MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
38. Menolak Jadi Wali


__ADS_3

"Hallo," suara Okta terdengar Lesu saat menerima panggilan itu.


"Okta ini gue Lensi," ujar Lensi yang membuat Okta berteriak senang.


"Dewi? ah...syukurlah loe baik-baik aja. Loe dimana sekarang? biar gue jemput," tanya Okta.


Mendengar suara Okta yang keras dan menyebut nama Dewi, semua teman-temannya terbangun dan bangkit dari tempat duduk. Mereka juga senang mengetahui Lensi baik-baik saja.


"Gue ada disuatu tempat. Panjang ceritanya. entar gue akan temuin loe semua. Gue masih ada keperluan sebentar."


"Dengar. Loe kirim nomor kontak Surya sekarang juga di nomor yang ini ya? gue tunggu sekarang," sambung Lensi


"Dew. Loe kenapa? ada masalah apa lagi dengan bokap loe?" tanya Okta.


"Tidak ada masalah. Gue nanti akan temuin kalian secepatnya. Sekarang ada hal penting yang harus gue kerjain dulu." Jawab Lensi


"Gue percaya sama loe. Ngomong-Ngomong ini nomor siapa? apa kami kalau ngubungun loe di nomor ini aja?" tanya Okta.


"Jangan. Gue cuma minjam ponsel orang. Loe nggak perlu ngubungin gue. Gue janji setelah urusan kelar, bakal nemuin kalian semua,"


"Bang Arman ada disini. Dia sangat khawatir sama loe," ujar Okta.


"Berikan ponselnya sama dia sebentar," ucap Lensi.


Okta menyerahkan ponselnya pada Arman., dan disambut oleh pria itu.


"Len?"


"Ya bang, ini Lensi. Lensi ucapin makasih banyak atas bantuan abang," ujar Lensi.


"Kamu dimana? biar abang menjemputmu ya!"


"Tidak usah bang. Aku ada disuatu tempat. Abang tenang saja aku baik- baik disini. Ada sesuatu yang harus aku bereskan dulu, nanti kalau udah kelar aku janji bakal nemuin kalian," ucap Lensi.


"Oke. Abang tunggu kedatanganmu. Jangan lula juga tepatin janjimu untuk menemui laki-laki yang ada di klub perjudian itu. Dia menanti janjimu,"


"Iya." Jawab Lensi.


Arman menyerahkan ponsel itu pada Okta kembali. Setelah mengakhiri perbincangan, Lensi menerima nomor kontak Surya yang dikirim oleh Okta. Lensi kemudian membuat panggil pada Nomor ponsel Surya yang kemudian diangkat oleh pria itu.


Lensi langsung menyerahkan ponsel itu pada Ustad Gofur, dalam keadaan menggunakan pengeras suara.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," sapa Ustad Gofur.


"Wa'alaikum salam. Siapa ini?" tanya Surya.


Ibrahim memperhatikan setiap perubahan diwajah Lensi. Terutama tangan gadis itu.


"Saya Gofur. Saya ingin menanyakan apa benar Lensi putri anda?" tanya Gofur.


"Secara hubungan darah, dia memang putriku. Tapi aku sudah mengeluarkannya dari kartu keluarga. Secara hukum dia bukan putriku lagi." Jawab Surya dengan tegas.


Lensi menelan ludahnya dengan tangan terkepal sejenak. Sementara itu Ustad Gofur, Aisyah dan Ibrahim kompak melirik kearah Lensi yang tengah tertunduk.


"Jadi begini. Putri anda akan menikah dengan putraku 3 hari lagi. Kami ingin anda yang menjadi wali nikahnya," ujar Ustad Gofur.


"Apa pekerjaan putramu?" tanya Surya.


"Seorang guru." Jawab Ustad Gofur.


"Heh...anak tidak berguna itu memang cocok dengan putramu. Menolak pengusaha kaya raya, demi mendapat putramu yang hanya seorang guru."


"Kalau dia ingin menikah ya menikah saja. Aku tidak bisa datang dan tidak mau jadi walinya. Kalian gunakan wali hakim saja. Aku menyerahkan urusan itu pada hakim," sambung Surya.


Tangan Lensi sampai bergetar karena diliputi oleh emosi dan amarah. Aisyah sekilas menangkap Lensi yang tengah menghapus air matanya secepat kilat. Wanita parubaya itu jadi kasihan melihat gadis yang baru di kenalnya itu.


Tanpa mengucapkan salam lagi, Surya langsung mengakhiri percakapan itu. Gofur kemudian melirik kearah Lensi yang masih dalam keadaan tertunduk. Meski dia tidak tahu apa yang terjadi pada calon menantu dadakkannya itu, tapi dia punya keyakinan kalau Lensi gadis yang baik.


"Tidak masalah kalau ayahmu tidak ingin jadi wali. Kamu jangan bersedih," ujar Ustad Gofur yang kemudian dibalas senyum kecil oleh Lensi.


