MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
69. Investor


__ADS_3

"Kenapa kamu bisa melakukan hal bodoh itu dengannya? bukankah terasa aneh? awalnya dia menolakmu, tapi tidak sampai dua hari, dia malah bisa menidurimu. Aku tidak tahu apa yang dia katakan padamu, hingga kamu bisa terkena bujuk rayu si pria kentut itu. Tapi yang pasti sungguh kamu mengalami kerugian yang besar Zoy," ucap Lensi.


"Aku memang bodoh. Bisa-Bisanya aku termakan oleh bujuk rayunya dengan mengatas namakan cinta. Padahal aku belum mengenalnya dengan baik," ujar Zoya.


"Sekarang apa yang kamu inginkan jika bertemu dengan pria itu lagi?" tanya Lensi.


"Tentu saja aku ingin menghabisinya." Jawab Zoya.


"Bagus. Jangan lagi terpuruk karena memikirkan orang yang sama sekali tidak memikirkanmu. Lakukan seperti yang aku lakukan."


"Emang kamu melakukan apa?" tanya.


"Aku mengalihkan perhatianku dengan cara menyibukkan diri. Jadi aku tidak terlalu mengingatnya."


"Makasih ya Len. Moga saat bersamamu nanti, perasaanku jauh lebih baik," ucap Zoya.


"Bagus. Sekarang ayo kita istirahat," ucap Lensi.


Namun meski mengiyakan ajakkan Lensi untuk beristirahat, pada kenyataannya Zoya sama sekali tidak bisa tidur. Dan Lensi tahu itu, tapi Lensi membiarkannya saja dan berpura-pura tidak tahu. Karena dia sudah mengalami berada di posisi Zoya, dan itu memang sangat sulit.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Pranggggg


Pranggggg


Pranggggg


"Hancur sudah...hancur!"


Surya mengamuk saat ini. Kerena saham perusahaanya hari ini sangat merosot tajam. Semua rekan bisnisnya membatalkan kerjasama dalam bentuk apapun. Dan juga semua Investor menarik dananya kembali.


"Bagaimana ini pa? apa kita akan bangkrut mama nggak mau hidup gembel pa. Kita sudah susah payah ada dipuncak ini. Bahkan kita sudah mengorbankan banyak hal, agar bisa mendapatkan perusahaan ini," ujar Marini.


"Sebenarnya kita punya permusuhan dengan siapa? kenapa ada orang yang ingin menghancurkan perusahaan kita? kita benar-benar hampir bangkrut sekarang," ucap Vega.


"Andai saja ada Investor besar yang bisa menginvestasikan dananya. Mungkin saja perusahaan kita bisa selamat," ujar Surya.


"Tapi siapa yang bisa kita mintai tolong?" tanya Vega.


Surya terduduk di sofa dan memijat keningnya. Dia benar-benar tidak bisa berpikir saat ini.


"Apa menurut papa Lensi bakalan mau membantu kita?" tanya Vega.


"Anak bodoh itu bisa apa dan punya apa? nikah saja sama Ustad, mana punya harta sebanyak itu dia." Jawab Surya.


"Namanya juga usaha pa. Saat ini kan dia bekerja pada pengusaha nomor dua di Kota ini. Kita tinggal racuni saja pikirannya, dengan mengingatkan dia tentang perusahaan milik keluarganya," ujar Vega.


Surya terdiam dan tampak berpikir. Sesaat kemudian dia tersenyum senang.


"Kamu benar, anak bodoh itu pasti persis seperti ibunya. Lemah, saat mengetahui perusahaan keluarga ibunya akan bangkrut. Ditangannya masih ada 5 aset yang nilainya ratusan milyar. Kalau kita bisa mendapatkan itu, maka perusahaan bisa diselamatkan," ucap Surya.


"Biar aku menemuinya di kantor Al-Gif," ujar Vega.


"Papa mengandalkanmu Vega," ucap Surya.


"Baiklah. Aku pergi sekarang." Jawab Vega.

__ADS_1


Vegapun meraih tasnya dan pergi ke perusahaan Ibrahim. Sementara itu di tempat berbeda, Lensi kini sedang tertawa bangga atas perbuatan yang dia lakukan terhadap perusahaan Surya.


"Beruntung dia sudah mengganti nama perusahaan itu. Karena kalau tidak, mungkin aku tidak akan tega melakukannya karena mengingat itu perusahaan keluarga Sudrajat," ucap Lensi.


