MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
52. Surya Kepesantren


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke dua Lensi belajar meretas. Sama seperti hari kemarin, semua berjalan dengan lancar. Ibrahim sama sekali tidak memiliki kesulitan dalam mengajari Lensi, begitu juga sebaliknya. Lensi sama sekali tidak merasa kesulitan menyerap Ilmu yang diberikan Ibrahim.


Ting


Ponsel Lensi tiba-tiba mendapat sebuah pesan. Lensi dan Ibrahim sama-sama melirik kearah ponsel yang berbunyi itu.


"Tidak masalah. Lihat saja," ujar Ibrahim.


Lensi meraih ponselnya, dan ternyata itu chat yang berasal dari Vega.


"Papa, mama dan aku sedang menuju pesantren sekarang. Tolong siapkan segala sesuatunya, tamu agung mau mendatangi kediaman orang miskin,"


Lensi mengeratkan cengkramannya pada ponsel yang dia pegang.


"Tunggu dan lihat saja Vega. Suatu saat kamu akan tahu, siapa yang akan jadi gembel sebenarnya," batin Lensi.


Lensi mempercepat jari-jarinya menari diatas tombol-tombol laptop.


"Cukup!"


Tangan Lensi terhenti, karena suara Ibrahim menggema diruangan itu.


"Jangan pernah meretas, saat kondisi emosimu sedang tidak stabil. Terkadang niat buruk bisa saja muncul secara tiba-tiba, kalau suasana hati kita sedang tidak bagus,"


"Maaf," ucap Lensi.


"Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Ibrahim.


"Sedikit. Tuan, bolehkah pelajaran untuk hari ini kita cukupkan sampai disini? ada hal penting yang harus saya selesaikan terlebih dahulu," ucap Lensi.


"Tentu. Santai saja." Jawab Ibrahim.


"Tapi saya janji, besok saya akan menebus semuanya. Besok adalah hari ke 3, saya harus bisa menguasai semuanya dihari itu," ujar Lensi.


"Jangan terburu-buru. Saya tidak masalah jika harus mengajarimu selama seminggu," ujar Ibrahim.


"Tidak tuan. Saya sudah berjanji pada suami saya, saya harus menyelesaikan semuanya besok." Jawab Lensi.


"Kamu sudah bersuami? apa suamimu sungguh-sungguh mengizinkan kamu belajar ini?" tanya Ibrahim.


"Dia tidak tahu kalau saya belajar meretas. Yang dia tahu saya cuma belajar saja." Jawab Lensi.


"Kedengarannya suamimu kurang memperhatikanmu. Sehingga kamu mau belajar apa, tidak dia pastikan dengan benar. Astagfirullah...maaf, seharusnya saya tidak boleh bicara seperti itu tentang suami anda," ujar Ibrahim.


"Tidak apa tuan. Cinta saya memang bertepuk sebelah tangan. Hanya saya yang mencintai dia, tapi dia mencintai wanita lain,"


"Suamimu selingkuh?" tanya Ibrahim.


"Bukan. Tapi saya merebut suami saya dari tunangannya." Jawab Lensi.


"Kenapa kedengarannya sangat familiar kisahnya dia," batin Ibrahim.


"Saya permisi dulu tuan," ucap Lensi.


"Silahkan," ujar Ibrahim.

__ADS_1


Lensi segera keluar dari tempat itu dan membuat panggilan untuk Aisyah.


"Assalammu'alaikum Umiku yang cantik," ujar Lensi.


"Wa'alaikum salam sayangku. Lagi dimana hem?" tanya Aisyah.


"Echi mau ke pesantren Umi. Orang tuaku sedang diperjalanan menuju pesantren." Jawab Lensi.


"Benarkah? aduh, kenapa kamu nggak bilamg dari awal sayang? Umi kan bisa masak enak buat nyambut besan," ujar Aisyah.


"Tidak masalah Umi. Nanti akan Echi belikan kue saja di toko kue," ucap Lensi.


