
"Ja-Jadi Fatimah temanku, mantan tunangannya bang Baim?" bibir Lensi sampai bergetar saat bergumam.
Lensi jadi teringat saat dirinya bertemu dengan Fatimah di restaurant. Dia bisa melihat rona bahagia yang terpancar dari wajah Fatimah kala itu. Terlebih saat Fatima menunjukkan cincin pertunangannya dengan Ibrahim.
Lensi merasakan sesak di dadanya, air matanya jatuh tiba-tiba. Tubuhnya seakan lemas tak berdaya. Namun saat dirinya menyadari harus mengantarkan nampan teh ditangannya, Lensi bergegas menghapus air matanya dan menenangkan dirinya.
"Jadi bagaimana nak Baim? apa lamaran kami ini di terima?" tanya Ustad Gofur.
Lensi tiba-tiba masuk, dan berpura-pura tidak mendengar. Semua mata langsung tertuju pada Lensi saat ini. Lensi berjalan dengan santai, dan tidak memperlihatkan raut wajahnya yang kacau saat ini.
Lensi meletakkan cangkir teh diatas meja. Lensi bisa melihat, dari ekor matanya, kalau saat ini Ibrahim sedang menatap dirinya.
"Kenapa bang? apa kamu sangat bahagia sekarang? akhirnya kamu bisa bersatu lagi dengan orang yang kamu cintai. Dan sekarang kamu kebingungan caramu memberitahuku, bahwa kamu ingin menduakan aku," batin Lensi.
Setelah meletakkan tehnya, Lensi pamit undur diri. Lensi bergegas masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar secepatnya setelah dirinya sampai.
Brakkkk
Tubuh Lensi merosot dilantai, saat pintu kamar itu tertutup. Air matanya mengucur deras tak terkendali, dan kedua tangannya memukul-mukul lantai. Begitu pedih yang dia rasakan saat ini, karena merasa Ibrahim pasti akan menerima pinangan itu.
"Aku memang bersalah karena sudah merebut Ibrahim dari Fatimah. Tapi aku juga tidak tahu akan jadi seperti ini. Kalau aku tahu, tunangannya itu Fatimah, aku pasti akan mundur dari awal. Maafkan aku fatimah, maafkan aku yang sudah mencintai kekasih hatimu. Hiks..."
Tap
Tap
Tap
Lensi mendengar ada suara langkah yang mendekat. Lensi bergegas masuk ke kamar mandi karena tidak ingin ketahuan dirinya tengah menangis.
"Kamu dikamar mandi ya?" tanya Ibrahim dari luar kamar mandi.
"Iya bang. Abang mau ke kamar mandi juga? tunggu sebentar ya?" Lensi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
"Tidak. Buruan kita pulang sekarang," ucap Ibrahim.
"Dia ingin mengajakku pulang? apa dia tidak sabar lagi ingin memberitahuku tentang poligami itu? maafin aku bang, aku nggak bisa berbagi cinta dengan siapapun," batin Lensi.
Krieeekkk
Lensi membuka pintu setelah mencuci wajahnya, agar terlihat segar. Ibrahim mendekat kearah Lensi, yang membuat Lensi jadi gugup.
"Matamu kenapa merah? kamu habis menangis?" tanya Ibrahim.
"Eh? e-enggak. Tadi ada hewan kecil masuk kemataku, dengan refleks dinda menguceknya. Jadi agak merah." Jawab Lensi.
Ibrahim menatap wajah Lensi, hingga membuat wanita itu jadi tertunduk.
"Ayo kita pulang," ujar Lensi yang berjalan lebih dulu dari Ibrahim.
Ibrahim mengekor dibelakang Lensi, dan mereka pamit pada orang tuanya.
"Loh. Kalian nggak nginap?" tanya Aisyah.
"Nggak dulu Umi. Tadi siang Baim menunda meeting, jadi besok pagi-pagi Baim harus meeting." Jawab Ibrahim.
"Kalau begitu biar Lensi yang nginap disini," ujar Aisyah.
"Umi. Nanti yang ngurus keperluan Ibrahim siapa?" ucap Ustad Gofur.
