
Fatimah mendongakkan kepalanya, karena ingin melihat pria yang dengan berani sudah mencium keningnya itu. Dia cukup terkejut, karena suaminya itu tergolong pria tampan dan tidak seperti dalam bayangannya. Alex mengedipkan mata genitnya, saat melihat Fatimah yang seolah tersihir oleh ketampanannya. Fatimah langsung memalingkan wajah dengan pipi yang merona.
"Apa gunanya tampan, kalau aslinya mesum akut," batin Fatimah.
Fatimah larut dalam pemikirannya sendiri, hinggi tanpa sadar sebuah cincin putih sudah melingkar dijari manisnya. Alex yang jahil meraih tangan itu dan mengecup punggung tangan istrinya itu. Karena tidak ingin membuat Alex malu, Fatimah membiarkan Alex melakukan itu. Sementara Ibrahim hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat melihat kelakuan sahabatnya.
"Si Alex mah emang parah. Gimana Fatimah mau jatuh cinta sama dia? yang ada Fatimah malah ketakutan," batin Ibrahim.
"Sayang. Ayo pakaikan cincin dijari suamimu," ujar Umi Fatimah.
Fatimah dengan terpaksa meraih cincin itu dan menyematkannya dijari manis Alex.
"Terima kasih sayang," ucap Alex.
Fatimah tidak menjawab ucapan itu. Mereka kemudian menandatangani berkas-berkas pernikahan dan melakukan sesi foto-toto. Setelah itu mereka melakukan adegan sungkem. Para tamu mulai dipersilahkan untuk mencicipi hidangan, sementara kedua mempelai duduk dipelaminan kecil didalam rumah.
"Kita pasangan yang serasi ya?" Alex mulai mengajak Fatimah mengobrol. Namun Lensi sama sekali tidak menanggapi ucapan Alex yang konyol.
"Aku jadi nggak sabar deh, pengen nyicipin malam pertama kita. Sekarang sudah jam berapa? apa malam masih sangat lama?" tanya Alex dengan jahilnya.
Sementara Fatimah jadi sangat gugup dan meremas tangannya satu sama lain sembari tertunduk. Alex yang melihat Fatimah gugup, tentu saja sangat senang menjahili istrinya itu.
"Nanti malam aku pengen main sepuasnya. Kamu pasti sangat menggairahkan saat di ranjang," bisik Alex.
Fatimah yang tidak suka mendengar ucapan Alex, langsung menoleh kearah pria itu dengan tatapan membunuh dan nafas yang naik turun. Dia kemudian memalingkan wajahnya dengan cepat, seolah tidak sudi melihat wajah Alex lagi.
Setelah tamu berangsur sepi, Fatimah kemudian bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya. Perlahan dia melepaskan semua aksesoris dikepalanya, namun tangannya terhenti saat Alex tiba-tiba masuk ke kamar.
"Apa ini kamarmu?" tanya Alex yang melihat disekeliling kamar Fatimah.
"Ya." Jawab Fatimah singkat, dan tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin.
"Ah...capek," ujar Alex, sembari membanting dirinya dikasur empuk milik Fatimah.
Fatimah tidak perduli dengan apa yang dilakukan Alex, karena dia sibuk berusaha ingin melepaskan kancing baju kebaya yang terpasang dipunggungnya itu. Alex perlahan mendekat, dan membantu istrinya itu. Setelah terbuka semua, Alex dengan jahil mengecup punggung Fatimah yang masih dilapisi manset berwarna kulit itu.
"Ka-Kamu...." wajah Fatimah merona.
"Kenapa? kamu kan istriku. Dosa loh begitu sama suami,"
Fatimah jadi tertunduk. Sepertinya kata-kata itu akan menjadi sejata ampuh untuk meluluh lantakkan pertahanan Fatimah.
"A-Aku mau mandi," ujar Fatimah.
"Mandi dengan memakai baju pengantin, dan jilbab diatas kepala?" tanya Alex. Dia tahu Fatimah sedang gugup saat ini.
"Sini aku bantu melepas jilbabnya," sambung Alex.
Fatimah membiarkan Alex melepaskan satu persatu jarum pentul yang melekat di jilbabnya. Dan kemudian menarik jilbab itu perlahan. Alex juga melepaskan ikat rambut Fatimah, hingga rambut panjang itu tergerai indah.
