MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
84. Abang Mencintai Dinda


__ADS_3

"Ah...perasaan tidak bisa dibohongi ya? ternyata aku memang sangat mencintainya. Bahkan dicium dia saja, jantung dan hatiku meletup-letup rasanya. Bolehkah aku egois untuk sekali saja? aku ingin memiliki dia untuk hari ini saja," batin Lensi.


Lensi yang semula berontak, kemudian memejamkan matanya dan mengalungkan tangan dileher Ibrahim. Dia mebalas ciuman Ibrahim dengan naluri yang dia miliki. mendapat respon dari Lensi, tentu saja Ibrahim tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ciuman yang semula lembut dan menuntun, lambat laun menjadi ciuman yang menuntut dan menggairahkan.


Ibrahim dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya. Dan Lensipun melakukan hal yang sama. Pakaian mereka berserakkan dilantai. Ibrahim kemudian membaca doa diatas ubun-ubun Lensi dan kembali memagut lembut bibir Lensi.


"Ah...bang..."


Lensi melengguh, saat Ibrahim membenamkan wajahnya di puncak dada Lensi. Ibrahim dengan gemas memainkan kedua benda yang ukurannya jauh diatas standar itu. Sementara Lensi benar-benar menikmati apapun yang dilakukan Ibrahim padanya.


"Kamu sangat cantik sayang," bisik Ibrahim.


Lensi sama sekali tidak perduli dengan pujian itu. Dia hanya ingin memiliki Ibrahim dalam sehari, dan setelah itu melenggang pergi. Tentu itu hanya ada dalam angan-angannya saja. Karena tanpa dia tahu, setelah ini Ibrahim akan menahannya seumur hidup.


Ibrahim meraih kedua tangan Lensi, dan membuat tangan itu membelai semua otot-otot diperutnya. Lensi akui, tubuh Ibrahim sangat indah. Dia sudah melihatnya berkali-kali, tapi tetap saja dia terpesona dengan tubuh mahluk Tuhan yang paling sexy itu.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Ibrahim.


Lensi tidak menjawabnya, karena dia cukup malu mengakuinya.


"Sayang. Abang ingin memasukimu," bisik Ibrahim yang kembali membuat Lensi jadi gugup.


Ibrahin kembali mencumbu Lensi yang terlihat tegang. Dan perlahan tapi pasti, Ibrahim menekankan miliknya yang membuat Lensi mencengkram punggung Ibrahim.


"Bang...sakittt...." ucap Lensi lirih.


Ibrahim tersenyum saat mendengar Lensi merengek, namun tidak menolaknya saat akan meneruskan kegiatan panas itu. Perlahan Ibrahim semakin membenamkan miliknya dan Lensi menjerit saat Ibrahim menghentak miliknya dengan dua kali hentakkan keras, hingga menyebabkan selaput darahnya robek.


Lensi terpaksa menggigit punggung Ibrahim sembari meneteskan air matanya. Ibrahim membiarkan miliknya terbenam didalam liang basah milik Lensi. Ibrahim menyeka air mata Lensi dan kembali me**mat bibir istrinya itu dengan lembut.


"Abang lanjut ya sayang?" bisik Ibrahim.


"Ah...ah...."


Lensi tak kuasa menahan suaranya, saat rasa sakit yang dia rasakan sebelumnya sudah berganti dengan rasa nikmat yang luar biasa. Ibrahim bisa melihat, kalau Lensi sangat menikmati kegiatan itu. Dan tanpa sengaja mata Lensi dan Ibrahim bersitatap. Wajah Lensi jadi bersemu merah karena malu. Saat Lensi akan memalingkan wajahnya, Ibrahim menahannya.

__ADS_1


"Abang mencintai Dinda," ucap Ibrahim disela-sela pinggulnya yang tetap bergoyang.


Lensi hanya bisa mengerutkan dahinya, dia masih belum mengerti arah ucapan Ibrahim itu. Akalnya saat ini terlalu fokus dengan hujaman nikmat yang Ibrahim berikan.


"Ah...bang...ah..."


Semakin Ibrahim menghujamnya dengan keras, semakin suara Lensi melengking-lengking. Dan sesaat kemudian tubuh Lensi mengejang, karena dia mendapat pelepasan pertamanya.


"Abang belum selesai," bisik Ibrahim.


Lensi mengerti apa yang Ibrahim maksud. Dia membiarkan Ibrahim membuat dirinya menjadi landasan pacu sesuka hati pria itu. Setelah hampir bermain selama 30 menit, mereka berduapun akhirnya mengerang bersamaan.


"Ah...sayang...abang mencintaimu," ucap Ibrahim disela-sela dirinya membenamkan kejantanannya jauh kedalam sana.


