MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
91. Cinta Memang Gila


__ADS_3

Pukk


"Apa loe udah gila? kenapa jadi bang Arman?" tanya Lensi setengah berbisik dan penuh penekanan.


"Lah. Cinta kan memang gila? kenapa? apa yang membuat loe ragu?" tanya Okta.


"Gue takutnya loe suka dia cuma anget-anget tahi ayam. Kasihan bang Arman. Dia memang pengen cari istri. Takutnya loe kabur setelah loe bosen." Jawab Lensi.


"Kalau gue yang kabur, menurut loe siapa yang rugi? tetap saja gue yang rugi. Yang pasti gue bakal nggak perawan lagi," ujar Okta.


"Sudahlah. Loe jangan raguin gue dulu. Gue tulus kok suka sama dia," sambung Okta.


"OMG. Bener-Bener nggak nyangka gue," ucap Lensi sembari menepuk dahinya.


"Biarkan saja sayang. Toh mereka saat ini saling mencintai. Kalau soal nanti, pikirkan nanti lagi," ujar Ibrahim.


Keluarga Arman memasuki rumah Okta, beserta seserahan yang Arman bawa. Arman duduk dengan tenang dan gagah. Sesekali Arman dan Okta saling lirik, dua sejoli itu memang sangat terlihat sekali sedang kasmaran.


"Si Arman umurnye berape? kata loe udah tua. Tapi kok kelihatan masih umur 30 an? bisik Rogaya.


"40 nyak." bisik Okta.


"Busyet. Cuma beda 8 tahun dari nyak. Tapi nggak ape-ape. Malah terlihat tuaan elu daripada dia," bisik Rogaya sembari terkekeh.


Okta membrengut. Rogaya memang selalu jujur dalam berkata-kata.


"Jadi maksud kedatangan kami kemari, ingin melamar saudari Okta untuk anak kami Arman. Karena kedua orang tua nak Arman sudah tiada, jadi saya selaku ketua RT tempat nak Arman tinggal, dimintai untuk mewakili dia sebagai pengganti orang tua."


"Tidak banyak yang kami bawa dalam acara lamaran ini, hanya Sekedar buah tangan mohon kiranya agar diterima," sambung pak RT.


"Kami terima." Jawab Rogaya.


"Agar mempersingkat waktu, mungkin kita bisa langsung menanyakan pada nak Okta. Apa lamaran nak Arman diterima?" tanya Pak Rt.


"Diterima." Jawab Okta.


Arman tersenyum tipis saat mendengar jawaban Okta.


"Alhamdulillah. Dengan begitu secara tidak langsung, mereka sudah resmi bertunangan. Silahkan kalau nak Arman mau mengenakan cincin tunangannya," ujar Pak RT.


Arman mengeluarkan sepasang cincin dari semi jas yang dia kenakan. Arman memang membeli sepasang cincin yang terbuat dari emas putih. Arman kemudian meraih tangan Okta, dan menyematkan cincin dijari manis tunangannya itu. Setelah itu Okta juga menyematkan cincin yang satunya di jari manis Arman. Semua orang yang menyaksikan hal itupun bertepuk tangan.


"Dan untuk pembahasan terakhir, apa kita akan langsung menentukan tanggal pernikahannya?" tanya Pak RT.


"Kami sebagai dari pihak mempelai wanita, menurut saja apa kata pihak laki-laki." Jawab Rogaya.

__ADS_1


"Apa kalian keberatan jika pernikahannya diadakan hari minggu ini?" tanya pak Rt.


"Tidak sama sekali pak. Lebih cepat lebih bagus." Jawab Rogaya.


"Baiklah. Kalau begitu semuanya sudah diputuskan. Kalau pernikahan antara nak Arman dan nak Okta akan diadakan hari minggu ini," ujar pak Rt.


Setelah acara inti selesai, merekapun menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Sementara Lensi dan teman-temannya, termasuk Arman. Duduk bersama diruang tamu.


"Aku senang kalau kalian benar-benar serius menjalani hubungan. Aku harap kalian tidak mempermainkan pernikahan, apalagi buat ajang coba-coba," ujar Lensi.


