
"Ya. Aku memberitahunya tentang test DNA itu. Abang juga memberikan video percakapan antara Marini dan Handoko." Jawab Ibrahim.
"Sesuai perkataan tetangga papa. Dia mendengar percekcokkan dari arah dalam rumah. Dugaan abang papa pasti sedang bertengkar dengan Marini. Karena kalau Vega itu sangat tidak mungkin bukan?"
"Kita harus mendatangi rumah itu. Kalau barang-barang Marini sudah tidak ada lagi, berarti memang Marini penyebab dari papa mengalami hal itu," sambung Ibrahim.
"Wanita itu memang wanita racun penghancur. Setelah membuat keluarga orang hancur, dia ingin mencari mangsa baru. Apa dia tidak sadar dirinya itu sudah hampir bau tanah? enak aja mau kabur begitu saja setelah menghancurkan segalanya. Aku akan membuat semua rencananya itu gagal," ucap Lensi.
Ibrahim menggaruk pelan keningnya yang tidak gatal. Lagi-Lagi sisi Lensi yang gelap kembali bangkit. Dan Ibrahim tidak bisa menahannya, karena memang semuanya saling berhubungan.
"Kapan kamu ingin menjenguk papa?" tanya Ibrahim.
"Eh? a-aku belum siap bang." Jawab Lensi.
"Kamu harus berlatih ilmu ikhlas dan sabar. Kamu bilang saja, saat kamu ingin menjenguk papa. Nanti kita bisa pergi bersama," ujar Ibrahim.
"Emm." Lensi mengangguk.
๐น๐น๐น๐น๐น
"Apa mama berbuat sesuatu pada Surya?" tanya Vega setengah berbisik.
"Mama nggak sengaja melakukannya. Apa kamu lihat memar diwajah mama? ini semua karena perbuatan dia. Mama hanya membela diri dan tidak sengaja mendorongnya hingga terjatuh." Jawab Marini setengah berbisik.
"Wajar kalau dia marah. Karena mama sudah menipunya puluhan tahun. Mama pasti sudah mempropokasinya hingga dia sangat marah begitu," ujar Vega.
"Jadi mama tinggal dimana sekarang?" tanya Vega.
"Dikontrakkan. Tidak jauh dari rumah papa Handoko. Tapi sialnya mama di tolak meskipun mama sudah berusaha menggodanya." Jawab Marini yang membuat Vega jadi terkekeh.
"Mama juga harus sadar diri dong ma. Meski mama masih terlihat muda dan cantik, tapi usia tidak bisa di bohongi kali ma," ucap Vega.
"Anak kurang ajar. Kamu itu anakku atau bukan? bisa-bisanya kamu ngeledekkin mama," ucap Marini.
"Ya maaf ma. Mungkin mama harus lebih ekstra lagi usahanya," ujar Vega.
"Sepertinya yang bisa membantu mama cuma kamu. Kamu bersikaplah yang baik selama disini. Nanti pasti masa tahanan kamu akan dikurangi lagi. Semakin kamu cepat keluar, semakin kita cepat menyusun rencana," ucap Marini.
"Mama tenang saja. Satu tahun dua bulan juga bukan waktu yang lama. Aku bisa menyusun semua rencana dari sini. Mama tinggal cari informasi saja apa yang anak dan istri papa Handoko lakukan setiap harinya," ujar Vega.
"Baiklah kalau begitu. Sepertinya mama juga harus waspada. Mama takut Surya melaporkan mama kepolisi," ucap Marini.
__ADS_1
"Mama selidiki dulu dia di rumah sakit. Bila perlu kalau ada kesempatan lenyapkan saja sekalian. Daripada nanti membuat kita repot. Lagian pasti mudah melenyapkan dia, nggak ada orang yang bakal membantunya. Lensi pasti malah senang melihat orang tua itu sekarat," ujar Vega.
"Benar juga. Meski mama ke rumah sakit, pasti nggak ada juga yang mengenali mama sebagai istri Surya. Baiklah kalau begitu mama pastikan saja sekarang. Mama pergi dulu kalau begitu," ucap Marini.
Marinipun memutuskan untuk mengecek keadaan Surya di rumah sakit. Dan keberuntungan kembali berpihak padanya, saat dua orang suster sedang membicarakan keadaan Surya terkini.
"Masih belum ada perubahan ya?"
"Iya. Masih struk berat dia. Kasihan, bahkan selain nggak bisa bergerak, dia juga tidak bisa berbicara."
"Butuh waktu yang lama kalau keadaan seperti itu pulihnya. Itupun harus melewati banyak terapi,"
"Iya benar."
"Jadi sekarang Surya kena struk berat? bahkan dia tidak bisa bicara? ah...Tuhanpun bahkan sedang berpihak padaku. Aku tidak perlu mengotori tanganku kalau begitu. Aku hanya perlu menghilang sementara waktu. Aku juga nggak mau disuruh ngurus orang penyakitan. seperti dia," batin Marini.
