MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
132. Lamaran


__ADS_3

"Ssstttt" Iko mendesis kesakitan, saat perawat mulai membersihkan luka pria itu.


Dokter mulai menyuntikkan obat, agar Iko tidak mengalami sakit saat dokter mulai menjahit luka-lukanya.


"Hey...kenapa kamu menangis? aku cuma sedikit terluka, pacarmu ini bukan pergi untuk selamanya," ujar Iko sembari terkekeh saat melihat Gita menangis.


"Iko. Bercandaanmu itu sama sekali tidak lucu. Dari kecil aku sangat takut dengan jarum suntik. Sekarang aku harus menyaksikan kulitmu dicabik-cabik oleh jarum. Rasanya kulitku ikut terjahit," ucap Gita.


"Preman ada yang ditakuti juga rupanya," ujar Iko sembari mencubit pipi Gita.


Dokter dan perawat hanya bisa senyum-senyum menyaksikan kemesraan dua sejoli itu. Setelah luka Iko selesai dijahit, dokterpun memberikan resep untuk Iko.


"Untuk sementara lukanya jangan kena air dulu ya pak. Tiga hari lagi datanglah untuk mengontrol lukanya. Jangan lupa ninum obatnya secara teratur," ucap dokter.


"Baik dok, terima kasih." Jawab Iko.


Iko dan Gita akhirnya pergi dari rumah sakit.


"Eitttt...kamu mau apa?" tanya Gita.


"Mau nyetirlah. Masak mau berenang?" ucap Iko.


"Nggak ada setir-setiran. Sana minggir! biar aku yang menyetir. Enak aja mau nyetir, aku masih belum merasakan surga dunia. Kalau kamu nabrak tiang listrik gimana?" Gita kembali mengomel.


Iko tersenyum mendengar omelan kekasihnya itu dan menuruti apa perkataan Gita.


"Jadi ada yang nggak sabar mencicipi surga dunia?" goda Iko, yang membuat Gita jadi tersipu.


"Jangan menggodaku, perhatikan lukamu. Ingat kata dokter jangan kena air dulu. Bila perlu nggak usah mandi selama 3 hari," ucap Gita.


"Iya. Pas kontrol ke dokter, dokternya pingsan karena mencium bau ketekku yang nggak mandi 3 hari." Jawab Iko.


Gita terkekeh mendengar ucapan Iko. Setelah memakan waktu hampir 25 menit, merekapun sampai dikediaman Iko.


"Mobilmu aku bawa, biar tanganmu nggak keganjenan nyetir. Besok istirahat kerja dulu, nanti akan aku berikan surat sakitmu," ucap Gita.


"Siap tuan putri," ujar Iko.


Cup


Gita mencium pipi Iko, namun kali ini Iko menahan wajah Gita. Kini Iko yang mencium bibir kekasihnya itu, ciuman pertama sejak mereka memutuskan berpacaran.


"Ah...sial.Itulah sebabnya aku nggak mau ciuman, karena inilah yang aku takutkan," ujar Iko setelah pagutan mereka terlepas.


"Ke-Kenapa? kamu nyesel menciumku?" tanya Gita.


"Aku nyesel kenapa nggak dari dulu, kalau tahu ciuman itu sangat enak." Jawab Iko.


Pukkk


Gita memukul lengan Iko tepat pada luka pria itu.


"Sayang. Kamu mau membunuhku ya? aduhh...sakittt,"


"Ya ampun sayang maaf, aku lupa." Jawab Gita sembari meniup-niup luka Iko.


Iko menatap wajah cemas Gita, dan mengusap puncak kepala kekasihnya itu.


"Tunggulah! paling lambat bulan depan kita akan menjadi suami istri. Aku sudah merasakannya, jadi aku sudah tidak sabar jadi pengantin," ujar Iko.

__ADS_1


"Kamu mau kupukul lagi? baru tahu ciuman enak, ngomongnya gitu terus. Dasar mesum;" ledek Gita.


"Sana keluar!" sambung Gita.


Iko terkekeh mendengar omelan Gita, pria itu kemudian turun. Sementara Gita melaju, setelah membunyikan klakson sebanyak satu kali.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Tin


Tin


Tin


Gita menyembunyikan klakson di depan rumah Iko. Hari ini dia ingin menemani Iko untuk kontrol ke rumah sakit.


"Hati-Hati ya," ujar Ibu Iko saat mengantar putranya itu kedepan teras.


"Kami pergi dulu tante," ucap Gita.


"Ya. Hati-Hati,"


Gita dan Ikopun pergi ke rumah sakit. Karena Iko mematuhi saran dokter, luka pria itu cepat kering dan tidak perlu melakukan kontrol ulang.


"Bagus pak Iko. Dengan begitu tidak ada acara pembatalan lamaran karena alasan luka beset," ledek Gita.


"Meski ada badai tsunami, aku akan tetap melamarmu sayangku," ucap Iko sembari mencubit pipi Gita.


