya membuka dengan suka rela.
"Mas mau ap....ah...mas...."
Fatimah tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya karena Alex sudah bermain pada l*angnya yang basah.
"Jangan gigit bi**rmu, nanti kamu terluka. Keluarkan saja suaramu. Mas suka mendengarnya," ucap Alex dengan suara sensualnya.
"Emmmpptt ah..."
Fatimah kembali mengeluarkan suara merdunya saat Alex kembali membenamkan wajahnya dibawah sana. Fatimah tidak bisa melukiskan bagaimana perasaannya saat ini. Yang dia tahu dia hanya ingin Alex terus menyentuhnya dibagian sana.
"Ah...mas...aku mau...ahhhhh," tubuh Fatimah tiba-tiba mengejang, karena dia sudah mendapatkan pelepasan pertamanya.
__ADS_1
Alex tersenyum menatap istrinya yang nafasnya masih naik turun itu. Fatimah yang malu langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Alex meraih tangan itu untuk melihat wajah istrinya.
"Mas jangan melihatku seperti itu. Aku malu mas," ucap Fatimah dengan manja.
"Itu belum seberapa. Nanti kamu akan lebih sering lagi bersuara seperti itu, bahkan lebih keras lagi," ujar Alex.
Alex kemudian memposisikan dirinya diantara kedua ka*i Fatimah. Fatimah menelan ludahnya, saat melihat benda asing yang besar diantara kedua pa*a suaminya itu.
"Persiapkan dirimu. Karena mulai malam ini, kamu tidak lagi menyukai barang kecil. Karena kamu tahu betapa enaknya barang besar," ucap Alex.
"Masss...." Fatimah tersipu yang membuat Alex jadi terkekeh.
Alex perlahan membenamkan miliknya yang membuat Fatimah jadi mencengkram lengan Alex, karena dirinya merasa kesakitan.
"Mas...sakittt...." rengek Fatimah.
"Mas janji setelahnya nggak sakit lagi. Kamu tahan ya?" ujar Alex yang kemudian diangguki oleh Fatimah.
Alex kembali mendorong miliknya, dan menemui hambatan yang sebenarnya. Lagi-Lagi Fatimah menggeram kesakitan, hingga dirinya terpaksa menggigit pundak suaminya itu.
"Akkhhh...sakiiittt....hiks...."
Fatimah meneteskan air mata, ketika benda besar dan tumpul itu sudah berhasil masuk memenuhi l*ang hangat miliknya. Alex membiarkan miliknya terbenam disana sejenak. Dia ingin Fatimah rileks terlebih dahulu.
"Makasih ya sayang. Kamu sudah memberikan mahkota yang berharga untuk ku sentuh. Mas janji tidak akan menyia-nyiakan kepercayaanmu," ucap Alex yang diangguki oleh Fatimah.
"Mas mulai gerak ya?" tanya Alex yang lagi-lagi diangguki oleh Fatimah.
Alex perlahan menggoyangkan p**ggulnya, sembari menatap wajah cantik Fatimah.
"Masih sakit?" tanya Alex memastikan.
"Lama-Lama nggak sakit lagi. Kamu akan keenakkan seperti tadi," ujar Alex sembari mengedipkan mata.
Fatimah membenamkan wajahnya didada Alex karena malu. Terlebih Alex semakin lama semakin gencar menggerakkan pinggulnya
"Ah...mas...emmmppptthh aahhh..."
Fatimah sudah mulai kembali bersuara merdu. Semakin Fatimah men**sah, semakin Alex memompa milik Fatimah dengan keras. Hingga Fatimah kembali mendapatkan pelepasan keduanya.
"Ah...ah..ah...mas...."
Alex tersenyum senang, karena dia berhasil membuat istrinya itu men**rang berkali-kali. Dan selanjutnya Alex membuat Fatimah duduk dip**gkuannya. Dia ingin Fatimah juga ikut andil dalam percintaan panasnya itu meskipun masih sangat kalu. Malam itu Alex membolak balik Fatimah, hingga istrinya itu mendapat pelepasan berkali-kali.
"Ahh...mas..."
