
Lensi menekan beberapa digit angka dilayar depan pintu apartemen. Suasana apartemennya sangat sepi, karena semua teman-temannya sudah pulang. Lensi bergegas membersihkan diri, dan setelah itu dia tidur. Matanya benar-benat mengantuk, terlebih tubuhnya sangat lelah.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, saat dirinya terbangun karena perutnya mulai merasa lapar. Lensi yang sempat membeli ponsel setelah menjual anting-antingnya, segera menghubungi Okta.
"Hallo," suara Okta sedikit terganggu, karena gadis itu tengah mengunyah gorengan yang baru dimasukkannya kedalam mulutnya.
"Ta. Ini gue Lensi," ujar Lensi.
Bruaaaarrr
Okta langsung menyemburkan makanan yang ada dalam mulutnya.
"Dimana loe?" tanya Okta.
"Di apartemen. Tolong hubungi yang lain, suruh ngumpul ya. Suruh pak Karman juga bawa uang 150 juta itu. Terus bawa juga uang yang 100 juta di amplop coklat. Sekalian hubungin bang Arman suruh ngumpul juga ya?"
"Gue bawa apa nih buat camilan ngumpul?" tanya Okta.
"Nggak usah. Biar gue yang siapin," ujar Lensi.
"Ya udah. Gue hubungin yang lain dulu ya?"
"Emm."
Setelah percakapan mereka berakhir, Lensi bergegas mencuci muka dan turun kebawah untuk mencari makanan. Lensi memutuskan membeli 2 ember fried chiken, dan beberapa kaleng minuman bersoda. Lensi juga mampir ke mini market untuk membeli makanan ringan, dan beberapa bungkus rokok. Setelah dirasa sudah cukup, diapun kembali pulang ke apartemen.
Lensi menyiapkan semua makanan diatas meja sofa ruang tamu. Dia ingin merayakan kemenangan bersama teman-temannya. Setelah menunggu hampir 25 menit, teman-temannya pun datang. Hal pertama kali yang mereka lakukan saat melihat Lensi adalah, memeluk gadis itu bersamaan. Ada air mata haru yang menetes disudut mata mereka.
"Ayo kita rayakan kemenangan kita bersama," ujar Lensi.
"Ajib...ayam goreng euy," ucap Riko yang mengambil posisi lebih dulu.
"Ini uang yang aku simpan," ujar Karman.
"Dan ini uang 100 jutanya," ucap Okta.
Arman terlihat datang belakangan. Pria itu datang seorang diri, dia melepas jaketnya saat akan duduk disebuah sofa.
"Makasih abang mau datang," ujar Lensi.
"Abang pasti datang kalau kamu yang undang," ucap Lensi.
"Jadi sebenarnya kamu kemana?" tanya Okta sembari meletakkan 3 potong ayam dipiring, dan meletakkan satu mangkok kecil saus sambal. Okta kemudian menyodorkan ayam itu untuk Arman.
__ADS_1
"Aku nyasar ke pesantren." Jawab Lensi sembari mencocol ayam goreng kedalam mangkok saus.
"Pesantren gimana? apa mereka mempersulitmu?" tanya Mawan.
"Tidak. Aku malah mendapat jodoh dadakkan." Jawab Lensi dengan santai.
"Jodoh dadakkan gimana?" tanya Karman.
"Tiga hari lagi aku akan menikah dengan anak Ustad." Jawab Lensi sembari memasukkan ayam goreng kedalam mulutnya.
Bruuaaaarrrr
Okta, Riko, Mawan, dan Karman yang tengah meneguk minuman kaleng, tiba-tiba kompak menyemburkan minuman mereka.
"Eh? ma-maaf bang," ujar Riko yang tidak enak terhadap Arman.
"Tidak masalah." Jawab Arman dengan santai, sembari mengunyah makanannya.
"Loe pasti bercanda kan Dew?" tanya Okta.
"Gue serius." Jawab Lensi.
"Tapi nggak dengan Ustad juga kali Dew. Kok kesannya bertolak belakang banget dengan kehidupan kita. Ibarat kata, dunia itu dunia terlarang bagi kita," ucap Riko.
"Ho'oh Dew. Cari yang lain aja deh. Loe kawin ama anak Ustad, mau dikasih makan apa? dibacakan ayat-ayat perut loe nggak bakalan kenyang," timpal Mawan.
