
Pssstt
Psssstt
Pssstt
Suara bisik-bisik terdengar, saat Lensi menginjakkan kakinya ke kantor. Tidak seperti sebelumnya, hari ini Ibrahim memang tidak memberikan pesan apapun pada pegawai kantornya. Namun mereka tahu, wanita yang datang saat ini adalah istri dari majikkan mereka.
"Tuan Ibrahim ada?" tanya Lensi.
"Ada nyonya. Silahkan naik keatas." Jawab resepsionis.
"Eh? kalian mengenalku?" tanya Lensi.
"Tentu saja nyonya. Tuan Ibrahim tidak menyukai kesalahan sekecil apapun. Jadi kami mengingat apapun yang dia katakan, termasuk seluruh keluarganya. Nyonya sangat cantik, jadi mudah mengingatnya bahwa nyonya istri dari tuan kami." Jawab wanita berhijab itu.
Ada rasa bahagia yang Lensi rasakan saat mendengar ucapan pegawai suaminya itu. Lensi kemudian bergegas menaiki lift untuk bertemu Ibrahim.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" ujar Ibrahim.
Lensi menekan handle pintu dan matanya lansung bersitatap dengan Ibrahim.
"Can-Cantik sekali dia?" batin Ibrahim.
Ibrahim memang terpesona saat melihat kecantikan Lensi hari ini. Wanita itu sengaja menggunakan gamis, dan menggunakan hijab untuk menyenangkan hati suaminya.
"Ehemmm...gimana bang, dinda cantik tidak?" tanya Lensi yang membuyarkan lamunan Ibrahim.
"Ehemm...biasa saja. Kamu tahu sendiri, di kantor ini kamu nggak melihat satupun wanita yang nggak menggunakan hijab kan? karena disini hijab hukumnya wajib. Jadi baguslah kalau kamu bisa menyesuaikan diri." Jawab Ibrahim.
"Emang iya. Tapi kan dinda istrimu bang, puji dikit napa? biar semangat belajarnya gitu," ujar Lensi.
"Jangan seringan dipuji, nanti besar kepala." Jawab Ibrahim yang langsung dicebikki bibir oleh Lensi.
"Duduklah! aku akan mengambil berkas-berkas dasar yang harus kamu kuasai dalam memimpin perusahaan," ujar Ibrahim.
"Ya." Jawab Lensi.
Namun Lensi sangat terkejut, saat Ibrahim meletakkan tumpukkan berkas yang menggunung dihadapannya.
"I-Ini apa bang?' tanya Lensi.
"Berbagai macam contoh berkas. Ada keuangan, penjualan, pembukuan, dan banyak macam lainnya. Kamu harus menguasai ini semua, barulah bisa memimpin perusahaan." Jawab Ibrahim.
"Ya tetap saja skil juga harus ada. Kalau kamu nguasain ini, tapi prakteknya nol, ya sama saja bohong," ucap Ibrahim.
"Gi-Gitu ya bang?"
"Uggghh pantas saja sejak dulu aku tidak pernah tertarik ngambil jurusan bisnis. Rempong bener. Mending juga jadi model, tinggal lenggak lenggok pasti dapat duit," batin Lensi.
"Bagaimana? apa masih tertarik buat jadi pengusaha?" tanya Ibrahim.
"Mau nggak mau bang. Minimal saat abang nanti membuangku, aku bisa hidup mandiri. Nggak mimpin perusahaan besar, mimpin usaha kecil juga nggak apa. Yang penting aku harus semangat mencoba dulu," ujar Lensi.
__ADS_1
Ibrahim menyunggingkan senyum tipis nyaris tak terlihat.
"Ya sudah tunggu apalagi, cepat bacakan persyaratan belajarnya," ucap Ibrahim.
Sesungguhnya Ibrahim sangatlah penasaran, cara Lensi membaca surat yang ingin dia dengar. Lensi kemudian mulai mengambil sikap sempurna. Dengan memejamkan mata, Lensi mulai membaca ta'awudz dan kemudian diteruskan dengan membaca basmalah.