"Sebut namaku sayang.... aku segera datang," ucap Alex dengan nafas terengah.
"A-Alex...ah...ahh,"
"Aku datang sayang...ahh..."
Alex dan Fatimah mengerang bersamaan. Sungguh malam ini adalah malam yang megesankan bagi Fatimah dan Alex. Setelah pertempuran itu Alex dan Fatimah ngobrol sembari berpelukkan. Namun setelah hilang lelah, Alex dan Fatimah kembali mengulangi hal itu hingga berkali-kali.
๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Dua bulan kemudian...
Hoekkk
Hoekkk
Hoekkk
Zoya sejak dua hari ini sering mual dan juga pusing. Hingga menyebabkan Lensi menaruh curiga pada sahabatnya itu.
"Maaf Zoy, apa haidmu teratur?" tanya Lensi.
"Haid?" Zoya terkejut dan teringat bahwa dirinya sudah telat haid hampir satu bulan.
"I-Ini sudah akhir bulan. Aku belum mendapatkan haid. Apa mungkin aku...."
Zoya menutup mulutnya. Lensi meraih kunci motornya dan mendekati Zoya.
"Tunggu sebentar. Biar aku beli alat tes kehamilan dulu," ujar Lensi.
Zoya tidak menjawab ucapan Lensi, sepertinya dia bisa merasakan sendiri kalau saat ini ada yang tidak beres dengan dirinya. Setelah menunggu hampir 20 menit, Lensi kembali dengan membeli beberapa alat tes kehamilan dengan berbagai merk.
"Masuklah kamar mandi. Lakukan pengecekkan kesemua alat tes kehamilan ini," ujar Lensi.
Zoya menuruti saja apa yang Lensi katakan. Dengan meraih alat test kehamilan itu dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menunggu beberapa saat, Zoya keluar sembari menangis.
"Positif ya?" tanya Lensi yang sudah bisa membaca situasi.
"Hiks...bagaimana ini Len. Aku harus bagaimana? ayo temani aku ke rumah sakit," ucap Zoya.
"Ngapain ke rumah sakit?" tanya Lensi.
"Aku mau gugurin anak ini. Aku nggak mau dia lahir tanpa ayahnya." Jawab Zoya frustasi.
"Oke aku temani kamu. Ayo," ujar Lensi yang langsung menyeret tangan Zoya. Namun yang terjadi malah Zoya tidak mengikuti langkahnya sama sekali.
"Kamu kok aneh Len?" tanya Zoya.
"Kenapa?"
"Kalau orang-orang nasehatin agar nggak melakukan hal itu, kok kamu enggak? Kamu senang aku gugurin anak ini?" tanya Zoya.
Lensi menghela nafas saat mendengar ucapan Zoya.
"Kamulah pemilik bayi ini. Kamu pula yang berhak menentukan mau meneruskan kehidupan anak ini, atau malah ingin mengakhiri kehidupannya. Tapi ya itu...kamu dosanya berkali-kali lipat. Sudah buatnya dengan zina, pas sudah jadi malah kamu mau jadi seorang pembunuh. Apa kamu ingat saat membuatnya waktu itu?"
"Tentu saja ingat." Jawab Zoya.
"Enak tidak?"
"Dasar edun. Nggak usah ditanya lagi kalau itu mah," Zoya gusar.
"Nah...pas buatnya enak, pas jadi kenapa kamu mau membunuhnya? udah tahu beresiko bunting, kenapa nggak pakai pengaman? jadi jangan salahkan kehadiran anak ini, kalianlah yang salah."
"Jadi aku harus bagaimana Len?" tanya Zoya.
__ADS_1
"Lahirkan anak ini. Kalau kamu tidak mau. merawatnya, biar aku yang merawatnya. Atau kamu bisa berikan pada orang yang pengen punya keturunan. itu lebih bermanfaat. Jangan melakukan dosa berkali-kali." Jawab Lensi.
Zoya terdiam. Namun akhirnya dia setuju. Lensi dan Zoya kemudian pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Zoya yang terharu saat melihat calon anaknya di monitor, jadi teringat dengan Sendy. Zoya mengelus perutnya, dengan meneteskan air mata.