
"Selagi teman-temanmu bisa bersikap baik dan tidak membuat kekacauan, mereka boleh datang." Jawab Ustad Gofur yang membuat mata Lensi berbinar seketika.
"Be-Benarkan Bi? apa itu tidak apa jika yang datang puluhan orang?" tanya Lensi.
"Tidak masalah." Jawab Ustad Gofur dengan senyum dibibirnya.
"Abi tapi...." protes Ibrahim, namun langsung dipotong oleh Ustad Gofur.
"Tidak apa. Semua manusia itu memiliki batasan. Abi percaya teman-temannya tidak akan mengecewakan Lensi. Mereka pasti bisa bersikap baik,"
"Oh ya. Untuk acara nanti malam bukan disini, tapi digedung Royal Harmoni dijalan X. Untuk drescodenya warna putih. Jadi teman-temanmu bisa menyiapkan pakaian itu dari sekarang," sambung Ustad Gofur.
"Terima kasih abi," ujar Lensi yang terlihat sangat bahagia.
"Echi permisi mau ganti pakaian dulu abi," ucap Lensi yang langsung diangguki oleh Ustad Gofur.
Setelah Lensi pergi, Ibrahim mulai membuka suaranya.
"Abi. Kenapa abi mengizinkan teman-temannya yang preman itu datang?" tanya Ibrahim.
"Belajarlah bersikap bijak. Kalau kamu ingin meluruskan sikap istrimu yang bengkok, maka kamu harus meluruskannya perlahan. Kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu. Lagipula sedikit banyak dia sudah membantu kita menyelamatkan kita dari rasa malu. Mulai sekarang kamu harus belajar menerima dia sebagai istri kamu. Bimbing dia, ajari dia dan jangan lagi memberikan tatapan permusuhan dengannya,"
"Ingat. Buruk dimata kita, belum tentu buruk dimata Allah. Begitu juga sebaliknya, baik dimata kita, belum tentu baik dimata Allah. Saat ini kamu diberi Allah ujian besar, dengan hadiah pahala yang besar. Jadi kamu harus bersemangat menyelesaikan tantangan yang diberikan Allah buatmu," sambung Ustad Gofur.
Ibrahim menghela nafas panjang dan Ustad Gofur kemudian menepuk bahu putranya itu dan pergi untuk menemui sisa temannya yang masih hadir.
Sementara itu dikamar Lensi tengah menelpon teman-temannya, dan terakhir menelpon Arman untuk memberikan undangan.
"Abang pasti datang,"Jawab Arman.
__ADS_1
"Tolong bawa sekitar 10 orang pilihan abang. Mungkin diperlukan berjaga-jaga disana nanti," ucap Lensi.
"Jangan khawatirkan itu. Yang abang khawatirkan apa suami dan mertuamu mengizinkan kami datang?" tanya Arman.
"Tentu saja. Memangnya kalian kenapa? kaliam keluargaku, sudah sepatutnya keluarga datang diacara bahagia keluarganya bukan?"
Arman tersenyum mendengar ucapan Lensi. Namun sebenarnya dia lebih kasihan pada Lensi yang lebih menganggap orang lain keluarga, ketimbang darah dagingnya sendiri
"Kalau begitu tunggu kehadiran kami," ucap Arman.
"Emm." Lensi dan Arman mengakhiri percakapan itu.
Lensi kemudian melepaskan pakaiannya, untuk bergati dengan pakaian lain. Namun saat pakaiannya sudah terlepas, Lensi dikejutkan oleh Ibrahim yang tiba-tiba masuk ke kamar padahal Lensi hanya tengah menggunakan pakaian dalam.
"Ma-Maaf," ujar Ibrahim yang kembali menutup pintu tiba-tiba.
Dari balik pintu Ibrahim mengelus dadanya. Sialnya dia jadi terbayang-bayang terus bentuk tubuh indah sempurna milik Lensi. Sementara Lensi sangat malu, karena tubuhnya sedikit banyak sudah dilihat oleh Baim.
"Astagfirullah...kenapa jantungku tidak mau berhenti berdebar. Wanita ini sangat berbahaya, syahwatku selalu muncul saat berdekatan atau saat melihatnya saja sekalipun. Aku harus bisa mengendalikan diri," ucap Ibrahim lirih.
Ibrahim menekan handle pintu kembali, namun mengintip pelan-pelan karena takut Lensi masih dalam keadaan telanjang. Ibrahim bisa bernafas lega. Pria itu segera meluruskan pinggangnya dengan berbaring diatas tempat tidur. Namun ketenangannya kembali terusik, saat Lensi keluar dari kamar mandi. Lensi yang hanya melilitkan handuk ditubuhnya dikejutkan oleh kehadiran Ibrahim dikamar itu. Sementara Ibrahim wajahnya jadi memerah karena melihat Lensi yang begitu sexy dimatanya.
