
Lensi segera turun dari motor saat dirinya sudah sampai di markas. Suara baku hantam masih terdengar dengan jelas ditelinganya. Lensi memeriksa keadaan teman-temannya yang sudah banyak tergeletak di luar markas dalam keadaan tidak sadarkan diri. Lensi perlahan mengendap masuk kedalam, dia melihat Arman dan anak buahnya tegah mempertahankan wilayah mereka yang diserang dengan cara licik.
Arman yang kelelahan karena dikeroyok, terpaksa harus menerima satu pukulan telak. Dan saat pengeroyok itu akan menghantamkan kakinya di wajah Arman, Lensi datang menerjang pria itu hingga pria itu terjerembab ke lantai.
"Lensi. Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Arman yang terkejut saat melihat kedatangan adik angkatnya itu.
"Abang bilang menganggapku sebagai adik. tapi kenapa abang tidak memberitahuku saat terjadi sesuatu seperti ini. Apa abang ingin aku diliputi rasa bersalah, saat abang kenapa-kenapa?" ucap Lensi.
"Apa kalian pikir ini saatnya mengobrol! lebih baik kalian menyerah saja dan ikut kami menemui bos," ucap salah seorang pria yang tubuhnya dipenuhi tato.
"Mimpi saja kalian," ujar Lensi yang kemudian menyerang pria itu dengan membabi buta, hingga pria itu tergeletak tak berdaya.
Lensi yang lengah karena dikeroyok, hampir saja terkena hantaman balok kayu, kalau saja Zoya tidak datang menolong.
"Zoya? apa kamu sudah gila? aku kan sudah bilang tunggu dirumah," ucap Lensi.
"Iya. Kalau kamu mati karena balok kayu itu, maka aku langsung bunuh diri di rel kereta api," ujar Zoya.
"Zoya awas!" Lensi menangkis serangan seorang pria yang ingin menerjang kearah Zoya.
Merekapun berkelahi habis-habisan. Namun Konsentrasi Lensi pecah, saat melihat Zoya meringis kesakitan. Saat ini Zoya mengalami kram diperutnya karena terlalu lelah. Saat seorang pria ingin menghantam Zoya dengan sebuah balok, Lensi menjadikan punggungnya sebagai tameng.
"Uuukkhh..." Lensi memuntahkan sedikit darah.
"Le-Lensi," ucap Zoya lirih dengan tubuh gemetar.
Saat pria itu akan menghantamkan balok itu lagi, Arman datang menjadikan dirinya sebagai tameng dan terpaksa merelakan kepalanya menjadi hantaman balok itu.
"Cukup!" ucap Lensi dengan sisa tenaganya.
"Bawa kami sebagai sandera. Kalian akan mendapatkan yang kalian inginkan. Jangan sakiti dia. Dia sedang hamil saat ini," ujar Lensi saat melihat seorang pria ingin menerjang kearah Zoya.
Sementara Arman tergeletak dilantai tidak sadarkan diri. Lensi, Arman, Zoya dan anak buah Arman terpaksa menyerahkan diri sebagai sandera. Lensi tidak ingin terjadi sesuatu pada teman-temannya, karena mereka jelas akan kalah. Orang-Orang Arman yang terkena bius dibiarkan saja tergeletak. Lensi cukup lega, karena orang-orang Arman tidak ada yang tewas.
Saat tiba di markas musuh, mereka dimasukkan kedalam ruangan yang dibagi menjadi beberapa bagian.
"Zoy. Loe nggak kenapa-napa kan?" tanya Lensi yang khawatir saat melihat Zoya meringis kesakitan.
"Perutku kram Len." Jawab Zoya dengan mata berkaca-kaca karena menahan sakit.
Dor
Dor
Dor
"Hey...kalian dengar aku? ada orang sakit disini."
__ADS_1
Lensi menggedor-gedor pintu tempat mereka disekap. Namun sama sekali tidak ada respon. Sementara Arman bisa mendengar teriakkan Lensi setelah dirinya siuman. Arman menempelkan telinganya di daun pintu dan mendengar kembali teriakkan Lensi. Arman sudah bisa membayangkan, kalau sudah terjadi sesuatu pada Zoya. Pria itu terlihat sangat kesal, karena merasa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Kriekkk
6 orang pria membuka pintu yang Lensi dan Zoya tempati. Lensi pikir mereka ingin memberi pertolongan, namun Lensi bisa melihat seringai mesum diwajah keenam pria itu.
"Keparat! beraninya kalian memperlihatkan wajah mesum seperti itu. Sepertinya kalian tidak sayang nyawa kalian," hardik Lensi.
"Kalian memiliki paras yang cantik, sayang kalau disia-siakan. Kebetulan kami sudah sangat dahaga," ujar salah seorang pria bertato.
"Kalau begitu kalian akan menemui ajal kalian dengan segera," ucap Lensi yang kemudian menyerang dengan membabi buta.
Namun Lagi-Lagi Zoya menjadi kelemahannya. Saat Zoya berusaha melawan saat akan dilecehkan dalam keadaan perut yang sakit. Pria itu bahkan memukul wajah Zoya berkali-kali saat Zoya melawan pria itu ketika akan melepaskan baju dan celananya.
"Bajingan tengik! lepaskan dia, dia sedang hamil!" hardik Lensi.
"Sepertinya kamu sangat perduli dengan temanmu, hingga kamu rela berbohong. Kalau begitu kamu lihat saja saat kami tengah menggilirnya. Setelah itu baru kami akan menggilirmu," ucap pria itu sembari terkekeh.
