MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
139. Fitnah


__ADS_3

"Apa itu tadi, Vega? kamu bilang yang menidurimu si Iko. Kenapa bisa berubah jadi orang jelek seperti itu? Apa kamu tidak merasa jijik?" tanya Marini dengan berapi-api.


"Mama sudah lihat kan apa yang terjadi? Iko menukar minuman itu. Aku sedang dibawah pengaruh obat. Aku tidak sadar kalau yang membawaku itu laki-laki jelek itu." Jawab Vega sembari menghempaskan bokongnya pada salah satu sofa.


"Sekarang kita harus bagaimana? menggugurkan anak itu saja kamu tidak bisa. Kamu masih jadi sorotan sekarang, itu sangat berbahaya," tanya Marini.


"Sudah kepalang basah. Kenapa kita tidak manfaatkan saja ayah dari anak ini." Jawab Vega.


"Apa maksudmu?" tanya Marini.


"Bukankah Lensi bilang orang itu adalah ketua dari geng bertopeng? kalau begitu kita bisa memanfaatkan dia untuk menghancurkan keluarga handoko dan juga Lensi." Jawab Vega.


"Aku masih tidak bisa melupakan penghinaan yang mereka lakukan padaku tadi. Mata mereka menatapku dengan rasa jijik dan merendahkan. Terutama Lensi, aku sangat ingin membunuhnya!" sambung Vega.


"Rencana yang bagus Vega. Kamu benar, tidak perduli seberapa buruk wajah ayah dari anakmu. Jika memang berguna untuk kelangsungan hidup kita, kenapa tidak? dia pasti bekerja di dunia hitam, duitnya juga nggak sedikit," ujar Marini.


"Ya mama benar. Uang lebih utama Jawab Vega.


"Jadi kapan kamu akan menemui pria itu?" tanya Marini.


"Hari ini juga aku akan menemuinya. Aku tidak mau mengulur-ulur waktu." Jawab Vega.


"Karena dia menghamilimu, itu artinya dia pria mata keranjang. Berdandanlah yang lebih sexy, agar usahamu lancar," ujar Marini.


"Baiklah," Vega segera beranjak dari tempat duduk untuk berganti pakaian.


Vega menutuni anak tangga, setelah berdandan maksimal. Setelah itu dia pergi sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Lensi.


"Oh ya ampun. Apa memang harus membuat markas di tempat yang terpencil seperti ini? tapi memang harus sih, kalau nggak pasti mereka akan tertangkap," ucap Vega lirih.


Vega melangkah sedikit berhati-hati. Pasalnya dia melewati jalan setapak yang kiri kanannya dipenuhi semak belukar. Dia tidak ingin mendapat resiko akan di patuk ular.


Dari kejauhan Vega bisa melihat dua orang penjaga pintu markas menatap dirinya dengan mata menyipit. Mereka seolah bertanya-tanya tentang kehadirannya yang secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Siapa anda? mau apa datang kemari? ini bukan tempat yang bisa didatangi sembarang orang?" tanya salah seorang pria bertubuh tegap.


"Aku mau bertemu cokro. Katakan saja Vega gadis yang ditemuinya di hotel, sedang mencarinya." Jawab Vega.


Kedua pria itu saling berpandangan. Mereka tidak heran lagi dengan kebiasaan bosnya yang sering meniduri banyak wanita di hotel yang sudah dia pesan. Tapi baru kali ini ada yang datang sampai kemarkas mereka.


"Tunggu disini! biar aku beritahu bos cokro dulu," Vega menganggukkan kepalanya.


Tidak berapa lama kemudian pria itu datang lagi dan mempersilahkan Vega masuk. Cokro yang tengah bersantai didalam kamarnya cukup bertanya-tanya, siapa gadis yang ingin menemuinya. Pasalnya dia tidak ingat, gadis mana yang dia tiduri bernama Vega. Karena hampir setiap pekan dirinya menyewa wanita panggilan untuk memenuhi hasratnya itu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Ceklek.