Ibrahim segera memalingkan wajahnya kearah lain. Dia tidak ingin Lensi tahu, kalau saat ini sesuatu dibalik celananya sedang berontak ingin dibebaskan.
"Lain kali kalau mandi kamu bisa langsung berganti pakaian di dalam sana. Kalau keluar seperti itu, nanti aku mengira kamu sengaja ingin menggodaku," ujar Ibrahim sembari terus membelakangi Lensi.
Lensi tidak menanggapi ucapan Ibrahim. Gadis itu bergegas mengambil pakaian yang baru dia beli, untuk dia pakai. Gamis polos berwarna lavender. Setelah selesai, diapun segera menyisir rambutnya yang basah, dan mengeringkannya dengan hairdriyer yang dia bawa dari rumahnya. Setelah itu dia ikut berbaring disamping Ibrahim karena ingin ikut meluruskan pinggang. Namun karena lelah, Lensipun tertidur.
Ibrahim berbalik badan saat mendengar dengkuran halus dari Lensi.
__ADS_1
"Dia memang luar biasa cantik. Tapi aku takut kecantikkannya ini menjadi racun. Apa aku sungguh bisa membimbingnya?" batin Ibrahim.
Ibrahim mulai memejamkan mata, dan akhirnya terlelap.
*****
2 jam kemudian....
Blammmm
Ibrahim terbangun dari tidurnya, saat dia merasakan sesuatu yang hangat menerpa wajahnya. Mata Ibrahim terbelalak, saat melihat wajah Lensi begitu dekat dengan wajahnya, ditambah salah satu kaki Lensi masuk diantara sela pahanya dan dengan tangan melingkar ditubuhnya.
Ibrahim menelan ludahnya. Saat ini mereka tidak lagi memiliki jarak. Lensi terlihat begitu damai dalam tidurnya.
"Ya Tuhan...wanita ini bisa membuatku gila kalau begini. Dia memang istriku, tapi aku belum siap menerima dia sepenuhnya," batin Ibrahim.
Ibrahim perlahan menyingkirkan tangan, kaki Lensi dari tubuhmya. Dia bisa bernafas lega, dan merasa beruntung karena Lensi tidak mengetahui kalau pusaka kebanggaannya sedang berdiri hormat saat ini.
Ibrahim bergegas membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya sebagai mahluk Tuhan.
Setelah sholat magrib, iring-iringan pengantin sudah siap untuk berangkat menuju gedung resepsi. Lagi-Lagi Ibrahim terpesona saat melihat kecantikkan istrinya yang tengah menggunakan pakaian pengantin yang dirancang khusus untuk Fatimah awalnya. Namun Ibrahim harus mengakui, Lensi lebih terlihat sempurna saat memakai pakaian pengantin itu.
Mereka tiba di gedung tepat pada pukul 7 malam. Lensi sangat terkejut, saat melihat bahwa mereka mengadakan resepsi disebuah gedung mewah. Dan Dekorasinya juga dibuat semewah mungkin.
"Apa penghasilan dipesantren memang menjanjikan? kenapa mereka bisa menyewa gedung semewah ini? dan orang-orang yang hadir tampaknya bukan orang sembarangan. Jumlahnyapun bisa mencapai ribuan orang," batin Lensi.
"Sayang. Kamu bisa melingkarkan tanganmu pada Baim, biar jalan kamu nyaman," ujar Aisyah.
Lensi memang sedikit kurang nyaman dengan pakaian yang ia kenakan. Selain berat, ekor bajunya juga menjuntai panjang. Lensi mau tak mau memang harus melingkarkan tangan dilengan Ibrahim. Semua mata tertuju pada pasangan sempurna itu. Mereka berdecak kagum karena melihat ketampanan dan kecantikkan yang pasangan itu miliki.
__ADS_1
Sementara itu tanpa Lensi tahu. Resepsi pernikahan itu ternyata disiarkan langsung dibeberapa stasiun tv. Yang beritanya akan heboh nantinya di setiap media massa. Setelah sampai dipelaminan, Lensi dan Ibrahimpun duduk lakasana raja dan ratu namun hanya sehari. Beberapa kali Lensi melirik kearah pintu masuk, karena gelisah menunggu kedatangan teman-temannya. Sama seperti Lensi, Ibrahimpun menunggu kehadiran Alex sahabatnya dan juga Fatimah mantan tunangannya.