
Bagaimana. Apa kamu sudah mengecek bagian mana di kantor kita yang membutuhkan pekerja tambahan?" tabya Handoko pada salah seorang staf HRD.
"Cuma satu pak. Cleaning service." Jawab staf HRD.
"CS? apa benar-benar tidak ada yang lain?" tanya Handoko.
"Tidak ada pak. Semua staf nyaris sudah senior, dan sangat berkompeten. Meskipun ada yang baru bekerja selama setahun, tapi cafa kerjanya sangat bagus. Kita sangat membutuhkan anak-anak muda yang masih sangat energik dan juga berkompeten."
"Baiklah, kamu bisa keluar!" ucap Handoko.
Setelah staf HRD itu keluar, Handoko menghela nafasnya.
"Tapi sebaiknya aku diskusikan dulu keinginan Vega pada Susi dan Gita. Aku tidak mau ada kecemburuan sosial diantara mereka," batin Handoko.
Sementara itu ditempat berbeda Gita tampak melamun di kantin kantornya. Tanpa dia sadar, Iko sudah memperhatikannya sejak tadi. Iko segera menghampiri Gita, bahkan saat pria itu duduk di hadapannyapun Gita tidak menyadarinya.
"Ada apa. Hem?" tanya Iko sembari mengusap puncak kepala kekasihnya itu.
"Mama dan papa mendesak agar kita cepat-cepat naik pelaminan. Sementara aku tahu betul kamu belum siap kearah sana kan?" tanya Gita.
"Siapa bilang? justru aku beranggapan kamulah yang belum siap ke jenjang lebih serius itu." Jawab Iko.
"Kok bisa kamu berpikiran gitu? dimana-mana pihak wanita yang menunggu dilamar, masak iya aku yang minta dilamar," tanya Gita.
"Jadi kamu sudah siap dilamar? terus gimana rencana kita buat beli rumah?" tanya Iko.
"Yang penting Sah saja dulu. Jangan pikirkan dulu hal itu. Setelah menikah baru kita bisa mengumpulkan uang bersama. Atau nanti papa yang akan menyiapkan semuaya." Jawab Gita.
"Aku nggak mau seperti itu. Pokoknya rumah kita harus dari hasil keringat kita berdua," ucap Iko.
"Ya sudah kalau kamu maunya begitu. Jadi kapan kamu dan keluargamu akan datang ke rumah?" tanya Gita.
__ADS_1
"Nanti akan aku kabari lagi. Hal sepetti ini harus dirembukkan dulu dengan orang tuaku. Jangan membuat kesan tergesa-gesa. Yang penting kita sudah mempunyai rencana kearah situ." Jawab Iko.
Gita menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Setelah Gita pulang bekerja, Handoko memanggil gadis itu untuk berdiskusi bersama tentang keinginan Vega yang ingin bergabung ke perusahaan.
"Kalau aku sih nggak masalah. Yang penting jangan tempatkan dia departemen keuangan," ujar Gita sembari menggigit keripik kentang yang ada ditangannya.
"Kenapa?" tanya Handoko.
"Tidak apa. Kalau suatu saat orang-orang kantor tahu dia putri papa, mereka pasti akan bergunjing. Dia orang yang baru masuk bekerja, tapi sudah ditempatkan di tempat seperti itu. Setelah semuanya terkuak, mereka pasti mengira papa pilih kasih." Jawab Gita.
Sebenarnya tidak masalah juga kalau Vega menjabat di departemen itu. Justru karena Vega putri Handoko, itu malah lebih aman untuk mengantur keuangan. Tapi Gita tidak ingin itu terjadi, bukan karena dia iri atau benci terhadap Vega. Tapi sejujurnya Gita memang tidak mempercayai gadis itu. Gita sebisa mungkin mencari bahasa yang halus, agar Handoko tidak tersinggung. Gita hanya berharap Handoko cepat mengetahui seperti apa putrinya itu.
"Benar juga. Lagipula dikantor memang tidak ada lowongan. Yang ada cuma bagian cleaning service, itupun cuma satu," ujar Handoko.
