
"Oh baby...kamu sanggat sexy dan menggairahkan," bisik Cokro disela-sela hujaman manisnya.
Sementara Vega hanya bisa memejamkan matanya, saat pria diatasnya itu mengakses tiap inci tubuhnya. Dia sudah tidak bisa membedakan antara rasa jijik ataupun rasa nikmat. Yang dia tahu, dia tidak ingin Cokro menghentikan hujamannya saat ini.
Suara merdu keduanya sudah memenuhi kamar itu. Tidak hanya sekali, Cokro bahkan mengulangi perbuatannya hingga beberapa kali.
"Emmmpptth...ah Cokro," Vega mengerang panjang, saat gelombang dahsyat itu menghantam pertahanannya. Tidak hanya dirinya, pria diatasnya juga mengalami hal yang sama dan ambruk diatas tubuhnya.
Cokro menarik kepemilikkannya, setelah mencium kening Vega.
"Apa perutmu sakit?" tanya Cokro saat melihat Vega meringis.
"Perutku terasa kram." Jawab Vega yang merasa tidak nyaman dengan perutnya.
"Maaf. Seharusnya aku bisa mengendalikan diri, aku hampir membahayakan anak kita. Ayo kita pergi ke rumah sakit," ucap Cokro sembari beranjak dari tempat tidur.
Tap
Vega menahan tangan pria itu, agar tetap tinggal bersamanya.
"Lain kali saja, aku butuh istirahat. Aku sangat lelah," ujar Vega.
"Baiklah. Kamu bisa tidur dulu. Aku akan menyuruh koki memasakkan makanan yang enak untukmu. Aku butuh bicara penting denganmu nanti," ucap Cokro.
"Ya." Jawab Vega yang membiarkan Cokro keluar dari kamar itu setelah berpakaian.
"Aku sudah berkorban sejauh ini. Aku tidak boleh mundur selangkahpun. Aku bahkan rela ditiduri oleh pria buruk rupa. Tapi untungnya Cokro baik padaku, dia cukup perhatian dengan anaknya. Ah...tapi gilanya aku juga sangat menikmati saat bercinta dengannya," batin Vega.
Vega memejamkan matanya dan tertidur. Sementara Cokro tampak sibuk di dapur, memerintahkan kokinya untuk membuat makanan terbaik untuk ibu hamil. Cokro bahkan menyuruh anak buahnya agar membeli ikan salmon, kacang almond untuk Vega. Dan setelah dua jam berlalu, semua makanan selesai dimasak. Vega juga tampak lebih segar, setelah membersihkan diri.
"Ba-Banyak sekali? apa ini untuk kita makan berdua?" tanya Vega.
"Kita makan bertiga." Jawab Cokro sembari mengambilkan makanan untuk Vega, hingga piringnya dipenuhi beberapa jenis makanan.
"Bertiga? siapa satunya?" tanya Vega.
"Ini." Jawab Cokro sembari mengusap perut rata Vega. Sementara Vega jadi tertegun.
"Makanlah! tadi aku sudah mencari-cari di internet. Makanan yang bagus untuk orang hamil. Nah, ini semua yang bagus untuk anak kita. Ada kacang almond, ikan salmon, brokoli dan lain-lain. Ini semua bisa membantu kecerdasan otak anak kita," ucap Cokro dengan senyum terbit dari bibirnya.
__ADS_1
Vega menatap pria didepannya itu. Pandangan mata mereka jadi bertemu.
"Kenapa kamu menatapku begitu? ayo makan!" ucap Cokro.
"Meski jelek tapi dia cukup perhatian," batin Vega.
Vega mulai menikmati makanannya. Bahkan tak jarang Cokro juga menyuapkan makanan untuknya. Setelah makan, Cokropun mengajak bicara serius dengannya.
"Vega. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting denganmu," ujar Cokro.
"Apa?" tanya Vega.
"Aku bisa memberikanmu apapun di dunia ini untukmu. Harta, uang, rumah atau apapun itu. Tapi aku minta maaf kalau aku tidak bisa memberikan status untukmu." Jawab Cokro.
"Apa maksudmu?" tanya Vega.
"Aku tidak bisa menikahimu. Aku tidak suka hidup terikat. Tapi kamu tenang saja semua kebutuhanmu pasti akan aku penuhi. Anak kita tidak akan kekurangan apapun. Bahkan kalau dia lahir, aku bersedia mengurusnya dan kamu bisa bebas di luar sana." Jawab.