Namun saat Lensi mulai membaca ayat yang pertama, tiba-tiba Ibrahim merasakan bulu kuduknya merinding. Suara Lensi terdengar begitu indah. Saat Lensi memejamkan mata, Ibrahim iseng merekamnya dengan ponsel. Niat awal ingin mengkritik bacaan diakhir Lensi mengaji, namun yang terjadi malah sebaliknya. Ibrahim sangat menikmati bacaan demi bacaan yang Lensi lantunkan.
"A-Apa dia sungguh istriku? dia membacanya dengan sangat sempurna. Bahkan tebal tipisnya huruf, dia bisa membacannya dengan benar," batin Ibrahim.
"Tunggu. Kenapa dia jadi mengingatkan aku dengan Deva? dia persis seperti Deva. Aku harus memberinya hadiah nanti,"
Ibrahim segera mematikan rekaman video ponselnya, setelah Lensi mengakhiri bacaannya.
"Bagaimana bang?" tanya Lensi.
"Sempurna." Jawab Ibrahim.
"Makasih bang," ucap Lensi dengan senyum semringah. Ini pertama kalinya Ibrahim memujinya. Ibrahim memang harus berkata jujur, karena dia harus menyampaikan. kebenaran soal kitabnya.
"Kalau begitu mulailah baca berkasnya satu persatu. Kalau ada yang tidak mengerti, kamu boleh mengajukan pertanyan," ucap Ibrrahim.
"Iya bang." Jawab Lensi.
Lensi mulai belajar dengan tekun. Sesekali Ibrahim mencuri pandang pada istrinya itu.
"Dia serius sekali. Dia pasti sangat ingin mengambil perusahaan keluarga ibunya. Apa aku harus membantunya? atau membiarkan dia mendapatkan itu sesuai kemampuannya sendiri," batin Ibrahim.
Selang dua jam kemudian....
"Ugghhh...sialan ini mata. Giliran baca Conan, melek banget ini mata. Apalagi buat judi. Giliran baca buku pelajaran, ngantuknya nggak tertahankan," batin Lensi.
"Sholat dulu, baru nanti teruskan lagi," ujar Ibrahim.
"Nggak bawa mukenah bang. Besok saja sholat dzuhurnya," ucap Lensi.
Ibrahim meraih gagang telpon dan menelpon serketarisnya.
"Siapakan satu mukenah untuk nyonya," ujar Ibrahim dari seberabg telpon.
"Di-Dia mengakuiku nyonya?" batin Lensi
Lensi pura-pura sibuk dengan berkasnya, padahal dalam hatinya dia sangat kegirangan.
"Nggak ada alasan buat ninggalin sholat kalau emang tidak berhalangan," ujar Ibrahim.
Ibrahim masuk ke kamar pribadinya dan menunaikan sholat disana.Tidak berapa lama kemudian mukenahpun diantar oleh serketaris Ibrahim.
"Sholatlah!" ujar Ibrahim setelah dirinya keluar dari ruang pribadinya.
Lensi kemudian masuk ke ruang itu untuk menunaikan sholat. Namun sudah hampir 30 menit berlalu, Lensi tak kunjung keluar. Ibrahim kemudian mengecek ruangan itu dan betapa terkejutnya Ibrahim saat melihat Lensi tengah tidur dengan posisi kaki mengangkang, dan kedua tangan berada disisi kanan dan kiri kepala.
"Astagfirullahaladzim...baru beberapa jam yang lalu aku mengagumi istriku karena pandai mengaji, tapi saat ini dia ingin membuatku nangis darah, saat melihat posisi tidurnya yang aduhai tidak sopan," gerutu Ibrahim.
"Hey...bangun!"
"Emm...nanti bang, masih ngantuk ini. Ini baru jam 2, adzan subuh belum manggil," Lensi mengigau.
Ibrahim dengan gemas memencet hidung Lensi, hingga istrinya itu gelagapan.
__ADS_1
"Bang ampun bang, nggak bisa nafas ini. Nanti abang jadi duda mau?" tanya Lensi sembari memegang hidungnya yang sedikit terasa sakit.
"Bagus ya kamu. Katanya mau belajar, kenapa malah tidur?" tanya Ibrahim.
