MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
121. Bulan Madu Kedua


__ADS_3

Seperti yang sudah mereka sepakati, Ibrahim dan Lensi kini bersiap akan pergi ke kota Bandung. Lensi dan Ibrahim juga memutuskan pergi dengan membawa kendaraan sendiri agar mereka bisa menikmati perjalanan mereka.


Mereka benar-benar menikmati perjalanan itu sembari mencicipi berbagai kuliner yang ada disepanjang perjalanan yang mereka singgahi.


"Makasih ya bang," ucap Lensi saat mereka mulai melanjutkan perjalanan mereka.


"Terima kasih buat apa?" tanya Ibrahim.


"Karena abang hal terbaik yang pernah hadir dalam hidupku. Abang sudah seperti super hero yang membawakan aku lentera, hingga aku keluar dari dunia kegelapan." Jawab Lensi.


"Abang juga mau berterima kasih padamu. Karena kamu sudah hadir dalam hidup abang. Banyak pelajaran yang abang dapatkan sejak pertama kali abang bertemu denganmu, hingga sampai detik ini," ucap Ibrahim.


Lensi bersandar di bahu Ibrahim, sementara Ibrahim mencium puncak kepala Lensi sekilas.


"Aku sangat mencintai abang," ucap Lensi.


"Abang juga sangat mencintaimu," ucap Ibrahim.


"Apapun yang terjadi kita akan selalu bersama. Jangan pernah saling khianati," ujar Lensi.


"Ya...abang bersumpah tidak akan pernah melakukan itu," ucap Ibrahim.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, merekapun tiba di kota bandung. Tidak ingin membuang banyak waktu, merekapun langsung mencari penginapan.


Grepppp


Ibrahim memeluk Lensi dari belakang, dengan menopangkan dagu di pundak istrinya itu.


"Bagus tidak viewnya?" tanya Ibrahim saat Lensi tampak melihat ke luar jendela.


"Bagus bang. Makasih ya," ucap Lensi sembari membelai lembut wajah suaminya.


"Kamu mau berterima kasih, berterima kasihlah yang benar," ujar Ibrahim.


"Tentu saja benar. Salahnya dimana ucapanku tadi?" tanya Lensi.


"Salahnya bukan pada ucapan, tapi pada tindakkan." Jawab Ibrahim yang kemudian membuat Lensi jadi menghadap dirinya.


Ibrahim kemudian membelai lembut wajah Lensi dengan tatapan mata penuh cinta. Ibrahim bisa melihat warna merona dipipi istrinya itu.


"Catiknya khumairahku," ucap Ibrahim.


"Khumairah? siapa Khumairah? aku Lensi bukan Khumairah. Abang selingkuh ya?" tanya Lensi.


Mendengar Lensi yang marah, bukannya panik Ibrahim malah tertawa.


"Jadi abang mengakuinya? kalau begitu hubungan kita selesai sampai disini," ucap Lensi yang kemudian akan beranjak pergi.


Grepppp


Ibrahim kembali memeluk Lensi dari belakang.


"Sayangku. Khumairah itu artinya pipi kemerah-merahan. Abang suka saat melihat rona merah dipipimu ketika kamu sedang malu-malu," ujar Ibrahim yang kembali membuat Lensi menyembunyikan senyumnya.


"Apa abang yakin itu memang artinya?" tanya Lensi.


"Tentu saja. Kamu bisa mencari artinya di media sosial kalau kamu nggak percaya sama abang." Jawab Ibrahim.

__ADS_1


"Percaya," ujar Lensi sembari mengalungkan kedua tangan di leher suaminya.


Ibrahim tidak ingin membuang banyak waktu lagi dan segera mencumbu istrinya itu. Udara bandung yang sejuk, membuat mereka sangat menikmati percintaan panjang itu.


Cup


Ibrahim mencium perut Lensi, setelah mereka menyudahi percintaan panas itu.


"Semoga kalian ada yang melekat dirahim mama kalian ya? Papa sudah tidak sabar ingin melihat kalian," ucap Ibrahim setelah mencium perut Lensi, sementara Lensi mengusap-usap puncak kepala Ibrahim.


"Kalian? kedengarannya papa Ibrahim pengen ribuan kecebong melekat dirahim mama. Apa perut mama nggak akan robek, kalau menampung ribuan anak dalam rahim?" tanya Lensi sembari terkekeh.


"Siapa tahu nyangkut 6. Lumayan kan nggak lahiran dalam jangka waktu yang lama." Jawab Ibrahim.


"Amiin kan saja deh. Tapi apa dikeluarga abang punya keturunan kembar?" tanya Lensi.


"Ada." Jawab Ibrahim.


"Benarkah? siapa? apa itu keluarga dari sebelah umi? atau dari sebelah abi?" tanya Lensi.


"Sebenarnya abang memiliki kembaran. Tapi berjenis kelamin perempuan." Jawab Ibrahim.


"Be-Benarkah? abang tidak pernah menceritakan ini sama aku," tanya Lensi terkejut.


"Lalu dimana kembaran abang berada? kok nggak pernah lihat?" tanya Lensi.


"Dia sudah di surga. Dia meninggal setelah 6 jam dilahirkan. Dia memiliki lelainan pada jantungnya. Itulah yang menyebabkan dia meninggal." Jawab Ibrahim.