Gita jadi tersipu mendengar ucapan Iko.


"Sekarang aku lapar. Belokkan mobilnya kemanapun yang ada jualan makanan," ucap Iko.


"Makan apa saja yang penting kenyang." Jawab Iko.


Gita akhirnya memutuskan mereka mampir di restauran padang. Setelah menyantap makanan, merekapun bergegas pulang.


"Sekarang biarkan aku membawa mobilku pulang, kalau nggak dibawa pulang nantinya nggak bisa dipakai buat acara lamaran kita akhir pekan ini," ujar Iko.


"Iya baiklah. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Aku nggak mau jadi janda sebelum waktunya," ucap Gita.


"Siap." Jawab Iko.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Atas dasar apa kehidupannya lebih baik dariku. Kariernya bagus, dapat calon suami kaya dan tampan. Apa pria itu buta? tidak bisa membedakan mana tuan putri, man upik abu," batin Vega.


Vega saat ini memang tengah kesal. Pasalnya hari ini adalah hari lamaran antara Gita dan Iko. Dirinya memang diundang untuk hari bahagia adiknya itu. Dan dia sangat tidak suka melihat senyum terbit dari bibir Gita.


"Kamu terlihat aneh dengan kebaya itu. Aku jadi membayangkan saat kamu bertarung menggunakan kebaya," bisik Iko.


"Berhentilah meledekku. Kamu juga terlihat seperti bapak-bapak dengan batik ini," bisik Gita, yang membuat Iko jadi terkekeh.


"Wah-Wah sepertinya kita harus segera menikahkan mereka. Ini sangat berbahaya besan, didepan kita saja mereka sudah main bisik-bisik," ujar Handoko.


"Benar besan. Aku nggak mau kita punya cucu sebelum waktunya," timpal Salman yang dijawab kekehan semua orang.


"Jadi sebaiknya kita putuskan saja tanggal pernikahan. Jadi kapan kalian ingin mereka menikah?" tanya Handoko.


"Bagaimana kalau bulan depan? bulan depan sudah ada cuti tanggal merah di tanggal 15," ujar Salman.

__ADS_1


"Setuju," ujar Handoko.


"Bulan depan siap-siap yank," bisik Iko.


"Siap-siap apa?" bisik Gita.


"Kita akan melakukan pertarungan yang sebenarnya," bisik Iko.


Griyyuttt


Gita mencubit pinggang Iko hingga pria itu kesakitan.


"Gita, Iko. Kalian ini, untung acaranya hanya sekeluarga saja yang menghadiri," ucap Handoko.


"Iya. Aku ngerasa mereka ini bukan seperti pasangan, tapi seperti berteman," timpal Salman.


Vega hanya bisa memutar bola mata dengan malas saat melihat kemesraan Iko dan Gita. Dan acara lamaran itupun berakhir, keluarga Salman berpamitan pulang.


"Hah...akhirnya selesai juga," Gita bersandar di sofa dengan posisi kaki mengangkang.


Pukkk


Susi memukul kaki Gita yang terlihat sembrono itu.


"Jaga sikapmu itu. Mana ada anak gadis duduknya sepertimu. Nanti bisa kebiasaan di rumah mertuamu," ucap Susi.


"Aku nggak mau tinggal di rumah mertua. Nanti kami akan tinggap di rumah kami sendiri," ujar Gita.


"Sebelum tinggal di rumah sendiri, kamu harus tinggal di rumah mertua dulu," ucap Susi.


"Hah...kenapa harus ada mertua," ujar Gita.


Pukkk


Susi memukul bahu putrinya itu, sementara Gita jadi terkekeh.


"Aku pulang dulu ma. Ada pekerjaan yang harus aku lakukan," ucap Vega.


"Oh ya kak. Apa kakak jadi gabung di perusahaan papa?" tanya Gita penuh sindiran.


"Akan aku pikirkan." Jawab Vega.


"Kakak nggak nginap?" tanya Gita.


"Nggak. Masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan." Jawab Vega.


"Ya sudah hati-hati kalau begitu," ujar Gita.


"Emm." Vega mengangguk.


Vegapun beranjak pergi dari rumah itu.


"Sok sibuk dia ma. Emang dia sibuk kerja apa? palingan buat rencana jahat lagi," ucap Gita.


"Kamu nggak boleh gitu. Siapa tahu dia sedang cari pekerjaan yang bagus," ujar Susi.


"Ja-Jadi mereka tahu kalau aku membuat rencana untuk mereka? jadi merek hanya berpura-pura baik padaku? jangan-jangan soal cleaning service itu, itu adalah ide Gita. Kurang ajar, lihat saja. Aku tidak akan membuatmu berhasil menyingkirkanku," batin Vega


Vega yang belum benar-benar keluar dari rungan itu, tidaj sengaja mendengar percakapan Gita dan Susi. Dan dia sangat dendam pada adiknya itu.

__ADS_1


__ADS_2