"Ngilangin lelah mata dikit bang." Jawab Kensi..
"Nggak ada yang begituan. Buruan cuci muka dan teruskan belajar. Nanti kita pulangnya bisa sama-sama," ujar Ibrahim.
"Janji ya bang? masa iya istri direktur naik taksi. Nggak keren tau bang," ucap Lensi.
Ibrahim tidak menjawab ucapan Lensi, dia keluar lebih dulu dari ruangan itu. Saat Lensi kembali belajar, OB yang mengantar makan siangpun datang. Ibrahim kemudian mengajak Lensi buat makan siang bersama.
"Kamu kelaparan?" tanya Ibrahim.
"Lumayan bang. Belajarnya lumayan menguras otak, jadi aku lapar." Jawab Lensi.
"Dimana-Mana orang lapar karena terkuras tenaga. Kamu baru dikuras otak aja makanmu porsi kuli, apalagi kalau dikuras tenaga? " ucap Ibrahim.
Lensi tidak memperdulikan ucapan Ibrahim. Baginya asal perut kenyang, mertua lewatpun tidak dia tegor. Setelah bersantap siang Lensipun kembali meneruskan belajar. Ibrahim memang sengaja menyuruh Lensi belajar satu ruangan yang sama dengannya. Selain bisa mengawasi Lensi, Ibrahim juga bisa melihat wajah cantik istrinya itu. Ibrahim sudah bertekad ingin membuka hati untuk Lensi, karena dia hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup.
"Sepertinya aku mulai menyukai istriku sendiri. Tapi aku belum berani menyimpulkannya. Aku juga ingin membuka hati untuk hubungan ini," batin Ibrahim.
Ibrahim senyum-senyum sendiri sembari menatap kearah Lensi. Namun senyum itu buyar, saat serketarisnya kembali mengetuk pintu.
"Masuklah," ujar Ibrahim.
"Ada apa?" tanya Ibrahim.
"Ada seseorang ingin bertemu." Jawab Serketris.
"Siapa?" tanya Ibrahim.
"Perwakilan dari Gemilang Group."
Mata Lensi tiba-tiba berhenti membaca. Dia begitu penasaran dengan nama perusahaan itu.
"Gemilang Group? jangan bilang itu milik Surya. Kalau iya, Surya sangat kelewatan. Kenapa harus mengganti nama perusahaan Sudrajat demi ambisinya itu," batin Lensi.
"Gemilang Group? apa itu nama perusahaan baru? aku baru mendengar nama perusahaan itu," tanya Ibrahim.
"Sebenarnya perusahaannya sudah lama berdiri tuan. Namun saat ini perusahaan itu diambil alih oleh keluarga Gemilang. Yang sebelum diganti nama perusahaannya SU Group."
Tanpa sadar Lensi meremas kertas yang dia pegang.
"Surya. Lihat saja nanti. Jangankan nama Gemilang Group, bahkan nama Suryapun akan aku tenggelamkan di dunia bisnis. Tunggulah hari kehancuranmu Surya," batin Lensi.
"Suruh dia masuk," ujar Ibrahim.
Serketaris Ibrahimpun mempersilahkan perwakilan dari Gemilang Group untuk masuk. Ibrahim mengerutkan dahinya saat melihat seoang gadis yang pernah dia lihat, berpakaian super sexy berjalan kearahnya.
"Gila. Jadi ini direktur utama Al-Gift? Alex mah jauh. Aku harus bisa menarik perhatian dia. Cuma Alex tolol yang nggak tergoda cewek cantik dan sexy," batin Vega.
"Astagfirullahaladzim...kenapa yang datang kaleng sarden?" batin Ibrahim
Ibrahim menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak sanggup menatap gadis didepannya itu.
"Heh...jadi begini citra Gemilang Group yang surya bangun? menjijjkan," batin Lensi.
"Silahkan duduk disana," ujar Ibrahim yang menunjuk kearah Lensi.
__ADS_1
Vega menuruti apa yang Ibrahim katakan. Namun gadis itu tertawa saat melihat Lensi yang tengah mengenakan gamis dan berhijab.