MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
126. Bebas


__ADS_3

"Apa mereka cucu-cucuku?" tanya Surya yang kini sudah bisa berbicara. Hanya kaki Surya yang belum bisahl bergerak dari kursi roda.


Surya juga saat ini sudah menempati rumah lama Lensi dan dirawat oleh dua orang suster sewaan Lensi.


"Iya pa. maaf baru nemuin papa setelah 40 hari anak-anak," ucap Lensi.


"tidak masalah. papa senang mereka sehat semua," ujar Surya sembari menatap wajah ketiga cucunya itu.


"Bagaimana dengan kaki papa? apa masih belum ada perubahan?" tanya Lensi.


"Sudah sedikit merespon, saat dilakukan terapi. Tapi harus tetap banyak terapi lagi." Jawab Surya.


"Papa ikut kerumah kami saja ya? aku nggak tenang kalau papa sendiri disini. Ya meski ada perawat yang mengurus, tapi tetap saja Lensi khawatir," ujar Lensi.


Bukan kali ini saja Lensi membujuk Surya agar tinggal bersamanya. Tapi sejak Surya baru pulang dari rumah sakitpun Lensi mengajak Surya tinggal bersama dirinya. Namun Surya menolak, dia bersikukuh ingin tinggal dirumah mereka yang lama. Karena Surya ingin menumbuhkan kembali kenangannya bersama almarhum istrinya.


"Papa lebih suka disini. Dengan papa berada disini, papa bisa mengenang semua dosa-dosa papa pada mamamu," ucap Surya.


"Kalau papa berubah pikiran, nanti hubungi Echi saja," ujar Lensi.


"Ya " Jawab Surya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Vega merenggangkan sendi-sendi tubuhnya dengan cara mengayunkan tubuhnya kekiri dan kekanan. Matanya juga berusaha menyesuaikan dengan cahaya besar yang cukup menyilaukan matanya, saat dirinya baru keluar dari pintu besar yang dibukakan oleh petugas kepolisian.


Hari ini Vega dinyatakan bebas dari tahanan, setelah melewati 1 tahun dua bulan penjara dan dipotong remisi.


"Selamat menikmati kebebasan. Jangan masuk lagi ya," ucap polisi.


Vega dengan sombongnya tidak menggubris ucapan polisi itu, dan malah mengenakan kaca mata hitam yang diberikan oleh Marini. Vegapun pulang ke rumah kontrakkan tempat Marini berada.


"Astaga ma. Ini mah kandang ayam kali ma. Mana betah aku tinggal disini? bahkan ruang penjaraku jauh lebih besar dari kontrakkan ini," ucap Vega yang merasa kepanasan, saat baru tiba di rumah kontrakkan Marini.


"Ya mau gimana lagi. Cuma ini yang mampu mama sewa. Mama nggak punya pilihan lain. Mama sudah cari kerja, tapi nggak dapat karena usia mama sudah tua." Jawab Marini.

__ADS_1


"Lalu bagaimana mama bertahan hidup selama satu tahun belakangan?" tanya Vega.


"Mama jual sisa perhiasan mama.Tapi mama sangat berhemat. Bahkan mama lebih sering makan mie instan untuk mengganjal perut." Jawab Marini.


"Vega. Cuma kamu yang bisa mama andalkan. Sudah satu tahun ini kita membiarkan keluarga Handoko tenang. Kamu tahu sendiri, uang yang Handoko berikan tidak sebanding dengan apa yang dinikmati oleh putrinya itu. Kamu jangan mau kalah sama dia, kamu juga berhak mendapatkan fasilitas yang sama," Marini berusaha meracuni pikiran Vega.


"Mama tenang saja. Aku akan membangun citraku sebaik mungkin dihadapan Handoko. Lambat laun aku pasti bisa menyingkirkan anaknya itu dan juga ibunya."Jawab Vega.


"Besok kita akan memulai peperangan itu. Aku juga ingin memanfaatkan mereka untuk menghancurkan kebahagiaan Lensi," sambung Vega.


"Kamu benar. Apa bagusnya anak itu, hingga dia selalu mendapatkan hal baik dalam hidupnya. Bisa-Bisanya dia mendapatkan keturunan 3 sekaligus," ucap Marini.


