
"Apa ini? apa aku tidak salah lihat? gadis tomboy mau berprilaku sok anggun. Norak banget sih dandanannya? mentang jadi istri guru ngaji, jadi penampilan norak gini ya?" ucap Vega.
"Beraninya dia menghina istriku di depanku. Apa dirinya tidak sadar seperti apa dandanannya saat ini? baju kurang bahan dipakai, riasan menor, apa dia pikir berdandan seperti ini sudah sempurna?" batin Ibrahim.
"Maaf. Anda siapa?" tanya Ibrahim sembari duduk disebelah Lensi.
Lensi melanjutkan memabca, tanpa menggubris ucapan Vega.
"Perkenalkan. Nama saya Vega Gemilang, perwakilan dari Gemilng Group, sekalian anak tunggal dari keluarga Gemilang," ucap Vega sembari mengulurkan tangannya.
Ibrahim hanya melihat sekilas kearah tangan Vega yang terulur. Pria itu kemudian menatap kearah Lensi yang tampak cuek.
"Apa tujuan anda datang kemari?" tanya Ibrahim.
Vega menarik tangannya kembali yang diabaikan oleh Ibrahim.
"Saya ingin menawarkan kerjasama dengan Al-Gif," ujar Vega sembari menyodorkan berkas tentang perusahaannya.
"Aku serahkan semuanya pada asisten pribadiku. Lensi, tolong kamu lihat berkasnya. Sebagus apa Gemilang Group ini," ujar Ibrahim.
Lensi yang memang sejak tadi mencuri dengar, tentu saja terkejut saat Ibrahim membuatnya menjadi asisten dadakkan.
"Baik tuan." Jawab Lensi sembari meraih berkas yang Vega sodorkan.
"Mau kerjasama dengan suamiku, mimpi saja kamu! apa kamu pikir aku tidak tahu ada maksud terselubung dibalik ajakkan kerjasama ini?" batin Lensi.
"Apa anda tidak salah mempekerjakan orang tuan Ibrahim?" tanya Vega.
"Kenapa?" tanya Ibrahim.
"Takutnya anda salah mempekerjakan orang tidak sesuai bidangnya. Kebetulan saya kenal betul dengan asisten anda." Jawab Vega.
"Apa yang anda ketahui tentang asisten saya?" tanya Ibrahim sembari bersandar disofa.
"Yang pasti anda jangan tertipu oleh wajah polosnya. Apa anda tahu? dia ini saudara satu ayah beda ibu dengan saya. Tapi karena dia tidak patuh dan tidak baik dengan orang tua, dia diusir dari rumah dan namanya dihapus dati kartu keluarga." Jawab Vega.
"kenapa dia tidak patuh?" tanya Ibrahim.
"Dari jurusan kuliah saja sudah beda. Dia menentang keinginan papa buat kuliah jurusan bisnis dan malah mengambil sekolah modeling. Setiap hari kerjanya keluyuran ngabisin uang papa. Pulangnya tengah malam, kadang juga sering nggak pulang."
"Ya anda tahu sendirilah apalagi kerjaan kalau nggak pulang semalan," sambung Vega.
"Si bodoh ini, kenapa diam saja saat ditindas orang. Meskipun yang menindas saudaranya sendiri," batin Ibrahim.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Ibrahim.
"Sebenarnya perusahaan ini cukup layak buat diajak kerjasama. Tapi tentu saja belum sebanding kalau harus disandingkan dengan Al-Gif. Perusahaan itu sejatinya bukan hanya berisi orang-orang pintar, tapi juga harus pandai bersikap dan berpenampilan."
__ADS_1
"Kalau Gemilang mengirim orang dengan penampilan seperti ini, maka takutnya cerminan otak orang-orangnya tidak jauh berbeda dengan isi perusahaannya. Tidak berbobot!"
"Hey...jaga bicaramu anak terbuang!" hardik Vega.