"Kami serius. Iya kan bang?" tanya Okta.


Yang jadi perhatian Lensi dan teman-temannya adalah pertautan tangan Okta dan Arman.Dua sejoli itu sama sekali tidak canggung, meski didepan teman-temannya. Sementara Ibrahim yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Tring


Tring


Tring suara ponsel Ibrahim berdering. Dan itu berasal dari Alex.


"Ya bro,"


"Katanya Lensi dah balik ama ente?" tanya Alex.


"Iya maaf. Ane lupa ngabarin," ucap Ibrahim.


"Boleh. Kami tunggu kalau begitu." Jawab Ibrahim.


"Oke sampe nanti Im,"


"Sipp." Jawab Ibrahim.


"Siapa bang?" tanya Lensi.


"Nanti sore Alex dan Fatimah akan main kerumah." Jawab Ibrahim.


"Oh...baguslah. Aku juga belum punya kesempatan buat minta maaf sama Fatimah," ujar Lensi.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Assalammualaikum," ucap Alex.


Saat seseorang membukakan pintu. Karena Lensi dan Ibrahim sudah menunggu di ruang tamu, jadi Lensilah yang membukakan pintu.


"Wa'alaikum salam." Jawab Lensi dengan senyum semringah.

__ADS_1


"Hai..." Fatimah dengan perut buncitnya memberikan pelukkan hangat untuk Lensi. Lensi juga membalas pelukkan itu tak kalah erat.


"Lama nggak ketemu tahu-tahu sudah melendung aja," ujar Lensi.


"Maklum. Korban lelaki." Jawab Fatimah sembari terkekeh, yang disusul oleh Lensi.


"Ayo masuk!" ucap Lensi.


Fatimah memberikan anggukkan pada Ibrahim, begitu juga sebaliknya.


"Kalian tunggu sebentar ya? aku udah buatin minuman dan camilan buat kalian," ujar Lensi.


"Duh...repot-repot," ucap Fatimah.


"Ah...nggak repot," ujar Lensi sembari mengibaskan tangannya.


Sesaat kemudin Lensi kembali dengan membawa 4 gelas jus, dan camilan.


"Jadi kalian sudah baikkan?" tanya Alex.


"Iya dong. Bahkan kami...."


"Bang...." Lensi menggelengkan kepalanya sembari tersipu.


"Malu dia bro hahaha," Ibrahim tertawa keras.


"Sama kayak Fatimah dulu juga gitu," timpal Alex sembari terkekeh.


"Mas...." bibir Fatimah mengerucut.


"Fat,"


"Hem?"


"Aku minta maaf ya, kalau punya salah sama kamu? terutama salahku dimansa lalu, saat aku menikah dengan bang Baim, padahal kamu sudah bertunangan dengannya." Jawab Kensi.


"Sudahlah. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Lagipula ketetapan Allah itu tidak bisa diubah. Mungkin kalau aku menikah dengan Ibrahim, belum tentu aku bisa sebahagia sekarang. Mas Alex sudah memenuhi semua yang aku inginkan pada seorang laki-laki," ujar Fatimah.


"Ah yang bener yank...bahuku sampai naik loh dengar pujian kamu," ucap Alex yang membuat Fatimah jadi tersipu.


"Makasih ya Fat. Aku juga gitu. Mungkin kalau jodohku bukan bang Baim, belum tentu aku menjadi orang yang lebih baik setiap harinya. Makasih sudah mengikhlaskan bang Baim buat aku. Aku juga minta maaf sudah sempat berprasangka buruk sama kamu, hingga aku kabur dari rumah," ujar Lensi.


"Tidak masalah. Kita lupakan saja masalalu. Sekarang kita sudah bahagia dengan pasangan kita masing-masing. Itu saja sudah cukup," ucap Fatimah.


"Ya kamu benar," ujar Lensi.

__ADS_1


Merekapun berbincang banyak hal. Persahabatan yang mereka jalin kini semakin erat. Mereka sudah melupakan semua kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka.


__ADS_2