MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
36. Pelit


__ADS_3

"Dasar pelit," batin Lensi.


"Kenapa?" tanya Lensi.


Ibrahim tidak menjawab dengan mulut, tapi menjawab dengan tangannya yang tengah menengadah.


"Hadeh...mau makan saja banyak aturannya. Orang tinggal nyam saja," batin Lensi namun dirinya jadi mengikuti gerakkan tangan Ibrahim dan Aisyah.


Setelah Ibrahim membaca do'a makan, Lensi bergegas memasukkan makanan ke dalam piring dan memakannya dengan lahap. Ibrahim hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, saat melihat Lensi yang berprilaku tidak tahu malu.


"Emm...macakkan Umi lejat," ujar Lensi sembari mengacungkan jempol dengan mulut dipenuhi makanan.


"Jangan bicara dalam keadaan mulut penuh begitu," ucap Ibrahim yang malu sendiri melihat kelakuan Lensi, namun tidak dengan Aisyah. Gadis itu mengingatkan dia pada dirinya dulu yang belum hijrah.


"Gadis ini sama sekali tidak menjaga imagenya. Dia berprilaku apa adanya. Dan entah mengapa aku jadi menyukai gadis ini," batin Aisyah.


"Lensi. Ceritakan bagaimana keluargamu? terutama ibumu," tanya Aisyah.


Lensi tiba-tiba menghentikan kunyahan didalam mulutnya. Lensi kemudian menatap Aisyah sejenak dan kembali meneruskan suapannya yang menggunakan jari-jarinya.


"Mama sudah meninggal." Jawab Lensi singkat.


Aisyah dan Ibrahim jadi menoleh satu sama lain.


"Maaf. Umi tidak bermaksud membuatmu bersedih," ujar Aisyah.


"Tidak masalah." Jawab Lensi singkat.


"Apa beliau sakit? kamu masih sangat muda, itu artinya beliau juga meninggal diusia yang masih sangat muda. Beliau sakit apa?" tanya Aisyah penasaran.


"Dibunuh." Lagi-Lagi Lensi menjawab seadanya.


Lensi mempercepat makannya dan kemudian menyelesaikannya. Setelah selesai dia mencuci tangannya dan menatap orang-orang di depannya. Aisyah terdiam saat mendengar jawaban Lensi yang terakhir.

__ADS_1


"Banyak hal yang Umi tidak tahu tentang diriku dan latar belakang keluargaku yang sangat bobrok. Apa Umi tidak menyesal menjadikan aku menantu?" tanya Lensi.


"Karena jujur saja. Aku ini minim ilmu agama, aku juga bukan gadis baik-baik yang suka diam dirumah, yang benar-benr mengikuti aturan agama. Aku takut Umi tidak kuat mempunyai menantu sepertiku," sambung Lensi.


Mendengar ucapan Lensi, Aisyah jadi terkekeh. Lensi benar-benar mengingatkan dia sewaktu masih muda dulu.


"Kebanyakkan gadis selalu ingin terlihat menarik, anggun, berilmu, dan seperti gadis baik-baik di depan calon mertuanya. Tapi kenapa kamu tidak? apa kamu tidak takut kami menolakmu?" tanya Aisyah.


"Umi benar. Gadis ini sikapnya sama sekali tidak dibuat-buat. Apa ini salah satu triknya agar bisa lepas dari pernikahan ini? tapi aku merasa semua ucapannya tulus," batin Ibrahim yang sejak tadi menyimak obrolan Aisyah dan Lensi.


"Tidak ada yang patut dibanggakan dari diriku. Tidak ada gunanya berpura-pura baik, kalau pada kenyataannya aku memang gadis yang buruk." Jawab Lensi.


"Selama kamu tidak menjual harga dirimu demi diperbudak oleh uang, itu masih bisa diterima," ujar Aisyah.


"Aku tidak seperti itu. Apa Umi percaya kalau aku mengatakan saat ini aku masih perawan dan tidak melakukan itu dengan Ibrahim?" Lensi mulai memasukkan obrolan penting.


Aisyah terdiam. Soal itu cukup mengganjal juga di pikirannya. Dirinya sangat mengenal putranya dengan baik. Dia masih tidak percaya kalau Ibrahin mampu melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Aisyah kemudian menatap mata Lensi dengan lekat untuk mencari kejujuran disana.


"Kami tidak melakukan itu Umi. Aku minta maaf kalau tadi Aku sempat berbohong pada Umi dan Ustad. Tadinya niatku cuma ingin mengerjai Ibrahim, tapi aku tidak menyangka kalau kejadiannya jadi seperti ini."


