MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
88. Dadakkan


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Arman dengan suara dingin.


Okta menelan ludahnya sendiri. Bagaimana dia bisa mengungkapkan perasaannya, sementara dirinya saja sangat takut dengan pria itu.


"Ba-Bang. A-Abang sibuk tidak?" tanya Okta basa-basi.


"Katakan dengan cepat! jangan berbasa basi." Jawab Arman.


"Benar kata nyak. Gimana dia mau cepat laku? ngomongnya aja segalak harimau," batin Okta


Sementara Rogaya yang diam-diam menguping hanya bisa menahan tawanya, karena Okta sengaja membuat pengeras suara pada ponselnya.


"A-Aku ada yang ingin dibicarakan sama abang. Apa abang bisa ketemuan?" tanya Okta.


"Apa itu penting? kalau nggak penting lebih baik nggak usah." Jawab Arman.


"Eh? pen-penting bang. Sangat penting malah," ujar Okta.


"Apa ini soal Lensi? kalau bukan soal dia, mending nggak usah." Jawab Arman.


"Apa dimata abang cuma Lensi saja yang penting? aku kan perempuan juga bang? teman Lensi juga. Abang pilih kasih tahu nggak? apa karena Lensi lebih cantik dari aku? lebih pintar? lebih segalanya? jadi abang cuma perhatian sama dia?" tanya Okta panjang lebar penuh emosi.


"Eh?" Arman jadi kebingungan dan terdiam.


Sementara Okta yang entah mengapa dia jadi cemburu, sejak tahu perasaannya pada Arman yang tidak biasa.


"Katakan kamu mau ketemu dimana?" tanya Arman.


"Dimana abang mau menemuiku?" tanya Okta balik.


"Aku mau pulang kerumah. Sekarang aku ada dirumah adikku. Kamu datang saja kerumahku, aku malas pergi keluar lagi." Jawab Arnan.


"Oke." Jawab Okta.


Arman segera mengakhiri percakapan itu secara sepihak. Yang membuat Okta jadi kesal.


"Dasar perjaka tua sialan. Udah tua, kaku lagi. Sama kakunya kayak patung pancoran. Nyebelin! untung aku cinta, kalau nggak udah aku lempar ke empang buaya," gerutu Okta.


"Emang berani?" tanya Rogaya.


"Kagak." Jawab Okta sembari beranjak dari tempat duduknya.


Okta segera mengganti pakaian dan berdandan secantik mungkin. Hal yang sudah lama tidak pernah dia lakukan, karena dia sama sekali belum pernah berpacaran. Sementara itu ditempat berbeda, Sammy terkekeh saat panggilan yang menggunakan pengeras suara itu sudah terputus.

__ADS_1


"Pantasan saja abang nggak laku-laku. Dikode-kode cewek aja nggak ngerti-ngerti. Apa abang nggak tahu, atau memang pura-pura nggak tahu, kalau cewek itu suka sama abang?" tanya Sammy.


"Su-Suka? jangan ngawur kamu. Mana mungkin dia suka sama abang. Dia itu masih gadis kecil. Seumuran Lensi. Baru sekitar 23 tahunan." Jawab Arman.


"Loh kenapa? cinta nggak mandang usia. Lagian mau nyari dimana lagi daun muda begitu. Ingat umur, diumur begitu bukan saatnya pilih-pilih lagi. Kalau ada yang mau hajar saja," ucap Sammy.


"Sembarangan kamu." Jawab Arman.


"Mau aku kasih trik nggak? biar abang tahu dia suka sama abang apa enggak?" tanya Sammy.


"Ap-Apa?" tanya Arman.


"Abang cium saja gadis itu. Kalau dia tidak menolak, itu artinya dia memang suka sama abang." Jawab Sammy.


"Ckk...kamu itu emang nggak cocok jadi guru. Sangat menyesatkan! pantas saja nabung duluan," ledek Arman sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Abang belum tahu rasanya. Nikmat banget bang...." teriak Sammy yang masih bisa didengar jelas oleh Arman.


"Apa iya gadis ingusan itu suka sama aku? apa sudah saatnya cincin itu memilikki tuannya? ah...bagaimana kalau aku salah mengira? ckk...ini gara-gara Sammy. Gara-Gara dia, pikiranku jadi kotor," gerutu Arman sembari menarik gas motornya semakin kencang.


