MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
96. Renungan


__ADS_3

"Gimana bulan madu loe?" tanya Lensi.


"Ya begitulah. Mentang udah lama jadi perjaka tua, sepertinya mau dia muntahkan semua. Sampai-Sampai aku kesulitan jalan kemarin." Jawab Okta sembari terkekeh.


"Lensi jadi ikut terkekeh mendengar cerita Okta. Tapi dia senang, karena sahabatnya itu bahagia dengan pernikahannya.


"Menurut loe habis di negara ini, kita enaknya kemana dulu ya?" tanya Lensi.


"Belanda aja yuk? pengen lihat bunga tulip kayak apa rupanya." Jawab Okta.


"Emang kamu nggak tahu bunga tulip itu seperti apa?" tanya Lensi.


"Ya tahu kalau dari artikel-artikel gitu. Tapi kan nggak pernah lihat secara langsung." Jawab Okta.


"Oh gitu. Oh ya suami-suami kita pada kemana ya? jangan bilang mau beli obat samaan lagi," tanya Lensi.


"Obat? obat apaan?" tanya Okta.


"Loh. Loe nggak tahu? waktu malam kita datang kesini, mereka kan sempat pergi berdua tuh. Ternyata mereka beli obat kuat yang bikin kita gempor." Jawab Lensi.


"Apa? pantas aja dia kayak orang kesurupan," ujar Okta yang membuat keduanya tertawa keras.


"Eh, gue balik ya? takutnya bang Baim udah datang. Loe juga siap-siapa y? siapa tahu mereka ngajak kita jalan," ucap Lensi.


"Oke." Jawab Okta.


Lensi kemudian keluar dari kamar Okta. Saat dia keluar dari pintu, Ibrahim dan Arkan tampak baru datang bersamaan sembari menenteng dua plastik makan siang yang dibeli dari luar hotel.


"Kami langsung masuk ya bang," ujar Ibrahim.


"Oke setelah dzuhur kita perginya kan?" tanya Arman.


"Ya bang." Jawab Ibrahim sembari meraih tangan Lensi.

__ADS_1


"Kita mau jalan-jalan habis dzuhur bang?" tanya Lensi setelah menutup pintu kamarnya


"Iya. Sekalian kita nanti mau beli tiket buat pergi ke Belanda." Jawab Ibrahim sembari menyiapkan makanan diatas meja.


"Loh. Kok abang tahu Okta pengen ke Belanda?" tanya Lensi.


"Dia sudah bilang ke bang Arman soal itu. Tidak masalah kemana saja. Nanti juga akan kita kunjungi semua negara yang pengen kita tuju." Jawab Ibrahim.


"Aku mah nggak masalah mau kemana saja. Kalau aku mah lebih penasaran ke Mekah," ujar Lensi.


"Ya. Kita bisa melakukan ibadah umroh sekalian saat kesana nanti," ucap Ibrahim.


"Ayo makanlah. Mumpung lagi hangat," ujar Ibrahim.


Lensi mendekat disamping Ibrahim, dan mulai menyantap makanan yang Ibrahim belikan. Dan sesuai yang telah disepakati, merekapun pergi jalan-jalan, setelah melaksanakan sholat dzuhur.


Mereka mengunjungi stadion klub bola kesayangan Lensi, dan banyak lagi tempat yang mereka kunjungi. Setelah puas berjalan-jalan, merekapun membeli tiket untuk pergi ke Belanda pada keesokan harinya.


Sesuai dengan rencana mereka, saat ini mereka sudah tiba di amsterdam. Dan tempat yang mereka kunjungi pertama kali tentu saja tempat wisata bunga tulip. Mereka bahkan benar-benar datang ke taman bunga tulip Keukenhof garden. Taman bunga tulip terbesar di dunia.


"Ya Allah ya Tuhanku...ini sangat indah. Hiks...."


Okta dengan lebaynya sampai menangis sembari berhambur kepelukkan Arman. Lensi dan yang lain jadi terkekeh melihatnya.


"Kenapa kamu menangis. Hem?" tanya Arman sembari membelai rambut istrinya.


Okta menyeka air matanya dan kemudian menatap hamparan bunga tulip yang berwarna warni dan sangat menyejukkan mata.


"Sampai matipun aku nggak pernah membayangkan bakal datang ke Belanda. Apalagi melihat bunga tulip seindah ini secara langsung. Rasanya ini seperti mimpi bang," ucap Okta.


