MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
89. Protes


__ADS_3

"Aku mau bang." Jawab Okta tanpa ragu.


"Aku jadi ingin tahu, kenapa kamu bisa menyukaiku dan ingin menjadi istriku?" tanya Arman.


"Apa itu butuh alasan? bukankah kalau seseorang menyukai seseorang hanya mengikuti naluri?" tanya Okta.


"Disamping itu pasti ada alasan khusus. Misal seperti ketampanan, kekayaan dan lain-lain." Jawab Arman.


Okta menatap Arman. Karena dia juga bingung, kenapa dia bisa menyukai pria yang bahkan usianya hanya beda beberapa tahun dengan ibunya itu. Okta kemudian tertunduk, dia yakin tidak bisa memberikan jawaban seperti yang Arman inginkan.


"Mungkin karena aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang bapak, aku jadi haus akan kasih sayang seorang lawan jenis. Abang sosok pria dewasa yang mungkin bisa diharapkan bisa melindungi, dan mengayomi aku. Aku tidak tahu apa jawabanku ini bisa abang terima atau tidak, tapi aku tidak butuh pria tampan atau kuat, pria kaya atau berkedudukkan. Karena kalau abang mempunyai itu semua, pasti abang akan menolakku,"


"Aku memang tidak secantik dan sesexy Lensi. Aku juga tidak pandai memasak atau bersolek. Tapi aku tulus menyukai abang. Bagiku asal kita bisa berbagi kasih sayang saja sudah cukup, karena aku tidak mau hidup dengan saling menyakiti. Aku sudah pernah tersakiti, dan itu karena bapakku sendiri," sambung Okta.


"Katakan pada ibumu. Dua hari lagi aku akan datang melamarmu secara resmi. Kamu bisa mengundang siapapun yang ingin kamu undang. Buat acara lamaran sesuai yang kamu inginkan. Karena kalau ibumu menerimaku, akhir pekan kita adakan pernikahan langsung," ujar Arman.


"Eh? se-secepat itu?" tanya Okta.


"Kenapa? kamu mau kita pacaran dulu? aku tidak mau hubungan yang seperti itu. Masa seperti itu sudah lewat bagiku. Aku ingin cepat menikah dan cepat punya anak." Jawab Arman.


"Dasar cowok kaku. Enak banget ngomong soal anak enteng begitu. Ah...tapi sepertinya dia sudah tidak sabar buat....hihihi," Okta tertawa dalam hati membayangkan hal yang iya-iya.


"Apa yang bocah ini pikirkan. Kenapa dia jadi senyum-senyum sendiri? apa aku akan menikahi bocah tidak waras?" batin Arman.


"Ya sudah nanti aku akan bilang sama nyak," ucap Okta.


"Pulanglah! jangan terlalu lama di rumah laki-laki. Kamu akan tahu akibatnya kalau berlama-lama," ujar Arman.


"Eh?" Okta terkejut karena Arman mengusirnya.


"Apa-Apaan dia? boro-boro mau bersikap romantis. Baru juga jadian, bukannya saling pegang tangan, pelukkan, atau ciuman, kok malah ngusir. Dasar perjaka tua," batin okta.


"Ada apa dengannya? apa aku salah bicara? wajahnya sudah seperti tahu yang nggak diganti air selama dua hari," batin Arman.

__ADS_1


"Aku pulang," ucap Okta dengan wajah masam.


Okta beranjak dari tempat duduk, dengan bibir mengerucut. Arman dengan sigap menarik tangan gadis itu hingga Okta terjatuh dipangkuannya.


"Kalau ada kataku yang salah, kamu harus cepat memberitahuku. karena meski usiaku sudah tua, aku minim pengalaman soal wanita. Apa kata-kataku tadi sudah menyinggungmu?" tanya Arman.


Sungguh saat ini jantung Okta sedang bersenam ria.


"Perjaka tua sekalinya romantis gini amat. Jantungku rasanya mpot-mpotan," batin Okta.


"Abang sendiri kenapa bisa mau nikahin aku langsung?" tanya Okta penasaran.


"Mumpung ada yang mau." Jawab Arman dengan santai.


"Mumpung ada yang mau? cuma itu?" tanya okta tidak terima.


