
"Terima kasih karena kamu sudah menepati janji," ujar Aisyah.
"Karena aku berjanji dengan seorang ibu, maka aku harus menepati janji." Jawab Lensi sembari tersenyum.
"Ayo kita masuk MUA sudah menunggumu untuk di dandani," ujar Aisyah.
"Emm." Lensi mengangguk.
"Tunggu!" Ibrahim membuat langkah Lensi yang ingin mengambil Ransel dan ingin memasukkan motor terhenti seketika.
Lensi kemudian memutar badan dan menatap Ibrahim.
"Ada apa?" tanya Lensi.
"Kamu masih bisa mundur, sebelum kamu menyesal." Jawab Ibrahim.
"Baim. Jangan bicara konyol nak. Kita tidak punya banyak waktu," ujar Aisyah.
"Tidak Umi. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kalau memang dia tidak mau. Kalau kita memaksa, maka kita akan berdosa," ucapan Baim membuat Aisyah terdiam dan tertunduk.
Lensi melirik kearah Aisyah yang berwajah mendung, dan dia menjadi tidak tega.
"Aku sudah disini, dan itu artinya aku sudah siap. Aku juga sudah memikirkan matang-matang, dan aku tidak merasa terpaksa sama sekali," ucap Lensi.
Senyum semringah terbit dari bibir Aisyah. Dan itu membuat perasaan Lensi jadi senang, saat melihat seorang ibu seperti Aisyah hatinya bahagia.
"Lalu apa mahar yang kamu inginkan?" tanya Ibrahim.
Mata Aisyah terbelalak. Karena dirinya benar-benar lupa menanyakan hal itu pada Lensi.
"Astagfirullahaladzim. Sayang, maaf Umi lupa menanyakan hal ini sama kamu. Kamu mau apa nak? bilang saja, insya Allah Baim pasti turuti," ujar Aisyah.
"Gadis seperti ini apalagi kalau bukan ingin uang dan perhiasan," batin Ibrahim.
"Astagfirullah...aku jadi su'udzon lagi kan?"
"Aku yakin kamu pasti bisa memenuhi mahar yang aku inginkan, karena kamu Ustad juga disini. Aku ingin kamu memberikan mahar berupa surat Ar-Rahman untukku." Jawab Lensi.
"Surat Ar-Rahman? apa kamu yakin?" tanya Ibrahim.
"Yakin." Jawab Lensi.
__ADS_1
Sungguh diluar dugaan Ibrahim kalau Lensi hanya meminta sebuah hafalan surat Ar-Rahman sebagai mahar pernikahannya. Sementara itu Aisyah tersenyum saat mendengar permintaan calon menantunya itu.
"Umi masuk duluan saja. Aku mau masukkin motor dulu," ujar Lensi.
"Kamu dan Umi masuklah. Biar aku yang memarkirkan motormu. Kamu bawa tas ranselmu saja," ucap Baim.
"Emm. Terima kasih," ucap Lensi.
Lensi dan Aisyah masuk kedalam, karena Lensi akan segera di dandani. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, saat para tamu undangan sudah berkumpul di area pesantren. Penghulu dan Ustad-Ustad besar juga sudah berdatangan dari segala penjuru kota. Tidak lupa para santriwan dan santriwati juga sudah berjejer rapi untuk meramaikan acara pernikahan itu.
"Astagfirullah. Kenapa aku mendadak gugup begini?" batin Ibrahim.
"Apa acaranya bisa dimulai pak Kiyai?" tanya penghulu.
"Silahkan pak. Kebetulan wali nikahnya tidak bisa hadir dan sudah menyerahkannya pada yang berwenang. Pengantin akan disandingkan setelah ijab qobul selesai." Jawab Ustad Gofur.
"Baik. Disini sudah ada catatan tentang mempelai wanita, kita bisa langsung memulainya," ujar penghulu.
"Berhubung mahar yang diminta oleh mempelai wanita adalah surat Ar-Rahman. Sebaiknya surat itu dibacakan terlebih dahulu, agar sang mempelai wanita bisa memutuskan menerima atau menolak mahar tersebut," sambung Penghulu.
Lensi yang menyaksikan acara itu lewat layar monitor, merasa ikut gugup. Ibrahim terlihat tampan dengan baju pengantin berwarna putih. Ibrahimpun terlihat mulai menarik nafas dan menghembuskannya beberapa kali, sebelum akhirnya dia membaca ta'awudz.
"Bismisllahirohmanirrohim....Ar-Rahman...alamal qur'an, holaqol insan...."
