
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" Alex tampak sibuk dengan laptop di depannya.
"Maaf tuan. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," ujar Serketaris Alex.
"Siapa?" tanya Alex tanpa mengalihkan tatapannya pada laptop.
"Nona itu mengatakan namanya Lensi."
Alex menghentikan jari-jarinya bergerak dari tombol-tombol laptop.
"Antar dia masuk kemari. Dan suruh OB membuatkan minuman segar dan camilan," ucap Alex.
"Baik Tuan." Jawab Serketaris itu.
Setelah serketarisnya keluar, Alex menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Pria itu terlihat menghela nafas berkali-kali.
Tok
Tok
Tok
Alex melihat Lensi berdiri di depan pintu dengan pakaian yang sangat santai menurutnya. Lensi mengenakan jaket kulit berwarna hitam, dengan tanktop berwarna senada. Lensi juga mengenakan celana jeans warna hitam, namun dengan sepatu kets berwarna putih.
"Silahkan duduk!" ucap Alex sembari berdiri dari kursi kebesarannya dan duduk bersama Lensi di sofa.
"Apa kabar kak?" tanya Lensi berbasa basi
"Baik. Kamu dengan Ibrahim bagaimana? apa hubungan kalian sangat baik?" tanya Alex.
"Tidak perlu ditanyakan lagi, kakak pasti sudah mendengar cerita lengkapnya dari dia. Aku kesini hanya ingin mengucapkan maaf kak. Demi Tuhan, ini semua diluar dugaanku."
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu bisa nyasar ke pesantren itu? apa benar kalau kamu sedang di kejar-kejar orang dari klub perjudian?" tanya Alex.
"Benar kak. Malam itu aku mengkuti kompetisi judi di klub perjudian di jalan x." Jawab Lensi.
"Benarkah? bukankah itu nama klub besar se Asia? aku dengar ada dewa judi yang akan berkompetisi dengan ahli judi di negara kita. Jadi kamu ikut? kenapa kamu sampai dikejar-kejar? apa karena tersisih dari permainan, mereka ingin melecehkanmu?" tanya Alex
Mendengar pertanyaan Alex, tentu membuat Lensi tersenyum. Lensi jadi ragu memberitahu pria itu, karena takut Alex terkena serangan jantung.
"Sayangnya aku tidak tersingkir hingga babak akhir. Bahkan dewa judipun aku libas habis." Jawab Lensi yang membuat mulut Alex menganga.
"Ja-Jadi kamu pemenang yang dibicarakan orang-orang di grup itu?" tanya Alex.
"Kakak masuk dalam grup itu juga?" tanya Lensi.
"Ya. Tapi cuma sekedar masuk saja. Aku tidak pernah main. Jadi sekarang kamu sudah jadi milyarder nih?" ledek Alex.
__ADS_1
"Uang haram tetap saja uang haram. Aku tidak akan menggunakannya buat makan." Jawab Lensi.
"Jadi mau kamu apakan uang itu?" tanya Alex.
"Aku punya rencana besar dengan uang itu. Jadi aku belum mengotak atiknya." Jawab Alex.
"Hah...aku tidak bisa membayangkan kalau Ibrahim tahu, kalau istrinya seorang dewi judi," ujar Alex.
"Aku sudah memberitahukan semuanya tentang diriku, meskipun tidak seutuhnya. Aku tidak mau menjadi orang baik dimatanya, padahal kenyataannya bobrok. Kalau dia tidak percaya padaku, itu masalah dia bukan masalahku."
"Jadi kak. Apa kakak memaafkan aku? aku mohon jangan musuhi aku ya? aku sungguh tidak sengaja," tanya Lensi.
"Sudah takdir Len. Lagian aku senang kamu sudah mendapatkan orang yang tepat." Jawab Alex.
"Tepat apaan. Apa kakak tahu? teman kakak itu mulutnya seperti petasan. Galak bener! kelihatan sekali kalau dia tidak suka sama aku," ujar Lensi.
"Sabar. Kalian itu butuh penyesuaian, namanya juga nikah dadakkan. Tapi percayalah, Ibrahim itu adalah sahabat karibku. Dia pria baik dan sholeh," ucap Alex.
"Aku nggak yakin bisa bertahan lama. Dia sangat cuek, dan terlihat benci padaku. Mungkin dia menganggap aku sudah menjebaknya. Aku juga jadi tidak tega. Karena aku, pernikahannya dengan tunangannya itu putus. ingin rasanya aku menemui tunangannya itu," ujar Lensi.
"Itu tidak diperlukan. Bisa jadi kedatanganmu malah menambah luka buat dia," ucap Alex.
"Kakak benar. Aku juga tidak bisa menjamin berjodoh dengan dia selama apa. Bisa jadi hanya sekedar singgah. Ngomong-Ngomong soal singgah, sekalian aku mau nanya soal teman kakak yang ingin mengajariku meretas itu?" tanya Lensi.
"Kamu masih mau nerusin belajar itu?" tanya Alex.
"Tentu saja. Tujuan awalku memang untuk itu, bukan untuk menikah. Dasar aja aku betemu jodoh cepat, sebelum misiku berhasil," ujar Lensi.