Arman melangkah perlahan kearah Okta, dan memeluk istrinya itu dari belakang .Sama seperti yang dilakukan Ibrahim pada Lensi.


"Kalau begitu abang akan berusaha mewujudkan semua keinginanmu yang belum terwujud. Kamu katakan saja apa yang kamu inginkan, abang akan berusaha mengabulkan semua keinginanmu," ujar Arman sembari meletakkan dagu di pundak Okta.

__ADS_1


Okta meraih wajah Arman dengan satu tangannya, tanpa mengalihkan pandangannya dari hamparan bunga tulip.


"Aku tidak butuh keindahan ini tanpa ada abang disisiku. Apapun yang aku dapatkan bersama abang, biarlah seperti layaknya air yang mengalir. Aku memang bahagia berada di tempat ini. Tapi itu karena ada abang disisiku. Kalau nggak ada abang, mungkin perasaanku beda lagi," ujar Okta.


"Abang juga bahagia bersamamu," ucap Arman sembari mencium puncak kepala Okta.


Setelah puas menikmati keindahan bunga tulip, merekapun menikmati sore dengan ngobrol sembari makan. Mereka memutuskan hanya dua hari saja di Belanda. Setelah itu mereka akan bertolak ke negara Turki dan membatalkan rencana pergi ke London. Karena Ibrahim tidak bisa berlama-lama pergi. Pekerjaannya saat ini jelas saja sudah menumpuk.


Dan setelah mereka pergi ke Turki dan liburan selama dua hari disana. Mereka langsung bertolak ke Mekah. Tujuan utama pergi kesana jelas mereka ingin pergi beribadah. Dari kejauhan Lensi, Okta dan Arman menatap benda hitam yang dikelilingi banyak orang. Sejenak mereka teringat akan dosa-dosa mereka yang sudah-sudah.


Ibrahim merangkul pundak Lensi dan kemudian menggenggam erat tangan istrinya itu. Ibrahim ingin memperkenalkan tentang agama mereka jauh lebih dekat lagi. Dia ingin membimbing istrinya itu secara perlahan, tanpa memaksakan kehendak.


Dan hal tak terdugapun terjadi. Diantara ribuan orang yang melaksanakan ibadah itu, Lensi diberikan kesempatan untuk menyentuh dan mencium hajar aswad. Lensi sampai meneteskan air matanya. Dan entah mengapa pula dia jadi teringat dengan almarhum ibunya.


Tap


Lensi merasakan seseorang memegang pundaknya. Tangan itu terasa begitu lembut dan halus. Dia tahu itu bukan tangan milik suaminya, Okta, apalagi Arman. Karena dirinya sudah terpisah dari mereka. Lensi kemudian menoleh untuk mengetahui siapa pemilik tangan lembut itu. Dan saat dirinya menoleh kebelakang, sosok wanita berpakaian serba putih dan jilbab putih itu membuat air mata Lensi mengucur dengan deras.


"Ma-Mama," ucap Lensi lirih.


Lensi yang tak kuasa menahan kerinduan pada sang mama, langsung memeluk wanita itu dengan tangis yang pecah. Wanita yang dipeluk itu mengulas senyum dan membelai kepala Lensi dengan sangat lembut.


"Echi kangen mama. Kangen banget ma. Hiks...."


Dari kejauhan Ibrahim melihat Lensi yang menangis terisak hanya bisa mengulas senyumnya. Dia tidak bisa berhenti mengelilingi hajar aswad karena dia memang tidak bisa melakukannya.


"Akak sudah mencium hajar aswad ke? kalau macam tu gilirin makcik ye?" tanya wanita itu.


Lensi melerai pelukkannya, sementara wanita itu bergerak maju mendekati sebuah lubang di salah satu sudut hajar aswad. Dia bisa melihat dengan jelas wanita itu begitu mudah mencium benda itu tanpa ada yang menghalangi.


Brukkk


Seseorang menabrak bahu Lensi. Yang memaksa Lensi bergerak maju seketika. Namun untuk terakhir kalinya dia menoleh kembali kearah wanita itu, tapi tidak menemukan keberadaan wanita itu lagi. Tempat itu sudah digantikan oleh seorang wanita bertubuh besar berkulit gelap. Dan itu membuat hati Lensi bertanya-tanya dengan kening yang mengerut. Hingga saat selesai melakukan ibadah itu, Lensi jadi merenung didalam penginapan.

__ADS_1


__ADS_2