Ibrahim kemudian meraih ponselnya dan pergi menjauh dari tempat itu. Sementara itu Gofur dan Aisyah masih mengajak Lensi bicara, untuk mengenal gadis itu semakin jauh.


"Saya minta maaf atas nama ayahku, kalau perkataannya tadi menyinggung perasaan Ustad," ucap Lensi.


"Kami tidak tahu sebenarnya ada masalah apa antara kamu dan orang tuamu, hingga kamu sampai kabur dari rumah dan dikeluarkan dari kartu keluarga. Tapi terus terang kami memiliki harapan yang besar terhadapmu," ujar Ustad Gofur.


"Jangan berharap pada saya Ustad. Saya ini manusia doif. Sejujurnya saya merasa tidak pantas jika harus disandingkan dengan calon- calon penghuni surga seperti kalian," ujar Lensi.


Mendengar ucapan Lensi, Ustad Gofur jadi tesenyum.


"Percayalah. Segala sesuatu itu pasti sudah merupakan ketetapan dari Allah. Awalnya kami ingin menikahkan Ibrahim dengan seorang gadis pilihan kami. Pernikahnnyapun sudah menghitung hari. Namun tiba-tiba kamu hadir, dan merubah semuanya."


"Kami bisa saja meneruskan pernikahan ini, toh orang lain juga tidak ada yang tahu peristiwa ini kecuali beberapa santri. Tapi sekarang aku berubah pikiran, aku ingin kamu yang menjadi menantuku," ucap Ustad Gofur.

__ADS_1


Sama dengan Ustad Gofur, Aisyah juga setuju dengan ucapan suaminya itu.


"Hah... ya sudahlah. Mau bagaimana lagi, ini awalnya juga salahku. Aku terima saja nasibku kalau begitu," batin Lensi


"Umi. Beri dia pakaian layak," ujar Ustad Gofur.


"Eh? ti-tidak usah Umi. Ustad, apa Ustad percaya padaku?" tanya Lensi.


"Ya." Jawab Ustad Gofur.


"Kalau begitu izinkan Saya pulang. Subuh dihari pernikahanku saya pasti kembali kesini. Ada hal yang harus saya urus. Sembari membawa pakaian yang layak untukku," ujar Lensi.


Ustad Gofur dan Aisyah saling berpandangan. Seolah mereka tengah mencari peruntungan untuk mendapatkan seorang menantu.


"Pergilah!" ucap Ustad Gofur dan Aisyah bersamaan.


"Umi percaya, kamu tidak akan mengecewakan Umi. Mengecewakan hati seorang ibu," ujar Aisyah.


Lensi mengangguk sembari tersenyum kearah Ustad Gofur dan Aisyah.


"Assalammu'alaikum Ukhti," ujar Ibrahim menyapa tunangannya disebrang telpon.


"Wa'alaikum salam. Ada apa?" Suara itu terdengar berat dan ketus.


"Aku ingin minta maaf padamu," ucap Ibrahim.


"Ingin minta maaf kalau tujuannya cuma ingin membujukku agar mau di poligami jangan berharap aku mau. Meski di agama kita diperbolehkan, tapi aku belum sampai ke tahap ikhlas berbagi suami. Terlebih suamiku seorang...."


"Istigfar Ukhti. Jangan sampai kamu bersu'udzon terhadapku, tanpa tahu kejadian yang sebenarnya," Ibrahim sengaja memotong ucapan Fatimah.


"Astagfirullahaladzim...." Ibrahim bisa mendengar kalau Fatimah beristigfar meskipun lirih.


"Apa bisa kita bertemu?" tanya Ibrahim.


"Untuk apa lagi? semua sudah diputuskan oleh Ayahku. Beliau tidak ingin meneruskan perjodohan ini lagi," ucap Fatimah.


"Aku hanya ingin meluruskan kesalahfahaman ini. Aku tidak berharap pernikahan ini di teruskan atau tidak. Aku hanya ingin mengembalikan harkat dan martabatku yang sembat tercoreng," ujar Ibrahim.


"Kita akan bertemu saat pernikahanmu dengan wanita itu tiga hari lagi. Jangan kamu kira aku tidak berani, dan merasa patah hati dengan dalam. Aku yakin Allah sudah mempersiapkan jodoh yang pas untukku," ucap Fatimah.


"Sudah dulu ya. Aku sedang sibuk. Assalamu'alaikum," Fatimah langsung menutup panggilan itu sebelum sempat Ibrahim menjawabnya.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." Jawab Ibrahim lirih dan menurunkan ponselnya dari telinga dengan wajah muram.


Sementara itu Fatimah yang sudah mengakhiri panggilan itu menangis terisak di dalam kamarnya. Sedangkan Lensi tanpa sengaja mendengar obrolan Ibrahim dengan Fatimah, meskipun dia tidak bisa mendengar sepenuhnya. Lensipun bergegas pergi tanpa berpamitan dengan Ibrahim. Kali ini dia keluar dari gerbang besar, dibantu oleh seorang santriwati yang membukakan gembok.


__ADS_2