MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
129. Permintaan Vega


__ADS_3

"Aku minta maaf ya? gara-gara dia, dinner kita jadi kacau," ucap Gita.


"Apa kamu yakin dia saudaramu? kok beda banget sama kamu," tanya Iko.


"Jelas beda dong. Namaku Gita, nama dia Vega." Jawab Gita sembari terkekeh.


"Dia itu kan yang kamu ceritain pernah masuk penjara?" tanya Iko.


"Iya. Kenapa?"


"Hati-Hati kamu sama dia. Kalian juga baru bertemu kan? Aku merasa di bukan orang yang baik," ujar Iko.


"Aku akan memasang radar waspadaku. Kamu tidak usah khawatir. Oh ya jangan lupa akhir pekan nanti ada pertandingan persahabatan antar perguruan karate," ucap Gita.


"Aku akan menjemputmu." Jawab Iko.


Gita memang bertemu Iko saat mereka sama-sama mendalami ilmu karate. Saat itu hanya Gita yang melihat Iko, sementara Iko tampak cuek dengan sekitarnya. Intens melihat pria itu disetiap latihan, membuat Gita jatuh cinta pada Iko. Gita kemudian memutuskan untuk mengejar Iko. Dan peluang itu tambah besar, saat dirinya baru tahu kalau Iko bekerja satu kantor dengannya. Karena iko memang bekerja satu tahun lebih dulu daripada Gita.


Banyak hal yang Gita lakukan agar bisa menaklukkan pria dingin itu. Namun pada akhirnya dia mampu meruntuhkan dinding pertahanan Iko yang sekeras beton.


"Langsung bobok ya?" ujar Iko sembari mengusap puncak kepala Gita. Saat mereka sudah tiba di depan rumah kekasihnya itu.


Cup


Gita mencium pipi Iko. Hal yang sering dia lakukan untuk Iko, setiap mereka pulang berkencan. Selama satu tahun berpacaran, Gita dan Iko memang tidak pernah melakukan hal-hal diluar batas, termasuk berciuman. Mereka benar-benar menjaga hubungan mereka dengan sangat baik.


"Makasih sudah mengantarku," ujar Gita.


"Minggu nanti kita akan berkencan lagi," ucap Iko.


"Ya." Jawab Gita.


Gita kemudian turun dari mobil, dan masuk kedalam rumah. Sementara mobil iko meluncur pulang ke rumah.


Bagaimana kencanmu. Hem?" tanya Susi yang memang sengaja menunggu putrinya itu pulang ke rumah.


Sebenarnya Susi tidak khawatir membiarkan Gita pergi bersama Iko. Selain Iko dinilai cukup baik, Gita juga pandai ilmu bela diri. Gita juga tidak pernah aneh-aneh selama ini, meskipun mereka tinggal di kota besar yang pergaulannya terbilang bebas.


"Kacau ma." Jawab Gita.


"Kok bisa?" tanya Susi.


"Ketemu Vega disana. Bahkan dia ikut nimbrung satu meja dengan kami." Jawab Gita.


"Ya ampun, nggak tahu malu sekali dia," ujar Susi.


"Nggak cuma itu. Dia bahkan berbohong kalau dia datang ke restaurant itu sendirian. Padahal aku sempat melihat dia makan bersama seorang wanita parubaya. Hanya saja aku berpura-pura tidak melihat mereka. Aku yakin itu ibunya," ucap Gita.

__ADS_1


"Sudah jelas sekali kalau dia sengaja melakukan itu. Hati-Hati, dia itu bibitnya Marini. Jangan sampai kejadian dahulu terulang kembali. Mama jadi khawatir dia akan merayu Iko," ujar Susi.


"Kenapa mama khawatirkan itu. Iko bahkan tidak menatapnya lebih dari 3 detik. Aku tahu Iko pria seperti apa, itulah sebabnya aku mencintaimya," ucap Gita dengan tersipu.


"Meskipun begitu tetap harus waspada. Jangan biarkan calon pelakor merusak hubungan kalian," ujar Susi.


"Siapa calon pelakor?" tanya Handoko yang tengah menuruni anak tangga.


"Pa-Papa? ini kami membicarakan sinetron yang baru saja kami tonton. Pembahasannya tentang pelakor." Jawab Gita.


"Ya ampun ini sudah jam berapa? bukankah kata mamamu kamu sedang dinner dengan Iko? kapan kalian menikah? papa sudah tidak sabar ingin menggendong cucu," ucap Handoko.


"Ya ampun apa-apaan sih pa? datang-datang ngomong pengen gendong cucu. Nanti dulu, nunggu Iko melamar. Masak iya aku duluan yang ngajakkin kawin, gengsi dong." Jawab Gita.


"Ya sudahlah. Hari sudah larut, ayo kita tidur!" sambung Gita, yang kemudian pergi lebih dulu menaiki anak tangga.


"Lihat itu putrimu. Begitu kita membahas masalah pernikahan, dia langsung kabur begitu saja," ujar Handoko.


"Biarkan saja. Lagipula sebenarnya aku belum rela dia menikah begitu cepat. Dia baru 21 tahun, dia masih sangat muda. Biarkan setidaknya dia menikah diusia 25," ucap Susi.


