MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
29. Gagal Diskusi


__ADS_3

"Silahkan transfer lagi," ujar Lensi.


Orang kepercayaan Hirano menoleh kearah pria itu. Sungguh saat ini dirinya merasa tidak enak hati. Tangannya yang menari diatas laptoppun jadi ikut gemetar. Hirano dengan terpaksa menganggukkan kepalanya. Total kekayaan pria itu memang tidak perlu diragukan lagi. Dengan membuka klub perjudian diseluruh kawasan Asia, cukup membuat pria berkepala 4 itu dinobatkan menjadi salah satu pria kaya di negaranya.


Tapi kehilangan 300 milyar tentu bukanlah uang yang sedikit. Uang itu dia dapatkan dengan mengandalkan klub judinya selama 3 tahun. Pria disamping Lensi mulai mentransfer uang Lensi. Setelah menunggu beberapa saat, ponsel Okta berdenting. Lensi melihatnya dan transferanpun sudah masuk.


Lensi berdiri dari tempat duduk, dan sedikit membungkukkan badannya tanda berterima kasih.


"Baiklah. Karena permainan sudah selesai, dan waktu sudah menunjukkan jam 2 malam. Saya undur diri dulu," ujar Lensi sembari melangkah pergi.


"Tunggu!" suara Hirano menggema di ruang Vip itu. Semua mata tertuju pada Lensi, yang seolah ingin cepat-cepat kabur.


Lensi berbalik badan dan menatap kearah Hirano yang tengah menghampirinya dengan cerutu disela jarinya.


"Kenapa harus terburu-buru, mari kita bicara. Ada sesuatu yang ingin aku diskusikan denganmu," ujar Hirano.


Hirano sedikit menganggukkan kepalanya kearah orang kepercayaannya dan dua orang bodyguard. Mereka yang mengerti langsung membubarkan semua peserta yang hadir diruangan itu dan hanya meninggalkan Lensi seorang diri.


Dengan tangan cepat Lensi mengirim pesan pada Okta. Okta yang mendengar ada chat di ponsel Lensi segera membuka isi chat itu.


"Aku berhasil memenangkan kompetisi di babak ketiga. Namun mereka menahanku. Sesuai pesanku, bagi rata uangnya kalau aku tidak pernah kembali lagi,"


"Jangan khawatir. Aku sudah menghubungi bang Arman,"


Lensi tersenyum membaca isi chat dari Okta.


"Mari mencari peruntungan. Apa aku benar-benar bisa keluar dari sini hidup-hidup?" batin Lensi.


"Suatu kehormatan bisa diundang bos besar ke ruang pribadi," ujar Lensi.


Lensi kemudian digiring untuk memasukki ruangan khusus. Lensi bisa melihat kalau ruangan itu sangat tertutup. bahkan tidak ada jendela satupun. Ruangan itu seluruhnya terbuat dari kaca yang sangat bening dan juga full Ac.


Lensi berjalan lebih dulu karena dia ingin melihat kearah luar dari kaca bening yang memperlihatkan pemandangan lampu kelap kelip diluar sana. Mata Lensi bergerak cepat kesana kemari untuk membaca situasi.


Lensi kemudian duduk disalah satu satu sofa. Gadis itu menghitung jumlah orang yang ada diruangan itu, yang ternyata kurang lebih 10 orang. Pria-Pria dengan tubuh besar dan bertato.


"Bukankah tidak masalah kalau saat ini nona melepaskan maskermu?" tanya Hirano.

__ADS_1


"Tentu saja. Dihadapan bos besar aku harus menjaga sopan santun bukan?" ucap Lensi.


Lensi perlahan melepas maskernya. Max melihat pergerakkan tangan Lensi tanpa berkedip. Saat Masker itu terlepas sepenuhnya, Max terpaku dan terpesona saat melihat kecantikkan yang Lensi tawarkan.


Deg


Deg


Deg


"Can-Cantik sekali dia," batin Max.


Tidak hanya Max. Orang-Orang di dalam ruangan itu mengakui kecantikkan Lensi termasuk Hirano.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Lensi membuyarkan lamuran orang-orang disekitarnya.


"Pertama-Tama aku ucapkan selamat, karena kamu sudah memenangkan kompetisinya hingga babak akhir," ujar Hirano.


Tidak berapa lama kemudian seorang pelayan klub membawa beberapa kaleng softdrink dan meletakkannya diatas meja.


