
"Benarkah? kamu salah satu orang beruntung dan terpilih. Setiap orang yang pulang dari sana selalu banyak membawa cerita masing-masing. Tapi ya wallahu a'lam bishawab. Semua adalah rahasia Allah. Mungkin Allah ingin menguji keimananmu, mungkin juga Allah ingin memperingatkanmu. Terkadang kita suka lupa, bahwa kita tidak boleh mencintai benda atau manusia, melebihi rasa cinta kita pada Allah," ucap Aisyah.
"Apa waktu Umi ke mekah juga punya pengalaman yang unik?" tanya Lensi.
"Kalau pengalaman Umi biarlah menjadi rahasia Umi dan Allah saja. Tapi waktu itu Umi punya teman satu penginapan beberapa orang. Mungkin saat ditanah air dia orang yang rajin bersedekah, jadi saat itu dia ingin sekali makan telur rebus. Apa kamu tahu apa yang terjadi?" tanya Aisyah.
"Apa umi?"
"Ada seseorang yang memberikan dia telur rebus. Padahal dia tidak pernah bercerita dengan siapapun saat dia menginginkannya." Jawab Aisyah.
"Apa ibu itu mengenal orang yang memberikannya telur?" tanya Lensi.
"Tidak sama sekali. Terus ada juga kejadian lucu saat kami ingin membeli oleh-oleh aksesoris. Kami membeli aksesoris. berupa gelang dan cincin satu orang satu kotak dengan harga 5 real. Harga sebelum itu 7 real."
"Waktu Umi dan teman Umi menawar, penjualnya langsung memberikannya tanpa menolaknya sama sekali. Terus teman umi yang satunya lagi bertanya dimana kami membeli barang itu dan juga harganya. Lalu umi menujukkannya bahkan menemaninya membeli. Apa kamu tahu apa yang terjadi?"
"Apa?"
"Penjualnya menolak memberikan harga 5 real, meskipun umi sudah mengatakan kalau umi baru saja membeli dengan harga itu. Tapi penjualnya tetap saja menolak teman umi itu. Bahkan marah-marah." Jawab Aisyah.
"Kok bisa begitu ya Umi?" tanya Lensi.
"Ya wallahu a'lam bishawab. Kita nggak tahu, apa disana itu memang memiliki keajaiban atau tidak. Tapi kita bisa mengambil pelajaran dari semua kejadian-kejadian disana." Jawab Aisyah.
"Oh ya Umi. Echi ada oleh-oleh buat umi dan abi," ujar Lensi sembari membuka koper oleh-olehnya.
"Wah...abi juga dapat nih?" tanya Ustad Gofur.
"Ya nggak tahu apa Abi dan Umi suka atau tidak." Jawab Lensi sembari meletakkan beberapa lembar baju gamis dan beberapa lembar baju koko dan sorban.
"Banyak sekali?" tanya Umi.
"Ya siapa lagi yang Echi mau kasih? kan Echi cuma punya Abi dan Umi." Jawab Lensi.
"Ow...sayangku," ucap Aisyah sembari memeluk menantunya itu.
"Aku benar-benar beruntung memiliki istri seperti dia. Mungkin kalau itu Fatimah, belum tentu dia bisa seakrab ini sama Umi. Dia benar-benar menganggap kedua orang tuaku seperti orang tuanya sendiri," batin Ibrahim.
"Wah...bagus ini bahan koko dan sorbannya. Abi suka ini," ujar Ustad Gofur saat membuka koko dan sorban dari kantung plastiknya.
"Iyakan abi? Echi juga suka. Bahannya sangat lembut dan halus," ucap Lensi.
"Semua itu Lensi yang pilih," timpal Ibrahim.
"Iya bahan gamisnya juga bagus, umi suka," ujar Aisyah.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kalian suka," ucap Lensi.
"Makasih ya sayang," ucap Aisyah.
"Sama-Sama Umi." Jawab Lensi.
"Sekarang kalian istirahat gih. Pasti capek banget kan?" tanya Aisyah.
"Lumayan Umi. Ya udah kita ke kamar dulu ya?" ucap Ibrahim.
"Ya." Jawab Aisyah.
Ibrahim dan Lensi kemudian memasuki kamar mereka karena mereka benar-benar lelah.
"Umi benar-benar seperti merasa punya anak perempuan," ujar Aisyah.
"Abi juga merasa begitu. Waktu dia datang ke pesantren pertama kali, entah kenapa hati abi langsung tergerak buat menjadikan dia sebagai menantu. Padahal kalau di pikir-pikir saat dia sudah berterus terang tentang kejadian yang sebenarnya, bisa saja kita menikahkan Ibrahim dengan Fatimah. Tapi entah kenapa abi sangat srek menjadikan dia menantu," ucap Ustad Gofur.
"Kodarullah ya Bi. Sebenarnya Umi sempat heran juga waktu itu Abi bisa langsung setuju menjadikan dia menantu. Tapi sejujurnya Umi juga merasakan yang sama," ujar Aisyah sembari terkekeh.
Grepppp
Ibrahim tiba-tiba memeluk Lensi dari belakang, saat Lensi tengah melepas pakaiannya.
