
Tidak seperti hari kemarin, hari ini Lensi tampak diam. Meski mereka sholat subuh berjama'ah, tapi setelahnya Lensi tetap tidak bicara apapun. Lensi hanya bicara seperlunya. Dia kembali menjadi Lensi yang dingin dan cuek dengan orang-orang disekitarnya.
"Ada apa dengannya? kamar terasa sepi kalau nggak mendengar dia ngoceh. Apa dia marah gara-gara ucapanku semalam? apa aku harus minta maaf sama dia? tapi aku kan nggak salah. Dia yang pulang telat dan bohongi aku," batin Ibrahim.
"Ehemm...tolong pasangkan dasiku! tanganku lagi...."
"Lagi apa ya? bohong kan dosa," batin Ibrahim.
Tanpa banyak bicara Lensi mendekat kearah ibrahim dan membantu pria itu memasang dasi. Jarak yang terlampau dekat, membuat Ibrahim bisa melihat dengan jelas garis wajah cantik istrinya itu.
"Dia benar-benar sangat cantik," batin Ibrahim.
Setelah selesai memasang dasi, Lensi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Baim merasa ada yang kurang. Biasanya Lensi akan mencium pipinya, setelah memasangkan dirinya dasi.
Karena tidak mungkin menanyakan hal itu, Ibrahim bergegas turun untuk sarapan. Karena lama menunggu Lensi yang tidak turun juga, Ibrahim segera sarapan dan berangkat ke kantor setelahnya.
Seperti dua hari sebelumnya, hari ini adalah hari ketiga bagi Lensi buat belajar ilmu meretas. Hari ini Lensi sudah memutuskan akan menuntaskan semuanya. Dan sesuai target, Lensi akhirnya berhasil menyelesaikan keinginannya itu.
"Ini laptop kesayanganku. Karena kamu murid pertama dan terakhirku, maka aku akan memberikan laptop ini padamu. Ini Laptop saat pertama kali aku belajar meretas, anggap saja ini kenang-kenangan dari guru untuk muridnya," ujar Ibrahim.
Lensi tersenyum dari balik cadarnya. Sejujurnya dia sangat bahagia mendapat barang pemberian dari Ibrahim. Bisa dibilang itu barang pertama yang diberi Ibrahim untuknya. Dan dia pasti akan menjaga barang itu dengan baik.
"Terima kasih atas semua kebaikkan tuan. Saya tidak akan melupakan jasa tuan ini," ujar Lensi.
"Sama-Sama." Jawab Ibrahim.
Lensi kemudian meraih laptop yang sudah Ibrahim masukkan kedalam tas, dan pergi sembari memeluk laptop itu dengan erat di dadanya. Lensi membawa laptop itu ke apartemennya. Karena dia tidak mungkin membawa barang itu di rumah suaminya.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore, saat Ibrahim pulang ke rumah. Lensi terlihat sedang membaca komik Conan, yang baru dia beli setelah pulang dari apartemen. Lensi meletakkan komiknya, saat melihat kepulangan pria itu. Lensi membantu Ibrahim melepaskan dasi, namun tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Terdengar suara helaan nafas dari Ibrahim. Dia merasa tidak nyaman melihat Lensi yang mendiamkannya.
"Maaf, kalau perkataanku kemarin malam membuatmu tersinggung," ucap Ibrahim yang membuat Lensi jadi menghentikan langkah, saat akan kembali membaca komik.
"Tidak masalah. Mungkin perkataan abang ada benarnya juga. Abang tidak mengenalku, aku tidak mengenal abang. Tapi aku tidak perduli orang mau menilai diriku seperti apa, karena yang tahu diriku, ya cuma diriku sendiri saja."
"Oh ya. Kursusku sudah selesai hari ini. Aku mau minta bantuan abang boleh? aku tidak akan minta secara gratis, aku akan membayar abang untuk jasamu itu," tanya Lensi.
"Bantuan apa?" tanya Ibrahim
"Bantu ajari aku cara mengelola perusahaan. Aku minta diajari satu minggu saja. Abang bisa menghitung berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk ilmu sehebat itu." Jawab Lensi.
"Kamu nggak akan sanggup membayar mahar yang akan aku minta. Kamu tahu sendiri ilmu itu sangat mahal," ujar Ibrahim.
"Katakan saja berapa. Aku akan berusaha membayarnya" ucap Lensi.
"Lagian buat apa juga kamu belajar itu. Kamu nggak punya perusahaan sendiri kan?" Ibrahim sengaja ingin memancing Lensi.
"Belajar ilmu seperti itu tidak harus memiliki perusahaan. Aku bisa belajar dulu, baru mulai merintis usaha." Jawab Lensi.
"Apa kamu yakin sanggup membayar mahal yang akan aku sebutkan? maaf aku nggak yakin kamu sanggup," tanya Ibrahim.
"Katakan saja!" ujar Lensi.
__ADS_1
"Aku nggak mau dibayar dengan uang. Aku mau dibayar dengan hafalan surat Al-Qur'an," ucap Ibrahim.
"Matilah aku. Pria ini suka sekali main surat-suratan. Ngafal surat Ar-rahman saja sudah setengah mati. Aku bahkan menghafalnya hampir dua minggu, agar bisa tampil sempurna. Bagaimana kalau yang dia minta surat Al-Baqoroh?" batin Lensi.
"Su-Surat apa?" tanya Lensi.
"Aku minta surat Ar-Rahman. Aku minta bacaan yang sempurna, atau minimal mendekati
sempurna." Jawab Ibrahim.
Ingin rasanya Lensi jingkrak-jingkrak saat mendengar ucapan Ibrahim. Tapi dia tidak ingin memperlihatkan rasa senangnya itu, karena takut Ibrahim akan mengganti surat yang telah dia sepakati.