"Silahkan minum. Kamu pasti lelah karena tegang saat bermain," ujar Hirano.


"Aku kagum dengan keahlian berjudi yang kamu milikki. Hingga aku tertarik untuk mengajakmu bergabung di klub kami," ujar Hirano.


"Apa itu suatu keharusan, atau aku akan diberikan waktu untuk berpikir?" tanya Lensi.


"Sepertinya kamu cukup membaca situasi. Aku memang tidak suka penolakkan. kamu hanya punya dua pilihan saat ini. Pertama kamu setuju bergabung dengan klub kami, atau kamu bebas tidak bergabung, tapi kamu harus menyerahkan uang 300 milyar itu kembali." Jawab Hirano.


"Ternyata dugaanku benar. Mereka ini adalah kawanan pria bedebah. Lebih baik aku mati, daripada menuruti kemauan manusia sampah ini," batin Lensi.


"Lalu bagaimana kalau aku tidak setuju dengan kedua-duanya?" tanya Lensi.


"Gadis ini cukup berani. Aku suka gaya dia, tapi dia juga harus tahu membaca situasi. Kenapa dia tidak menurut saja, bukankah ini juga menguntungkan buat dia?" batin Max.


"Aku rasa kamu bukan dalam situasi untuk membuat pilihan konyol. Kamu cuma sendiri disini," ujar Hirano yang dibalas seringai oleh Lensi.


"Tutup pintunya dan kunci rapat-rapat," sambung Hirano.

__ADS_1


Seorang pria bertubuh besar dan bertato mengunci ruangan kedap suara itu dan menyerahkan kuncinya pada Hirano.


"Kamu lihat ranjang disana?" tanya Hirano


Lensi melirik ranjang disalah satu sudut ruangan itu. Ranjang yang aneh menurut Lensi, karena ranjang itu berada diruangan yang tidak tepat menurutnya.


"Ranjang itu bisa dibuat bergetar, saat orang-orangku memperkosamu beramai-ramai. Mereka mungkin merasa beruntung karena bisa mendapatkan mangsa secantik kamu malam ini. Jadi kalau kamu tidak ingin terjadi sesuatu padamu, sebaiknya kamu menurut saja. Bergabunglah dengan klub kami, hasilkan uang untuk kami. Selain kamu mendapat gajih, kamu juga bisa menikmati uang 300 milyar itu."


Lensi melihat kearah Max. Pria itu menatap lekat kearahnya.


"Aku pikir gelar seorang dewa judi kamu dapatkan dengan cara terhormat. Sesuai dengan kemampuan yang kamu miliki. Ternyata didalamnya juga terselip cara kotor,"


"Apa kamu tahu? ibarat seorang pendekar, kamu itu adalah pendekar pengecut. Kalian tidak pantas disebut laki-laki, karena hanya bisa memperdaya seorang wanita," sambung Lensi.


"Tapi aku. Aku tidak akan pernah bergabung dengan kalian, meski harus mati sekalipun," ucap Lensi.


Lensi bergegas berlari kearah pintu, namun tiba-tiba Hirano jadi tertawa keras. Tidak hanya Hirano yang tertawa, orang-orang di dalam sana juga ikut menertawakan Lensi, kecuali Max yang diam-diam mengkhawatirkan Lensi.


"Apa kamu bodoh? kunci ruangan ini ada padaku," ujar Hirano sembari memperlihatkan kunci itu pada Lensi.


"Aku tahu kunci itu ada padamu.Tapi tujuanku berlari kearah pintu bukan karena aku ingin keluar dari pintu yang tidak mungkin bisa aku lalui," ucap Lensi.


Lensi kemudian tiba-tiba berlari sekencang mungkin sembari mengoceh.


"Apa kalian tahu? aku sudah mengukur ketebalan kaca ruangan ini. Dengan mendapat tekanan dari tubuhku dari jarak jauh, kemungkinan kaca ini pecah meningkat jadi puluhan persen,"


Hirano yang baru sadar segera memberikan perintah.


"Jangan diam saja bodoh. Tangkap dia!" hardik Hirano.


Drap


Drap


Drap


Prangggggggggg

__ADS_1


Lensi menerobos kaca bening itu dengan tubuhnya. Hirano dan yang lainnya sampai merunduk, karena takut terkena pecahan kaca. Hirano dan yang lainnya segera melihat keadaan Lensi yang terjun bebas kebawah sana.


__ADS_2