Nafas Ibrahim dan Lensi saling memburu. Ibrahim perlahan menarik kepemilikkannya, setelah yakin semua calon anaknya sudah keluar semuanya. Ibrahim berbaring disamping Lensi, dan keduanya saling menoleh satu sama lain.


Lensi segera memutus kontak mata itu. Tiba-tiba air matanya mengalir tak terkendali.


"Hey...ada apa? kenapa menangis?" tanya Ibrahim yang kemudian membawa Lensi kedalam pelukkannya.


"Dasar bodoh. Siapa juga yang mau menduakanmu. Aku malah bersyukur kamu merebutku dari Fatimah. Karena kalau tidak, mana mungkin aku bisa mempunyai istri seunik dinda tersayangku ini. Hem?" Ibrahim menarik hidung mancung milik Lensi.


Lensi yang kebingungan membuat tangisnya reda seketika. Dia masih belum bisa mencerna kata-kata Ibrahim sepenuhnya.


"Maksud abang apa sih bang? jangan buat aku kebingungan seperti ini," tanya Lensi.


"Yang menikah dengan Fatimah itu bukan abang, tapi Alex." Jawab Ibrahim.


"Sungguh?" tanya Lensi yang tanpa sadar terduduk dengan dada terpampang indah.


"Sayang. Apa kamu ingin menggodaku? abang masih ingin menjelaskan banyak hal padamu, tapi kalau kamu menggodaku seperti ini, sebaiknya penjelasanya ditunda kapan-kapan saja," ucap Ibrahim.


Lensi yang baru sadar langsung menarik selimutnya untuk menutupi dadanya yang indah.


"Abang jelasin dulu sama aku. Aku belum mengerti," ujar Lensi.

__ADS_1


Ibrahim meraih tangan Lensi yang membuat Lensi kembali berbaring dalam pelukkan Ibrahim.


"Maafkan abang yang begitu lambat menyatakan perasaan abang, hingga kamu lebih dulu memilih kabur karena salah paham. Abang sangat mencintaimu dinda, meskipun mungkin aku sanggup menduakanmu. Tapi abang cuma manusia biasa, abang tidak akan sanggup melihatmu membagi cintaku dengan pria lain. Dan aku sadar, kamu pasti tidak akan sanggup berbagi suami dengan wanita lain juga," ucap Ibrahim.


"Ja-Jadi yang menikahi Fatimah benar-benar kak Alex?" tanya Lensi.


"Ya. Mereka sudah saling mencintai sekarang. Sekarang abang mau memastikan, apa kamu masih mencintai abang?" tanya Ibrahim.


Cup


Lensi mencium bibir Ibrahim dengan sedikit me**matnya. Mereka kembali berciuman mesra, sebelum akhirnya saling melepaskan.


"Dinda sangat mencintai abang. Hingga rasanya jantungku akan meledak karena menahan besarnya rasa cemburu. Dinda sudah mencintai abang sejak pertama kali kita bertemu di pesantren." Jawab Lensi.


Ibrahim tersenyum bahagia dan kembali me**mat bibir Lensi.


"Sayang. Abang menginginkanmu lagi," bisik Ibrahim yang kemudian diangguki Lensi dengan malu-malu.


Ibrahim dan Lensi kemudian saling mencumbu satu sama lain. Hampir seharian mereka melakukan hal itu secara berulang-ulang. Mereka hanya berhenti ketika mandi dan sholat. Kemudian melakukannya kembali. Hingga Lensi yang biasanya memiliki fisik kuat dan tangguh lemas tak berdaya.


"Mau lagi?" tanya Ibrahim.


"Ampun bang. Dinda nggak kuat lagi. Besok lagi saja. Rasanya sedikit sakit dan perih dibawah sana." rengek Lensi.


"Baiklah. Dinda istirahat saja kalau begitu," ujar Ibrahim.


"Emm." Lensi mengangguk dan memejamkan mata.


"Sayang,"


"Hem?" Lensi menjawab dengan mata masih terpejam. Sementara Ibrahim membelai lembut lengan Lensi yang memiliki bekas luka dengan bentuk memanjang.


"Darimana kamu mendapatkan luka yang membuat lenganmu jadi begini?" tanya Ibrahim sembari mencium bekas luka dilengan dan punggung Lensi.


"Itu saat aku menolong orang kerampokkan dijalan M sekitar 6, 7 bulan yang lalu." Jawaban Lensi membuat ciuman Ibrahim dilengan Lensi jadi terhenti.

__ADS_1


Namun Ibrahim tidak ingin menerka-nerka. Dia ingin mengetahui sendiri jawabannya setelah dia mengajak Lensi pulang ke pesantren.


__ADS_2