"Aku sarankan jangan terlalu jujur tentang dendammu itu pada Ibrahim. Dia itu orang yang sangat lurus, dia pasti tidak akan mendukungnmu," ucap Alex.
"Aku akan menghubungi temanku itu kapan bisanya dan dimana tempatnya. Nanti akan aku kabari lagi," ucap Alex yang segera mengalihkan pembicaraan, karena dia merasa tidak enak hati.
"Okelah. Jangan lupa kabari ya kak?"
"Emang kamu sudah hafal surat Ar-Rahman?" tanya Alex.
"Sudah dong. Demi misiku, jangankan Ar-Rahman, do'a makanpun aku sebut." Jawab Lensi yang membuat Alex jadi terkekeh.
"Ah...andai saja kamu itu milikku. Aku sangat yakin kita akan cocok," batin Alex.
Setelah selesai berbasa-basi, Lensipun akhirnya pulang. Waktu menunjukkan pukul 1 siang, saat dirinya sampai di rumah.
Ting
Sebuah chat masuk ke ponsel Ibrahim yang tengah meeting. Ibrahim hanya melirik sekilas dan mengabaikan chat itu. Selang beberapa menit kemudian ponselnya berdering, namun dari sebuah nomor baru.
Ibrahim mengabaikan panggilan itu. Setelah rapat selesai, Ibrahimpun membuat panggilan balik untuk nomor itu.
"Hem?"
Suara berat dan mengantuk terdengar dari seberang telpon. Rupanya karena telponnya diabaikan, Lensi jadi mengantuk dan tertidur.
"Ada apa kamu menelponku?" tanya Ibrahim.
__ADS_1
"Cuma mau nanyain abang sudah makan apa belum." Jawab Lensi.
"Cuma itu saja?" tanya ibrahim.
"Iya." Jawab Lensi.
"Lain kali lihat situasi. Aku sedang sibuk meeting tadi," ujar Ibrahim.
"Dinda kan nggak tahu bang. Dinda kan nggak punya mata batin. Lagian bosmu juga harus mengerti. Namanya juga pengantin baru." Jawab Lensi.
"Jadi dia belum tahu kalau aku pemilik dari Al-ghif Grup? aku pikir Umi sudah memberitahunya. Itulah sebabnya dia selalu menggodaku," batin Ibrahim.
"Ya sudah ya bang. Aku mau lanjut tidur kalau gitu. Assalamu'alikum abang tampan," goda Lensi.
"Wa-Wa'alaikum salam." Jawab Ibrahim.
Lensi mengakhiri percakapan dengan senyum tersungging dibibirnya.
"Sepertinya aku memang harus menyelidiki siapa dia sebenarnya. Kenapa setiap aku berprasangka, prasangkaku itu salah semua. Sejujurnya aku masih belum percaya kalau dia nyasar kepesantren itu. Dia pasti punya tujuan lain," batin Ibrahim.
Saat sedang melamun, ponsel Ibrahimpun berdering. Ibrahim menggeser tanda panah hijau, untuk menerima panggilan itu.
"Assalammu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam." Jawab Alex.
"Ada apa bro?" tanya Ibrahim.
"Ini soal temanku yang waktu itu. Yang minta diajarkan meretas sama ente. Ente kan sudah janji mau ngajarin dia. Sekarang dia sudah hafal surat yang kamu inginkan itu. Jadi kapan ente mau ngajarin dia?" tanya Alex.
"Astagfirullah. Ane benar-benar lupa soal itu. Ya sudah, suruh dia langsung datang ke kantor saja besok. Sesuai yang sudah disepakati, dia harus menggunakan hijab dan cadar." Jawab Ibrahim.
"Baiklah. Ane akan memberitahu dia,"ujar Alex.
"Emm. Lex, apa menurutmu ane harus memberitahu Lensi soal ini?" tanya Ibrahim.
"Kenapa Ente mulai perduli? bukankah Ente bilang tidak menyukai dia?" tanya Alex.
"Ini bukan soal suka atau tidak. Ane hanya tidak mau menimbulkan fitnah. Lagipula dia selalu terbuka padaku, dan juga meminta izin saat dia akan pergi." Jawab Ibrahim.
"Baguslah. Ente juga harus belajar membuka diri. Sekarang dia sudah jadi istrimu, jadi ente harus menghargai dia. Oh ya? kalian sudah bercocok tanam belum?" tanya Alex sembari terkekeh.
"Dosa nanyain urusan ranjang orang lain. Ane nggak bakalan mau membuka aib rumah tangga ane sama ente." Jawab Ibrahim.
"Kemaren-Kemaren ente jelekin dia," ujar Alex.
"Itukan sebelum dia jadi istriku. Sekarang dia pakaianku. Baik buruknya dia, harus ane tutupi aibnya," ucap Ibrahim.
"Hadehh...iya deh pak Ustad. Jadinya jam berapa dia harus nemuin ente?" tanya Alex.
"Saat makan siang saja." Jawab Ibrahim.
"Oke. Ane ngabarin dia dulu kalau gitu," ucap Alex.
__ADS_1
Merekapun mengakhiri percakapan itu. Dan Alex segera memberitahu apa yang Ibrahim katakan.