MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
127. Datang


__ADS_3

"Bagaimana? apa kamu menyukainya?" tanya Handoko pada Vega.


"Ya pa. Ini sangat bagus, makasih ya pa." Jawab Vega sembari berhambur kepelukkan Handoko.


Saat ini Handoko, Vega dan Marini memang tengah berada di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Handoko membelikan Vega rumah yang layak, karena dia ingin membuktikan kalau dia tidak membedakan kedua putrinya.


"Papa,"


"Hem?"


"Apa kapan-kapan aku boleh main ke rumah papa?" tanya Vega.


"Tentu saja boleh. Walau bagaimanapun kamu juga harus kenal dengan adikmu dan juga ibu sambungmu. Papa ingin kalian akur, meskipun kalian bukan terlahir dari rahim ya ng sama." Jawab Handoko.


"Tentu saja. Dia adikku dan juga ibuku juga. Jadi aku harus bersikap baik pada mereka," ujar Vega.


"Baiklah. Papa akan mengantar kalian pulang. Kalian bisa bersiap-siap pindah besok," ujar Handoko.


"Ayo pa," ucap Vega.


Merekapun kembali ke kontrakkan. Setelah Handoko mengantar Marini dan Vega, dia pun segera pulang ke rumah. Sementara Marini dan Vega bersorak gembira.


"Mama lihat rumah baru kita?" tanya Vega.


"Tentu saja. Ini luar biasa sayang. Mama tidak menyangka kalau Handoko akan memberikan rumah semewah itu untukmu. Di rumah itu bahkan dilengkapi dengan kolam renang." Jawab Marini.


"Ya. Ini awal yang bagus untuk mengumpulkan tiap pundi-pundi uang. Aku tidak mau pengalaman yang sudah-sudah, terulang kembali. Aku nggak mau hidup miskin," ujar Vega.


"Pokoknya kamu harus bergerak cepat. Kamu harus cepat mengetahui kekuatan lawanmu. Dengan begitu akan lebih mudah kalau kamu ingin menghancurkannya," ujar Marini.


"Mama tenang aja. Aku pasti tidak akan mengecewakan mama. Secepatnya kita akan jadi kaya raya kembali," ucap Vega.


"Dan langkah pertama yang akan aku ambil adalah. Aku akan datang ke rumah mereka, dan berkenalan. Setelah itu aku akan berusaha masuk ke perusahaan Handoko. Tapi aku ingin tahu dulu, apa pekerjaan putrinya itu. Kalau dia bekerja di perusaan Handoko, maka aku akan meminta hak yang sama. Tapi kalau tidak, maka itu lebih bagus lagi," sambung Vega.


"Tapi untuk sekarang lebih baik kita bereskan semua pakaian kita. Pagi-Pagi kita harus pindah ke rumah itu. Mama sudah nggak tahan lagi tinggal disini," ujar Marini.


"Ya sudah ayo,"


Marini dan Vega segera memasukkan pakaian mereka kedalam koper. Vega memang sudah membeli banyak pakaian, setelah Hadoko memberikannya kartu ATM.


"Hah..akhirnya selesai juga. Besok tinggal berangkat saja," ucap Vega.


"Benar. Aduh...pinggangku pegal juga. Mama butuh meluruskan pinggang. Mama mau tidur untuk menyambut masa depan yang kembali akan cerah bersinar," ujar Marini sembari membaringkan diri diatas kasur tipis yang bergandengan dengan kasur milik Vega.


"Aku juga. Karena mulai besok aku akan kembali menjadi tuan putri lagi," timpal Vega.


Setelah lama berbincang dan menyusun rencana, ibu dan anak itu kemudian tertidur lelap. Dan tidak butuh menunggu mentari cerah bersinar, Vega dan Marini pagi-pagi buta sudah menyeret koper mereka keluar dari rumah kontrakkan mereka.


Marini dan Vega sangat senang, karena sudah mencukupi fasilitas di rumah itu. Mereka tidak perlu membeli barang apapun lagi.


"Ini sungguh luar biasa. Ah...ademnya, empuk lagi."

__ADS_1


Vega membuat tubuhnya jatuh bebas diatas tempat tidur yang sangat empuk. Ditambah sejuknya pendingin ruangan, membuat Vega merasa berada di surga saat ini.


"Ya kamu benar. Berhubung kita belum mandi, kita berenang yuk?" Marini mengajak Vega berenang.


"Oke. Aku juga butuh berenang kayaknya," ucap Vega.


Sementara itu ditempat berbeda. Ibrahim baru saja diberitahu seseorang kalau Vega sudah dibebaskan.


