MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
133. Hasutan Maut


__ADS_3

"Mau jalan hari ini?" tanya Iko diseberang telpon.


"Nggak ah...pengen istirahat seharian. Mau bobok sepuasnya." Jawab Gita.


"Ya udah ka...."


Tok


Tok


Tok


"Sayang. Sudah dulu ya? ada pelayan yang ketuk pintu, mungkin mau menyuruhku buat makan siang," ujar Iko.


"Ya udah aku mau makan siang juga kalau gitu." Jawab Gita.


Iko dan Gitapun mengakhiri percakapan itu.


Ceklek


Iko membuka pintu kamarnya, dan mendapati seorang pelayan berdiri tepat dihadapannya.


"Ada apa?" tanya Iko.


"Maaf tuan muda. Ada tamu tuan muda sedang menunggu di ruang tamu." Jawab pelayan itu.


"Tamu? siapa?" tanya Iko.


"Namanya non Vega." Jawab Pelayan.


"Vega? mau apa dia kesini? terus dia tahu rumahku dari siapa?" barin Iko.


Iko kemudian turun kebawah, dan melihat sosok Vega yang tengah mengenakan pakaian sexy.


"Vega. Kamu ngapain kesini?" tanya Iko yang tidak mau terlalu beramah-tamah dengan gadis itu.


"Ada sesuatu yang penting yang ingin kubicarakan sama kamu." Jawab Vega.


"Ada apa? katakan saja!" ucap Iko sembari duduk di salah satu sofa.


"Tidak. Kita tidak bisa membicarakan hal ini disini." Jawab Vega.


"Kenapa?" tanya Iko.


"Karena hal ini ada hubungannya dengan calon istrimu yang akan kamu nikahi." Jawab Vega.


"Tidak masalah. Kamu bisa menceritakan apa saja di rumahku," ujar Iko.


"Tapi aku sudah menyiapkan tempat yang bagus untuk kita bicara. Lagipula apa yang ingin aku bicarakan sangat menguntungkan dan bisa menyelamatkanmu dari mala petaka." Jawab Vega.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang ingin dia bicarakan? bahkan dia sudah menyiapkan tempat, seolah yakin aku pasti akan mematuhinya. Tapi aku jadi penasaran, terlebih ini menyangkut urusan Gita,"


"Baiklah. Tunggu sebentar, biar aku ambil dompet dan kunci mobil dulu," ucap Iko.


"Ya." Jawab Vega.


"Bagus Iko. Aku pikir kerja dikantor itu, otakmu memang cerdas. Tapi benar kata mama, otak pria nggak jauh dari ************. Nggak sia-sia aku memakai baju sesexy ini," batin Vega.


Iko yang sampai di kamarnya langsung membuat panggilan untuk Gita, namun sama sekali tidak diangkat. Iko kemudian mengirimkan pesan untuk kekasihnya itu.


"Gita pasti lagi makan siang. Semoga dia nggak marah saat tahu aku pergi dengan Vega. Ini demi hubungan kami juga," ucap Iko lirih.


Iko kemudian meraih dompet dan kunci mobilnya. Namun sebelum dia benar-benar melangkah pergi keluar pintu, Iko mengambil sesuatu dari laci meja riasnya.


"Sepertinya ini waktu yang tepat menggunakanmu," ucap Iko lirih, dengan senyuman tersungging di bibirnya.


Iko kemudian melangkah pergi, dan menuruni anak tangga dengan segera.


"Bik. Nyonya dan tuan besar kemana?" tanya Iko saat akan mengambil minuman di dalam kulkas.


"Mereka belanja bulanan tuan muda." Jawab Pelayan.


"Kalau mereka nanyain aku, bilang aja aku pergi dengan teman," ujar Iko.


"Ya tuan muda." Jawab pelayan.


Ikopun kembali menemui Vega. Vega cukup takjub melihat ketampanan Iko, saat pria itu megenakan kemeja santai dan celana jeans.


"Ayo kita berangkat!" ucap Iko.


"Emm." Vega mengangguk.


Sementara itu di tempat berbeda. Gita baru saja menyelesaikan makan siangnya. Dia pun langsung kembali ke kamar tanpa memeriksa ponselnya terlebih dahulu.


"Aku mau jadi ular dulu hari ini. Habis makan langsung tidur," ucap Gita sembari terkekeh.


Gitapun melakukan apa yang dia mau. Tanpa dia tahu kekasih hatinya akan diperdaya oleh kakaknya sendiri.