"Apa kamu berhasil?" tanya Zoya sembari meletakkan teh panas disamping meja kerja Lensi.


"Tentu saja. Hari ini saham perusahaan Gemilang Group merosot tajam. Aku memang tidak membuatnya bangkrut dalam semalam, karena aku ingin mengakuisisi perusahaan itu."


"Hebat kamu. Tapi kalau aku jadi kamu, aku nggak mau memberinya ampun lagi. Aku akan membuatnya bangkrut seketika," timpal Zoya.


"Aku ingin membuatnya berdarah-darah dulu. Saat ini mereka pasti sedang kelimpungan buat mencari investor besar untuk menyelamatkan perusahaan itu. Dan disaat semua orang mundur, maka aku yang akan maju buat menyelamatkan perusahaan itu," ujar Lensi.


"Apa mereka tidak punya aset yang bisa menyelamatkan perusahaan itu?" tanya Zoya.


Lensi tampak berpikir. Dia jadi teringat saat pembagian 10 aset bersama Surya. Dan kalau semua aset itu dijual, Surya memang bisa menyelamatkan perusahaan itu.


"Kamu benar. Mereka memang memiliki aset ratusan milyar lagi. Kalau itu mereka jual, mereka bisa menyelamatkan perusahaan, meskipun tidak sepenuhnya. Sementara aku cuma mempunyai dana cukup untuk mengakuisisi perusahaan itu,"


"Aku sangat tidak rela, kalau mereka sampai menjual aset itu. Semua itu adalah milik keluarga Sudrajat. Kalaupun mereka harus menjualnya, mereka harus menjualnya padaku," sambung Lensi.


"Kenapa kamu harus bingung. Kamu punya kemampuan judi yang mumpuni bukan? kenapa tidak semua aplikasi judi kamu pakai saja? aku akan membantumu, kamu tinggal tunjukkan saja apa yang harus aku lakukan," ucap Zoya.


Lensi tampak berpikir. Sebenarnya dia tidak ingin lagi menyentuh permainan haram itu. Melakukan hal itu membuatnya akan teringat dengan Ibrahim. Tapi saat ini dia benar-benar butuh dengan uangnnya. Karena dia harus mendapatkan satu persatu aset keluarga Sudrajat.


"Baiklaklah. Malam ini kita akan melakukannya sampai pagi. Apa kamu siap buat begadang?" tanya Lensi.


"Tentu saja." Jawab Zoya.


Dilain tempat, Vega baru tiba di perusahaan Al-Gif.


"Ada yang bisa kami bantu Bu?" tanya Seorang resepsionis.


"Apa anda sudah membuat janji?"


"Belum." Jawab Vega.


"Maaf dari perusahaan mana ya Bu? biar kami konfirmasi dulu pada beliau. Takutnya beliau punya jadwal meeting hari ini,"


"Katakan saja dari Gemilang Group," ujar Vega.


"Baik. Tunggu sebentar ya Bu?"


Resepsionis itupun segera membuat panggilan untuk Ibrahim dengan menggunakan telpon kantor.


"Ada apa?" tanya Ibrahim.


"Tuan. Ada yang ingin bertemu dengan anda,"


"Siapa?" tanya Ibrahim.


"Perwakilan dari Gemilang Group."


"Gemilang Group? itu kan perusahaan dari ayahnya Lensi. Apa mereka tahu sesuatu tentang Lensi?" batin Ibrahim.


"Suruh dia menemuiku," ujar Ibrahim.


"Baik tuan."

__ADS_1


Vega akhirnya dipersilhkan untuk menemui Ibrahim. Vega sangat senang, karena dia berpikir Ibrahim tidak keberatan lagi dirinya berada disana untuk menemui pria itu.


"Emm...kaleng sarden rupanya," batin Ibrahim, saat melihat Vega berlenggak lenggok masuk keruangannya.


"Selamat pagi tuan Ibrahim," sapa Vega dengan menenteng tas ditangannya.


"Silahkan duduk!" ucap Ibrahim.


Vega menjatuhkan bokongnya di salah satu sofa.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Ibrahim.


"Saya ingin bertemu dengan Lensi sekaligus untuk bertemu dengan anda," ujar Vega.


"Aku harus bisa memanfaatkan situasi ini untuk menjerat Ibrahim. Kalau aku berhasil mendapatkan pria ini, aku tidak pusing lagi memikirkan gaya hidupku," batin Vega.


"Lensi tidak lagi bekerja disini. Dia sedang melanjutkan pendidikkannya di luar negeri," ucap Ibrahim asal.