"Subhanallah. Kamu sangat cantik sayang," ujar Alex.
Fatimah yang malu mahkotanya sudah dilihat pria dewasa untuk pertama kalinya, jadi bergegas masuk kedalam kamar mandi. Fatimah mengelus dadanya, untuk menetralkan degup jantungnya sembari bersandar di daun pintu kamar mandi.
"Ibrahim benar. Dia sangat cantik. Meskipun tidak secantik Lensi. Tapi dia memiliki pesona dan cahaya sendiri diwajahnya. Ah...apapun itu dia adalah istriku sekarang. Aku harus belajar mencintainya, dan menyayanginya. Semoga perasaan cinta kami segera tumbuh seiring berjalannya waktu," batin Alex.
"Bagaimana ini? bagaimana kalau pria mesum itu meminta haknya malam ini? aku benar-benar belum siap. Meski kata Ibrahim dia sahabatnya dan orang baik, tapi dia pria mesum. Aku takut saat sudah memberikan haknya, dia malah melirik wanita lain," ucap Fatimah lirih.
"Astagfirullah...ampuni hambamu ini ya Alalh..."
__ADS_1
Fatimah tidak ingin larut dalam prasangka. Diapun segera membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai yang sempat dia bawa sebelum masuk dalam kamar mandi. Fatimah melihat Alex tertidur dengan masih mengenakan baju pengantin. Dan kesempatan itu tidak dia sia-siakan untuk kabur dari kamar itu.
"Umi,"
Fatimah memeluk Kalsum, saat melihat Uminya itu baru keluar dari kamar.
"Hey...ada apa sayang?" tanya Kalsum.
"Fatimah takut Umi. Pria itu bilang ingin meminta haknya malam ini. Fatimah belum siap Umi. Fatimah belum mencintainya," ujar Fatimah lirih.
"Fatimah. Umi rasa Umi tidak perlu lagi mengajarkanmu tentang dosa menolak ajakkan suami. Saat ini dia sudah resmi menjadi suamimu, dan halal dimata Allah."
"Meski kalian belum saling mencintai, tapi hubungan seperti itu bisa menumbuhkan perasaan diantara kalian. Percayalah, lambat laun perasaan itu akan tumbuh," sambung Umi Kalsum.
"Tapi dia sangat berbeda dengan Ibrahim. Ibrahim tidak begitu," ucap Fatimah.
"Istigfar kamu Fatimah. Secara tidak langsung hatimu sudah berzina, karena sudah mengagumi pria lain selain suamimu. Dan itu adalah perbuatan Syetan," ujar Umi Kalsum.
"Astagfirullahaladzim..." ucap Fatimah lirih.
"Sekarang ajak suamimu keluar. Sebentar lagi makan siang. Tamu sudah pulang semua, kalian nanti harus beristirahat karena nanti malam kita akan ke gedung untuk melaksanakan acara resepsi," ujar Umi Kalsum.
"Iya Umi." Jawab Fatimah lesu.
Fatimah kemudian kembali ke kamar, dan melihat Alex masih tertidur.
"A...." kata-kata Fatimah terhenti, saat akan menyeru nama suaminya itu.
"Aku harus memanggil dia dengan sebutan apa ya? kakak, mas, abang, uda, atau apa?" ucap Fatimah lirih.
"M-Mas. M-Mas Alex bangun! ditunggu abi sama umi buat makan siang bersama," ucap Fatimah.
"M-Mas. Bangun! Umi sama Abi udah nungguin tuh," ulang Fatimah sembari menyentuh kaki Alex.
"Ah...ya sudahlah kalau nggak mau. Aku pergi duluan saja," ujar Fatimah dan hendak melangkah pergi.
Tap
Brukkkk
Alex menarik tangan Fatimah, hingga wanita itu jatuh diatas tubuhnya.
"M-Mas. Ka-Kata Umi ayo makan si-siang bersama," ucap Fatimah terbata.
Fatimah benar-benar sangat gugup saat ini. Posisi mereka benar-benar intim.
"Bukan begitu cara benar membangunkan suami yang sedang tidur," ujar Alex.