"Eh? apa aku salah lagi? benar kata orang, wanita selalu benar, dan pria adalah gudangnya kesalahan," batin Arman.


"Kalau abang bilang mencintaimu, bukankah itu kelihatan bohongnya? abang kan baru tahu kalau kamu menyukai abang," ucap Arman.


"Kamu sahabat dari Lensi. Kamu berteman dengan orang baik, sudah pasti kamu orang baik juga." Jawab Arman.


"Jadi ini gara-gara Lensi lagi ya? apa selamanya nanti abang akan membandingkan aku dengannya?" tanya Okta dengan wajah murung.


"Eh? Arman bodoh, kenapa kamu menjadikan Lensi barometer untuk calon istrimu. Tentu saja dia akan sedih mendengarnya," batin Arman.


"Tentu saja itu nggak benar. Itu hanya salah satunya," ucap Arman yang membuat Okta menatap mata Arman dengan lekat.


"Ap-Apa?" tanya Okta.


"Kamu terlihat cantik dan manis kalau tersenyum." Jawaban Arman membuat Okta tersipu.


"Dan yang terpenting, kamu mau menerima abang apa adanya," sambung Arman.

__ADS_1


Okta tiba-tiba mengalungkan kedua tangannya di leher Arman.


"Jadilah nanti pria pengganti bapakku, jadilah suami yang setia dalam suka dan duka, dan jadilah sahabat untukku disaat rumah tannga kita dihantam badai. Karena meski jarak usia kita terpaut jauh, tapi rasa cintaku buat abang tak akan pernah berkurang," ucap Okta.


Arman tersenyum mendengar kata-kata Okta yang begitu menyentuh lubuk hatinya.


"Meski aku tidak pernah punya pengalaman berpacaran dengan seorang wanita, tapi seingatku aku tidak pernah menyakiti wanita manapun. Karena bagiku wanita itu akan menjadi calon seorang ibu, dan seorang ibu harus dihormati dan disayangi,"


"Aku tidak bisa berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu kelak. Tapi aku bisa pastikan, apapun yang kamu inginkan, akan aku kabulkan," sambung Arman.


"Itu sudah cukup." Jawab Okta.


Entah siapa yang memulai lebih dulu, Okta dan Arman sudah sama-sama berpagut mesra. Seolah mereka ingin mendalami perasaan mereka masing-masing.


"Pulanglah sayang. Aku takut tidak bisa menahan diri, dan malah mengambil sesuatu yang berharaga darimu sebelum kita Sah menikah. Masa laluku memang bukan orang yang baik, tapi aku tidak pernah menjadi bajingan untuk seorang wanita," ujar Arman.


"Terima kasih sudah menjagaku dari hal itu," ucap Okta sembari memeluk Arman dengan erat.


"Ayo abang antar sampai depan teras. Atau abang antar sampai rumah saja?" tanya Arman.


"Tidak usah bang. Biar aku pulang sendiri saja." Jawab Okta.


Okta dan Arman keluar pintu saling bergandengan tangan. Kedua sejoli itu hatinya sedang berbunga-bunga saat ini. Dan saat Okta ingin menaikki motornya, Arman meraih tangan Okta dan menyematkan cincin peninggalan ibunya ke jari manis Okta.


"Bentuknya memang tidak menarik, harganya juga mungkin tidak mahal. Tapi itu peninggalan nenek yang diturunkan pada ibu yang seorang menantu. Dan sebelum ibu meninggal, dia ingin aku menyematkan cincin itu dijari manis menantunya," ujar Arman.


Greppp


Okta kembali berhambur kepelukkan Arman. Dia sangat terharu, karena Arman bernar-benar menginginkan dia jadi istrinya.


"Makasih karena abang percaya padaku," ucap Okta dengan mata berkaca-kaca.


"Emm." Arman mengangguk dan mengeratkan pelukkannya.

__ADS_1


Okta kemudian melerai pelukkannya dan menaiki motornya untuk segera pulang membawa kabar bahagia untuk nyak Rogaya. Namun saat dia sampai di rumah, dan memberitahu teman-temannya. Mereka datang ke rumah Okta untuk protes atas keputusan Okta itu.


__ADS_2