Jantung Lensi berdegup dengan kencang saat mendengar suara merdu Ibrahim. Satu hal yang tidak pernah Lensi tahu. Dirinya telah menikahi pria hebat dalam segala hal. Ibrahim bahkan pernah menjadi imam untuk guru-guru besarnya di Al-azhar. Ibrahim penghafal Qur'an 30 juz, seorang pendakwah, dan seorang pengusaha hebat yang dinobatkan sebagai pengusaha nomor dua di kota J. Tidak hanya itu, Ibrahim juga pandai meretas yang dipelajarinya secara otodidak
Pergaulan Lensi di dunia hitam, ditambah dirinya tidak pernah terjun ke perusahaan keluarga, membuat dirinya tidak kenal siapa saja pengusaha hebat yang tengah merajai ekonomi negara.
Tes
Tes
Tes
Air mata haru menetes dari pelupuk matanya. Entah mengapa suara merdu Ibrahim begitu merasuk hingga kedalam nadinya.
"Tuhan. Kalau Engkau Ridho, jadikan ini pernikahan pertama dan terakhir untukku. Dan aku juga ingin menghadiahkan surat ini untuk mama. Aku merindukan dia, hiks...."
Air mata Lensi mengucur seperti bendungan air yang jebol. Para MUA jadi panik, karena takut dandanan Lensi yang cantik akan rusak.
"Mbak udah dong nangisnya. Sebentar lagi mbak akan turun. Kalau dandanannya rusak kan jadi nggak cantik lagi," ujar salah seorang MUA.
__ADS_1
"Maaf. Silahkan dibenarkan," ujar Lensi yang sekuat mungkin membuat tangisnya mereda.
"Shodaqollahuladzim...." Ibrahim menyudahi bacaannya.
Ponsel Lensi seketika berdering, dan Lensi segera menjawab panggilan itu.
"Bagaimana maharnya? apa diterima?" tanya Ustad Gofur dengan sengaja menggunakan pengeras suara.
"Diterima." Jawab Lensi singkat dan dibalas ucapan hamdalah dari semua orang.
Acara selanjutnya dilanjutkan dengan acara Ijab Qobul. Dengan satu kali tarikkan nafas, Ibrahim berhasil membuat Lensi menjadi istri Sahnya. Namun ada yang mengganjal dihati dan pikiran Ibrahim. Nama Surya Gemilang begitu tidak asing ditelinganya. Disisi lain Lensi kembali menangis karena dirinya baru saja Sah menjadi seorang istri.
Para MUA berjuang mengembalikan kecantikan Lensi setelah tangis pengantin itu mereda. Berkali-kali MUA berdecak kagum akan kecantikkan Lensi yang sempurna meski dengan dandanan sederhana.
Lensi perlahan diantar oleh para MUA untuk disandingkan dengan pengantin pria. Semua mata memandang kagum akan kecantikkan yang Lensi miliki. Tidak terkecuali Ibrahim. Pria itu benar-benar terpesona oleh kecantikkan istri yang baru dia nikahi beberapa menit yang lalu.
"Ehemm...Ustad Baim kayaknya sudah tidak sabar. Dia sampai nggak kedip liat istrinya sendiri," Ledek salah satu Ustad besar dari kota G.
Ibrahim jadi tersipu mendengar ledekkan itu. Dirinya jadi kikuk, karena sudah tertangkap basah.
"Karena dokumen yang diberikan belum lengkap, jadi sertifikat pernikahan dan buku nikah akan diberikan setelah dokumen dilengkapi," ujar petugas KUA.
Lensi kemudian meraih tangan Ibrahim untuk dia cium, sementara Ibrahim yang dipaksa mencium Lensi, terpaksa mencium kening Lensi yang langsung disoraki.
Acara selanjutnya pun diteruskan dengan acara makan-makan bersama. Lensi dan Ibrahin yang didudukkan dipelaminan kecil dalam rumahpun, banjir ucapan selamat. Saat tamu berangsur berkurang, dan acara akan dilanjutkan pada Resepsi nanti malam. Lensi perlahan mendekati Ibrahim dan Ustad Gofur untuk menanyakan sesuatu yang menurutnya sangat penting.
"U-Ustad. Bolehkan Echi menanyakan sesuatu?" tanya Lensi.
Mendengar Lensi memanggilnya Ustad, tentu saja Ustad Gofur jadi terkekeh.
"Kenapa masih panggil Abi Ustad? pangggil Abi juga dong seperti suami kamu," ucap Ustad Gofur.
"Memangnya kamu mau bertanya apa?" tanya Ustad Gofur.
"I-Itu. Echi punya teman pengen datang ke acara resepsi pernikahan. Apa boleh teman-temanku datang?" tanya Lensi.
"Tentu saja boleh. Kamu bebas membawa teman-temanmu hadir." Jawab Ustad Gofur.
"Ta-Tapi teman-temanku yang datang, teman dari dunia hitam. Ap-Apa tidak masalah?" tanya Lensi sembari tertunduk dengan jari-jari yang saling bertautan.
Ibrahim mengerutkan dahinya, sementara Ustad Gofur menatap wajah menantunya yang tengah tertunduk dan mendung.
__ADS_1