MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
53. Kesedihan Lensi


__ADS_3

"Tersenyum dan tertawalah kalian untuk sementara waktu. Tapi aku pastikan itu tidak akan berlangsung lama. Suatu saat nanti, aku akan merebutnya kembali. Aku akan mengambil apa yang menjadi hakku," batin Lensi.


"Heh...dasar wanita bodoh. Kamu itu memang sama persis dengan ibumu. Sok pintar, tapi pada kenyataannya bodoh tidak ketulungan. Memang disini paling cocok untuk anak bodoh sepertimu," batin Marini.


"Oh ya, kakak iparku mana ya? atau lagi ngajar ngaji?" ledek Vega.


"Tidak ada urusan denganmu. Ngajar ngaji juga yang penting punya suami. Daripada situ? pengen ngerayu mantan tunangan orang saja nggak becus," sindir Lensi.


"Hah...sudahlah tidak usah bertengkar lagi. Kamu baik-baiklah disini. Mulai sekarang kita tidak usah saling ganggu lagi," ucap Surya sembari berdiri dari tempat duduknya yang disusul oleh Marini dan Vega.


Lensi mengepalkan tangannya dengan erat, dan kemudian berdiri tiba-tiba.


"Surya," Lensi menyeru nama Surya tanpa ada embel-embel sebutan papa atau tuan. Rasa hormatnya pada pria itu seakan lenyap seketika


"Jika suatu saat nanti hidupmu menderita karena keangkuhanmu itu, maka jangan pernah datang padaku untuk meminta bantuan dalam bentuk apapun. Karena kalau pertalian darah bisa aku putuskan, maka aku akan membeli cara itu dengan cara apapun," ucap Lensi dengan lantang.


Tanpa menoleh, Surya kemudian melenggang pergi dengan senyum kemenangan dibibinya.


Brukkk


Lensi kembali terduduk disofa. Aisyah mendekati Lensi dan memeluk menantunya itu.


"Umi. Apa aku memang anak yang buruk dan tidak berguna? kenapa semua orang tidak menginginkan aku. Kenapa orang tuaku sendiri tega mengkhianati aku. Hiks...." Lensi terisak dalam pelukkan Aisyah.


"Perbanyaklah beristigfar nak. Kamu tidak usah memikirkan orang tuamu itu. Biarkan dia membuangmu. Tapi masih ada kami yang akan selalu menyayangimu," Ucap Ustad Gofur.


"Iya sayang. Papa kamu sudah keliru. Umi bisa merasakan, kalau kamu itu seorang putri yang hebat. Kamu juga mandiri," timpal Aisyah.


"Abi. Apa aku salah bila membalaskan dendam ibuku?" tanya Lensi.


"Dendam ibumu?" tanya Ustad Gofur..


"Ya. Sebenarnya mama bukan meninggal karena kecelakaan, tapi karena dibunuh. Saat itu aku berusia 10 tahun, jadi aku belum mengerti dan belum bisa mencari tahu tentang penyebab kematian mama."


"Tapi suatu ketika, aku mendengar sendiri kalau dalang dari kematian mama, adalah surya dan istrinya itu. Yang membuat sakit hati mama adalah, surya menikahi wanita itu secara diam-diam ketika usia pernikahan mereka baru 2 tahun. Mereka juga memiliki anak dari hasil perselingkuhan itu," sambung Lensi.


"Abi. Apa yang harus aku lakukan. Aku punya misi ingin merebut kembali semua milik keluarga ibuku yang sudah mereka kuasai. Sekarang aku sedikit-sedikt ingin belajar tetang mengelola perusahaan. Agar aku tidak diremehkan, saat akan merebut perusahaan itu lagi," ucap Lensi.


Ustad Gofur tampak terdiam. Sebagai seorang Ustad besar, tentu niat Lensi itu sangat bertentangan dengannya.


"Nak. Di agama kita tentu memiliki sifat pendendam sangat tidak dianjurkan. Tapi sebagai mahkuk biasa, tentu saja kita memiliki sifat marah dan benci pada orang yang sudah menyakiti kita."


"Kalau niatmu ingin mengmbil hakmu, Abi akan dukung kamu 1000 persen. Tapi gunakanlah dengan cara terhormat. Mereka meremehkanmu, maka cara yang tepat memang benar kamu harus berilmu,"


"Datanglah pada Baim. Dia pasti bisa megajarimu dengan cepat. Dia sangat cedas di berbagai bidang. Apa kamu butuh Abi bantu bicara dengan Baim?" tanya Ustad Gofur.


"Eh? ti-tidak usah Abi. Nanti Echi akan coba bicara perlahan," ujar Lensi.


"Bagaimana hubunganmu dengan Baim? apa dia bersikap baik padamu?" tanya Aisyah.


"Bang Baim baik kok Mi. Baik banget malah." Jawab Lensi.


"Baguslah. Jadi Umi dan Abi bisa cepat gedong cucu," ucap Aisyah sembari terkekeh.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, Ibrahim sejak tadi melihat semua apa yang terjadi sejak ada keberadaan Surya dan keluarganya.


"Apa aku sudah salah paham selama ini? jadi dia begitu sangat menderita. Meski begitu, dia tidak mengatakan apapun pada abi dan umi tentang sikapku padanya. Lensi, sebenarnya kamu itu wanita seperti apa? haruskah aku benar-benar memberikan kesempatan pada wanita sepertimu?" batin Ibrahim.


"Assalammu'alaikum," ucap Ibrahim yang mengagetkan semua orang karena kedatangannya yang tiba-tiba.


"Wa'alaikum salam." Mereka menjawab serentak.


Lensi bergegas menghapus air matanya, karena tidak ingin Baim melihat kelemahannya itu. Namun sayangnya Baim sudah menyansikan itu semua.