Arman jadi terkekeh mendengar ucapan teman-teman Lensi.
"Kamu nggak usah dengerin teman-teman loe yang ahli neraka ini. Lagian kalian ini aneh, kenapa nggak mendukung si Lensi buat jadi orang baek. Bilang aja sebenarnya kalian nggak rela ngelepas si Lensi buat orang lain kan?"
"Kalian ini udah pada tua, seharusnya kalian mendukung teman kalian buat lebih maju," sambung Arman.
"Maju apaan bang? Ustad nggak punya gaji, Lensi nggak bakalan kenyang kalau di suruh. ngaji doang," ujar Mawan.
"Aku sudah menyetujuinya. Lagian aku sudah membuat anak ustad itu gagal menikah. Jadi aku harus bertanggung jawab buat menggantikan posisi wanita itu buat jadi istrinya."
"Kalian tidak usah khawatir. Kalau nanti diperjalanan aku nggak betah, nanti aku pasti minta pisah. Jangan dibuat pusing hidup ini," sambung Lensi.
"Tapi kan loe udah pulang ke rumah Dew. Kabur aja sekalian," ujar Mawan.
"Nggak Wan. Gue udah janji sama seseorang kalau gue pasti kembali kesana. Dan gue nggak bisa ingkar janji," ucap Lensi.
"Ya elah Dew. Kayak loe nggak pernah bohong aja," ujar Riko.
__ADS_1
"Dia seorang ibu. Wajahnya mengingatkan gue dengan nyokap. Dia orang baik, gue nggak bisa nyakitin orang yang sudah memberikan kepercayaannya buat gue," ucap Lensi.
"Abang mendukungmu," ujar Arman.
"Makasih bang," ucap Lensi.
"Ini buat abang," sambung Lensi sembari menyodorkan uang 250 juta dihadapan Arman. Nanti akan aku transfer 250 juta lagi buat dibagikan ke anak buah abang," sambung Lensi.
"Tidak perlu. Kalau kamu memberi abang uang, artinya pertolongan abang terasa minta dibayar," ucap Arman.
"Nggak gitu bang. Aku juga banyak menang. Duit judi 300 milyar terlalu banyak untukku. Uang itu akan aku pakai buat membeli sesuatu yang berharga," ujar Lensi.
"Baiklah, kalau begitu abang terima. Anak buah abang pasti senang mendapat rejeki ini," ucap Arman.
"Kalian kirim nomor rekening kalian ke WA ku. Biar aku transfer saja jatah kalian," ucap Lensi.
Lensi kemudian menyodorkan ponsel barunya dihadapan Okta.
"Apaan nih?" tanya Okta.
"handphone. Mana ponsel gue?" tanya Lensi.
Okta meraih ponsel Lensi yang dia letakkan di dalam jaket bagian dalam, dan kemudian menyodorkannya pada Lensi.
"Maaf. Saat jatuh ke air, ponselmu hilang. gue beliin aja yang baru buat loe," ujar Lensi.
"Repot-Repot Dew. Jadi itu ya alasanmu minta nomor telpon bokap loe?" tanya Okta.
"Ya." Jawab Lensi sembari kembali menyantap ayam gorengnya.
"Bagaimana? bokap loe bersedia?" tanya Okta.
"Nggak." Jawab Lensi.
Karman menggelengkan kepalanya kearah Okta, agar gadis itu tidak lagi bertanya tentang hal sensitif itu.
"Apa kami boleh menghadiri pernikahanmu Dew?" tanya Karman.
Lensi menghentikan gerakkan tangannya. Dia melupakan hal itu. Seharusnya dia bahagia, disaat orang tuanya tidak sudi menghadiri pernikahannya, teman-temannya justru antusias ingin menghadiri pernikahan itu.
"Aku akan komunikasikan dulu dengan pihak mereka. Kalau aku sih sangat senang, tapi aku tidak tahu dimana pernikahan itu akan berlangsung," ucap Lensi.
"Kami tunggu kabar itu secepatnya Dew," ujar Riko.
__ADS_1
"Emm." Lensi mengangguk.
Malam itu menjadi malam yang panjang untuk Lensi dan para sahabatnya. Mereka kemudian melanjutkan dengan acara karaokean bersama, hingga mereka tertidur di ruang tamu itu.