"Terima kasih karena sudah menganggap orang tuaku seperti orang tuamu sendiri. Abang merasa sangat terharu. Umi seperti mempunyai dua orang anak." Jawab Ibrahim.
Lensi membalikkan tubuhnya dan meraih kedua sisi wajah Ibrahim.
"Aku kan memang anaknya bang. Aku tidak pernah menganggap Umi dan Abi sebagai mertua, tapi sebagai pengganti orang tua kandungku. Abang tahu sendiri, aku sudah lama tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku. Justru aku yang mau berterima kasih, karena abang sudah memberikan keluarga yang utuh untukku," ucap Lensi.
Ibrahim mengusap puncak kepala Lensi dan mencium kening istrinya itu.
"Dinda,"
"Hem?"
"Gituan yuk? selama di Mekah nggak gituan. Pengen tahu Din," ucap Ibrahim.
Lensi melirik kearah jam tangannya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Sudah jam 5 sore. Apa cukup sampai siap-siap sholat magrib?" tanya Lensi.
"Kayaknya nggak. Ya sudah nanti malam saja." Jawab Ibrahim.
"Sekarang kita mandi bareng saja ya bang,"
__ADS_1
"Emm." Ibrahim mengangguk.
๐น๐น๐น๐น
"Jadi kalian mau langsung pulang ke rumah?" tanya Aisyah dengan wajah sedih.
"Iya Umi. Echi dan bang Baim terlalu lama ninggalin kantor. Apalagi Echi saat ini baru menjabat sebagai direktur utama di SU Group. Echi masih harus banyak belajar, agar perusahaan keluarga SU tidak bangkrut." Jawab Lensi.
"Umi bangga sama kalian berdua. Ya sudah hati-hati kalau begitu. Sering-Sering jenguk abi dan umi disini ya," ujar Aisyah.
"Pasti Mi." Jawab Lensi.
Ibrahim dan Lensi pun pulang ke rumah mereka. Hari itu Lensi minta diajari oleh Ibrahim banyak hal tentang mengelolah perusahaannya.
"Kenapa kamu bernafsu sekali ingin mengembangkan perusahaan keluargamu?" tanya Ibrahim.
"Ini perusahaan satu-satunya yang dimiliki keluargaku. Dengan mengembangkannya, aku berharap kakek, nenek dan mama bahagia di surga. Terlebih, aku mau jadi orang hebat seperti abang. Jika abang jadi pengusaha nomor dua di kota ini, maka aku ingin jadi yang nomor tiganya." Jawab Lensi dengan penuh percaya diri.
"Ambisius sekali. Hem?" Ibdahim menarik hidung mancung Lensi.
"Oh ya. Kamu dihubungi oleh pihak agensi. Ada tawaran iklan, apa kamu ingin mengambilnya?" tanya Ibrahim.
"Nggak bang. Rencananya aku akan memberikan surat pengunduran diriku di agensi itu." Jawab Lensi.
"Kenapa?" tanya Ibrahim.
"Waktuku terlalu banyak diluar. Aku nggak mau karena kesibukkanku, moment bersama abang jadi banyak berkurang. Lagipula saat ini aku tengah membangun gudang besar dan hampir selesai." Jawab Lensi.
"Gudang besar? buat apa?" tanya Ibrahim.
"Tempat barang-barang yang akan didistribusikan. Jadi rencananya bang Arman yang akan menjadi manager gudang itu. Orang-Orang yang akan aku tarik adalah semua orang-orang yang pernah menjadi anak buah bang Arman.
"Apa itu tidak terlalu beresiko? apa mereka memenuhi kualifikasi?" tanya Ibrahim.
"Kalau dari segi pendidikkan memang tidak. Tapi saat ini aku sudah mendatangkan beberapa orang untuk mengajari mereka membaca dan berhitung. Nanti aku sendiri yang akan mengajari mereka cara yang mudah untuk menghitung barang."
"Kenapa kamu ingin sekali mereka yang terlibat? takutnya mereka bisa menyebabkan kerugian," tanya Ibrahim.
"Apa gunanya kaya kalau kita tidak bisa membantu orang yang membutuhkan. Mereka rata-rata dari kampung yang mengadu nasib di kota besar. Tak ada modal, juga tanpa ijazah. Mereka terpaksa terjebak di dunia hitam, dan mencari uang dengan cara yang tidak halal."
"Pertanyaannya adalah. Apakah kita harus sengaja menutup mata dan telinga saat melihat orang kesusahan. Terpaksa mencuri, merampok, menjual barang ilegal? sementara kita mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka. Kasihan kan bang kalau mereka memberi anak dan istri mereka dengan uang haram?" tanya Ibrahim.
"Lagipula suamiku kan kaya. Jadi anggap saja, perusahaanku buat sedekah. Dan perusahaan abang buat mencari nafkah. Benar tidak bang?"
Ibrahim tiba-tiba menyerang Lensi dengan ciuman yang memabukkan, yang membuat Lensi mau tak mau pasrah dengan apa yang Ibrahim lakukan padanya.
__ADS_1