"Ya Tuhan...kasihan sekali umi. Dia pasti sangat sedih waktu itu," ucap Lensi.


"Itulah sebabnya dia sangat menyayangimu. Karena dia seperti merasa memiliki anak perempuan lagi," sambung Ibrahim.


"Kenapa abang nggak pernah cerita soal ini? kalau aku tahu, pasti aku akan lebih lagi menyenangkan hati umi," tanya Lensi.


"Aku ingin rasa kasih sayang yang tumbuh diantara kalian itu perasaan murni. Bukan rasa simpatik apalagi karena rasa kasihan. Dengan begitu rasa tulus dari hubungan kalian akan lebih terasa lagi." Jawab Ibrahim.


Lensi terdiam. Apa yang Ibrahim katakan memang benar adanya.


"Abang ingin mengajakmu jalan-jalan. Ini sudah hampir jam makan siang. Sebaiknya kita keluar saja buat cari kuliner yang enak disini," ujar Ibrahim.


"Baiklah. Kalau begitu kita bersihkan diri dulu," ujar Lensi.


"Emm," Ibrahim mengangguk dan kemudian menggendong Lensi untuk dibawa ke dalam kamar mandi.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Satu bulan kemudian....


"Hiks...hiks...hiks" Lensi menangis sesegukkan dan membuat tubuhnya hilang ditelan selimut.


Ceklek


Ibrahim yang baru pulang dari kantor sangat panik, saat mendengar Lensi menangis dibalik selimut.


Tring


Tring

__ADS_1


Tring


Suara ponsel Lensi berdering dari arah dalam selimut. Lensi kemudian menerima panggilan itu dengan membuka selimutnya. Tanpa Lensi tahu Ibrahim sedang duduk manis dimeja rias. Lensi tidak menyadari keberadaan Ibrahim, karena Lensi memunggungi suaminya itu.


"Ya Zoy?" tanya Lensi yang berusaha menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh sahabatnya itu.


"Sekarang aku ada di rumah sakit. Anakku sudah lahir. Dia seorang putri yang sangat cantik. Kemarilah! gendong keponakkanmu," ucap Zoya dengan antusias.


Ibrahim bisa mendengar percakapan itu, karena Lensi membuat pengeras suara.


"Benarkah? kalau begitu selamat ya?" ucap Lensi. Namun wanita itu menyeka air matanya yang mengalir deras.


"Lensi. Kamu sedang menangis kah?" tanya Zoya curiga.


"Tidak. Aku sedang tidak enak badan. Hidungku lagi mampet."Jawab Lensi.


"Ya sudah kamu istirahat saja. Nanti kalau udah agak baikkan, baru kesini jengukkin keponakkanmu ya,"


"Iya." Jawab Lensi.


Lensi dan Zoya mengakhiri percakapan itu. Setelah panggilan itu terputus, Lensi kembali menangis. Bahkan kali ini jauh lebih histeris dari sebelumnya.


"Hiks...kenapa? kenapa harus haid lagi? Ya Allah...aku ingin sekali membahagiakan suamiku, tapi kenapa Engkau memberikan cobaan seberat ini? aku nggak sanggup melihat dia kecewa, saat mendengar aku datang bulan lagi. Hiks...."


Deg


Jantung Ibrahim terasa berhenti berdetak. Apa yang Lensi katakan benar. Rasa mecewa memang sedikit menghampiri hatinya. Tapi daripada itu, Ibrahim tahu kalau rasa kecewa itu jauh lebih besar yang Lensi rasakan saat ini.


"Hiks...bang Baim...maafin aku bang...maafin aku yang nggak sempurna buat kamu. Hiks...." Tubuh Lensi terguncang akibat isak tangisnya. Sementara Ibrahim menyeka air matanya yang sempat jatuh karena trenyuh melihat kesedihan istrinya.


Grepppp


Ibrahim memeluk Lensi dari belakang. Dan mencium puncak kepala istrinya itu.


"Kamu wanita paling sempurna buat abang. Jangan sedih, masih banyak peluang bagi kita untuk punya anak banyak," ucap Ibrahim.


"Hiks...abang. Maafin aku bang. Maafin aku sudah membuat abang kecewa," Lensi menangis dalam pelukkan Ibrahim.


"Tidak. Abang tidak kecewa, abang baik-baik saja. Dengan begitu intensitas bercinta denganmu akan lebih banyak bukan?" tanya Ibrahim sembari mengedipkan matanya.


Bugh


Lensi memukul dada Ibrahim pelan, dengan bibir mengerucut.


"Abang mesum!" ucap Lensi.


"Tapi aku janji, kalau nanti aku diberi kesempatan hamil, aku nggak mau menggunakan kontrasepsi. Pokoknya aku akan melahirkan anak yang banyak buat abang," sambung Lensi.


"Awas janji loh ya. Abang catat nih janjimu," ujar Ibrahim.


"Iya janji." Jawab Lensi.


"Itu bagus. Karena abang pengen punya anak satu lusin," ucap Ibrahim.


"Dikabulkan." Jawab Lensi sembari terkekeh.


Ibrahim menyeka sisa air mata istrinya itu. Dia sangat senang karena senyum Lensi telah kembali.

__ADS_1


__ADS_2