"Hei...baby. Kamu sampai menyusulku kemari, apa kamu tidak bisa melupakan kemesraan kita di hari itu? aku akui kamu sangat mengesankan. Aku sangat menyukai apapun yang kamu lakukan padaku dihari itu," tanya Cokro sembari mencium wangi dari rambut Vega.


"Dan sama dibulan lalu, kamu masih terlihat sangat sexy dan menggoda sayang," bisik Cokro dari arah belakamg Vega. Bahkan pria itu dengan tidak sabar sudah bermain diceruk leher gadis itu.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membuat kesepakatan dulu dengannya. Wajahnya memang seram, tapi dia masih layak. Aku tidak boleh gegabah menolak keinginannya," batin Vega.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu dulu, dan ini sangat penting," ucapan Vega membuat gerakan Cokro terhenti.


Cokro kemudian membawa Vega keatas tempat tidur, dan membuat gadis itu duduk dipangkuannya secara berhadapan.


"Ada apa. Hem?" tanya Cokro sembari menyelipkan rambut dibelakang telinga gadis itu.


"Aku hamil." Jawab Vega, yang membuat gerakkan tangan Cokro terhenti.

__ADS_1


Cokro menatap wajah Vega, dan mata mereka bertemu seketika.


"Apa kau yakin itu anakku?" tanya Cokro setelah beberapa detik terdiam.


"Apa kamu pikir aku ini gadis murahan? kamu tentu tidak lupa kalau kamulah yang merenggut kehormatanku. Itu sudah cukup membuktikan kalau aku bukan wanita seperti yang kamu bayangkan." Jawab Vega.


"Tapi di hari itu kamu...."


"Aku di jebak seseorang. Ada orang yang ingin menghancurkan hidupku. Dan yah...dia sangat berhasil. Keperawananku hilang, dan aku hamil tanpa suami. Hiks...." air mata Vega mulai merembes dari sudut matanya.


"Siapa yang menginginkan itu terjadi?" tanya Cokro.


"Lensi. Dan dari dia pula aku tahu tentangmu dari rekaman cctv hotel. Dia bilang aku memang cocok berjodoh dengan orang rendahan, dan sampah masyarakat sepertimu." Jawab Vega yang sengaja ingin memprovokasi Cokro.


"Kurang ajar! siapa itu Lensi?" tanya Cokro.


"Dia bilang kamu adalah orang yang menusuknya, hingga menyebabkan dia koma di rumah sakit. Lensi bersekongkol dengan adik tiriku, bahkan dialah yang membuat calon suamiku menikah dengan adik tiriku."


"Sekarang mereka sudah menikah. Aku dicampakkan karena aku hamil dengan pria lain. Di hari itu aku sengaja di jebak, agar mereka bisa memuluskan rencana pernikahan mereka itu. Apa salahku? aku hanya ingin dicintai. Hiks...." Vega kembali terisak.


"Apa kamu tahu? mereka tidak hanya menghinaku, tapi juga menghina anak kita. Mereka dengan lantang mengatakan, bahwa aku memang pantas mengandung benih orang rendahan. Anak yang dihasilkan pasti sama rendahnya," sambung Vega.


Cokro meraih tubuh Vega, dan membawanya kedalam pelukkannya.


"Kamu tenang saja. Aku akan membalaskan rasa sakit hatimu," ucap Cokro sembari membelai lembut kepala Vega.


"Tidak usah. Aku hanya ingin hidup damai, aku takut mereka melukai anak kita. Aku tidak masalah menderita, asal anakku baik-baik saja," ujar Vega.


"Gadis dengan hati selembut dirimu, bagaimana mereka tega berbuat seperti itu?"


"Itu karena aku tidak sekaya Gita. Makanya calon suamiku bersedia bersekongkol untuk mencampakkanku." Jawab Vega.


"Pantas saja saat bercinta denganku, kamu malah menyebut nama pria lain. Tapi sudahlah, itu sudah berlalu. Sekarang kamu sudah jadi tanggung jawabku. Kamu tenang saja, aku pastikan mereka tidak akan bahagia karena sudah menghina anak kita," ucap Cokro.

__ADS_1


Tanpa pria itu tahu, Vega menyeringai dalam dekapannya.


__ADS_2