Arman jadi teringat saat Okta memarahinya di rumah sakit. Hal yang tidak pernah dia dapatkan selama ini. Belum pernah ada orang yang berani memarahinya selain gadis itu. Arman juga jadi teringat saat Okta menatapnya dengan tatapan aneh. Mengingat itu semua, Arman jadi tersenyum tipis dan semakin membuat motornya melaju dengan kencang.


Saat tiba di rumah, Arman melihat Okta sudah sampai lebih dulu. Dia cukup heran, karena dandanan Okta sedikit lebih feminim dan lebih cantik dari biasanya. Okta dengan gugup mengekor dibelakang Arman. Pria itu masih saja berwajah datar dan dingin.


Okta mengendap-endap pergi dari belakang Arman. Arman menghentikan langkahnya, karena dia tidak mendengar langkah kaki Okta. Pria itu mengerutkan dahinya saat melihat Okta mengendap seperti tikus yang mencuri ikan. Dengan langkah besar Arman berjalan kearah Okta dan menarik baju gadis itu.


Glekkkkk


"Matilah aku," batin Okta.


"Mau kemana? kenapa tingkahmu seperti maling begitu?" tanya Arman.


"A-A..."


"Cepatlah duduk! jangan banyak membuang waktuku," ujar Arman.


"Abang sibuk? ya sudah abang kerja saja, mungkin lain kali kita bisa ngobrol," ucap Okta.


"Siapa yang ingin ngobrol denganmu? kamu bilang ada yang penting. Cepat duduk!" ujar Arman.


"A-Aku...."


Mata Arman menatap tajam, hingga Okta jadi tertunduk. Tanpa Okta tahu, Arman mengulas senyum tipis. Okta segera duduk disalah satu sofa, dengan tangan saling meremas satu sama lain.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Arman yang duduk disebelah Okta.


"N-Nggak jadi bang. A-Aku pulang saja. Kapan-Kapan saja." Jawab Okta.


"Ya ampun Okta. Kamu akan membuat harimau ini marah. Dia pasti mengira kamu mempermainkannya," batin Okta.


"Kamu diam disini. Aku masuk sebentar. Awas jangan berani kabur! kalau kabur, aku gorok leher kamu!" ucap Arman yang membuat Okta bertambah ketakutan.


"Matilah kamu Okta. Udah tahu harimau, kok malah minta dijadikan istri. Udah pasti cepat masuk kuburan kamu," batin Okta.


Selang 5 menit kemudian Arman kembali dan duduk disebelah Okta.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan? katakan!" ucap Arman.


"Nggak jadi bang. Aku mau pulang aja, nyak sudah nelpon minta dibantuin dagang." Jawab Okta asal dan segera beranjak dari tempat duduknya.


Tap


Brukkkk


Cup


Arman menarik tangan Okta hingga gadis itu jatuh kembali diatas sofa. Arman kemudian mencium bibir Okta dan me**matnya, hingga membuat jantung Okta dan Jantungnya berdegup dengan kencang. Okta yang semula melotot karena terkejut, akhirnya memejamkan mata dan mengalungkan kedua tangannya dileher Arman.


Arman tersenyum senang dalam hati. Jurus Sammy yang pria itu ajarkan mendadak Arman pakai karena dia ingin menguji kebenaran tentang gadis itu.


Hah


Hah


Hah


Nafas keduanya tersenggal, setelah ciuman itu berakhir. Okta tertunduk, karena dia terlalu malu menatap pria yang berada dihadapannya itu.


"Aku tidak perlu bertanya lagi tentang perasaanmu padaku seperti apa. Dengan kamu membalas ciuman dariku, aku akan menganggap itu sebuah jawaban," ujar Arman


Tap


Arman tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil. Kotak usang berwarna biru tua. Arman kemudian membuka kotak yang ternyata berisi sebuah cincin dengan motif jadul. Cincin itu adalah cincin peninggalan almarhum ibunya sebelum meninggal. Ibunya ingin agar cincin itu disematkan dijari manis calon istrinya.


"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Arman.


Tentu saja Okta terkejut menerima lamaran dadakkan itu. Tapi dia sangat senang, dan bersorak dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2