"Lebih cepat lebih bagus. Pergaulan anak jaman sekarang sangat mengerikan. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan," ujar Handoko.


"Jaman sekarang dengan jaman dahulu sama saja. Buktinya jaman dulu ada juga seorang gadis yang dihamili oleh pria ganjen," sindir Susi sembari bergegas menaiki anak tangga.


"Eh? rasanya tidak asing sindiran itu. Sayang? apa kamu menyindirku?" tanya Handoko setengah berteriak.


Handoko bergegas menyusul Susi,saat Susi menutup pintu. Nyaris saja membuat hidung Handoko menjadi bengkok.


Ceklek


"Sayang. Kamu ingin membunuh suamimu?" tanya Handoko.


"Entah mengapa kalau mengingat itu, aku jadi tiba-tiba merasa kesal. Kamu berkali-kali menolakku, dan menghamili wanita lain. Setelah itu dia malah meninggalkanmu, barulah kamu melihatku." Jawab Susi sembari duduk di depan cermin.


"Ya ampun sayang. Apa kalian para wanita nggak bisa membahas topik yang sama sekali atau dua kali saja? coba kamu bayangkan. Kamu membahas ini sejak awal kita memutuskan menikah, sampai Gita berusia 21 tahun. Kenapa sih kaum perempuan suka sekali mengungkit-ungkit kesalahan yang sama?" tanya Handoko.


Susi terdiam. Apa yang dikatakan Handoko memanglah benar. Tapi mau bagaimana lagi, kalau rasa cemburu kembali merasuki diri. Susi selalu saja hilang kendali. Susi menghela nafas berat, dan kemudian menghampiri suaminya itu. Susi mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya itu.


"Maafin mama pa. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini mama merasa takut. Perasaan mama nggak enak. Mama takut rumah tangga kita jadi hancur berantakan," ujar Susi.


"Kamu kenapa sih jadi punya pikiran seperti itu? apa ini soal Vega yang datang ke rumah? kamu takut dia tinggal disini? kan aku sudah bilang kalau dia sudah aku belikan rumah sendiri, dan kamu sudah menyetujuinya," ucap Handoko.


"Maafin mama pa. Mungkin mama terlalu berlebihan," ujar Susi sembari memeluk suaminya itu.


"Kamu tidak usah berpikir macam-macam. Kita sudah tua, papa cuma mau fokus membesarkan perusahaan demi anak cucu kita nanti," ucap Handoko sembari mencium puncak kepala istrinya.


"Aku percaya sama kamu Pa. Tapi aku tidak bisa percaya wanita itu. Sekarang kamu sudah kaya, dia pasti berusaha ingin merebutmu dariku. Dan aku nggak akan membiarkan itu terjadi," batin Susi.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


"Tuan ada seorang gadis ingin bertemu dengan anda," ujar sekretaris Handoko.


"Siapa?" tanya Handoko.


"Vega." Jawab wanita.


"Suruh dia masuk," ujar Handoko.


Sekretaris itupun membiarkan Vega masuk ke ruang bosnya. Vega disambut pelukkan hangat oleh Handoko.


"Ada apa. Hem? apa uang belanjamu sudah habis?" tanya Handoko.


"Nggak pa. Aku kesini nggak minta uang. Sebagai anak muda yang masih sehat, Vega malu kalau masih minta uang dengan papa." Jawab Vega.


"Anak baik. Jadi apa keinginanmu. Hem?" tanya Handoko.


"Biarkan Vega bergabung diperusahaan pa. Dulu waktu di SU Group dan Gemilang Group, aku menjabat di departemen keuangan. Aku sangat ahli di keuangan. Tapi kalau belum ada lowongan disini, Vega tidak masalah kalau papa mau menempatkanku dimana saja. Termasuk jadi office girl." Jawab Vega.


"Handoko nggak mungkinlah membiarkan anaknya jadi Office girl. Minimal jadi manager atau sekretaris," batin Vega.


"Papa akan pikirkan dulu. Papa harus tahu dulu bagian mana yang lagi kosong saat ini. Bersabarlah, papa pastikan besok sudah ada kabar," ujar Handoko.


"Makasih pa." Jawab Vega.


"Yes. selangkah demi selangkah aku sudah berhasil memasuki Zona nyaman keluarga Handoko. Suatu saat nanti, semua ini pasti akan jadi milikku," batin Vega.


"Papa bentar lagi mau meeting. Kamu tunggu disini, biar nanti papa antar kamu pulang," ujar Handoko.


"Nggak usah pa. Vega pulang sendiri saja. Lagian mau manpir ke supermarket dulu buat belanja keperluan rumah," ucap Vega asal


"Baiklah. Akan papa transfer ke rekeningmu ya?"


"Makasih pa." Jawab Vega.


"Ngalir terus duit Hanggono ke rekening gue. sudah masuk di kantor ini, aku akan minta mobil sama dia," batin Vega.


Handoko kemudian pergi ke ruang meeting, sementara Vega beranjak pergi meninggalkan kantor itu.

__ADS_1


__ADS_2