"Tolong ya sayang. Soalnya Umi nggak punya persiapan sama sekali," ujar Aisyah.


Ustad Gofur minta Aisyah agar membuat pengeras suara. Entah mengapa Ustad Gofur juga pengen mendengar percakapan itu.


"Nggak apa Umi. Abi sama Umi mau nitip makanan apa? biar nanti Echi belikan," tanya Lensi.


"Nggak perlu sayang. Biar dibelikan kue itu aja udah cukup." Jawab Aisyah.


"Emmm...Umi,"


"Ya?"


"Nanti kalau keluargaku berkata yang tidak-tidak, aku mohon jangan Umi dan Abi masukkan kedalam hati. Anggap saja itu perkataan orang gila," ujar Lensi.


Aisyah dan Gofur saling berpandangan, karena mereka memang belum mengenal menantunya dan juga besannya itu dengan baik.


"Jangan begitu. Walau bagaimanapun mereka tetaplah orang tuamu, yang harus kamu hormati," ujar Aisyah.


"Umi akan mengerti setelah bertemu dengan mereka nanti," ucap Lensi.


"Belum Umi. Setelah ini aku akan memberitahunya." Jawab Lensi.


"Baiklah. Umi tunggu ya?"


"Assalammu'alaikum Umi,"


"Wa'alaikum salam sayang." Jawab Aisyah.


Lensi segera membuat panggilan untuk Ibrahim.


"Ada apa?" tanya Ibrahim.


"Assalammu'alaikum abangku sayang,"


"Wa'alaikum salam." Jawab Ibrahim.


"Abang. Dinda mau izin pergi ke pesantren sekarang ya?"


"Ada apa? bukannya kamu sedang kursus?" tanya Ibrahim.


"Pulang cepat. Soalnya orang tuaku mau datang ke pesantren." Jawab Lensi.


"Pergilah," ucap Ibrahim.

__ADS_1


"Makasih bang,"


Lensi langsung mengakhiri panggilan itu tanpa mengucapkan salam.


"Hah...langsung dimatikan begitu saja" ujar Ibrahim.


"Andai yang datang orang tua tunangannya waktu itu, akankah dia juga akan langsung bergegas pulang? kelihatan sekali dia memang sama sekali tidak menganggapku," ujar Lensi.


Lensi bergegas pergi. Setelah berganti pakaian di apartemen, Lensi bergegas pergi ke toko kue. Setelah selesai, diapun segera pergi ke pesantren. Saat Lensi tiba, ternyata Surya, Marini dan Vega sudah datang lebih dulu. Lensi segera pergi ke dapur, dan menata kue diatas piring dan membawanya ke ruang tamu.


Surya menatap Lensi, saat putrinya itu membawa dua piring kue ditangan kanan dan kirinya. Senyum ejekkan terbit dari bibir Vega dan Marini, saat melihat penampilan Lensi yang seperti seorang preman. Namun Lensi tidak perduli dengan apa yang orang lain pikirkan, dia hanya ingin memakai apa yang menurutnya nyaman dipakai.


Setelah meletakkan piring kue diatas meja, Lensi langsung mencium tangan Aisyah dan juga Ustad Gofur. Namun Lensi langsung duduk disalah satu sofa, tanpa mencium tangan kedua orang tuanya lebih dulu.


"Ada apa tuan Surya datang kemari?" tanya Lensi.


Aisyah dan Ustad Gofur saling berpandangan, saat mendengar gaya bicara Lensi yang tidak sopan.


"Begitukah caramu bicara dengan orang tua? apa ini pula yang kamu dapatkan, dari ajaran suami dan mertuamu yang seorang Ustad?" tanya Surya.


"Jangan bawa-bawa mereka dalam hal ini. Ini sama sekali tidak ada hubungannya," nada bicara Lensi sudah berangsur tinggi.


"Echi, kenapa kamu tidak sopan dengan papamu? padahal papa dan mama sangat sayang sama kamu," ujar Marini dengan mimik wajah sedih.