Sementara Lensi benar-benar tidak berdaya, karena dua orang pria bertubuh besar sudah memegang kedua tangannya dan dipaksa melihat kejadian yang memalukan itu. Suara jeritan Zoya saat dipaksa melepaskan bajunya, membuat hati Lensi benar-benar sakit dan meneteskan air mata. Sementara Arman yang tahu betul apa yang terjadi pada adik-adiknya itu menerjang pintu dengan kesal berkali-kali.
Drap
Drap
Drap
Suara langkah kaki mendekat kearah pintu yang Lensi dan Zoya tempati. pria itu bisa mendengar dengan jelas, suara jeritan tidak berdaya dari arah dalam.
"Lepaskan dia brengsek!" Lensi merontak-ronta dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"Diam!" hardik pria yang sudah merobek baju Zoya bagian depan hingga memperlihatkan dada gadis itu yang menjulang.
Zoya masih berusaha berontak, bahkan meludahi pria didepannya.
Plakkk
Plakkkk
Pria itu menampar Zoya dengan keras, hingga mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya. Zoya jadi lemas tak berdaya, dengan menahan sakit diperutnya.
Braaaakkkkk
Seorang pria menerjang pintu dari luar. Keenam pria itu sangat terkejut, karena bos merekalah yang datang. Sesaat sebelum tidak sadarkan diri, Zoya tersenyum kecil. Dia mengira bahwa dirinya tengah berhalusinasi saat melihat kedatangan Sendy.
Sementara Sendy sangat terkejut, saat melihat Zoya dan Lensi dalam kedaan tidak berdaya.
"Da-Darah," gumam Lensi saat melihat ada cairan darah yang mengalir dibetis Zoya.
__ADS_1
Sendy menoleh kearah Lensi yang bergumam, namun masih bisa dia dengar. Sendy kemudian melihat ada darah yang mengalir dibetis Zoya dan segera mendekati gadis itu.
"Zoya bangun! Zoy...."
Rendy menepuk-nepuk pipi gadis itu. Lensi berontak melepaskan diri dan segera menghampiri Zoya.
"Zoya bangun! hiks...Sendy bajingan penghuni kerak neraka. Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai terjadi apa-apa pada Zoya dan anaknya. Aku akan membunuhmu!"
"A-Anak?" Sendy terkejut.
"Dia sedang mengandung anak loe tolol!" hardik Lensi.
Tubuh sendy mendadak gemetar. Tanpa pikir panjang lagi, Sendy segera menggendong Zoya untuk dia bawa kerumah sakit. Lensi mengekor dibelakang Sendy, meski sempat berkelahi dengan anak buah Sendy.
"Tahan semua orang yang sudah melecehkan wanitaku. Potong 5 jari tangan kanan mereka!" perintah Sendy.
"Baik bos." Jawab orang kepercayaan Sendy.
Sendy segera memasukkan Zoya kedalam mobil, dan kepalanya dipangku oleh Lensi. Disepanjang jalan menuju rumah sakit tidak ada yang bersuara di dalam mobil itu. Lensi terlalu marah saat ini, hingga dadanya terasa ingin meledak.
Sementara Sendy dengan kecepatan penuh membawa mobilnya, bahkan tidak jarang menerobos lampu merah karena ingin segera cepat sampai. Setelah sampai di rumah sakit, Sendy segera menggendong Zoya dan membawanya ke IGD.
Setelah perdarahannya berhasil dihentikan, Zoya kemudian dipindahkan ke ruang perawatan.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri anda? kenapa dia bisa nyaris keguguran dan mendapat luka-luka di wajah dan tubuhnya? apa anda sudah melakukan tindak KDRT? jangan sampai keadaan seperti ini berlanjut lagi. Karena kalau sampai terjadi lagi, anda bisa kehilangan anak anda dan juga istri anda," ujar dokter.
"Selama kehamilan muda, kalian dilarang dulu berhubungan untuk sementara waktu. Karena itu bisa memicu keguguran," sambung dokter.
"Terima kasih," ucap Sendy.
Sendy kemudian mendekat perlahan kearah Zoya, dan menggenggam erat tangan wanita yang diam-diam selalu dia rindukan itu.
"Maaf. Maafkan aku sayang," ucap Sendy lirih.
Lensi hanya bisa melengos saat mendengar kata-kata sayang dari Rendy untuk sahabatnya itu.
"Sen-Sendy... Sen-Sendy," tanpa Zoya sadar dirinya menyebut nama pria yang dia cintai berkali-kali.
Entah Lensi mau menangis atau tertawa, saat melihat adegan itu. Tapi dia tentunya tidak bisa memaksa Zoya untuk melupakan pria yang sudah membuat sahabatnya itu mengandung.
"Aku disini sayang. Bangunlah!" ucap Sendy.
"Apa kejantananmu itu berbijikan intan? sehingga dimulut dia bilang benci, tapi tanpa sadar dia selalu menyebut nama pria brengsek yang menodainya dan mengkhianati kepercayaannya," tanya Lensi.
Sendy diam saja tanpa melawan. Karena dia sadar, dirinya sudah melakukan kesalahan.
"Meski Zoya mencintaimu, tapi kamu jangan harap bisa bersatu dengannya ataupun melihat anakmu selama kamu masih jadi pria brengsek yang selalu meresahkan masyarakat selama ini. Aku tidak menyangka, kamulah pemimpin dari geng bertato kalajengking itu," ujar Lensi.
__ADS_1
"Aku tidak berharap bisa besatu dengannya. Karena aku sadar aku bukan pria baik. Aku memang salah, karena sudah membuatnya mengalami situasi sulit seperti ini. Jadi Lensi, maukah kamu membantuku buat menjaga dia dan anakku? aku akan meberikan sebanyak yang kamu mau," ucap Sendy.
Lensi tertawa keras saat mendengar ucapan Sendy. Baginya kata-kata pria itu terdengar lucu ditelinganya.