
"Akhir-Akhir ini sangat rawan kejahatan di ibu kota. Ada sekelompok geng yang baru muncul, dan sangat meresahkan warga. Nggak hanya mengambil barang, mereka juga kadang melecehkan korban. Ini sangat tidak baik untuk kelompok kita yang sudah tidak lagi bergerak didepan layar," ujar Arman.
Lensi menatap layar televisi yang berukuran jumbo di depannya. Diberita juga menayangkan aksi-aksi kejahatan terbuka di depan umum, yang tidak segan-segan melukai korbab jika tidak mendapat yang mereka inginkan. Namun ada yang menarik dari penglihatan Lensi, saat berita menayangkan kasus kejahatan yang sempat tertangkap kamera cctv. Lensi melihat ada tato yang sama disisi lengan kiri para pria bertopeng itu.
"Coba kalian perhatikan tato di lengan kiri mereka, apa menurut kalian itu tato yang sama? mungkinkah geng mereka memang menggunakan tato itu sebagai simbol?" tanya Lensi.
"Bisa jadi." Jawab Arman.
Kalau begitu kita bisa menyuruh orang untuk memantau jalanan, kita harus bergerak cepat kalau tidak ingin jadi kambing hitam," ucap Lensi. Sementara Arman manggut-manggut tanda mengerti.
"Sudah jam 9 malam, kamu pasti butuh Istirahat. Zoya, ajak Lensi pergi Istirahat bersamamu," ujar Arman.
"Baik Bos." Jawab Zoya.
Zoya dan Lensi pergi dari hadapan Arman dan anak buahnya. Namun saat akan menuju kamar, Lensi malah menarik tangan Zoya untuk belok ke lorong lain.
"Mau kemana?" tanya Zoya.
"Seperti biasa." Jawab Lensi, yang dijawab senyuman oleh Zoya.
Tap
Tap
Tap
Lensi dan Zoya tiba-tiba berlari dan bergelantungan dibesi setiap memiliki kesempatan untuk menunjukkan kebolehan mereka sebagai Parkour. Dinding, besi, pipa, dan tali. Sudah seperti teman bagi mereka saat mereka sedang melakukan olahraga ekstrim itu.
Tap
Tap
Tap
Lensi dan Zoya kemudian duduk diatas genting bangunan markas, tempat biasa mereka mengobrol dikehingan malam sembari menatap kerlap kerlip lampu ibu kota
Sementara itu Arman dan yang lain hanya bisa menggelengkan kepala, mereka bisa meraskan ada gerakkan kedua wanita itu diatas genting.
"Loe ada masalah lagi? gue dengar loe udah kawin ama Ustad sekaligus pengusaha hebat," tanya Zoya.
"Ya. Tapi kehidupan percintaan gue nggak semulus pantat babi." Jawab Lensi.
"Bayi kali, kok babi?" tanya Zoya.
"Ya itu maksudku." Jawab Lensi.
__ADS_1
"Kayaknya loe jatuh cinta sama tu laki. Cinta pertama loe kan?"
"Emm. Sayangnya bukan cinta terakhir gue." Jawab Lensi.
"Jadi loe kabur dari rumah suami loe? ntar dia nyariin loh," tanya Zoya.
"Aku harap sih nggak ketemu dia lagi."
"Loh kenapa? kalian udah resmi cerai? belom juga sebulan Len. Kata orang lagi hot-hotnya itu," ujar Zoya.
"Hubungan kami nggak seperti yang loe bayangin. Sampai sekarang gue aja belum di obok-obok ama dia."
"Busyettt...bikin cenat cenut aja kalau gitu mah," ujar Zoya terkekeh.
"Hari ini dia melamar wanita lain, dan akhir pekan dia akan menikahinya. Aku nggak sanggup punya madu, meskipun poligami itu nggak dilarang,"
"Kok gitu sih? nggak adil banget. Loe aja belum di obok-obok, belum tahu dia rasanya empot ayam punya loe, kok udah pakai acara ngawinin betina lain?"
"Ayam kali ah...betina," ucap Lensi terkekeh.
"Jadi langkah apa yang akan loe ambil selanjutnya?" tanya Zoya.
"Gue mau menghilang dulu lah. Gue mau fokus buat ngerebut perusahaan keluarga dan aset keluarga gue. Setelah itu gue baru akan gugat cerai dia," ujar Lensi.
"Hah...meskipun kehidupan percintaan loe cukup berat, tapi paling tidak hidup loe sudah banyak warnanya. Nggak kayak gue, hidup gue gini-gini aja, boro-boro mikir masalah percintaan," ucap Zoya.
"Ya."
"Tunggu sampai gue bisa merebut perusahaan keluargaku lagi, kalian akan gue keluarkan semua dari dunia hitam ini," ucap Lensi.
"Makasih Len. gue juga berharap gitu. Karena gue juga punya impian buat menikah dan punya anak, maka gue lambat laun harus keluar dari dunia seperti ini," ujar Zoya.
"Keluar sih gampang. Cari pasangan dulu dong. Sampai sekarang saja gue yakin 1000 persen loe belum ngungkapin perasaan loe sama si koki markas Sendy kan?" tanya Lensi.
"Kayaknya gue bukan tipe dia. Dia malah takut setiap kali gue lihatin dia, buat cari perhatian dia." Jawab Zoya.
"Loe lihat, atau loe pelototin? loe tahu sendiri si Sendy punya hati helo kitty begitu. Loe kalau dekat dia yang anggun dong, jangan buat dia ketakutan. Bila perlu sosor langsung," ucap Lensi yang memberi ide gila.
"Gitu ya?"
"Eh?"
Lensi bersikap masa bodoh karena Zoya percaya kata-kata konyolnya. Namun satu hal yang Lensi tidak tahu, kalau Zoya benar-benar melakukan sarannya itu hingga membuat kehebohan di dapur.