"Kalau begitu kita akan membuat dia kehilangan lagi seperti dia kehilangan mamanya. Kita akan lenyapkan semua keturunannya hingga dia menjadi gila," ujar Vega, dengan seringai jahat.


"Dan tentu saja kita manfaatkan kekuasaan Handoko untuk melakukan semua itu," sambung Vega.


"Mama serahkan semua sama kamu. Mama hanya bisa bermain dibelakang layar saat ini. Karena Handoko tidak percaya sama mama lagi," ujar Marini.


"Mama tenang saja. Tidak lama lagi kita akan berjaya kembali," ucap Vega.


Sementara itu Handoko yang tengah meeting di kantornya hanya melirik ponselnya yang bergetar. Setelah selesai meeting, diapun membuat panggilan kembali untuk nomor yang tidak sempat di terima panggilannya.


"Papa? papa dimana?" tanya Vega.


"Vega? papa dikantor." Jawab Handoko.


"Sedih deh. Bahkan papa nggak menjemput Vega saat keluar penjara," ujar Vega.


"Kamu sudah keluar dari penjara? maaf papa tidak tahu. Mamamu juga nggak bilang," ucap Handoko.


"Sebernya mama ingin bilang, tapi dia takut papa salah paham pada mama. Makanya mama nggak pernah hubungin papa satu tahun belakangan ini kan? mama nggak mau istri papa salah paham, dan menyebabkan papa bertengkar." Jawab Vega.


"Baiklah sayang. Nanti saat pulang dari kantor, papa akan mampir ke kontrakkan mamamu," ucap Handoko.


"Ya pa." Jawab Vega

__ADS_1


Sesuai janji Handoko, pria itu datang menemui Vega di rumah kontrakkan Marini. Mereka berbincang banyak hal sembari bersenda gurau.


"Pa,"


"Hem?"


"Apa papa nggak mau mengajakku tinggal bersama papa?" tanya Vega sembari bergelendot manja pada pria parubaya itu.


"Papa sudah berjanji pada istri papa untuk tidak membawa masalalu tinggal bersama. Maafkan papa Vega, papa harap kamu bisa mengerti. Ini juga agar rumah tangga papa tetap harmonis.Tapi mereka menerimamu kok. Kamu juga boleh main sesekali kerumah." Jawab Handoko dengan berat hati.


"Kenapa? aku kan putrimu juga pa. Kalau mama, mungkin aku bisa ngerti dan paham kalau mama nggak boleh tinggal satu atap bersama papa. Tapi aku kan anak papa?" tanya Vega dengan wajah sedih.


"Jadi begini ya rasanya jadi anak yang tidak diinginkan. Anak emas tinggal di rumah mewah, sementara anak jelek tinggal di kontrakkan kecil," ucap Vega.


"Kenapa kamu berpikiran begitu sayang. Nggak ada istilahnya begitu. Bagi papa kalian sama. Kamu jangan khawatir ya? karena kamu sudah kembali, papa akan membelikan rumah layak untuk kamu tinggali nanti," ujar Handoko.


"Benarkah?" Vega antusias. Sementara Marini bersorak gembira dalam hatinya.


"Tentu saja. Anggap ini hadiah karena kamu sudah keluar dari penjara, dan akan menjadi manusia yang lebih baik lagi." Jawab Handoko.


"Makasih pa," ujar Vega sembari berhambur kepelukkan Handoko.


"Pertama rumah yang akan aku dapatkan. Selanjutnya aku pastikan semuanya akan menjadi milikku, termasuk akulah yang akan menjadi ahli waris perusahaan papa Handoko," batin Vega.


"Sekarang papa harus kembali ke kantor. Masih banyak yang harus papa kerjakan," ujar Handoko.


Handoko kemudian mengeluarkan kartu ATM dan memberikannya pada Vega.


"Pergilah belanja. Senangkan dirimu. Beli apapun yang kamu mau. PIN ATM nya 1 sampai 8," ucap Handoko.


"Makasih pa," ucap Vega dengan bunga yang serasa mekar di dadanya.


"Emm. Papa pergi ya," ujar Handoko.


Vega kemudian mengantar Handoko kedepan pintu. Dan dia masuk kembali, setelah Handoko sudah pergi menjauh.

__ADS_1


__ADS_2