"Apa kamu sanggup? aku beri waktu 3 hari untuk menghafal surat itu," tanya Ibrahim.
"Orang gila. punya suami Ustad gini amat. Untung aku sudah hafal, kalau belum aku bisa bengek menghafalnya," batin Lensi.
"Baiklah meski berat aku harus menyanggupinya bukan? atau bisa diganti dengan bacaan lain?" tanya Lensi.
"Baca apa yang kamu inginkan?" tanya Ibrahim.
"Baca do'a makan mungkin." Jawab Lensi.
"Oke kalau gitu ganti surat Al-Baqaroh," ujar Ibrahim.
"Tidak-Tidak. Surat Ar-Rahman saja. Oke deal," ujar Lensi sembari menjabat tangan Ibrahim.
"Huuu...paling bisa kalau mau nyiksa orang. Apaan surat Al-Baqaroh, do'a masuk toilet aja kadang lupa baca do'a," gerutu Lensi sembari berjalan ke tempat tidur.
Sementara itu tanpa Lensi tahu, Ibrahim menyembunyikan senyumnya dan kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun Ibrahim mengerutkan dahinya, saat keluar dari kamar mandi istrinya itu malah membaca buku komik lagi.
"Mau menjernihkan otak dulu." Jawab Lensi tanpa menoleh.
"Menjernihkan otak apa? emang si Conan bisa bantuin kamu buat menghafal?" tanya Ibrahim.
"Abang tinggal tunggu hasilnya saja." Jawab Lensi.
Ibrahim hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sementara itu tanpa Ibrahim tahu Lensi tertawa penuh kemenangan didalam hatinya.
"Sudah dulu baca komiknya, sebentar lagi magrib. Bersiaplah buat sholat magrib," ujar Ibrahim.
"Kita mau sholat berjama'ah lagi bang?" tanya Lensi sembari menatap wajah suaminya yang tampan saat mengenakan baju koko dan peci.
"Tidak. Aku mau ke masjid sekarang." Jawab Ibrahim.
"Oh...."
Lensi hanya membalas ucapan Ibrahim dengan ber Oh ria. Ibrahim bergegas turun kebawah, karena dia tidak ingin terlambat untuk menjadi imam sholat magrib di masjid dekat rumahnya.
๐น๐น๐น๐น๐น
Tiga hari kemudian....
"Bang. Aku sudah hafal surat Ar-Rahman yang abang mau itu," ujar Lensi.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Ibrahim terkejut.
"Ya. Jadi kapan aku bisa mulai belajar?" tanya Lensi.
"Besok datanglah ke kantorku. Al-Gif Group. Tapi kamu harus mengenakan gamis bercadar." Jawab Ibrahim.
"What? cadar lagi? apa dia tahu, aku tersiksa mengenakan itu hampir seperempat hari? sekarang pasti sampai setengah hari atau seharian kan? hiks...suami yang kejam," batin Lensi.
"Ke-Kenapa harus bercadar bang? kenapa tidak pakai baju biasa saja? panas pasti bang," tanya Lensi.
"Darimana kamu tahu panas, sebelum mencobanya? lagian aku tidak mau satu kantor tahu, kalau direktur mereka punya istri yang nggak tahu apa-apa." Jawab Ibrahim.
"Ughhh...mulutmu bang, habis makan mercon ya?" batin Lensi.
"Kenapa dia tidak terkejut, saat aku memberitahunya tentang jabatanku di kantor?" batin Ibrahim.
"Ya sudah nanti aku beli baju gamis cadarnya dulu. Abang maunya warna apa?" tanya Lenai.
"Hitam." Jawab Ibrahim.
"Ya baiklah," ujar Lensi.
"Hihihi...nggak capek beli lagi. Kan cadar kemaren warna hitam," batin Lensi.
"Jadi aku pergi ke kantornya barengan dengan abang?" tanya Lensi.
"Nggak. Kamu pergi sendiri saja. Aku nggak mau ada orang tahu kalau kamu itu istriku. Biarkan mereka mengira kalau kamu itu muridku, atau rekan bisnis." Jawab Ibrahim.
"Segitu malunya ya? punya istri kayak aku? tapi kalau memang malu, kenapa dia menikahiku secara besar-besaran?"
Ibrahim melirik wajah Lensi yang murung dan sedih. Pria itu kemudian menghela nafas.
"Tapi kamu bisa datang kalau kamu sudah siap menggunakan hijab," sambung Ibrahim.
Bukannya senang, Lensi malah bertambah sedih.
"Dan disaat itu tiba, mungkin kamu sudah membuangku bang," batin Lensi.
"Kenapa dia memasang wajah sesedih itu? apa dia begitu ingin tampil terbuka, apakah aku harus membatalkan syarat bercadar itu?" batin Ibrahim.
"Hah...ya sudah nggak usah bercadar. Kamu boleh memakai pakaian bebas pantas," ujar Ibrahim.
Mata Lensi seketika berbinar. Tanpa sadar diapun berhambur kepelukkan Ibrahim.
"Yeyyyy... makasih bang," ujar Lensi. Tanpa Lensi tahu Ibrahim menyunggingkan senyumnya.
"Eh?" Lensi yang tersadar mengendurkan pelukkannya.
Lensi dan Ibrahim jadi saling tatap satu sama lain.
Cup
Lensi mencium sudut bibir Ibrahim, yang membuat pria itu jadi menegang.
__ADS_1
"Makasih bang," ujar Lensi sembari mengedipkan satu mata.
Lensi kemudian melepaskan pelukkannya dan keluar kamar dengan mengelus dadanya yang berdebar.