"Siapa bang?" tanya Lensi, saat Ibrahim sudah mengakhiri pembicaraannya.


"Teman. Dia bilang Vega sudah dibebaskan." Jawab Ibrahim.


"Jadi?"


"Ya biarkan saja. Semoga dia menjadi pribadi yang lebih baik setelah keluar dari penjara. Lupakan dendam dimasa lalu, agar hidup kita aman dan damai," ujar Ibrahim.


"Bagaimana kalau dia yang cari masalah lagi sama kita?" tanya Lensi.


"Kalau bisa dihindari, hindari saja dulu. Tapi kalau tidak bisa lain lagi ceritanya." Jawab Ibrahim.


"Semoga saja dia tidak mencari masalah denganku lagi. Apalagi kalau dia ingin mencari masalah dengan anak-anakku. Maaf saja, kali ini aku tidak akan mengampuninya," ujar Lensi.


"Kalau sampai dia jahatin anak-anak, itu sudah menjadi urusan abang," ucap Ibrahim.


"Pokoknya kita harus tetap waspada bang. Dia pernah melakukan hal gila sama aku, bukan tidak mungkin dia akan melakukan hal gila yang lainnya."


"Terlebih dia adalah anak dari seorang pembunuh. Dan dia dibawah pengasuhan Marini. Bukan tidak mungkin juga otaknya sudah dicuci habis oleh wanita itu," sambung Lensi.


"Makasih ya bang,"


"Itu sudah kewajiban abang buat melindungi kalian," ucap Ibrahim sembari memberi pelukkan untuk istrinya itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Ceklek


Pelayan rumah Handoko menatap seorang gadis yang berpakaian sexy dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sangat berbeda pemandangan itu dengan nona mudanya.


"Mau cari siapa non?" tanya Pelayan.


Vega melepas kaca matanya dan tersenyum palsu kearah pelayan itu.


"Mau cari Gita dan mama Susi." Jawab Vega.


"Apa dia kenal dengan Nyonya dan non Gita? dia memanggil Nyonya dengan sebutan mama. Apa dia kerabat dari Nyonya?" batin Pelayan.

__ADS_1


"Nyonya ada. Kalau non Gita belum pulang bekerja. Tapi sebentar lagi non Gita pulang," ujar Pelayan.


"Siapa Bi?" tanya Susi yang tiba-tiba muncul.


Susi kemudian melihat tamu yang datang secara langsung, dan kemudian mengerutkan dahinya karena dia merasa tidak mengenal sosok itu.


"Siapa ya?" tanya Susi.


"Vega." Jawab Vega sembari meraih tangan Susi untuk dia cium.


"Vega? kamu sudah keluar dari penjara?" tanya Susi.


"Iya Ma." Jawab Vega.


"Dia memanggilku dengan sebutan mama? semoga anak ini benar-benar baik. Karena...."


"Yuk masuk. Sebentar lagi adik kamu pulang," ujar Susi sembari berjalan lebih dulu dari Vega.


"Emang Gita kerja dimana ma?" tanya Vega yang kemudian menjatuhkan bokongnya disalah satu sofa.


"Di kantor pajak." Jawab Susi.


"Di kantor pajak? kenapa nggak kerja di kantor papa?" tanya Vega.


"Itu sudah jadi pilihannya." Jawab Susi.


"Assalammualaikum," Gita memasuki rumahnya sembari mengucapkan salah.


Gadis itu tampak menggunakan seragam dengan mengenakan hijab diatas kepala dan kaca mata bertengger diatas hidungnya.


"Wa'alaikum salam." Jawab Susi.


"Mama capek," ujar Gita sembari bersandar dipundak Susi. Namun matanya langsung menangkap sosok gadis sexy yang bersebrangan dengan tempat duduknya.


"Siapa ma?" tanya Gita penasaran.


"Vega. Kakak kamu." Jawab Susi.


"Oh...hai...kakak sudah keluar? selamat ya?" ucap Gita.


"Makasih." Jawab Vega.


"Jadi adik gue ini seorang cupu? kelihatan sih dari kaca mata bacanya. Benar-Benar nggak berkelas. Kayak gini jadi anak pengusaha besar, jelas aja nggak cocok," batin Vega.


"Yuk kak ikut aku keatas. Biar kakak tahu kamar aku dimana. Kakak nginap disini ya?" tanya Gita.


"Lain kali aja Git. Kakak lagi ada urusan habis ini. Tapi lain kali kakak pasti nginap." Jawab Vega.


"Janji ya,"


"Ya." Jawab Vega.

__ADS_1


Vega tersenyum nyaris tak terlihat. Sementara tanpa Vega tahu, Gita menilai dalam gadis itu


__ADS_2