"Kita mau kemana sekarang?" tanya Iko.


"Hotel G." Jawab Vega tanpa canggung sama sekali.


"Hotel? kok di hotel? kan masih banyak kafe, tempat buat ngobrol," tanya Iko.


"Hotel G dilengkapi dengan restaurant juga. Kita bisa makan siang disana." Jawab Vega.


"Sepertinya mulai ada titik terang. Ayolah Iko, ini tantangan besar untukmu," batin Iko.


"Baiklah. Kita akan pergi ke sana," ujar Iko yang menyetujui permintaan Vega.

__ADS_1


Setelah menempuh waktu hampir 20 menit, merekapun tiba di hotel G. Dan langsung menuju restauran yang Vega maksud. Setelah memesan makanan dan minuman, Iko mulai membombardil Vega dengan banyak pertanyaan.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan tentang Gita?" tanya Iko sembari menyandarkan tubuhnya dikursi.


"Apa kamu sangat mencintai Gita?" tanya Vega.


"Sangat." Jawab Iko.


"Tapi dia tidak pantas untuk pria sebaik kamu Iko. Maaf aku tidak punya maksud apa-apa. Tapi Gita tidak sebaik dan sepolos yang kamu kira," ujar Vega.


"Aku tahu dia tidak polos. Dia cenderung urakkan dan tidak tahu malu. Tapi aku suka dengan sikapnya yang apa adanya. Dia tidak perlu bersikap sok polos ataupun merekayasa apapun, karena dia terlihat keren dengan dirinya yang seperti itu," ucap Iko.


"Bukan itu maksudku. Walau bagaimanapun dia adalah adikku, darah dagingku. Tapi aku tidak mugkin membiarkan sesuatu yang salah merajalela. Aku hanya ingin menyelamatkanmu Iko," ujar Vega.


"Apa maksudmu?" tanya Iko.


Vega kemudian mengeluarkan beberapa lembar foto, dan menyodorkannya didepan Iko. Iko meraih foto-foto itu, dan rasanya pria itu ingin tertawa sekerasnya saat melihat foto editan itu. Tanpa Vega tahu, Iko dan Gita adalah dua orang yang memiliki hobi yang sama. Ya itu seorang ahli komputer, dan seorang yang pernah belajar telematika. Tapi Iko jadi bertambah penasaran apa yang akan dilakukan oleh Vega selanjutnya.


"Apa kamu memiliki videonya?" tanya Iko.


"Eh? sa-sayangnya tidak ada. Tapi dia memang menjadi seorang sugar baby beberapa pengusaha." Jawab Vega.


"Untuk apa dia melakukan itu? dia sudah kaya raya," tanya Iko


"Dia memang tidak melakukannya karena uang, karena dia memang suka melakukannya. Apa kamu pernah dengar tentang kecanduan se*s? dia melakukannya karena itu." Jawab Vega.


"Kurang ajar. Kalau saja dia seorang laki-laki, mungkin sudah ku bogem mulutnya. Beraninya dia menghina Gita dengan kebohongan seperti ini," batin Iko.


"Kalau begitu akan aku pikirkan ulang pernikahanku dengannya," ujar Iko.


"Dia sudah membohongimu seperti ini, apa kamu tidak ingin memberinya pelajaran?" tanya Vega.


"Kenapa begitu? bukankah dia saudaramu? seharusnya kamu lebih berpihak padanya," tanya Iko.


"Sebenarnya hubunganku dengannya tidak sebaik yang kamu kira. Dia bahkan ingin menjadikanku sebagai cleaning service di kantor papa." Jawab Vega.


"Benarkah?" tanya Iko.


"Emm. Tapi tidak apa-apa. Aku akan lakukan itu. Aku percaya, kalau kita memang memiliki kemampuan, suatu saat nanti karierku pasti akan naik kepermukaan." Jawab Vega.


"Lalu menurutmu aku harus bagaimana cara membalasnya?" tanya Iko.


"Karena dia ingin mencoreng wajahmu dan keluargamu, kenapa kamu tidak melakukan hal yang sama tepat dihari pernikahan kalian." Jawab Vega.


"Akan aku pikirkan. Terima kasih atas info berharganya," ucap Iko.


"Makanlah. Aku akan ke toilet sebentar," ujar Vega.


"Emm." Iko mengangguk.

__ADS_1


Saat Vega berajak pergi, Iko memastikan sesuatu pada bagian resepsionis. Setelah itu dia kembali ke meja.


__ADS_2