MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
124. Abang Merindukanmu


__ADS_3

"Selamat Ulang tahun sayang," ucap Ibrahim sembari mengecup puncak kepala Ibrahim.


"Eh? Lensi melepaskan pelukkannya pada Ibrahim karena terkejut.


"A-Aku ulang tahun ya hari ini? oh iya bener, aku sampai lupa dengan hari lahirku sendiri," ujar Lensi sembari menyeka air matanya.


"Selamat ulang tahun ya sayang," ucap Aisyah sembari memberikan pelukkan untuk menanatunya itu.


"Makasih Umi," ujar Lensi.


"Duduklah sayang. Nanti kamu lelah," ujar Ibrahim sembari membawa Lensi duduk di sofa bersama dirinya.


Aisyah dan Ustad Gofur tersenyum, saat melihat Lensi yang menempel pada Ibrahim. Lensi seolah tidak ingin dipisahkan lagi. Merekapun mulai menyantap hidangan, dan sesekali Ibrahim menyuapkan makanan itu untuk Lensi tanpa canggung didepan orang tuanya.


"Apa kita mau jalan-jalan lagi?" tanya Ibrahim saat mereka sudah menyantap makanan mereka.


"Nggak bang. Kita pulang saja." Jawab Lensi.


"Iya. Lagian apa kamu nggak tahu, ada orang yang kangen berat sama kamu. Hampir tiap hari matanya bengkak karena menangis," timpal Aisyah yang membuat Lensi jadi tersipu.


"Baiklah kita pulang sekarang kalau gitu," ujar Ibrahim.


Merekapun memutuskan pulang ke pesantren. Setelah memasuki kamar, Lensi tidak tahan lagi untuk tidak memeluk suaminya itu. Lensi bahkan langsung memagut bibir suaminya itu, untuk melepaskan rasa dahaga karena rindunya yang sangan membuncah.


"Abang merindukanmu," ucap Ibrahim lirih, setelah pagutan mereka terlepas.


Grepppp


Lensi kembali masuk kedalam pelukkan Ibrahim.


"Aku nggak tahu lagi bagaimana caranya mengungkapkan rasa rinduku sama abang. Rasanga dadaku ingin kubelah, agar abang tahu jantungku berdebar-debar saat ini," ujar Lensi, sementara Ibrahim jadi tersenyum mendengar pernyataan istrinya itu. Karena apa yang Lensi katakan, diapun juga merasakan hal yang sama.


"Abang juga nggak bisa mengungkapkan betapa abang sangat bahagia saat ini. Bagaimana, Apa kamu dan anak-anak kita sehat?" tanya Ibrahim.


"Sehat. Tambah sehat karena abang sudah pulang." Jawab Lensi yang membuat Ibrahim terkekeh kembali.


"Oh ya. Abang ada sesuatu untukmu," ucap Ibrahim.


"Apa?" tanya Lensi penasaran.


"Anggap ini hadiah karena kamu sudah mengandung anak-anak kita." Jawab Ibrahim yang kemudian mengambil sesuatu dari kopernya.

__ADS_1


Ibrahim kemudian meraih kotak perhiasan yang lumayan besar. Mata Lensi tertegun melihat keindahan set perhiasan itu setelah kotaknya terbuka.


"I-Indah sekali bang. Bentuknya unik. Dan juga sangat pas untuk dipakai hari-hari," ujar Lensi yang mengagumi benda berkilau itu.


"Ini adalah set perhiasan yang memang abang buat khusus untuk menemani hari-harimu. Ini limited edition dan hanya ada satu di dunia." Jawab Ibrahim yang membuat Lensi jadi terharu.


"Makasih ya sayang," ucap Lensi sembari kembali memberikan pelukkan hangat untuk Ibrahim.


"Abang bantu pakaikan ya?" tanya Ibrahim.


"Emm. Kalung mama simpan saja dulu." Jawab Lensi.


Ibrahim kemudian melepaskan kalung pemberian orang tua Lensi dari leher istrinya itu. Dan digantikan dengan set berlian yang ukurannya sangat manis jika dipakai untuk sehari-hari.


"Cantik," ujar Ibrahim saat dirinya memperlihatkan keindahan perhiasan itu lewat pantulan cermin.