Marini kemudian melenggang pergi. Dia sangat senang karena Surya sudah bukan ancaman lagi baginya.
๐น๐น๐น๐น
Tiga bulan kemudian....
"Mas ini sakit sekali mas. Hiks...." Fatimah meringis kesakitan, saat kontraksi diperutnya sesekali datang.
"Nggak mau mas. Aku maunya normal. Aku yakin aku bisa. Awww....sakit lagi mas," Fatimah kembali meringis kesakitan.
Alex jadi ikutan panik, saat melihat Fatimah yang kesakitan.
"Ini masih lama lagi ya dok? kenapa lama sekali?" tanya Alex.
"Iya pak. Kalau anak pertama memang begini. Fasenya memang sedikit lebih lama. Bahkan ada yang lebih dari 12 jam." Jawab dokter.
"Apa? 12 jam? ini baru pembukaan dua centi, kalau 12 jam, jadi berapa jam lagi baru pembukaan lengkap seperti yang dokter bilang itu?" tanya Alex cemas.
"Lumrahnya setiap 4 jam sekali akan nambah pembukaan 1 centi. Tapi kalau kontraksinya semakin kuat dan sering, bukan tidak mungkin pembukaannya bertambah lebih dari itu. Persalinan normal memang seperti ini pak. Terlebih anak pertama, jadi harus bersabar dan nikmati saja prosesnya." Jawab dokter.
"Sayang kita operasi saja ya? itu sangat lama, mas nggak tega dan nggak sanggup melihatmu seperti ini," tanya Alex dengan mata berkaca-kaca.
Fatimah meraih wajah Alex dan tersenyum meski sebenarnya dia tengah menahan sakit saat ini.
"Ini sudah kodratku mas. Mas do'akan saja semoga anak kita lahir dengan selamat ya? aku pasti bisa mas, mas beri aku semangat ya?"
__ADS_1
Grepppp
Alex memeluk Fatimah. Pria itu jadi terisak.
"Mas yakin kamu bisa. Kamu harus kuat. Setelah ini tutup pabrik saja. Mas nggak mau kamu mengalami situasi seperti ini lagi," ucap Alex.
Mendengar ucapan Alex, Fatimah jadi terkekeh.
"Eh? kenapa kamu tertawa?" tanya Alex.
"Habisnya mas lucu. Siapa yang bilang waktu itu pengen punya anak satu lusin? baru satu aja udah nyerah. Kan yang sakit aku mas," ucap Fatimah.
Wajah Alex jadi bersemu merah. Fatimah mencubit pipi Alex dengan gemas.
"Sssttttt...."
"Sakit lagi ya?" tanya Alex yang kemudian menggenggam tangan Fatimah.
"Emm." Fatimah mengangguk.
"Sayang. Cepat keluar ya? kasihan Umi Fatimah sudah nggak sabar ketemu kamu. Abi juga gitu, abi sudah nggak sabar mau main sama kamu," ucap Alex sembari mencium-cium perut Fatimah.
"Mas tolong tekan-tekan pinggang aku. Rasanya sakit pegal," ucap Fatimah.
Fatimah berbaring miring membelakangi Alex. Alex kemudian menekan-nekan pinggang Fatimah untuk mengurangi rasa sakit yang istrinya rasakan saat ini. Setelah melewati fase laten yang cukup panjang, ditambah melewati fase aktif beberapa jam. Putra pertama Alex dan Fatimah akhirnya lahir ke dunia. Suara bayi itu menangis dengan keras dengan rona kulit kemerahan.
"Selamat ya pak, bu. Bayi anda laki-laki. Lahir lengkap tanpa kurang suatu apapun," ucap dokter.
"Terima kasih atas kerja kerasnya dokter," ucap Alex.
"Ini berkat istri anda yang hebat. Meski tidak tidur, tapi dia sangat kuat sekali dan pintar mengedan. Bahkan tidak ada ditemukan robekkan sama sekali. Jadi nggak perlu di jahit," ujar dokter.
"Benarkah?" tanya Fatimah semringah.
"Ya. Selamat ya bu? nanti perawat akan membersihkan ibu, setelah itu baru ibu akan di pindahkan ke ruang nifas." Jawab dokter.
"Ibunya nggak apa ditinggal saja pak. Bapak bisa mengadzankan putra bapak kalau mau," sambung dokter.
"Baik dok." Jawab Alex.
"Sayang. Aku keluar dulu ya? aku mau memberitahu papa mama, abi dan umi dulu," tanya Alex.
__ADS_1
"Iya mas." Jawab Fatimah.
Fatimah kini bisa bernafas lega. Karena putra mereka sudah lahir dengan selamat. Kini setelah anak itu lahir, rasa kantuk baru mulai menyerang dirinya.