
wajah Lensi sangat gelisah, saat melihat wajah Ustad Gofur tampak begitu serius. Pria berjanggut itu ikut duduk dimeja makan dan kemudian melirik Lensi yang tengah tertunduk.
"Bagaimana hasilnya Bi?" tanya Aisyah.
"Tidak perlu dipertanyakan lagi. Yang pasti Abi mendapatkan malu umi. Keluarga mereka menolak tegas, kalau putrinya dipoligami. Bahkan putrinya ingin mundur meski dengan tetesan air mata." Jawab Ustad Gofur.
Ibrahim dan Lensi jadi sama-sama tertunduk. Lensi ingin bersuara, namun suaranya terasa tercekat di tenggorokkan. Ustad Gofur tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak berbahan keramik berwarna putih. Kotak berisi cincin pengikat, yang diberikan Ibrahim untuk calon istrinya. Ustad Gofur kemudian meletakkan kotak itu diatas meja sembari menghela nafas.
"Ustad Sobir sangat kecewa. Bahkan dia menolak, saat aku mengatakan ingin mengganti rugi semua uang yang dia keluarkan untuk biaya pernikahan," sambung Ustad Gofur.
"Maaf kalau saya lancang Ustad. Maaf kalau saya menyela ucapan Ustad. Sebelumnya saya minta maaf karena sudah membuat kekacauan di keluarga Ustad. Sebenarnya saya sudah berbohong tentang saya menghabisakan malam bersama Ibrahim. Kami tidak pernah melakukan itu sama sekali."
"Awalnya saya ingin mengerjai Ibrahim, tapi saya tidak menyangka kalau akan kejadian seperti ini. Tolong percaya ucapan saya, saya juga tidak hamil. Saya hanya masuk angin, karena berjam-jam berenang dalam sungai," sambung Lensi.
Ustad Gofur jadi kebingungan saat mendengar ucapan Lensi. Lensi menghela nafas sejenak sebelum akhirnya bercerita.
"Sebenarnya saya tidak sengaja kesini, karena dikejar-kejar oleh orang-orang dari klub perjudian. Karena mereka tidak terima saya memenangkan kompetisi judi. Jadi saya kabur dari tempat itu, tapi naas karena terdesak saya terpaksa menjatuhkan diri dari jembatan, dan berakhir di pesantren ini," sambung Lensi.
"Bagaimana caranya kamu bisa menerobos masuk?" tanya Ustad Gofur.
"Saya melompati pagar." Jawaban Lensi membuat Ustad Gofur terkekeh.
"Sudahlah. Kamu tidak usah takut, hanya karena Ibrahim batal menikahi wanita lain. Bukankah tambah bagus kamu jadi wanita satu-satunya?" tanya Ustad Gofur yang ingin menguji Lensi.
"Eh? ti-tidak usah Ustad. Lebih baik Ustad jelaskan saja dengan cerita saya tadi. Sungguh saya jujur kok kali ini," ucap Lensi.
"Lagipula Ustad akan rugi punya menantu seperti saya. Pasti Ustad malu deh. Saya ini bandel orangnya. Tukang judi, tidak berhijab, Pergaulan parah, dan yang pasti saya tidak pandai mengaji dan jarang sholat 5 waktu. Pokojnya Ustad pasti akan nyesel deh," sambung Lensi.
__ADS_1
"Mungkin saja apa yang dia katakan benar. Tapi aneh, biasanya para gadis berebut ingin diperistri oleh Baim, termasuk para Santriwati dipesantren ini. Tapi kenapa dia seolah tidak tertarik dan menolak putraku?" batin Ustad Gofur.
"Jadi Ustad. Dari sepanjang cerita yang saya utarakan tadi, saya permisi mohon pamit dan mohon maaf karena sudah berbuat kesalahan," ujar Lensi yang kemudian berdiri dari tempat duduknya dan melangkah pergi.
"Tunggu!" Ustad Gofar membuat langkah kaki Lensi terhenti seketika.
"Karena kamu sudah mengakui membuat kekacauan, tidakkah kamu ingin menebus kesalahanmu itu?" tanya Ustad Gofar.
Lensi berbalik badan seketika. Gadis itu berpikir Ustad Gofar ingin minta ganti rugi berupa materi, yang sudah pasti dia sanggupi.
"Tentu saja Ustad. Saya akan ganti rugi berapapun biayanya," ujar Lensi yang kembali duduk.