Deg
Jantung Vega terasa berhenti berdetak. Entah mengapa dia merasa kecewa dengan ucapan Cokro.
"Kenapa dengan wajahnya? dia terlihat sedih. Dia tidak mungkin sedih karena tidak aku nikahi kan? bukan apa-apa. Aku trauma di tolak oleh wanita. Sekarang aku memang punya banyak uang. Tapi wanita bersedia kutiduri itu karena uangku, bukan hatiku. Semua wanita sama saja, mereka lebih mencintai uang daripada ketulusan hati. Itulah sebabnya aku lebih suka jadi orang jahat, daripada orang baik," batin Cokro.
"Vega. Ada apa? kamu...."
"Tidak masalah. Semua orang punya prinsip hidup bukan? aku juga sudah memutuskan untuk tidak menikah seumur hidup. Aku bisa hidup berdua saja dengan anakku." Jawab Vega.
"Aku pulang dulu," sambung Vega yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Biar aku antar," ujar Cokro.
"Tidak perlu! aku bisa sendiri," ucap Vega.
"Dan aku sangat tidak suka penolakkan," ujar Cokro.
Vega kemudian menuruti ucapan Cokro. Disepanjang perjalanan menuju rumah Vega, mereka hanya diam dan larut dalam pemikiran masing-masing. Setelah sampai, Vega langsung ingin turun namun ditahan oleh Cokro.
"Dengar. Jangan lakukan tindakkan apapun. Aku yang akan membereskan semuanya. Jangan bahayakan anak kita demi ambisimu. Dan ini kartu ATM, beli apapun kebutuhanmu dan anak kita. Tiap bulan aku akan mentransfer uang kesini. Aku sudah memasukkan nomor ponselku di hp mu, hubungi aku jika kamu membutuhkanmu," ujar Cokro.
__ADS_1
"Ya." Jawab Vega singkat.
Cokro kemudian meraih wajah Vega, dan mencium bibir wanita itu.
"Istirahatlah! jaga anak kita dengan baik. Hem?"
"Ya." Jawab Vega.
Vega kemudian turun dari mobil itu. Marini yang sudah menunggu sejak tadi, langsung bertanya bertubi-tubi.
"Kenapa kamu lama sekali? apa kalian...."
"Ya. Apapun yang mama pikirkan benar semua." Jawab Vega sembari menyandarkan diri di sofa.
"Ah...sudah mama duga. Mana ada pria yang tahan dengan wanita menggoda sepertimu sayang. Tapi bagaimana hasilnya? apa kamu berhasil?" tanya Marini.
"Ya. Tapi kabar buruknya dia menolak untuk menikahiku meskipun aku tidak memintanya." Jawab Vega.
"Percaya diri sekali dia? emangnya siapa yang mau menjadikan dia menantu. Sudah jelek, belagu lagi," ucap Marini.
"Tapi meski begitu dia sangat baik dan perhatian terhadapku," ujar Vega tanpa sadar.
"Hey...ada apa dengan pujianmu itu? perkataanmu itu seolah kamu tidak suka kalau mama menjelekkan dia," tanya Marini.
"Taukk ah...capek! pengen tidur." Jawab Vega sembari beranjak dari tempat duduknya.
๐น๐น๐น๐น
"Tolong...Tolong... Tolong"
Salah satu baby siter anak Lensi berteriak saat salah satu putra Lensi direbut dengan paksa dari tangannya. Bahkan satpam yang menjaga rumah Lensipun menjadi sasaran stun gun hingga tak sadarkan diri. Lensi yang baru saja tiba di kantor, langsung kembali pulang saat pelayan rumahnya memberitahu. Begitu juga dengan Ibrahim.
"Nyonya maafin saya karena lalai menjaga tuan muda Al," baby sitter itu menangis sesegukkan.
"Sudahlah ini bukan salahmu. Ini memang sudah direncanakan seseorang," ujar Lensi yang baru saja selesai mengecek cctv rumahnya.
Tidak berapa lama kemudian Ibrahim tiba dengan wajah yang sudah tidak enak dilihat.
"Bang. Hiks..."
__ADS_1
Lensi tidak bisa menahan diri saat melihat kepulangan suaminya. Dia langsung berhambur kepelukkan suaminya itu.