"Mana mungkin. Apa dia...."


Kata-Kata Vega menggantung, dan tidak jadi dia teruskan.


"Katanya dia ingin kuliah bisnis, agar bisa masuk ke perusahaan besar. Dia menjual salah satu asetnya, dan dia gunakan untuk biaya kuliah diluar negeri," pancing Ibrahim.


Sebenarnya berita tentang saham Gemilang anjlok sudah tersebar hampir diseluruh perusahaan tanah air. Alex bahkan sudah memperkirakan kalau pelaku penyebaran data penting itu adalah Lensi. Dan Ibrahim setuju akan pendapat Alex itu. Itulah dia berusaha menemukan alamat Ip yang digunakan Lensi untuk meretas perusahaan Gemilang, agar dia tahu titik lokasi istrinya itu. Tapi naasnya, Lensi terlalu cerdas. Dia bisa menyembunyikan alamat IP nya itu, bahkan Ibrahimpun tidak bisa melihatnya.


"Benar juga. Papa kan masih punya beberapa aset dari keluarga Sudrajat? kalau semua itu dijual, pastinya akan bisa menutupi kerugian perusahaan," batin Vega.


"Lalu. Ada kepentingan apa Nona menemuiku?" tanya Ibrahim.


"Ibrahim. Maaf kalau aku terlalu lancang, tapi aku ini wanita modern yang berani menyuarakan isi hati tanpa ragu dan malu. Apa kamu tahu? sejak pertemuan pertama kita waktu itu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu. Aku tidak bisa mengalihkan ingatanku tentangmu dari pikiranku. Apa kamu mau mempertimbangkan perasaanku?" tanya Vega.


"Wanita ini sungguh tidak tahu malu. Apa dia pikir aku tidak tahu apa yang dia pikirkan?" batin Ibrahim.


"Mungkin nona Vega kurang melihat media sosial terutama televisi. Apa nona tidak tahu kalau saya sudah menikah?" tanya Ibrahim.


"Saya tahu. Tapi saya tidak masalah dengan itu, karena saya percaya diri kalau saya juga layak buat anda. Lagipula bukankah poligami tidak dilarang?"


"Poligami memang tidak dilarang, tapi aku juga bukan orang buta yang asal comot perempuan. Daripada aku menikahi kaleng sarden, mending aku tidak menikah saja sama sekali," batin Ibrahim.


"Maaf nona Vega. Saya ini tipe pria setia. Oh ya, saya sudah mendengar tentang anjloknya saham Gemilang grup,"


"Ya. Apa anda mau jadi investor kami tuan Ibrahim?"


"Maaf nona Vega. Berinvestasi pada perusahaan yang hampir kolaps itu sangat berisiko. Saya bisa menjamin 1000% tidak ada yang bakalan mau. Yang bisa menyelamatkan perusahaan itu cuma keluarga kalian saja,"


"Apa yang harus kami lakukan. Saya mohon pencerahannya tuan Ibrahim. Anda sebagai pengusaha besar, pasti tahu cara menyelamatkan perusahaan kami," ucap Vega.


"Kalau kalian memiliki simpanan aset, jual saja. Kalian bisa menutupi kebocoran dana, dan mengembalikan perusahaan agar kembali berjaya." Jawab Ibrahim.


"Sepertinya cuma cara itu yang bisa menyelamatkan perusahaan. Sialnya Lensi berada diluar negeri, kalau tidak kami bisa mempengaruhinya agar menjual aset miliknya sementara aset kami masih utuh," batin Vega.


Ibrahim menyeringai tanpa sepengetahuan Vega. Dia punya cara sendiri agar semua aset itu bisa dia miliki.


"Ini kartu namaku. Kalau kalian memang memiliki aset yang bisa dijual, jualan padaku. Aku bersedia membayar mahal. Cuma ini yang bisa saya bantu nona Vega. Kalau anda menyuruh saya buat berinvestasi itu sangat sulit. Percayalah, pasti tidak akan ada yang mau. Investor lama kalian saja pasti menarik inves mereka semua kan?"


"Dia pengusaha hebat, sudah pasti bisa memperkirakan semuanya. Dia benar, perusahaan harus diselamatkan secepatnya. Dan dia mau membantu buat beli, bukankah itu suatu keberuntungan?" batin Vega.

__ADS_1


Vega meraih kartu nama itu dan memasukkannya kedalam tas. Ibrahim tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


__ADS_2