"Eh? m-mbak Zoya mau apa?" tanya Sendy yang tengah membuat sarapan di subuh hari.
__ADS_1
Zoya meraih kedua sisi wajah Sendy, dan mencium bibir pria itu dengan keras. Sendy dengan refleks mendorong Zoya, hingga bahan-bahan makanan diatas meja, banyak yang terjatuh ke lantai.
"Mbak Zoya sudah gila ya? mbak Zoya nggak boleh gitu sama laki-laki. Kayak wanita murahan kalau gitu mbak," ucap Sendy dengan nafas terengah.
Zoya mengepalkan tangannya dengan wajah memerah karena malu. Sendy langsung ketakutan melihat Zoya sudah berubah ekspresi, dia langsung terdiam dan tertunduk. Namun saat dia menegakkan kepalanya, Zoya tidak lagi berada ditempat itu.
Sementara itu ditempat berbeda, Ibrahim baru pulang ke rumah pada pukul 6 pagi. Setelah pulang dari acara lamaran itu, dia ketiduran di rumah Alex dan baru pulang sehabis subuh.
"Nyonya sudah buatin kopi buat saya?" tanya Ibrahim pada pelayan saat akan menaiki tangga.
Ditanya seperti itu tentu saja pelayan kebingungan.
"Nyo-Nyonya belum pulang sejak pergi kemarin tuan." Jawab pelayan membuat Ibrahim mengerutkan dahinya.
"Nyonya belum pulang?" tanya Ibrahim lagi.
"Iya tuan. Saat kami tanya, nyonya bilang tuan sudah tahu dia mau pergi kemana. Kami pikir nyonya sedang ingin pergi liburan, soalnya dia bawa tas ransel lumayan besar." Jawaban pelayan membuat Ibrahim jadi terkejut.
Pria itu bergegas naik keatas dan memastikan. Semalam dirinya memang lupa mengabari Lensi kalau dia akan pulang terlambat.
Ceklek
Hal pertama yang Ibrahim rasakan hanya ada rasa sepi, saat memasuki kamar itu. Ibrahim mengerutkan dahinya saat melihat ada baju Lensi yang tercecer di lantai. Ibrahim membuka lemari Lensi, dan sangat syok saat mendapati isi lemari itu nyaris tanpa sisa.
"Ap-Apa maksudnya ini?" ucap Ibrahim lirih.
Ibrahim segera mengecek ponselnya, kalau-kalau Lensi mengirimkan pesan chat atau panggilan tak terjawab untuknya. Namun di cek berapa kalipun, Ibrahim tidak menemukan apapun. Ibrahim kemudian membuat panggilan untuk Lensi, namun ternyata nomor itu tidak aktif. Ibrahim terus mencoba, sampai matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah amplop surat dimeja rias, dan juga tulisan besar pada cermin.
Ibrahim bergegas meraih surat itu, dan membukanya dengan tergesa-gesa.
Dear abang yang kusayang....
Maaf dinda pergi tanpa pamit. Tapi dinda harap surat ini bisa mewakili mulutku yang tidak mampu bicara secara langsung. Maafkan dinda bang, dinda harus pergi meninggalkan abang untuk selamanya. Dinda ucapkan selamat untuk acara lamaran dan acara pernikahan abang dengan Fatimah minggu depan. Maafkan dinda yang tidak bisa mengantarmu untuk meminang wanita lain, karena dinda masih belum sanggup buat berbagi suami dengan siapapun.
Fatimah gadis baik, cantik dan sholeha. Yang pasti memang wanita idaman abang. Dinda bisa memaklumi kalau abang tidak tertarik denganku, meski kebersamaan kita sudah hampir sebulan lamanya. Sekali lagi maafkan dinda jika menjadi istri yang pengecut. Sungguh dinda masih belum sanggup untuk menjadi teladan seperti Aisyah istri nabi, karena tingkat keimananku belum sampai ketahap itu.
Maaf, dihari itu. Dihari abang bertemu Ustad Sobir, dinda tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Tentu saja dinda tahu abang pasti sangat bahagia mendapat lamaran langsung dari wanita pujaan abang. Dan malam harinya dinda juga tidak sengaja mendengar percakapan abang dengan kak Alex. Abang bahkan meminta bantuannya, agar bisa memuluskan keinginan abang itu tanpa memberitahuku.
Suatu saat dinda pasti kembali bang. Tapi bukan kembali untuk bersama, melainkan kembali untuk mengurus perceraian kita. Emm...Dinda minta maaf, karena sudah lancang menyimpan rasa buat abang. Padahal Dinda tahu, kalau hati abang cuma buat Fatimah seorang. Tapi berhubung ini lewat surat, Dinda memberanikan diri buat mengatakan. Kalau dinda mencintaimu bang. Abang adalah cinta pertamaku, yang berharap jadi cinta terakhirku namun berakhir gagal.
Makasih buat kebaikkan abang selama ini. Dinda akan selalu mengingatnya. Dinda pasti sangat merindukan abang, terutama saat-saat Dinda membacakan surat Ar-Rahman sebelum abang tidur. Dan pelukkan semalam, adalah pelukkan yang ternyaman yang belum pernah dinda rasakan pada pria manapun.
Selamat tinggal sayang. Dinda akan selalu mencintai dan menyayangimu meski raga kita tak lagi bersatu.
Dari yang mencintaimu
__ADS_1
Lensi Deva
Tangan Ibrahim gemetar, saat membaca kata demi kata dalam surat itu. Air mata pria itu bahkan tidak terbendung lagi. Ibrahim jadi teringat keanehan-keanehan Lensi akhir-akhir ini. Terutama saat istrinya itu menangis tanpa sebab.