"Lain kali Echi kesini lagi buat nginap ya Mi?" ujar Lensi.
__ADS_1
"Janji ya?"
"Insya Allah." Jawab Lensi.
Ibrahim dan Lensi akhirnya pulang. Tidak ada percakapan antara Lensi dan Ibrahim selama perjalanan menuju pulang. Lensi yang biasanya banyak bicara, tiba-tiba jadi pendiam. Namun sesekali dia mengencangkan pelukkannya pada Ibrahim.
Sesampai di rumah, Ibrahim meminta Lensi membuatkannya kopi. Sementara Ibrahim terlihat ingin menghubungi seseorang.
"Assalammu'alaikum," ujar Alex diseberang telpon.
"Wa'alaikum salam." Jawab Ibrahim.
"Ada apa bro? ada yang bisa ane bantu?" tanya Ibrahim.
"Tahu aja ente kalau ane pengen minta bantuan. Lex, ente ada dirumah nggak nanti malam?" tanya Ibrahim.
"Ada. Ada apa sih? kenapa nggak ngomong langsung lewat telpon?" tanya Alex.
"Ini tidak bisa dibicarakan lewat telpon." Jawab Ibrahim.
"Ya ampun. Kedengarannya serius sekali," ujar Alex.
"Sangat serius." Jawab Ibrahim.
"Oh ya mau disiapin apa? apa kamu datang sendiri? atau sama istrimu itu?" tanya Alex
"Aku datang sendiri. Bisa gawat kalau aku datang sama dia. Aku tidak ingin dia tahu soal ini." Jawab Ibrahim.
Lagi-Lagi tanpa Ibrahim tahu Lensi mendengar percakapan itu.
" Ya Tuhan...jadi dia benar-benar ingin berpoligami? bahkan dia ingin minta bantuan Alex, buat memuluskan rencananya itu? ah...aku benar-benar tidak sanggup harus menunggunya bicara, dan kemudian menikahi wanita lain. Aku harus bagaimana sekarang?" batin Lensi.
Setelah Ibrahim mengakhiri percakapan itu, Lensi bergegas masuk sembari membawa secangkir kopi.
"Makasih ya? emm...oh ya, nanti malam aku mau ngunjungi teman sebentar, kamu baik-baik dirumah ya?"
"Ya bang." Jawab Lensi tanpa protes dan bertanya tentang kepergian Ibrahim.
*****
Waktu menunjukkan pukul 7 malam, ketika Ibrahim pamit pergi. Lensi menatap kepergian Ibrahim lewat jendela.
"Huffftt...haruskah aku menghadapinya secara langsung, saat dia ingin meminta izin buat berpoligami? atau dia malah menikahi Fatimah secara diam-diam dan meminta bantual Alex. Setelah semuanya selesai, barulah dia memberitahuku?"
"Kalau itu benar, aku benar-benar tidak sanggup. Lebih baik aku pergi dari sini, aku takut tidak bisa menahan diri dan tangisku pecah saat itu juga,"
Lensi menghubungi Arman karena ingin meminta bantuan pria itu. Dia sudah bertekad ingin pergi dari rumah itu.
"Ya Len?" ucap Arman diseberang telpon.
"Bang. Aku boleh minta bantuan abang nggak? tolong carikan aku rumah yang agak besar. Harga sekitar 1 sampai 2 milyar tidak masalah," tanya Lensi.
"Oke. Besok abang akan kabari kamu," ujar Arman.
"Makasih bang," ucap Lensi.
Lensi dan Arman mengakhiri percakapan itu. Lensi memutuskan untuk tidur, namun matanya sama sekali tidak bisa terpejam, sampai Ibrahim datang.
Waktu menununjukkan pukul 10 malam, saat Ibrahim pulang. Sementara Lensi mengalihkan kegusarannya membaca buku komik Conan, yang sudah dia baca berulang-ulang.
"Kamu belum tidur?" tanya Ibrahim.
__ADS_1
"Belum ngantuk bang." Jawab Lensi.
"Emm...besok sepertinya aku nggak ke kantor dulu. Aku mau menemani temanku buat melamar kekasihnya besok," ujar Ibrahim.