"Ngapain kamu dipeluk sama Umi? cari perhatian?" tanya Ibrahim yang sengaja mencari gara-gara, untuk mengalihkan kesedihan Lensi.


"Baim. Kenapa kamu datang-datang jahilin istri kamu?" tanya Ustad Gofur.


"Jangan-Jangan Lensi sudah berbohong ya? dia bilang kamu sudah memperlakukan dia dengan baik, tapi sepertinya perkataanmu tidak mencerminkan suami yang baik. Su'udzon bukan mencerminkan orang yang beriman," ucap Aisyah.


"Eh? U-Umi kok bilangnya gitu?" tanya Ibrahim.


"Habisnya kamu ngomongnya sembarangan." Jawab Aisyah.


Tak ada reaksi apapun dari Lensi. Wanita itu hanya diam saja. Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Echi ke kamar dulu ya Bi, Mi," ujar Lensi.


"Ya sudah. Kamu istirahat saja," ucap Aisyah.


Lensi berlalu dari hadapan Ibrahim. Entah mengapa Ibrahim merasa tidak terima karena Lensi cueki.


"Emang enak di cueki," ujar Aisyah.


Ibrahim kemudian pergi ke kamar, dan mendapati Lensi tengah berbaring membelakangi pintu. Lensi memejamkan matanya, karena dia malas buat berdebat dengan Baim. Suasana hatinya benar-benar buruk saat ini. Bahkan meski suara ponselnya berderit, Lensi juga mengabaikannya.


"Sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik. Ternyata mulutnya bisa berhenti ngoceh kalau sedang ada masalah ya," batin Ibrahim.


"Tapi kenapa aku merasa sepi kalau tidak mendengar suaranya yang bawel itu? apa aku kerjain saja dia ya?"


"Hey...ponselmu berderit terus tuh. Aku mau istirahat. Nggak bisa pejamin mata kalau bunyi terus," ucap Ibrahim.


Blammmm


Lensi membuka matanya seketika. Dengan malas dia meraih ponselnya, dan melihat Oktalah yang menelpon.


"Ya Ta?" tanya Lensi.


"Kangen sama loe. sejak loe nikah, loe nggak pernah ngumpul lagi sama kita. Ketemuan yuk?" tanya Okta.


Lensi melirik kearah Ibrahim. Pria itu berpura-pura sibuk dengan ponselnya.


"Ntar gue kabarin beberapa detik lagi bisa apa enggaknya." Jawab Lensi.


"Oke," ujar Okta.


Lensi mengakhiri percakapan itu, dan menoleh kearah Ibrahim.

__ADS_1


"Bang,"


"Hem?"


"Dinda izin keluar ketemu teman." Jawab Lensi.


"Siapa?" tanya Ibrahim tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Okta." Jawab Lensi.


"Dimana?'


"Jalan pangeran, gang mawar. Rt. 16 Rw. 06 No. 169." Jawab Lensi dengan lengkap.


"Pergilah," ujar Ibrahim.


Lensi segera bangkit dari tempat tidur dan segera melangkah pergi menuju pintu. Namun langkahnya terhenti, dan kembali berbalik ke arah Ibrahim.


Cup


Lensi mencium pipi Ibrahim sebagai pengganti mencium tangan Ibrahim, yang membuat pria itu kembali berdebar.


"Nanti Dinda akan langsung pulang ke rumah," ujar Lensi.


"Kalau begitu jangan lupa pamit dulu sama Abi dan Umi," ujar Ibrahim.


"Ya." Jawab Lensi.


Lensi kemudian pergi dan menghilang dibalik pintu.


"Ah...kenapa dia selalu membuat jantungku berdebar. Ini nggak bagus kalau dibiarkan lama-lama. Tapi kenapa aku tidak bisa menolak, saat dia menciumku?" ucap Ibrahim lirih.


Setelah berpamitan dengan mertuanya, Lensipun pergi dengan motor sportnya. Lensi juga sudah menghubungi Okta, agar dia menghubungi teman-temannya yang lain buat berkumpul.


"Aha...pengantin baru akhirnya datang juga," ucap Riko.


"Maaf baru sempat berkunjung di rumah baru Nyak," ucap Lensi sembari mencium tangan Rogaya yang baru meletakkan nampan yang berisi es teh diatas meja.


"Kagak ngape-ngape. Makasih yak? Okta bilang ini hasil kerja keras elu jadi model. Karena elu berbakat, mangkanye elu dapat bonus gede. Elu jangan boros-boros bagiin duit ama orang laen. Ntar laki lu kagak demen," ucap Rogaya.


Lensi melirik kearah teman-temannya yang sedang mengulum senyum mereka atas kebohongan Okta.


"Kagak mungkin marah nyak. Laki si Dewi pan seorang Ustad. Pastinye disuruh sering sedekah diye," timpal Karman.


"Betul juga. Kapan-Kapan ajak dong laki lu dimari. Nyak juga pan pengen kenal. Kata si Okta laki lu gantengnya kebangetan yak?" tanya Rogaya.


"Alhamdulillah Nyak. Rejeki dari Allah."


Jawaban Lensi membuat teman-temannya tertawa keras, hingga mengeluarkan air mata.


"Kalian kenapa tertawa?" tanya Lensi heran.


"Belum genap sebulan loe kawin ama Ustad. Gaya omongan loe udah ketularan. Tumben-Tumben ngucap syukur loe, apalagi sampai nyebut yang ngasih rejeki." Jawab Mawan.

__ADS_1


"Sialan loe. Gimana kalau gue jadi Ustadzah beneran loe? bakal keluar biji mata loe ntar," cibir Lensi.


Semua teman-temannya kembali terkekeh termasuk Nyak Rogaya.


__ADS_2