"Ba-Bagaimana caranya?" tanya Fatimah yang tanpa sadar sudah terkena jebakkan Alex.
"Begini caranya,"
Alex meraih kedua sisi wajah Fatimah, dan mengecup pipi istrinya itu. Mata Fatimah terbelalak dan segera bangkit dari atas tubuh Alex.
"Dasar mesum," gerutu Fatimah.
Brakkk
Fatimah menutup pintu dengan sedikit keras. Sementara Alex jadi tertawa keras, karena geli dengan kekonyolan yang dia buat sendiri. Alex kemudian bergegas berganti pakaian dan mencuci wajahnya. setelah itu dia menyusul ke meja makan.
__ADS_1
"Sayang. Ambilkan makanan buat suami kamu," ujar Umi Kalsum.
"Biar saya sendiri saja Umi," ucap Alex
"Jangan. Fatimah harus membiasakan diri melayani kamu dari hal kecil," ujar Umi Kalsum.
Fatimah tidak membantah ucapan Umi Kalsum. Dia segera menuangkan nasi beserta lauk pauk kedalam piring suaminya.
"Terima kasih sayangku," ucap Alex yang membuat Umi Kalsum dan Ustad Sobir jadi tersenyum mendengar ucapan sayang menantunya itu.
Sementara Fatimah bukannya senang, dia malah bertambah kesal mendengarnya. Setelah makan siang bersama, merekapun beristirahat. Dan pada malam harinya mereka mengadakan resepsi besar-besaran di salah satu hotel berbintang 5.
Lagi-Lagi Alex harus mengakui, kalau istrinya itu sangat cantik malam ini.
"Ah...benar kata Ibrahim. Tidak akan sulit membuatku jatuh cinta pada Fatimah, dia wanita mendekati sempurna menurutku," batin Alex.
Setelah acara resepsi selesai, merekapun kembali ke rumah.
Kriekkk
Fatimah yang baru selesai membersihkan diri keluar dari kamar mandi. Kemudian bergantian dengan Alex yang kini ingin membersihkan diri. Setelah selesai, Alex keluar dengan hanya melilitkan handuk dipinggangnya.
"Astagfirullah. Mas bisa langsung pakai baju didalam nggak sih? nggak enak dilihatnya," ujar Fatimah sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Bukannya bergegas memakai baju yang sudah ditangannya, Alex malah mendekati Fatimah dan meraih tangan lembut itu, agar menyentuh otot-otot diperutnya.
"Mas kamu apa-apaan sih?" tanya Fatimah yang malu dan memalingkan wajah.
"Kamu lihat dulu. Apa kamu yakin tubuh suamimu tidak enak dilihat?" ujar Alex.
"Tidak mau." Jawab Fatimah dengan masih melihat kearah lain. Sementara tangannya yang satu masih dipaksa meraba-raba otot perut milik Alex.
"Dosa loh nolak perintah suami," ujar Alex yang mengeluarkan senjatanya.
"Massss...."
Fatimah menggeram kesal, dan kemudian melihat kearah yang Alex mau. Fatimah akui bentuk tubuh Alex sangat indah. tapi dia tidak mungkin mengakuinya.
"Enak dilihat tidak?" tanya Alex.
"Ya. Puas?" Fatimah segera menarik tangannya. Jantung Fatimah sudah tidak karuan saat ini.
"Kamu harus tanggung jawab sekarang," bisik Alex.
"Ap-Apa?" tanya Fatimah.
"Dia jadi bangun sekarang." Jawab Alex.
Alex yang jahil langsung mendekatkan diri pada Fatimah. Tubuh Fatimah tentu saja jadi menegang. Melihat ekspresi wajah Fatimah yang seperti itu, tentu saja mebuat Alex ingin tertawa.
Cup
Alex mengecup kening Fatimah, setelah bibirnya hampir mencapai bibir Fatimah.
"Tidurlah," ucap Alex yang kemudian bangkit dari atas tubuh Fatimah.
"Sial. Kenapa aku ingin sekali mencium bibirnya. Bersabarlah Alex, jangan membuat istrimu takut," batin Alex.
Alex bergegas berganti pakaian, dan berbaring disebelah Fatimah. Alexpun tertidur tanpa melewati malam panas bersama Fatinah.
__ADS_1