"Ya. Sangat indah," ucap Lensi sembari menyelipkan rambutnya dibelakang telinga hanya untuk memperlihatkan anting-anting yang menempel manis di daun telinganya.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Ibrahim.


"Sangat suka." Jawab Lensi sembari berbalik badan dan mengalungkan kedua tangannya dileher suaminya itu.


"Karena abang sudah memberikan aku hadiah, maka abang juga akan aku berikan hadiah spesial," ucap Lensi yang kemudian menyerbu bibir suaminya itu.


"Kenapa? abang nggak kangen aku? abang nggak selera lagi melihat tubuhku yang mulai gendut?" tanya Lensi.


Lensi akui akhir-akhir ini bobot tubuhnya bertambah drastis. Pasalnya dia memang tidak mengalami mual muntah yang sering terjadi pada ibu hamil pada umumnya. Malah sebaliknya, nafsu makan Lensi tergolong sangat luar biasa.


"Apa sih sayang. Kok mikirnya gitu? abang bukannya menolak. Kalau bicara nafsu, saat ini rasanya abang ingin memakanmu sepuasnya. Coba pegang ini," Ibrahim meraih tangan Lensi untuk memegang benda kebanggaannya yang sudah mengeras sempurna.


"Tapi abang harus menahan diri. Kamu sedang hamil muda, abang tidak mau mengambil resiko terjadi apa-apa dengan anak kita. Kamu mengerti kan maksud abang?" tanya Ibrahim.


"Kan kita bisa melakukannya pelan-pelan bang? kata dokter kan bisa lakukan pelan-pelan. Atau bila perlu spe*rmanya jangan masukkin kedalam biar aman." Jawab Lensi.


"Ya sudahlah kalau nggak mau," ucap Lensi.


"Mau." Jawab Ibrahim sembari meraih tangan istrinya.


Ibrahim tidak ingin membuang banyak waktu, karena sejujurnya dia juga menginginkan hal itu terjadi.


"Ingatkan abang kalau abang tidak bisa mengontrol diri," ucap Ibrahim disela-sela percintaan panas mereka.

__ADS_1


"Emm." Hanya itu yang bisa Lensi katakan. Karena dia terlalu menikmati kegiatan mereka saat ini.


Dan sesuai yang Lensi katakan, Ibrahim tidak memasukkan calon anaknya yang belum dia perlukan saat ini.


Hosh


Hosh


Hosh


"Makasih ya sayang," ucap Ibrahim.


"Emm." Lensi mengangguk sembari tersenyum.


Lensi yang lelah, kemudian kembali tertidur. Ibrahim mengusap-usap perut rata Lensi dan menciumnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Beberapa bulan kemudian...


"Selamat ya Ta. Sekarang loe sudah jadi seorang Ibu," ucap Lensi yang duduk di kursi roda.


Saat ini Lensi memang sedikit kesulitan, karena perutnya lebih besar dari usia kehamilan wanita hamil pada umumnya. Namun karena dia sangat ingin menjenguk kelahiran anak Okta, Jadi dia menggunakan kursi roda agar tidak lelah.


"Makasih kalian sudah datang. Kamu kapan rencana cesarnya?" tanya Okta.


"Dua bulan lagi. Aku juga sudah tidak sabar menanti kelahiran anak-anakku." Jawab Lensi.


"Sumpah. Hebat banget kalian. Meski sedikit terlambat, tapi sekali jadi malah 3 sekaligus," ucap Okta.


"Sudah rejeki. Siapa nama putrimu?" tanya Lensi.


"Dewi." Jawab Okta.


"Dewi?" ulang Lensi.


"Dia sangat mengagumimu, jadi menamai anak kami dengan julukkanmu," timpal Arman.


"Tidak usah seperti itu juga kali Ta. Kamu bebas memberi nama anakmu dengan nama yang lebih keren lagi. Atau lebih religi mungkin," ujar Lensi.


"Tidak masalah. Nama yang lain bisa buat anakku yang selanjutnya. Aku nggak mau kalah saingan sama kamu. Aku mau anak yang banyak." Jawab Okta sembari terkekeh.

__ADS_1


Lensi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Okta. Namun dia sangat senang, karena Okta sudah menjadi seorang ibu. Setelah menjenguk okta, Lensi dan Ibrahim memutuskan untuk pergi melakukan USG karena mereka ingin mengetahui keadaan anak-anak mereka.


__ADS_2