"Kami tidak butuh uang, karena kami tidak pernah merasa kekurangan. Karena kamu sudah membuat kekacauan, maka kamu harus benar-benat menikah dengan Ibrahim."
Sungguh perkataan Ustad Gofur seperti petir bagi Lensi. Dirinya tidak menyangka, karena tersesat dirinya malah mendapatkan jodoh.
"Kalau kamu tidak menikah dengannya, maka kami lebih dipermalukan lagi. Semua undangan sudah tersebar. Coba kamu bayangkan dalam 3 hari harusnya ada pernikahan, tapi malah dibatalkan. Semua gedung, makanan, pelaminan, pakaian, semuanya akan mubazir."
"Kalau soal prilaku burukmu kamu tidak perlu khawatir. Insya Allah Baim bisa jadi imam yang baik buat kamu," sambung Ustad Gofur.
Lensi melirik kearah Baim. Dia tahu pria itu tidak suka padanya. Pria itu terlihat mengaduk-ngaduk makanannya dengan wajah masam.
"Aku jadi bingung kenapa jadi begini? aku sudah jujur sejujur-jujurnya. Tapi kenapa mereka ingin menyelamatkan rasa malu mereka, ketimbang memikirkan dampak menikahkan putranya dengan gadis amburadul sepertiku," batin Lensi.
"Lagipula aku tidak sanggup. Kalau sudah jadi istri Baim, malah disuruh Hafiz Qur'an. Ngafalin surat Ar-Rahman saja berhari-hari,"
Aisyah tiba-tiba membuyarkan lamunan Lensi dengan meraih tangannya. Aisyah menggenggamnya dengan lembut, dengan senyuman tersungging dibibirnya.
__ADS_1
"Umi percaya kamu bisa menjadi istri yang baik buat Baim. Dulu saat belum hijrah, Umi tidak jauh beda denganmu. Namun Allah begitu sayang dengan Umi, hingga Umi dipertemukan dengan Abimu."
"Jadi manusia baik butuh proses. Umi bisa merasakan, kalau Lensi gadis baik. Umi percaya Lensi pasti bisa," sambung Aisyah.
Lensi menatap lekat mata Aisyah. Mata seorang ibu yang penuh kasih. Siapapun tidak ada yang bisa menolaknya. Lensi kemudian menghela nafas, sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Ada satu lagi yang harus aku beritahu pada kalian. Aku ini bukan anak yang patuh dengan orang tua. Aku hidup sendian diluar karena kabur dari rumah. Ayahku sudah menikah lagi, dan memiliki seorang anak. Tapi kalau memang pernikahan ini bisa menyelamatkan reputasi kalian, aku bersedia membantu."
"Apapun yang terjadi kedepannya nanti, aku akan pasrahkan semua dengan takdir. Mungkin dengan begini aku bisa memiliki keluarga yang benar-benar keluarga," sambung Lensi.
Ustad Gofur dan Aisyah saling berpandangan. Mereka bisa melihat, kalau wajah Lensi mendadak sedih. Meski mereka tidak tahu apa yang dialami Lensi selama ini, tapi mereka yakin itu bukan sesuatu yang baik.
"Beri alamat orang tuamu. Biar saya datang secara langsung untuk melamarmu. Meskipun kamu kabur dari rumah, tapi wali nikahmu harus diperjelas," ujar Ustad Gofur.
"Tidak perlu datang langsung Ustad. Nanti biar kita telpon saja. Ustad akan tahu apa maksud semua dari ucapanku tadi,"
"Apa itu tidak sopan namanya?" tanya Ustad Gofur.
"Ustad tidak usah khawatir. Ustad akan tahu seperti apa lawan bicara Ustad nanti." Jawab Lensi.
"Emm...Baim. Bolehkah aku pinjam ponselmu? ponselku hilang saat aku jatuh ke air," tanya Lensi.
Ibrahim dengan malas mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya kearah Lensi. Lensi bergegas mengetik beberapa digit angka, yang tak lain nomor ponselnya sendiri.
Sementara itu Okta dan teman-temannya tengah tertidur karena lelah, termasuk Arman. Saat ini mereka memang masih berkumpul di apartemen Lensi. Setelah berdiskusi, merekapun jatuh tertidur.
Okta merasa terganggu, saat mendengar dering ponsel dari hp Lensi. Namun saat teringat dengan sahabatnya itu, dia bergegas meraih ponsel itu dan menerima panggilan dari nomkr tidak dikenal.
__ADS_1