"Kok bisa kamu masuk kekamarnya? mana mungkin bisa masuk ke area pesantren begitu saja? pagar setinggi itu tidak bisa dimasukki, kecuali ada yang membukakan pagar, atau menggunakan alat khusus," tanya Aisyah penasaran.


"A-Aku mempelajari olahraga ekstrim Parkour." Jawab Lensi yang kemudian tertunduk.


"Parkour? apa itu?" tanya Aisyah sementara Baim cukup terkejut mendengar pengakuan Lensi.


"Olahraga yang bisa memperkuat tulang. Media olahraganya bisa dinding, atap gedung, pohon dan lain sebagainya,"


"Semacam spiderman begitu?" tanya Aisyah yang dijawab anggukkan oleh Lensi.


Mendengar itu Aisyah jadi terkekeh. Wanita parubaya itu sama sekali tidak percaya dengan ucapan Lensi. Lensi melirik kearah Ibrahim yang menatapnya dengan tatapan tidak bisa dia artikan. Lensi jadi tertunduk, sesaat kemudian tawa Aisyah mereda.


"Kalau kamu mengatakan ini hanya ingin membuat pernikahan ini batal, sepertinya sulit. Ustad Gofur sedang menemui Ustad Sobir untuk berdiskusi tentang pembatalan pernikahan atau kalian akan hidup berdampingan,"

__ADS_1


"Jangan Umi. Biar Ibrahim menikah saja dengan gadis itu. Aku tidak apa-apa kok. Lagipula semua ucapanku tadi jujur. Aku tidak pernah berbohong pada seorang ibu seperti Umi,"


"Oh ya? lalu apa tujuanmu masuk kemari?" Aisyah jadi tertarik dengan cerita Lensi. Baginya Lensi hanya berimajinasi karena ingin lepas dari pernikahan.


"Aku dikejar orang dari klub perjudian." Jawab Lensi dengan takut-takut. Tapi dia tidak perduli dengan pandangan orang tentang dirinya, yang penting dia harus meluruskan kesalahpahaman agar tidak ada penyesalan.


"Perjudian? apa kamu memenangkan perjudian itu?" tanya Aisyah menahan tawanya.


"Ya. Aku memenangkan perjudian kelas kakap di jalan X." Jawab Lensi.


"Benarkah? berapa yang kamu menangakan?" tanya Aisyah.


"300 Milyar." Jawab Lensi.


Mendengar jumlah itu, Aisyah terkekeh sampai mengeluarkan air mata. Ibrahim menatap Lensi yang tertunduk. Entah mengapa dia merasa perkataan Lensi semuanya jujur.


"Apa aku perlu menyelidiki semua ucapannya itu? tapi buat apa? itu kan urusan dia. Lagipula dia bukan istriku. Kalau yang dia katakan benar, gadis ini penuh cacat. Aku pasti pusing membinbingnya," batin Ibrahim.


"Boleh Umi cicipi uang kemenanganmu?" tanya Aisyah.


Ibrahim tahu Aisyah tidak serius menanyakan itu, namun Lensi menanggapinya dengan serius.


"Akan aku berikan uang halal buat Umi dari hasil kerjaku. Kalau uang haram aku tidak pernah memberikannya kesiapapun, kecuali teman-temanku. Itupun aku melarang mereka buat beli makanan." Jawab Lensi.


"Kamu bekerja? kerja dimana?" tanya Aisyah sembari menyudahi makannya.


"Aku bekerja sebagai model." Jawab Lensi.


"Sangat susah membengkeli gadis ini. Kerjaannya saja seorang model yang biasa memperlihatkan aurat," batin Ibrahim.


"Kalau kamu menikah dengan Ibrahim, kamu harus berhenti jadi model. Ustad Gofur pasti tidak suka. Apa kamu keberatan?" tanya Aisyah.


"Haduh...kenapa sulit sekali lepas dari masalah ini. Aku mending bertarung dengan ratusan orang, daripada ngadapin ibu-ibu," batin Lensi.

__ADS_1


"Sudah aku bilang tidak mudah lepas dari masalah ini, meski kamu mengatakan kejujuran ribuan kali. Sebenarnya tidak salah kamu mengatakan orang tuaku kolot. Tapi bukan kolot seperti yang kamu pikirkan, mereka tidak ingin anaknya menghalalkan apa yang diharamkan oleh agama," batin Ibrahim.


Saat mereka sedang berbincang, Ustad Gofur tiba-tiba datang membawa hasil diskusinya dengan Ustad Sobir.


__ADS_2