"Diamlah! berhenti membuat drama lagi," hardik Lensi yang membuat Aisyah dan Ustad Gofur terkejut dengan perubahan sifat Lensi yang mengerikan.


"Astaga kak. Kakak tidak sopan sekali, kasihan mertuamu yang susah payah membangun citra pesantren dengan baik, harus rusak karena punya menantu bobrok seperti kakak," timpal Vega.


"Oh...astaga...apa kalian sudah cukup bersandiwaranya? katakan saja, apa mau kalian sebenarnya?" tanya Lensi.


"Kalau tidak ada kepentingan, sebaiknya kalian pulang saja. Tuan Surya, tolong ingatkan pada istri dan anak anda, kalau anda sendiri yang membuat pengumuman di media, kalau aku bukan lagi putri seorang Surya Gemilang. Putri yang anda akui di media hanya Vega Gemilang. Dan anda juga sudah menghapusku dari kartu keluarga. Jadi kenapa anda mengganggu ketenangan hidupku?"


Perkataan Lensi membuat Ustad Gofur dan Aisyah jadi tercengang. Kini mereka sedikit mengerti, kenapa menantu mereka bersikap seperti itu. Itu karena dia ingin meluapkan rasa marah dan rasa kecewa pada orang tuanya.


"Hah...benar juga. Aku kesini memang punya tujuan sendiri," ujar Surya.


Surya kemudian mengeluarkan sebuah map yang berisi beberapa berkas penting. Lensi mengerutkan dahinya, saat Surya memberikan sekitar 10 lembar berkas yang harus dia tanda tangani.


"Apa ini?" tanya Lensi.


"Itu adalah 10 berkas pengalihan perusahaan, aset perusahaan, rumah, properti, dan lain-lain. Sekarang kamu sudah menikah, semuanya akan berlaku kalau kamu menandatangani semua itu."


Jawaban Surya membuat Lensi tertawa keras. Kini dia mengerti, kenapa sejak dulu Surya bergitu ingin dirinya cepat menikah. Itu karena dia ingin secepatnya menguasai semua harta keluarga Sudrajat.


"Apa urat malu anda sudah putus? apa masih belum cukup juga anda menikmati harta Sudrajat selama puluhan tahun? sekarang kalian dengan terang-terangan ingin mengambil alih semua aset Sudrajat, padahal sudah jelas-jelas akulah ahli waris yang sah," ucap Lensi berapi-api.


"Tidak ada gunanya kamu menolak. Tanda tanganmu itu cuma sebagai formalitas saja. Pada kenyataannya, selama ini akulah yang mengelolah semuanya. Kamu sama sekali tidak akan mengerti cara mengurus perusahaan itu. Jika kamu nekat ingin mengambil alih, maka perusahaan keluarga Sudrajat akan hancur. Lalu apa bedanya?" ucap Surya.


"Pengemis yang pintar. Anda bahkan sudah memperkirakan semuanya," ujar Lensi.


"Salah sendiri kamu kuliah ngambil jurusan aneh. Kamu tidak usah khawatir, aku akan menjaga perusahaan keluarganu dengan aman," timpal Vega.


Ingin rasanya Lensi menghajar orang-oramg yang berada di hadapannya itu, namun dia masih menghargai kedua mertuanya. Lensi meraih 10 lembar itu dan melihatnya satu persatu. Lensi kemudian membaginya menjadi dua bagian. Dan segera menandatangani 5 lebar aset yang menurutnya dia memang tidak berbakat dibidang itu.


"Apa maksudnya ini?" tanya Surya tidak terima.

__ADS_1


"Merampok juga harus tahu diri. Terlebih kalian merampok langsung dihadapan tuannya._ Jawab Lensi.


Surya meraih 5 lembar surat itu dan cukup puas dengan pembagian itu. Memang tujuan utamanya hanya ingin menguasai perusahaan, dan yang lainnya hanya sekedar dijadikan umpan.


__ADS_2