Deg
Jantung Lensi seperti ditikam dengan belati. Darahnya terasa terhempas dari ketinggian. Ditelannya ludah yang terasa nyangkut ditenggorokkannya.
"Secepat ini? secepat inikah semuanya harus berakhir? disaat cintaku sedang tumbuh bersemi, dia akan membagi cintanya yang bahkan sama sekali belum aku dapatkan," batin Lensi.
"Gitu ya bang? aku juga sepertinya nggak bisa ngantor besok. Okta minta ditemani buat cari rumah," ujar Lensi.
"Loh kenapa dengan rumahnya yang sekarang? aku lihat rumahnya cukup nyaman," tanya Ibrahim.
"Nggak tahu tuh Okta. Ya ini baru rencana, kalau nggak cocok juga nggak jadi." Jawab Lensi.
"Apa mau minta aku rekomendasikan sama temanku? dia punya teman yang biasa jual beli property gitu," tanya Ibrahim.
"Tidak usah bang. Sebenarnya Okta sudah ada rekomendasi dari temannya juga. Kali aja cocok." Jawab Lensi.
"Kabari saja kalau belum dapat rumahnya, nanti aku akan temani cari," ujar Ibrahim.
"Makasih bang,"
"Emm. Ayo kita tidur," ujar Ibrahim.
"Abang nggak mau aku bacain surat Ar-Rahman?" tanya Lensi.
"Mau dong. Baca yang keras ya? aku sambilan cuci muka di kamar mandi," ujar Ibrahim.
Lensi mulai melantunkan surat Ar-Rahman untuk kekasih hatinya itu. Namun kali ini suara itu sedikit bergetar, karena Lensi sedang menahan tangisnya. Dia begitu menghayati bacaannya, sembari mengingat kebersamaannya dengan Ibrahim selama ini. Air matanya meleleh ke pipi, dan itu dilihat oleh Ibrahim yang tanpa dia sadari sudah berada dihadapannya.
"Begitu menghayatinya kamu, sampai kamu menangis seperti itu," ucap Ibrahim setelah bacaan Lensi selesai.
"Ah...maaf bang. Lebay sekali ya?" ucap Lensi sembari menyeka air matanya.
"Ayo kita tidur," ujar Ibrahim yang segera berbaring disamping Lensi.
"Bang,"
"Hem?"
"Bolehkah malam ini dinda tidur dipelukkan abang?" tanya Lensi.
Ibrahim menatap Lensi, hingga Lensi jadi gugup.
"Lensi kamu apa-apaan sih? kamu sudah tahu hatinya bukan untukmu, masih aja cari kesempatan," batin Lensi.
"Tapi...anggap saja ini pelukkan kita yang terakhir,"
"Hehehe...nggak apa kalau abang nggak mau. Yuk kita bobok," ucap Lensi yang langsung membelakangi Ibrahim.
"Aku akui, aku ini sudah keterlaluan. Hampir sebulan kami bersama, tapi aku belum menunaikan kewajibanku sebagai seorang suami. Dia juga tidak menuntut banyak hal dariku. Tunggu sampai aku menyelesaikan semuanya," batin Ibrahim.
Ibrahim mendekat kearah Lensi, dan melingkarkan tangannya ditubuh istrinya itu.
"Eh?" Lensi terkejut dan berbalik badan.
Lensi menatap Ibrahim, mata mereka beradu. Lensi meraih wajah Ibrahim, dan membelainya dengan lembut.
"Andai aku punya keberanian saat ini. Tapi meskipun aku ingin, aku harus menahannya. Demi harga diriku yang tegak sempurna," batin Lensi.
__ADS_1
"Ingin rasanya aku melabuhkan ciumanku dibibirnya. Kira-Kira dia akan menolakku atau tidak ya? ah...Baim, ungkapkan dulu perasaanmu padanya. Dia sudah bilang menyukai Alex, kamu harus pastikan dulu kalau dia menyukaimu," batin Ibrahim.
Lensi masuk kedalam pelukkan Ibrahim. Ibrahim memeluknya dengan erat. Dan malam ini mereka tidur saling memeluk satu sama lain.