"Aku tidak perlu menjaga mulutku, karena mulutku buatan Tuhan, bukan buatan Gemilang Grup." Jawab Lensi.
"Tuan. Anda lihat sendiri kan bagaimana kasarnya dia?" tanya Vega.
"Jadi bagaimana menurutmu?" Ibrahim bertanya pada Lensi dan mengabaikan ucapan Vega.
Khekkk
Lensi memberi kode dengan tangan menggorok leher, dan kemudian mengedipkan mata.
"Dia ini. Masih sempat-sempatnya menggodaku di depan orang," batin Ibrahim.
"Apa maksudmu memberi kode seperti itu? apa kamu lupa? Gemilang Group dasarnya dari perusahaan keluarga ibumu?" tanya Vega.
"Itu kalian tahu, pemilik asli oerusahaan kalian itu siapa. Kalau namanya masih SU, dan citra perusahaan masih dipakai dengan konsep terdahulu, mungkin masih layak dipertimbangkan."
"Sekarang namanya sudah berubah, konsepnya juga berubah. Kami tidak ingin mengambil resiko buruk, saat bekerjasama dengan perusahaan yang belum terkenal namanya dikancah bisnis," sambung Lensi.
Tangan Vega terkepal. Sementara Ibrahim tanpa Lensi tahu menyunggingkan senyumnya
"Ini baru layak jadi istri Ibrahim Al-Gifari," batin Ibrahim.
"Apa menurutmu Al-Gif perusahaan tidak berbobot, sehingga mempekerjakan orang yabg tidak berbobot? masuk kesini tidaklah mudah." Jawab Ibrahim.
"Tapi anda sudah mempekerjakan wanita yang mempunyai reputasi buruk. Dia ini pasti wanita bekas banyak pria. Apa anda tidak takut citra perusaan anda buruk kalau berita ini tersebar?" tanya Vega.
"Tidak ada yang tahu latar belakangnya selain keluarganya. Dan hari ini dia bertemu kamu. Sudah pasti kamulah pelaku penyebar berita hoax itu." Jawab Ibrahim.
"Lagipula orang yang kamu sebut wanita punya reputasi buruk ini adalah...."
"Tuan. Lebih baik kita teruskan saja belajarnya," ujar Lensi yang sengaja memotong ucapan Ibdahim.
"Baiklah. Maaf nona, silahkan anda pergi dari sini. Saya sangat sibuk saat ini," ujar Ibrahim.
"Anda akan menyesal kalau tidak percaya dengan ucapan saya," ucap Vega sembari berdiri dari tempat duduknya dan melenggang pergi.
"Kenapa kamu melarangku untuk memberitahu gadis sombong itu tentang status kita?" tanya Ibrahim.
"Takutnya hubungan kita akan abang akhiri dengan segera. Dan disaat itu terjadi, aku bertambah tidak punya muka lagi dengan keluarga Gemilang yang sangat ingin aku hancurkan itu." Jawab Lensi.
"Kenapa kamu berpikiran kalau aku akan mengakhiri pernikahan kita secepat itu? kenapa kamu tidak berusaha meyakinkan aku, betapa layaknya kamu untukku," tanya Ibrahim.
"Aku sadar diri siapa aku. Apa yang Vega katakan tidak sepenuhnya salah. Hanya saja aku bisa menjamin, kalau diriku masih suci. Tidak seperti yang dia tuduhkan padaku."
__ADS_1
"Aku tidak ingin berkata kalau aku ini layak untuk abang perjuangkan. Walau bagaimanapun abang adalah orang hebat. Dan bisa dikelilingi oleh banyak wanita cantik, berpendidikkan dan Sholeha seperti mantan tunangan abang itu. Jadi wajar saja kalau abang sampai sekarang masih mendambakkan dia." Jawab Lensi.
"
"Oh...jadi dia percaya dengan ucapanku waktu itu. Apa dia merasakan cemburu? apa dia sudah menyukaiku? bagaimana caranya agar aku tahu perasaannya padaku?" batin Ibrahim.