"Nah...itu bagus pa. Kalau suatu saat orang-orang papa tahu dia adalah anaknya papa, orang pasti akan berpikiran positif sama dia. Meski anak seorang direktur, ternyata bos mereka tidak pilih kasih. Dan untuk kak Vega sendiri dia juga pasti mendapat pujian," ucap Gita. Sementara Susi menahan tawanya. Dia tahu betul akal bulus putrinya itu.
"Begitu ya?" ujar Handoko sembari memegang dagunya.
"Tapi papa jangan pikirkan saran Gita. Itu cuma sekedar saran. Semua keputusan tetap berada ditangan papa, kan papa bosnya," sambung Gita.
"Perkataanmu juga masuk akal. Lagi pula Vega sendiri pernah bilang, kalau dia nggak masalah ditempatkan dibagian mana saja. Termasuk jadi OG," ujar Handoko.
"Benarkah? ah...ternyata kak Vega sehumble itu ya? bangga deh punya kakak seperti dia. Ya sudah sekalian uji saja keseriusan kak Vega, dengan begitu papa akan bertambah bangga padanya," ucap Gita.
"Baiklah. Nanti papa akan bicarakan hal ini padanya," ujar Handoko.
"Jangan nanti, sekarang saja. Papa telpon dia, dan buat pengeras suara. Aku juga kangen. sama kak Vega," ucap Gita.
Handoko tersenyum dan meraih ponselnya yang berada diatas meja. Pria parubaya itupun membuat panggilan untuk Vega.
"Hallo pa. Vega baru saja mau nelpon, kangen papa."
__ADS_1
Ucapan Vega membuat Gita memutar bola mata dengan malas. Dia tahu betul kalau ucapan itu palsu.
"Papa ingin membicarakan tentang lowongan pekerjaan yang kemarin. Ternyata departemen keuagan sudah terisi penuh, dan nggak ada lowongan disana. Begitu juga departemen lainnya. Di kantor cuma ada satu lowongan, yaitu cleaning service. Apa kamu mau ditempatkan disana? itu demi membangun citramu," ucap Handoko.
"Jadi dia memang mengincar departemen keuangan? aku tidak akan membiarkanmu berhasil dengan niat busukmu itu," batin Gita.
"Clean-ning service?" tanya Vega.
Gita tersenyum sinis saat mendengar ucapan Vega yang terbata.
"Kamu ingin jadi OG pasti cuma kamufalse. Karena kamu pikir papa nggak mungkin nempatin kamu dibagian yang tidak sesuai dengan bidangmu. Dan aku pastikan aku akan menghancurkan semua angan-anganmu itu," batin Gita.
"Kenapa? ada masalah? bukankah kamu bilang nggak masalah jadi OG? maaf Vega, bukannya papa ingin merendahkanmu. Tapi papa ingin kamu membangun citramu dari bawah. Itu juga bagus nantinya. Jadi orang-orang tidak berpikiran negatif tentangmu dan tentang papa," ucap Handoko.
"Akan aku diskusikan dulu dengan mama." Jawab Vega yang kini tengah menahan ledakkan amarah.
"Baiklah. Nanti kabari papa kalau kamu mau," ujar Handoko.
"Ya pa." Jawab Vega.
"Coba saja aku ada di dekat Vega. Aku ingin sekali melihat wajahnya yang merah karena menahan marah," batin Gita.
Handoko dan Vega mengakhiri perbincangan itu. Tanpa Handoko tahu, Vega mencak-mencak setelah panggilan itu terputus.
"Handoko sialan. Bisa-Bisanya dia nempatin aku dibagian orang rendahan seperti itu. Aku tidak bisa terima ini," Vega mengomel.
"Ada apa?" tanya Marini yang melihat putrinya tampak kesal.
"Aku minta kerjaan sama Handoko dibagian keuangan atau bagian yang lain. Tapi dia malah kasih aku bagian cleaning service. Gila nggak sih ma? rasanya ingin kuinjak-injak itu orang." Jawab Vega.
Marini tampak terdiam. Sesaat kemudian dia tersenyum.
__ADS_1