"Ehemm...soal sholeha dia tidak perlu diragukan lagi. Dia juga cantik dan berpendidikkan. Dia memang layak untuk dijadikan istri idaman," ucap Ibrahim.
"Kalau begitu kenapa abang tidak balikkan saja dengannya?" tanya Lensi namun tanpa Baim tahu, tangan wanita itu terkepal erat dibawah meja.
"Eh? kok responnya biasa aja? apa aku terlalu percaya diri dan berharap dia menyukaiku?" batin Ibrahim.
"Ya. Aku akan memikirkannya, kamu juga tidak mau dipoligami kan? lagi pula kita tidak saling mencintai, atau sebenarnya kamu sudah punya perasaan padaku?" tanya Ibrahim.
"Baim tolol. Pertanyaanmu itu sangat tidak berbobot. Bagaimana kalau dia menjawab tidak. Mau diletakkan dimana mukamu itu," batin Ibrahim.
"Tidak. Abang bukan tipeku. Tipeku yang agak-agak brengsek sedikit. Tidak lurus seperti abang. Hidup dengan abang seumur hidup, sudah kebayang. Pasti monoton dan membosankan." Jawab Lensi dengan gaya santai.
Sementara Baim yang mendengar jawaban yang terlalu blak-blakkan itu tentu saja sangat syok. Tanpa Lensi tahu Ibrahim jadi mengepalkan tangan dibawah meja.
"Lalu pria seperti apa yang kamu inginkan, selain sedikit agak brengsek?" tanya Ibrahim.
"Sejujurnya aku sangat menyukai teman abang saat di pesta resepsi," ujar Lensi asal.
"Siapa?" tanya Ibrahim dengan dada bergemuruh.
"Kalau tidak salah namanya Alex ya? nanti kalau kita pisah, maukah abang jadi mak comblang kami?" tanya Lensi yang sudah kehilngan akal.
"Aku rasa pelajaran hari ini cukup sampai disini. Lebih baik kamu pulang duluan. Aku baru ingat, ada meeting dengan klien di kafe." Jawab Ibrahim yang langsung mengalihkan pembicaraan.
"Eh? kok tiba-tiba bang?" tanya Lensi yang kebingungan.
Namun Ibrahim sama sekali tidak menjawab. Wajah pria itu tiba-tiba berubah jadi masam.
"Apa-Apaan dia sampai bisa menyukai Alex? apa aku kurang tampan, jika dibandingkan dengan Alex? sialan si Alex ganteng pas-pasan bisa mencuri hati istriku. Aku tidak akan membiarkannya, dia hanya milikku seorang," batin Ibrahim.
"Dia kenapa sih? moodnya kok tiba-tiba buruk? apa karena aku membicarakan tentang Alex? dia nggak mungkin cemburu sama aku kan? ah...Lensi jangan besar kepala kamu. Dia sudah jelas mengatakan, kalau dia sangat menyukai mantan tunangannya itu," batin Lensi.
Tanpa Ibrahim sadari, Lensi mendekati pria itu dan memberi kecupan disudut bibir Ibrahim.
Cup
"Wajah abang gantengnya berkurang kalau lagi cemberut. Jangan lagi memasang wajah ini, takutnya aku salah paham dan mengira abang cemburu padaku," ujar Lensi sembari mengedipkan mata.
Berbeda dengan Lensi yang begitu santai melakukan itu, jantung Ibrahim justru berdebar dengan sangat cepat oleh perbuatan Lensi itu.
"Haruskah aku mengungkapkan perasaanku sekarang? tapi kan dia sudah bilang sangat menyukai Alex. Otomatis aku pasti akan di tolak kan? kalau begitu aku akan berusaha merebut hatinya dulu, barulah mengungkapkan isi hatiku padanya," batin Ibrahim.
__ADS_1
Lensi kemudian pamit untuk pulang duluan, dan meninggalkan Ibrahim yang jantungnya masih berdebar.